Laporan Penelitian AJARAN SHALAWAT WAHIDIYAH DI TASIKMALAYA

LAPORAN PENELITIAN

AJARAN SHALAWAT WAHIDIYAH DI TASIKMALAYA

Oleh  : DR. KHAMAMI ZADA, SH, MA, MDCEF

Wakil Sekretaris Bidang Kajian dan Penelitian MUI Pusat

A. Latar Belakang

Aliran keagamaan Islam belakangan ini kian ramai diperbincangkan. Tidak lain,
karena aliran-aliran Islam yang berkembang di Indonesia mengalami perkembangan
yang menakjubkan seiring dengan perkembangan pemikiran keislaman dan afinitas
umat Islam dalam pengelolaan bathiniyah/keyakinan. Tak heran jika perkembangan
aliran-aliran Islam telah membuka tabir terhadap ajaran dan praktik keberagamaan
mereka yang dianut. Dalam konteks inilah, ajaran dan praktik keberagamaan kelompok
aliran Islam yang kian banyak menimbulkan pertanyaan serius, terutama tentang
kesesuaian dengan ajaran/syariat Islam.

Perjuangan Wahidiyah merupakan salah satu aliran keislaman yang mendapat
sorotan tajam di masyarakat. Kelompok ini lahir pada sekirat Juli 1959 yang didirikan
KH. Abdoel Madjid Ma’roef. Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Kedunglo, Desa
Bandar Lor, Kodya Kediri. Ia pernah menjabat sebagai pimpinan Syuriah NU
Kecamatan Mojoroto dan Syuriah PCNU Kodya Kediri. Namun setelah ia
menyampaikan Sholawat Wahidiyah dan ajarannya (1963) ia tidak aktif lagi di
organisasi NU. Pada awalnya, ia menerima suatu alamat ghaib dalam keadaan terjaga
dan sadar bukan dalam mimpi, maksud dan isi alamat ghaib tersebut untuk
memperbaiki/membangun mental masyarakat melalui jalan batiniyah.

Pada sekitar tahun 1963, ia menerima alamat ghaib lagi yang bersifat peringatan terhadap alamat
gaib yang pertama agar segera memperbaiki mental umat masyarakat melalui jalan
batiniyah. Shalawat Wahidiyah adalah rangkaian do’a shalawat dan dilengkapi tatacara
pengamalannya serta ajaran-ajarannya yang berfaidah menjernihkan hati.

Pada pertengahan tahun 1963, KH. Abdul Madjid Ma’roef memperoleh petunjuk yang ketiga
yang sifatnya lebih keras dari yang kedua. Bahkan dia diancam apabila tidak cepat-
cepat menolong umat masyarakat, maka akan terjadi kerusakan mental di masyarakat
terutama dalam hal kesadaran kepada Allah yang semakin parah.

2

Aliran Perjuangan Wahidiyah telah mengembangkan Shalawat Wahidiyah yang
merupakan rangkaian do’a shalawat termasuk bacaan surat fatihah. Selain itu, kelompok
ini telah melahirkan ajaran “lillah billah”, “lirrosul birrosul” dan lil ghauts bil ghauts.
Ajaran yang dikembangkan oleh Kelompok Wahidiyah ini tampaknya banyak diterima
oleh sebagian umat Islam.

Tak heran jika Perjuangan Wahidiyah kini telah menyebar
ke hampir seluruh pula Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, dan
Papua sebagai jalan bathiniyah yang bagi mereka ditujukan untuk memperbaikan mental
spiritual masyarakat. Bahkan, bukan hanya di Indonesia, perkembangan Kelompok
Wahidiyah ini sudah sampai ke Macau, Hongkong, dan Malaysia.

B. Tasikmalaya : Sejarah, Geografi, dan Demografi 1

Sejarah Tasikmalaya dimulai dari abad ke-7 sampai abad ke-9, ada
Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung,
dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain
raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung.
Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara
Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari
Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan
menjadi kerajaan.

Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13
Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari
Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang,
Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah
mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian.
Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M)
yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja
berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan Ibukota di
Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang
merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama
1 Data-data tentang sejarah, demografi, dan geografi kabupaten Tasikmalaya dan Kota
Tasikmalaya diambil dari sumber resmi pemerintah. Lihat http://www.jabarprov.go.id,
http://www.kemendagri.go.id, http://tasikmalayakab.go.id, portal.tasikmalayakab.go.id

3

adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sejaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem
Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sejaman dengan Prabu Surawisesa (1521-
1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai
terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak. Sunan
Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda untuk
mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya
terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem
Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka,
lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk Islam.
Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului oleh masa
pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang 10 tahun. Munculnya
pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal
abad XVII Masehi: Mataram, banten, dan VOC yang berkedudukan di Batavia.
Wirawangsa sebagai penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati daerah
Sukapura, dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung Mataram atas
jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri yang awalnya di
Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan “negara” disebut
“Sukapura”.

Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten
Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan Wiradadaha
VIII ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan ibukota ini dengan alasan
untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan Belanda dalam menghadapi
Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan kembali ke
Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis
bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi
penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan
di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya kurang memenuhi untuk
dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang ada di Galunggung.
Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi
Kabupaten Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai
Bupatinya. Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya

4

berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara pentasbihan
atau penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung.
Saat ini, Kabupaten Tasikmalaya merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa
Barat yang terletak di antara 7°02' 29" – 7°49' 08" Lintang Selatan serta 107°54' 10" – 108°25' 52" Bujur Timur. Secara administratif Kabupaten Tasikmalaya berbatasan
dengan wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis dan
Kabupaten Majalengka.
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Ciamis, DOB Kab Pangandaran
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Garut.

Luas wilayah Kabupaten Tasikmalaya secara keseluruhan adalah 2.708,82 km2,
dengan panjang garis pantai sekitar 54,5 km dan luas daerah penangkapan ikan (fishing
ground) sebesar 306 km2. Secara administratif Kabupaten Tasikmalaya terdiri dari 39
Kecamatan yang terdiri dari 351 desa. Tiga kecamatan mempunyai wilayah pesisir dan
lautan dengan luas total 200,72 km2 atau 7,41 persen dari luas wilayah Kabupaten
Tasikmalaya.

Jumlah penduduk Kabupaten Tasikmalaya berdasarkan Sensus Penduduk Tahun
2010 berjumlah 1.675.554 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk 0,88% dan tingkat
kepadatan penduduk rata-rata 637 jiwa/Km2. Pada tahun 2010, penduduk laki-laki
sebanyak 835.052 jiwa dan perempuan sebanyak 840.492 jiwa. Adanya sedikit
perbedaan jumlah penduduk antara tahun 2010 dan 2009 dikarenakan jumlah penduduk
tahun 2009 didapatkan dari proyeksi hasil Sensus Penduduk tahun 2000.

Pada waktu A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya tahun 1976
sampai dengan 1981 tonggak sejarah lahirnya kota Tasikmalaya dimulai dengan
diresmikannya Kota Administratif Tasikmalaya melalui peraturan Pemerintah Nomor
22 Tahun 1976 oleh Menteri Dalam Negeri H. Amir Machmud. Periwtiwa ini di tandai
dengan penandatangan Prasasti yang sekarang terletak di depan gedung DPRD
Kabupaten Tasikmalaya. Pada waktu yang sama dilantik pula Walikota Administratif
Pertama yaitu Drs. H. Oman Roosman oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Barat H.
Aang Kunaefi.

5

Berkat perjuangan unsur Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya yang dipimpin
Bupati saat itu H. Suljana WH beserta tokoh masyarakat Kabupaten Tasikmalaya
dirintislah pembentukan Kota Tasikmalaya dengan lahirnya tim sukses pembentukan
Pemerintahan Kota Tasikmalaya yang diketuai oleh H. Yeng Ds. Partawinata SH.
bersama tokoh – tokoh masyarakat lainnya. Melalui proses panjang akhirnya dibawah
pimpinan Bupati Drs. Tatang Farhanul Hakim, pada tanggal 17 Oktober 2001 melalui
Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001, Kota Tasikmalaya diresmikan oleh Menteri
Dalam Negeri atas nama Presiden RI di Jakarta bersama-sama dengan kota
Lhoksumawe, Langsa, Padangsidempuan, Prabumulih, Lubuk Linggau, Pager Alam,
Tanjung Pinang, Cimahi, Batu, Sikawang dan Bau-bau.

Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota
Tasikmalaya, telah mengantarkan Pemerintah Kota Administratif Tasikmalaya melewati
pintu gerbang Daerah Otonomi Kota Tasikmalaya untuk menjadi daerah yang
mempunyai kewenangan untuk mengatur rumah tangga sendiri.  Pembentukan
Pemerintah Kota Tasikmalaya tak lepas dari peran serta semua pihak maupun berbagai
steakholder di daerah Kota Tasikmalaya yang mendukung pembentukan tersebut.
Tentunya dengan pembentukan Kota Tasikmalaya harus ditindak lanjuti dengan
menyediakan berbagai prasarana maupun sarana guna menunjang penyelenggaraan
Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Berbagai langkah untuk mempersiapkan prasarana, sarana maupun personil serta
komponen-komponen lainnya guna menunjang penyelengaraan Pemerintahan Kota
Tasikmalaya telah dilaksanakan sebagai tuntutan dari pembentukan daerah otonom itu
sendiri.

Pada tanggal 18 Oktober 2001 pelantikan Drs. H. Wahyu Suradiharja sebagai PJ
Walikota Tasikmalaya oleh Gubernur Jawa Barat dilaksanakan di Gedung Sate
Bandung. Sesusuai Undang-Undang No. 10 Tahun 2001 bahwa wilayah Kota
Tasikmalaya terdiri dari 8 Kecamatan dengan jumlah Kelurahan sebanyak 15 dan Desa
sebanyak 54, tetapi dalam perjalanannya melalui Perda No. 30 Tahun 2003 tentang
perubahan status Desan menjadi Kelurahan, desa-desa dilingkungan Pemerintah Kota
Tasikmalaya berubah statusnya menjadi Kelurahan, oleh karena itu maka jumlah
kelurahan menjadi sebanyak 69 kelurahan, sedangkan kedelapan kecamatan tersebut
antara lain: Kecamatan Tawang, Kecamatan Cihideung, Kecamatan Cipedes,

6

Kecamatan Indihiang, Kecamatan Kawalu, Kecamatan Cibeureum, Kecamatan
Mangkubumi, dan Kecamatan Tamansari.
Sebagai salah satu syarat Pemerintah Daerah Otonom diperlukan alat
kelengkapan lainnya berupa Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Melalui surat
keputusan No. 133 Tahun 2001 Tanggal 13 Desember 2001 Komisi Pemilihan Umum
membentuk Panitia Pengisian Keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat
KotaTasikmalaya (PPK-DPRD). Melalui proses dan tahapan-tahapan yang dilaksanakan
PPK-DPRD Kota Tasikmalaya yang cukup panjang, maka pengangkatan anggota
DPRD Kota Tasikmalaya disyahkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat No.
171/Kep.380/Dekon/2002 Tanggal 26 April 2002, selanjutnya tanggal 30 April 002
diresmikannya keanggotaan DPRD Kota Tasikmalaya yang tetama kali. Pada tanggal 14
November 2002 dilantiknya Bp. Drs. H. Bubun Bunyamin sebagai Walikota
Tasikmalaya, pelantikan Walikota tersebut adalah segabai puncak momentum dari
pemilihan Kepala Daerah pertama di Kota Tasikmalaya sebagai hasil dari Tahapan
proses pemilihan yang dilaksanakan oleh Legislatif.

Kota Tasikmalaya secara geografis memiliki posisi yang strategis, yaitu berada
pada 108o 08' 38" – 108o 24' 02" BT dan 7o 10' – 7o 26' 32" LS di bagian Tenggara
wilayah Propinsi Jawa Barat. Kedudukan atau jarak dari Ibukota Propinsi Jawa Barat,
Bandung + 105, wilayah Kota Tasikmalaya berbatasan dengan :

Sebelah Utara : Kab. Tasikmalaya dan Kab. Ciamis (dengan batas sungai
Citanduy)

a. Sebelah Barat : Kab. Tasikmalaya
b. Sebelah Timur : Kab. Tasikmalaya dan Kab. Ciamis
c. Sebelah Selatan : Kab. Tasikmalaya (batas sungai Ciwulan)
Saat ini, Kota Tasikmalaya memiliki wilayah seluas 183,85 km2 yang meliputi
wilayah 10 Kecamatan, yaitu Cipedes, Cihideung, Tawang, Tamansari, Mangkubumi,
Kawalu, Indihiang, Cibeureum, Purbaratu dan Bungursari. Data ke-10 Kecamatan yang
mencakup 69 Kelurahan.

C. Sejarah dan Organisasi Perjuangan Wahidiyah di Tasikmalaya

Paham dan ajaran Wahidiyah di Tasikmalaya berkembang sejak lama, yang
dipraktikkan oleh masyarakat Muslim Tasikmalaya secara individu. Sejumlah

7

individu/orang Muslim Tasikmalaya telah mengamalkan Shalawat Wahidiyah yang
berasal dari Kyai Abdul Majid Ma’roef di Kedunglo, Kediri. 2 Perkembangan ini
semakin nyata setelah Ajengan Abbas menyebarkan Wahidiyah ke Tasikmalaya paska
mendapatkan ajaran ini di Kediri. Ajengan Abbas menyebarkan ajaran ini secara
individu perindividu kepada masyarakat Muslim di Tasikmalaya. 3

Pada 1990-an, Ajengan Abdul Khobir menjadi murid Ajengan Abbas yang
pertama kali menerima Shalawat Wahidiyah, kemudian menyusul yang lainnya.
Ajengan Abbas mengajak orang-orang Islam yang tertarik Wahidiyah ke pusat ajaran
ini di Kedunglo, Kediri untuk menimba ilmu langsung kepada gurunya (mursyid), Kyai
Abdul Latif Majid, pewaris pendiri Wahidiyah, Kyai Abdul Madjid Ma’roef, seorang
putra pendiri Nahdlatul Ulama, Kyai Ma’roef. 4

Penyebaran Wahidiyah ini didasari pada tujuan mulia untuk mengubah
masyarakat yang berbuat maksiat agar bershalawat dan berdzikir kepada Allah SWT
untuk mengubah seluruh perilaku buruknya menjadi lebih baik sesuai tuntunan ajaran
Islam. 5

Tak heran jika di Tasikmalaya, banyak para pemuda yang dulunya hidup dalam
perilku maksiat, setelah bergabung ke Shalawat Wahidiyah berubah menjadi dekat
kepada Allah SWT. Misalnya, di Desa Karetek, seorang geng motor bernama Dadang
Danial diajak Ajengan Abbas untuk bergabung ke Shalawat Wahidiyah. Setelah ia
menerima ajaran Shalawat Wahidiyah, berubah perilakunya menjadi lebih shaleh dan
taat kepada Allah SWT serta sukses usahanya. 6

Di Tasikmalaya, Wahidiyah resmi menjadi organisasi lahir pada 2002, yang
dipimpin langsung Ajengan Abbas. Organisasi ini diberi nama Yayasan Perjuangan
Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo. Organisasi ini tidak berafiliasi dengan
Penyiar Shalawat Wahidiyah (PSW) yang berpusat di Jombang, melainkan menginduk
ke Yayasan Perjuangan Wahidiyah di Kedunglo, Kediri. Bergabungnya penganut ajaran
Wahidiyah di Tasikmalaya ke Kedunglo, Kediri didasarkan pada hasil kesepakatan
bahwa menurut pengurus YPW, kepemimpinan Shalawat Wahidiyah diserahkan kepada

 

2 Wawancara dengan KH. Sodiqin, Sesepuh Wahidiyah Tasikmalaya di Tasikmalaya
3 Wawancara dengan Ajengan Abbas, 16 September 2017, di Tasikmalaya.
4 Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, di Tasikmalaya.
5 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya, 15
September 2017, di Tasikmalaya.
6 Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, di Tasikmalaya.

8

ahli waris sepeninggal Kyai Abdul Majid Ma’roef yang menetapkan penggantinya
adalah Kyai Abdul Latif Ma’roef. 7

Pada masa kepemimpinannya, ada gesekan dengan masyarakat, terutama setelah
terjadi pembakaran rumah konveksi milik Dadang dan keluarnya fatwa MUI yang
menyatakan bahwa Shalawat Wahidiyah di Kabupaten Tasikmalaya adalah sesat.
Beberapa tahun kemudian, MUI Kota Tasikmalaya juga menetapkan bahwa ajaran
Perjuangan Wahidiyah di Kota Tasikmalaya adalah sesat. 8 Fatwa sesat ajaran
Perjuangan Wahidiyah didasarkan pada buku pedoman Shalawat Wahiyah yang
mengandung unsur penyimpangan. Yaitu, Ghauts Hadza Zaman mempunyai
kewenangan Jallab dan Sallab (menanamkan dan mencabut iman seseorang) (Kumpulan
teks Wahidiyah), mendoktrin kepada ummat untuk meyakini bahwa Mualif Sholawat
Wahidiyah yang bernama Mbah H. Abdul Majid, RA sebagai Ghauts Hadza Zaman
(Kumpulan teks Wahidiyah), jika tidak ada Ghauts Hadza Zaman (yang dimaksud
Mbah H. Abdul Majid, RA), Allah akan menghancurkan dunia sekarang ini dan KH.
Abdul Majid, RA dianggap juru selamat bagi Ummat zaman sekarang (Kumpulan teks
Wahidiyah). Hal ini terdapat dalam Fatwa MUI No. 25/Kep/MUI-Kota TSM/VI/2005
tanggal 28 Juni 2005 tentang sebagian ajaran Yayasan Perjuangan Wahidiyah sangat
kontroversi dan meresahkan masyarakat dan
Fatwa MUI No. 45/Kep/MUI-TSM/V/2007 tanggal 25 Mei 2007 yang menyatakan
bahwa beberapa ajaran Wahidiyah dianggap menyimpang/tidak sesuai dengan Al-
Qur’an dan Al-Hadits. MUI Kota Tasik Malaya berpendapat bahwa sebagian ajaran
Yayasan Perjuangan Wahidiyah bertentangan dengan prinsip aqidah Islamiyah, karena
(1) mereka mendoktrinkan kepada umat untuk meyakini, bahwa Mu’allif Sholawat
Wahidiyah yang bernama Mbah H. ABDUL MADJID RA, sebagai Gauts Hadza Zaman
(Kumpulan Teks kuliah Wahidiyah). (2). do’a kepada Allah tidak akan sampai kalau
tidak melalui terlebih dulu Gauts tersebut (Kumpulan Teks Kuliah Wahidiyah), (3)
Gauts tersebut mempunyai kewenangan Jallab dan Sallab (menanamkan dan mencabut)
iman seseorang (Kumpulan Teks Kuliah Wahidiyah hal. 66), (4) bahwa kalau tidak ada

 

7 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya, 15
September 2017, Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, dan Wawancara
dengan Ajengan Abbas, 16 September 2017, di Tasikmalaya.

8 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya dan
Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, Wawancara dengan Abdul Qahar,
pengurus Propinsi YPW 15 September 2017, dan Wawancara dengan Ajengan Abbas, 16 September
2017, di Tasikmalaya.

9

Gauts (yang dimaksud mbah H. Abdul Madjid) Allah akan menghancurkan dunia
sekarang ini (Mbah H. Abdul Madjid dianggap juru selamat bagi umat zaman sekarang)
(Kumpulan Teks Kuliah Wahidiyah). Hal-hal tersebut diatas tidak ada satu petunjukpun
baik Al-Qur’an, Al-Hadist maupun qaul Ulama yang menyebut nama seseorang untuk
diposisikan seperti itu. 9

Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan pengurus Wahidiyah untuk
menglarifikasi ajaran yang dianut Wahidiyah Tasikmalaya. Para pengurus pernah
datang ke rumah Kyai Dudung Akasyah, selaku ketua MUI Kabupaten Tasikmalaya
untuk memperjelas paham ajaran Wahidiyah. Namun, pihak MUI tidak mau menerima
mereka. Hingga akhirnya, pengurus membuat tulisan yang berisi sanggahan terhadap
ajaran Wahidiyah yang difatwakan sesat. 10

Setelah kepemimpinan Ajengan Abbas berakhir, Yayasan Perjuangan
Wahidiyah dipimpin oleh Ade Nurjaman (2007-2011 yang berasal dari Pondok
Pesantren Nurul Falah Kampung Lebah Nended, Singaparna. Berikutnya kepemimpinan
YPW dilanjutkan kepada Agus Halim (2011-sekarang). 11 Pada masa kepemimpinan
Agus Halim inilah, YPW bergerak untuk semakin mendekatkan diri dengan masyarakat
dan tokoh-tokoh Islam untuk menjalin sinergi keumatan, sehingga di setiap kegiatan
Mujahadah Wahidiyah, para tokoh-tokoh Islam dan tokoh masyarakat diundang untuk
bergabung mengikuti acara mujahadah.

 

D. Ajaran Pokok Wahidiyah

Ajaran Wahidiyah adalah bimbingan praktis lahiriah dan batiniyah di dalam
mengamalkan menerapkan tuntunan Rasulullah mencakup bidang syariat, haqiqat
meliputi penerapan iman, pelaksanaan Islam, perwujudan ihsan, dan pembentukan
akhlakul karimah. 12 Bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah di dalam memanfaatkan
potensi lahiriyah ditunjang oleh pendayagunaan potensi batiniyah/spiritual yang
seimbang dan serasi.

 

9 Fatwa MUI No. 25/Kep/MUI-Kota TSM/VI/2005 tanggal 28 Juni 2005 dan
Fatwa MUI No. 45/Kep/MUI-TSM/V/2007 tanggal 25 Mei 2007
10 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya dan
Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, dan Wawancara dengan Ajengan Abbas,
16 September 2017, di Tasikmalaya.
11 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya, 15
September 2017, di Tasikmalaya.
12 Kuliah Wahidiyah untuk Menjernihkan Hati dan Ma’rifat Billah Wa Birasulihi SAW,
(YPWPPK: Kediri, 2011), h. 89.

10

“Jadi bimbingan praktis tersebut meliputi segala bentuk kegiatan hidup dalam
hubungan manusia terhadap Alloh wa Rosuulihi SAW. (hablun minalloh) dan
hubungan manusia di dalam kehidupan masyarakat sebagai insan sosial (hablun
minannas) hubungan manusia terhadap keluarga dan rumah tangga, terhadap
bangsa, negara dan agama, terhadap sesama umat manusia segala bangsa serta
hubungan manusia terhadap segala makhluq lingkungan hidup pada
umumnya”. 13

Di antara pokok ajaran Perjuangan Wahidiyah adalah sebagai berikut:

1. “LILLAH”

Menurut Wahidiyah, maksud dari konsep lillah adalah segala amal perbuatan
lahir dan perbuatan batin, baik yang berhubungan langsung dengan Allah dan
Rasulullah SAW (shalat, puasa, haji, baca Qur’an, baca sholawat dan sebagainya),
maupun yang berhubungan dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari (makan,
minum, tidur, istirahat, mandi, bekerja dan sebagainya) agar disertai dengan ikhlas
LILLAAHI TA’ALA tanpa pamrih suatu apapun, baik pamrih duniawi maupun pamrih
ukhrawi. Sebaliknya, menurut Wahidiyah, perbuatan-perbuatan yang melanggar
syari’at, melanggar undang-undang, yang tidak diridhoi Allah SWT, sama sekali tidak
boleh disertai niat ibadah LILLAH. Akan tetapi, semua perbuatan tersebut harus dijauhi
dan ditinggalkan, betapapun kecil dan remehnya.

“Masalah pamrih atau keinginan, ingin kepada hal yang menggembirakan dan
yang menyenangkan, ingin kepada kebaikan-kebaikan seperti ingin pahala, surga
dan sebagainya; atau takut dari perkara yang menakutkan seperti kesusahan,
penderitaan, siksa, neraka dan sebagainya, itu diperbolehkan. Sebab manusia
tidak lepas dari sifat basyariah yang mempuyai keinginan-keinginan dan
harapan-harapan serta kemauan-kemauan yang semuanya bersumber dari nafsu,
dan nafsu itupun anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia sehingga
menjadi makhluk yang lebih lengkap dan paling sempurna diantara makhluk
lainnya. Maka nafsu seperti itulah yang harus diarahkan. Menurut arah yang
telah digariskan Tuhan yaitu “Liya’ buduuni” tersebut. Diarahkan untuk ibadah
kepada Allah SWT. Jika tidak diarahkan, pasti akan terjadi ketimbunan hawa
nafsu yang serakah dan mengakibatkan penyelewengan dan penyalahgunaan
akhirnya menghancurkan manusia itu sendiri bahkan bisa menghancurkan umat
dan masyarakat”.

2. “BILLAH”

13 Kuliah Wahidiyah, h. 89

11

Dalam pandangan Wahidiyah, BILLAH artinya, di dalam segala perbuatan dan
gerak-gerik lahir maupun batin, di manapun dan kapan saja, supaya hati senantiasa
merasa bahwa yang menciptakan dan menitahkan itu semua adalah Allah SWT.
“Jadi jelasnya, di dalam kita melihat, mendengar, merasa, menemukan, bergerak,
berdiam, berangan-angan, berfikir dan sebagainya, supaya hati selalu sadar dan
merasa bahwa yang menggerakan yang menitahkan itu semua adalah Alloh.
Merasa BILLAH. Semuanya BILLAH. Tidak ada sesuatu yang tidak BILLAH.
Ini harus kita rasa di dalam hati. Tidak hanya cukup pengertian dan keyakinan di
dalam otak. Bukan sekedar pengertian ilmiyah saja. Kita membaca buku ini, kita
memahami buku ini BILLAH. Buku yang anda baca inipun BILLAH. Dan
kitapun BILLAH. Mari terus merasa begitu. Merasa BILLAH”. 14

Menurut Wahidiyah, sumber dari segala kehancuran, kebrobokan moral,
penyelewengan dengan penyalahgunaan, pertengkaran, permusuhan, kekacauan dan
sebagainya adalah nafsu yang memiliki ciri khas pamrih. Maka sifat pamrihnya nafsu
ini harus diarahkan dengan sistem penerapan niat LILLAH dan sadar BILLAH. Sifat
pamrih jika dibiarkan dan tidak diarahkan dengan niat BILLAH, maka akan bercokol di
dalam hati yang akan menjadi “Kerajaan Anaaniyah” atau rasa ke-Aku- Akuan atau
egosentris. Orang yang hatinya sudah dijajah oleh nafsu, segala langkah dan amal
perbuatannya disetir oleh nafsunya, dan diarahkan kepada apa yang menjadi kepuasan
hawa nafsu. Segala amalnya semata-mata hanya untuk menuruti kemauan nafsunya.
Tanpa memandang benar atau salah. Tidak perduli haq atau batal diterjangnya. Tidak
peduli sekalipun orang lain menderita, yang penting puas itulah sifat nafsu yang
serakah, dengki dan membabi buta. Hanya ingin enak, senang dan puas tanpa
memperhitungkan akibatnya. Padahal akibatnya pasti menjerumus kepada kehancuran,
kebinasaan dan kesengsaraan sebab tidak mengikuti tuntunan Allah SWT. 15

Menurut Wahidiyah, cara yang paling praktis dan tanpa resiko untuk menguasai
dan mengarahkan nafsu ialah terus-menerus menerapkan sadar BILLAH di samping niat
LILLAH, dan sambil dipupuk dengan mujahadah Shalawat Wahidiyah. Karena sadar
BILLAH adalah masalah yang paling pokok. Ini soal iman, soal tauhid yang
menentukan bahagia atau tidaknya seseorang. 16
Bagi Wahidiyah, pengeterapan niat LILLAH adalah terbatas pada hal-hal yang
tidak dilarang syari’at. Perbuatan yang dilarang syari’at, baik perbuatan lahir ataupun

14 Kuliah Wahidiyah, h. 98.
15 Kuliah Wahidiyah, h. 99.
16 Kuliah Wahidiyah, h. 100.

12

perbuatan batin sama sekali tidak boleh diniati ibadah LILLAH. Maka, maksiat sama
sekali tidak boleh diniati ibadah LILLAH sehingga tidak boleh dikerjakan. Sedangkan,
kesadaran rasa BILLAH itu mutlak, tidak terbatas. Segala tingkah laku lahir maupun
batin, harus merasa BILLAH tanpa membeda-bedakan ta’at atau ma’siat. Sekalipun di
dalam keadaan ma’siat (baik yang tidak disengaja maupun yang disengaja) harus
merasa BILLAH. 17

3. “LIRROSUL”

Menurut Wahidiyah, segala amal ibadah atau perbuatan apa saja asal tidak
melanggar syari’at Islam, harus niat LILLAH dan LIRROSUL.
“Dengan tambahan LIRROSUL disamping niat LILLAH seperti itu, nilai
kemurnian ikhlas makin bertambah bersih. Tidak mudah diridu (digoda) oleh
Iblis, tidak gampang disalah gunakan oleh kepentngan nafsu. Di samping itu,
pengetrapan LIRROSUL juga merupakan diantara cara ta’alluq bijanaabihi
SAW – hubungan atau konsultasi batin dengan kanjeng nabi SAW.

Dengan mengetrapkan LIRROSUL disamping LILLAH secara terus-menerus insyaalloh
lama-lama hati dikaruniai suasana seperti mengikuti Rosululloh SAW, atau
seperti bersama-sama dengan Rosululloh SAW dimana saja kita berada terutama
ketika menjalankan amal-amal ibadah apa saja. Dengan demikian situasi batin
kita benar-benar menduduki “hakikatnya mengikuti” atau mengikuti secara
hakiki seperti sudah kita bahas dimuka, HAQIIQOTUL MUTAABA’AH
RU’YATUL MATBUU’I ‘INDA KULLI SYAI-IN” : mengikuti yang haqiqi
harus melihat kepada yang diikuti pada segala keadaan segala sesuatu dan
kondisi.” 18

Oleh karena itu, dalam paham Wahidiyah, orang yang hatinya selalu merasa
mengikuti Rasulullah SAW, di samping niat ibadah kepada Allah SWT dalam segala
perbuatan yang tidak melanggar syari’at agama dan undang-undang, sikapnya selalu
hormat dan tawadhu’ kepada siapapun, bahasa sikap dan bahasa ucapannya senantiasa
sopan dan ramah, sebab disinari oleh pancaran takholluq bi akhlaqillaahi wa bi akhlaaqi
Rosuulihi SAW. Selalu hormat kepada yang di atasnya dan kasih sayang kepada yang di
bawahnya. Senang menolong kepada orang lain dan masyarakat, baik diminta ataupun
tidak diminta. Mudahnya, dia ketularan akhlaq Rasulullah SAW, yang rahmatan
lil’alamiin. Ketika menjalankan amal-amal ibadah, dia lebih berhati-hati, agar jangan

17 Kuliah Wahidiyah, h. 106.
18 Kuliah Wahidiyah, h. 110.

13

sampai tingkah lahir dan batinnya merusak amal ibadahnya sehingga ditolak oleh Allah
SWT. 19

5. “BIRROSUL”

Ini termasuk bidang haqiqat seperti halnya dengan BILLAH, sedangkan LILLAH dan
LIRROSUL adalah bidang syari’at. Penerapan BIRROSUL dalam pandangan
Wahidiyah ialah di samping sadar BILLAH, supaya juga sadar dan merasa bahwa
segala sesuatu termasuk diri kita sendiri dan gerak-gerik diri kita lahir maupun batin
yang diridhoi Alloh, adalah sebab jasa Rasulullah SAW. 20

“Jadi, dalam segala langkah dan gerak-gerik kita lahir maupun batin yang
bagaimana saja asal tidak melanggar syari’at Rosul SAW, hati kita merasa
menerima jasa dari Rosululloh SAW, jasa tersebut terus mengalir
berkesinambungan tiada putus-putusnya. Jika dihindari sekejap saja oleh jasa
Rosululloh SAW, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan wujud kita pun jika
dihindari oleh jasa Rosul SAW, menjadi ‘adam (tidak ada) seketika.

Jadi pengetrapan BIRROSUL itu seperti BILLAH akan tetapi terbatas, tidak mutlak
seperti BILLAH. Terbatas hanya dalam hal-hal yang diridhoi Alloh wa Rosulihi
SAW. Maka ketika dalam ma’siat misalnya, tidak boleh merasa BIRROSUL.
Akan tetapi merasa BILLAH, harus. Pembatasan tersebut adalah mengisi bidang
adab. Dan kita harus menempatkan segala sesuatu pada kedudukan atau proporsi
yang sebenarnya. Bidang syari’at harus kita isi sepenuh-penuhnya dan setepat
mungkin, dan bidang haqiqot juga harus kita terapkan setepat mungkin. Begitu
juga bidang adab harus kita isi setepat-tepatnya, tidak boleh kita abaikan !.” 21

Dengan menerapkan LIRROSUL BIRROSUL di samping LILLAH BILLAH,
manusia dapat menundukkan dirinya sebagai hamba Allah dan sebagai umat
Muhammad Rasulullah SAW yang benar. Orang yang seperti ini akan dilindungi oleh
Allah dan didukung oleh Rasulullah SAW di dalam hidup dan kehidupannya. Hidupnya
benar-benar membawa berkah bagi orang lain dan bagi masyarakat, bagi bangsa dan
negaranya, bahkan bagi umat manusia dan makhluk pada umumnya. Mereka merasa
seolah-olah dirinya seperti dilihat oleh Rasulullah SAW dan senantiasa diincar oleh
Allah SWT sehingga dia tidak berani berbuat yang tidak diridhai Allah SWT dan Rasul-
Nya. Allah SWT menjamin orang seperti itu, selamat dari azab siksa Allah SWT. 22

19 Kuliah Wahidiyah, h. 111.
20 Kuliah Wahidiyah, h. 112.
21 Kuliah Wahidiyah, h. 112.

14

6. “LILLAH BILLAH”

Menurut Wahidiyah, LILLAH BILLAH bukan suatu upacara keagamaan,
melainkan keseragaman sikap hati manusia beragama atau manusia yang beriman
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi LILLAH BILLAH seharusnya menjadi
keseragaman paham bagi setiap manusia yang menyatakan diri sebagai hamba Tuhan
Maha Esa. 23

“Kita semua setiap bangsa Indonesia diberi kemampuan dapat mengetrapkan itu.
Semua !. Dari segenap lapisan masyarakat bangsa Indonesia. Dari pemeluk
agama apa saja dan dari pengikut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
mana saja, mampu mengetrapkan LILLAH BILLAH tidak membutuhkan syarat-
syarat yang berat, tidak membutuhkan ilmiyah yang sukar-sukar. Tidak
memerlukan batasan tingkatan-tingkatan hidup dan tidak ada pembatasan umur
sudah dewasa atau belum dewasa. Semua, sekali lagi semua, diberi kemampuan
oleh Alloh Tuhan Yang Maha Pencipta ada kemauan. Hanya modal kemauan ini
yang diperlukan. Siapa ada kemauan pasti menemukan jalan”. 24

7. “LIRROSUL BIRROSUL”

Menurut Wahidiyah, konsep ini terbatas, tidak universal seperti LILLAH
BILLAH, terbatas hanya dapat dilakukan oleh orang yang beragama Islam saja. Umat
agama selain Islam ada halangan untuk menerapkannya. Umat Islam wajib menerapkan
LIRROSUL BIRROSUL di samping LILLAH–BILLAH, sebagai konsekuensi
batiniyah selaku umat Rasulullah SAW. 25

LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL merupakan realisasi praktis
atau konsekuensi batiniyah dari dua Kalimah Syahadat. Jadi orang yang senantiasa
LILLAH – BILLAH dan LIRROSUL – BIRROSUL ini berarti terus-menerus hatinya
musyahadah tauhid dan musyahadah risalah. Istilah lainnya adalah, hatinya terus
menerus membaca kalimah syahadatain dengan penuh pengabdian, penghayatan dan
kesadaran yang mendalam. 26

Kesadaran kepada Allah dan Rasulullah SAW adalah masalah prinsip bagi
setiap umat Rasullullah SAW yang akan menentukan bahagia atau sengsara. Oleh

22 Kuliah Wahidiyah, h. 114.
23 Kuliah Wahidiyah, h. 115.
24 Kuliah Wahidiyah, h. 116.
25 Kuliah Wahidiyah, h. 118.
26 Kuliah Wahidiyah, h. 118.

15

karena itu, bagi Wahidiyah kesadaran diusahakan dengan serius, di samping
memperhatikan soal-soal lain. Bahkan, justru di dalam diri umat Islam diperintahkan
untuk melaksanakan dan mengisi bidang-bidang kehidupan untuk selalu dijiwai
LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL secara terus-menerus. 27

Menurut Wahidiyah, tumbuhnya rasa LILLAH BILLAH, LIRROSUL
BIRROSUL atau penerapan dzauqiyahnya tergantung kepada HIDAYAH dari Allah
SWT. Dan untuk memperoleh hidayah ini diperlukan bantuan dan bimbingan dari
Penuntun atau Pembimbing. Yaitu orang yang menerima tugas dari Allah SWT untuk
membimbing masyarakat di dalam perjalanan wushul ma’rifat kepada Allah SWT dan
Rasulullah SAW. Di dalam dunia tasawuf, pembimbing tersebut dikenal sebagai
Mursyid yang Kaamil dan Mukammil, orang yang sudah sempurna dan mampu
menyempurnakan orang lain.

Di dalam perjalanan manusia menuju wushul – sadar ma’rifat kepada Allah dan
Rasulullah SAW, jika tidak ada yang membimbing, pada umumnya mengalami
kebingungan dan tersesat jalan oleh berbagai gangguan dari Iblis yang sangat halus
sekali sehingga yang bersangkutan tidak merasa. Soal kesadaran, soal wushul ma’rifat
kepada Allah dan Rasulullah SAW, harus melalui Pembimbing yang berkompeten
mengantarkan wushul, tidak cukup hanya mempelajari teorinya saja. 28

8. “LILGHOUTS”

Wahidiyah berkeyakinan (seperti keyakinan dalam dunia tasawuf) bahwa
Ghouts Hadzaz Zaman RA adalah Priagung yang berkompeten di zaman sekarang
mengantarkan dan membimbing masyarakat sadar kepada Allah SWT dan Rasulullah
SAW. Oleh karena itu, para pengamal Wahidiyah dan masyarakat perlu dan harus
mengadakan hubungan dengan Ghouts Hadzaz Zaman, terutama hubungan secara
batiniyah dengan menerapkan di dalam hati “LIL GHOUTS BIL GHOUTS”. 29

Cara penerapannya sama dengan penerapan LILLAH dan LIRROSUL. Yaitu di
samping niat ikhlas ibadah kepada Allah dan niat mengikuti tuntunan Rasulullah SAW,
supaya ditambah lagi niat mengikuti bimbingan Ghouts Hadzaz Zaman Ra, LIL
GHOUTS. Ini penerapan niat di dalam hati. Jadi tidak merubah ketentuan–ketentuan

27 Kuliah Wahidiyah, h. 118.
28 Kuliah Wahidiyah, h. 119.
29 Kuliah Wahidiyah, h. 120.

16

lain di bidang syari’at. Dan juga terbatas kepada soal–soal yang diridhoi Allah SWT
dan Rasulullah SAW. Hal–hal yang terlarang seperti ma’siat misalnya, sama sekali
tidak boleh disertai niat LIL GHOUTS !. 30

Wahidiyah yakin bahwa orang yang paling benar kembali kepada Allah pada
zaman sekarang ini adalah Ghouts Hadzaz Zaman Ra. Ia adalah orang yang
“AALIMUN BILLAAHI WABI AHKAAMIHI” orang yang Arif Billah dan menguasai
(faham dan menerapkan) hukum-hukum Allah SWT. Ia adalah seorang Mursyid yang
Kaamil Mukammil. 31

9. “BILGHOUTS”

Dalam pandangan Wahidiyah, penerapan “BILGHOUTS” sama dengan
penerapan BIRROSUL, yaitu sadar dan merasa mendapat bimbingan rohani dari Ghouts
Hadzaz Zaman Ra, yang selalu memancar kepada seluruh umat dan masyarakat, baik
disadari maupun tidak disadari. Sebab, pancaran bimbingan Ghouts Hadzaz Zaman lah
yang menuntun “Inaabah”, kembali kepada Allah SWT atau pancaran “FAFIRRU
ILALLOH WA ROSUULIHI SAW“, itu memancar secara otomatis sebagai butir-butir
mutiara yang keluar dari lubuk hati seseorang yang “Takholuq bi Akhlaaqi Rosuullillahi
Shollalloohu ‘alaihi wassalam” yang juga “Rohmatan lil ‘alamin”. 32

Pengetrapan LILGHOUTS BILGHOUTS boleh dikatakan termasuk
penyempurnaan syukur kita kepada Alloh SWT. Artinya, disamping kita
bersyukur kepada Alloh Pelimpah segala taufiq, hidayah dan segala ni’mat, kita
harus syukur/terima kasih, sekurang-kurangnya mengerti kepada siapa yang
menjadi sebab datangnya ni’mat tersebut. Kalau tidak demikian, yakni hanya
syukur kepada Alloh saja dan tidak mau tahu kepada orang yang menjadi
sebabnya ni’mat diberikan oleh Alloh, maka syukur yang demikian itu sesuai
sabda Rosululloh SAW, masih belum bisa dikatakan syukur yang bersungguh-
sungguh syukur : 33

Wahidiyah yakin bahwa penerapan LILGHOUTS BILGHOUTS jika dipelihara
dengan baik dan dengan segala adab-adabnya, besar sekali menimbulkan rangsangan di
dalam penerapan LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL secara otomatis.

30 Kuliah Wahidiyah, h. 120.
31 Kuliah Wahidiyah, h. 120.
32 Kuliah Wahidiyah, h. 121.
33 Kuliah Wahidiyah, h. 121.

17

Begitu menerapkan LILGHOUTS BILGHOTS, maka spontan terasa LILLAH BILLAH
dan LIRROSUL BIRROSUL. 34

10. “YUKTI KULLA DZI HAQQIN HAQQOH”

Konsep “YUKTI KULLADZI HAQQIN HAQQOH” dalam keyakinan
Wahidiyah ialah berusaha mengisi dan memenuhi segala bidang kewajiban,
mengutamakan pemenuhan kewajiban di segala bidang daripada menuntut hak, baik
kewajiban-kewajiban terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW, maupun kewajiban-
kewajiban dalam berhubungan dengan masyarakat di segala bidang, dan terhadap
makhluq pada umumnya. 35

“Di dalam berhubungan hidup satu sama lain selalu timbul hak dan kewajiban
yang kait mengait satu sama lain. Kewajiban A terhadap B, merupakan haknya
B dari A. Demikian pula kewajiban B terhadap A, merupakan haknya A dari B.
Maka diantara hak dan kewajiban itu, manakah yang harus diutamakan ?.
Jawabnya, adalah pemenuhan kewajiban masing-masing, dengan tanpa menuntut
hak. Soal hak, tidak usah dijadikan tuntutan, asal kewajiban dipenuhi dengan
baik, otomatis apa yang menjadi haknya datang dengan sendirinya”. 36

Contohnya, sang suami mempunyai hak memperoleh pelayanan yang baik dari
istri, akan tetapi juga mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap istri. Istri mempunyai
hak nafkah, bimbingan dan perlindungan dari suami, akan tetapi juga mempunyai
kewajiban khidmah atau memberikan layanan yang baik terhadap suami. Maka yang
harus diutamakan oleh suami, yaitu memenuhi kewajiban nafkah, melindungi dan
memberikan bimbingan kepada istri, tanpa menuntut hak pelayanan dari istri.
Sedangkan istri memenuhi kewajiban menghormati dan memberikan pelayanan yang
baik, tanpa menuntut hak nafkah, hak perlindungan, hak bimbingan dan lain-lain dari
suami. 37

Begitu juga pemerintah berhak ditunduki dan dituruti oleh rakyat, akan tetapi
berkewajiban membimbing dan memajukan rakyat. Maka yang harus diutamakan oleh
pemerintah adalah kewajiban membimbing dan melindungi dan memajukan rakyat.
Sebaliknya begitu juga. Rakyat berhak mendapat bimbingan dan perlindungan dari

34 Kuliah Wahidiyah, h. 121.
35 Kuliah Wahidiyah, h. 122-123.
36 Kuliah Wahidiyah, h. 123.
37 Kuliah Wahidiyah, h. 123.

18

Pemerintah, akan tetapi juga mempunyai kewajiban taat dan setia kepada pemerintah.
Maka yang harus dijalankan oleh rakyat hanyalah tunduk dan taat kepada pemerintah
tanpa memperhitungkan apa yang menjadi haknya. Sekali lagi apabila kewajiban
dipenuhi dengan baik, otomatis hak datang dengan sendirinya dengan baik pula. 38

11. “TAQDIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’ ”.

Ketika menjumpai lebih dari satu macam persoalan yang harus diselesaikan
dalam waktu yang bersamaan, maka dipilih di mana yang lebih penting. Jika sama-sama
penting, maka dipilih yang lebih besar manfa’atnya. Demikianlah ajaran Wahidiyah
dalam “TAQDIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’ ”.
Artinya, ajaran Wahidiyah menegaskan bahwa mendahulukan yang lebih aham (lebih
penting), kemudian jika sama-sama pentingnya dipilih yang lebih besar manfaatnya. 39

Untuk menentukan pilihan mana yang “aham” dan mana yang “anfa”,
Wahidiyah memiliki pedomannya. Yaitu, segala hal yang berhubungan langsung kepada
Allah SWT dan Rasulullah SAW terutama yang wajib, pada umumnya harus dipandang
AHAM (lebih penting). Dan segala hal yang manfaatnya dirasakan juga oleh orang lain/
masyarakat banyak, harus dipandang anfa’ (lebih besar manfa’atnya).
Dikatakan “pada umumnya”, sebab mungkin pada suatu sa’at. Karena adanya
hal-hal yang baru muncul atau karena situasi dan kondisi pelaksanaannya dapat
menyimpang dari ketentuan tersebut. Misalnya, suatu ketika kita sedang
mujahadah atau ibadah sunnah lainnya, kemudian ada tamu datang, lebih-lebih
tamu dari jauh dan sangat penting, maka dalam keadaan seperti itu kita harus
memutuskan mujahadah atau ibadah sunnah tadi dan menemui tamu tersebut.
Setelah selesai menemui tamu, mujahadah dapat diteruskan lagi. Contoh lain,
kita sedang sholat di pinggir sungai misalnya, lalu terdengar jeritan orang hanyut
disungai itu minta tolong. Maka kita harus membatalkan sholat dan menolong
orang yang minta tolong itu. 40

Dengan demikian, Wahidiyah berkesimpulan bahwa perkara atau hal yang tidak
menjadikan sebabnya dekat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, tidaklah
bermanfa’at, melainkan madhorot atau membahayakan. Dengan kata lain, jika tidak
mengarahkan kepada pendekatan diri kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, tidak

38 Kuliah Wahidiyah, h. 124.
39 Kuliah Wahidiyah, h. 124.
40 Kuliah Wahidiyah, h. 125.

19

akan menghasilkan manfa’at, melainkan malah mendatangkan bahaya. Wahidiyah
mencontohkan, shalat yang tidak membawa pendekatan diri kepada Allah adalah shalat
yang tidak hudhur hatinya, lebih-lebih yang bercampur dengan ujub, riya’, takabbur dan
lain-lain. Begitu juga ibadah-ibadah lain. Sebab adanya Allah Ta’ala memberikan
kewajiban kepada hamba-NYA dan memberikan tuntunan hidup kepada manusia,
memberikan kesempatan hubungan di dalam pergaulan hidup ini, tidak lain Allah
menghendaki agar para hamba-NYA mau mendekat kepada-NYA sehingga menjadi
hamba yang sadar kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. 41

E. Ajaran Khusus

1. Ghauts Hadzaz Zaman

Ajaran Pokok Perjuangan Wahidiyah sebagaimana yang diajarkan pendiri di
Kedunglo Kediri adalah, lillah billah, lirrasul bir rasul, lil ghauts bil ghauts. Hanya saja
ajaran tentan al-gauts inilah yang menjadi pokok permasalahan karena dianggap
menyimpang. Menurut pengurus YPW Tasikmalaya, al-ghauts adalah penolong. Siapa
yang menolong, dia lah sang mursyid, yaitu Kyai Abdul Majid Ma’roef, yang sekarang
digantikan Kyai Abdul Latif Ma’roef. 42 Al-Gauts inilah yang juga disebut sebagai
jabatan wali di mana dari 320 jabatan wali, yang paling agung adalah al-ghauts. Al-
ghauts adalah penolong kebaikan apa pun. Di sinilah, penganut Shalawat Wahidiyah
menganggap bahwa Kyai Abdul Majid Ma’roef dan Kyai Abdul Latif Ma’roef adalah
al-ghauts, mursyid, dan wali di mana sebagai al-ghauts memiliki kemampuan untuk
memberikan pertolongan dengan doanya karena mursyid diangkat oleh Allah SWT. 43

Menurut Aliran Shalawat Wahidiyah, ghauts bermakna pertolongan sehingga
seorang ghauts adalah orang yang memberi pertolongan, penuntun atau pembimbing
kepada kebaikan, keselamatan dan kebahagiaan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya di
dunia dan akherat. Seorang ghauts adalah penuntun dan pentarbiyah menuju wushul
sadar ma’rifat kepada Allah dan rsul-Nya dan penolong dari berbagai kesulitan dan
kesusahan dan problem-problem kehidupan lainnya. Bagi Wahidiyah, dalam dunia wali
yang dimaksud ghauts adalah sulthanul awliya atau quthbul aqthob, yakni pemimpinnya

41 Kuliah Wahidiyah, h. 126.
42 Wawancara dengan pengurus YPW Tasikmalaya, seperti Agus Halim dan YPW Pusat KH.
Abdul Ghafur, 16 September 2017 di Tasikmalaya.
43 Wawancara Ahmad Dimyathi, Pengurus YPW Provinsi Jawa Barat, 16 September 2017 di
Tasikmalaya.

20

para wali Allah. Jadi “GHOUTS HADZAZ ZAMAN” adalah pemimpin para wali Allah
pada zaman sekarang. Jika ghauts meninggal dunia diganti oleh yang lainnya sampai
hari kiamat. Aliran ini mengutip kitab Masyaariqul-Anwar yang menyebutkan bahwa
ghouts yang pertama kali ialah Sayyidina Hasan bin ‘Ali, kemudian digantikan
Sayyidina Husen Bin ‘Ali  Rodhiyalloohu ‘Anhumaa dan seterusnya. Selain itu, Syekh
Abdus-Salam bin Masyisy, Syekh Abdul Qodir al-Jaelani, Syekh Abil Hasan As-
Syadzili, Syekh Bahauddin an-Naqsyabandi dan masih banyak lagi lainnya, mereka
adalah Ghouts fii Zamanihi atau Sulthonul Auliya’ di zamannya. 44

Di dalam menjalankan fungsinya sebagai Ghoutsuz Zaman, mereka tidak sama
kebijaksanaannya. Ada yang diharuskan memproklamirkan diri seperti Syekh Abdul
Qodir al-Jaelani dan Syekh Abu Hasan as-Syadzili. Ada juga yang harus merahasiakan
diri seperti Syekh Abdus Salam bin Masyisy dan Imam Nawawi al-Murojjeh al-
Falastin. Ada lagi yang diberi wewenang boleh merahasiakan dan boleh
memproklamirkan. 45

Dalam pandangan Wahidiyah, Ghoutsuz Zamaan tampak seperti umumnya
orang/ulama’, akan tetapi memiliki ciri-ciri khas batin seperti yang disebutkan di dalam
kitab Jaami’ul Ushuul Fil Auliyaa, yaitu :

(1). Hatinya senantiasa thowaf kepada Allah
sepanjang masa. Istilah Wahidiyah senantiasa LILLAH BILLAH.

(2). mempunyai sirri
yang dapat menerobos kepada seluruh alam, seperti meratanya roh di dalam jasad atau
seperti merebesnya air di dalam pohon-pohonan.

(3). menanggung (memprihatinkan)
kesusahan dan kesulitan ahli dunia. 46

Fungsi dan peran Ghoutsu Zaman menurut Wahidiyah begitu berat memikirkan
dan memperhatinkan masyarakat sedunia. Perjuangannya terutama berada di dalam
cakrawalanya alam rohani. Sedangkan kegiatan lahiriyah juga sama dengan umumnya
ulama’, yakni menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan kebenaran dan
keadilan, mengajak dan menuntun umat masyarakat kembali sadar kepada Allah dan
Rasul-Nya, disamping itu menjalankan tugas-tugas ikemanusiaan, memberikan
pertolongan dan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan hidup yang dialami oleh
masyarakat dalam berbagai macam problem.

44 Kuliah Wahidiyah, h. 138-139.
45 Kuliah Wahidiyah, h. 142.
46 Kuliah Wahidiyah, h. 142.

21

Aliran Perjuangan Wahidiyah meyakini bahwa Ghoutsuz Zaman langsung
dipilih dan diangkat oleh Allah SWT. Jadi bukan hasil pilihan dan diangkat sesama
manusia atau sesama Auliya’ sekalipun. Aliran meyakini bahwa Ghoutsuz Zaman
adalah “atqon-naas fii zamanihi” – orang yang paling bertaqwa pada zamannya, insan
yang Kamiil Mukammil, orang sempurna dan mampu membimbing dan menjadikan
orang lain menjadi sempurna. 47

Dalam pandangan Wahidiyah, seorang guru Mursyid yang mampu membimbing
orang lain untuk wushul/sadar/ ma’rifat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang
“ALIMUN BILLAHI WA BIAHKAAMIHI”, seorang yang ‘arif billah yang menguasai
dan konsekwen menjalankan hukum-hukum Allah. Tak heran jika aliran ini berpendapat
bahwa dalam bidang hukum-hukum syari’ah, Ghoutsuz Zaman adalah seorang hakim
yang adil dan bijaksana. Pendapatnya di dalam menetapkan sesuatu hukum selalu tepat
dan adil oleh karena pandangan-pandangannya disinari oleh Nuu Ilahi yang murni
sebagai buah dari ciri khas batin dimana hatinya thowaf kepada Allah SWT sepanjang
masa. 48

Para pengamal Wahidiyah dapat mengadakan kontak hubungan dengan Ghouts
Hadzaz Zaman, terutama hubungan rohani atau konsultasi batin dalam segala persoalan
dunia dan akhirat, khususnya dalam bidang wushul/ma’rifat/sadar kepada Allah dan
Rasul-Nya.  Caranya dengan melaksanakan “LILGHOUTS BILGHOUTS”. 49

Tentang kerugian orang yang tidak dapat berhubungan dengan orang yang
Kamil Mukammil, Wahidiyah merujuk pendapat Syekh Dawud bin Makhola di dalam
Kitab Taqriibul Ushul: “Barang siapa hidup di dunia ini tidak bertemu dengan
seseorang yang Kamil Mukammil yang mendidiknya, maka dia akan keluar dari dunia
(meninggal dunia) dalam keadaan berlumuran dosa besar, sekalipun ibadahnya seperti
ibadahnya jin dan manusia.” 50

Adapun siapa orangnya Ghouts Hadzaz Zaman, di dalam pengalaman Sholawat
Wahidiyah tidak diisyaratkan harus mengetahuinya karena tidak ada identitas lahir yang
dapat dikemukakan tentang pribadi seorang Ghouts, oleh karena keadaan lahirnya biasa-
biasa saja seperti umumnya ulama’. Pengamal Wahidiyah hanya diminta percaya

47 Kuliah Wahidiyah, h. 143.
48 Kuliah Wahidiyah, h. 143.
49 Kuliah Wahidiyah, h. 144.
50 Kuliah Wahidiyah, h. 148.

22

adanya Ghouts Hadzaz Zaman, percaya akan fungsinya, percaya akan wewenangnya,
percaya keistimewaan-keistimewaan yang dikaruniakan kepada Ghouts Hadzaz Zaman
berupa barokah dan karomah, kemampuan nadhroh dan tarbiyah di dalam perjalanan
wushul ma’rifat kepada Allah SWT. Di dalam ajaran Wahidiyah dikenal dengan istilah
kesadaran FAFIRRU ILALLAH WA ROSUULIHI SAW. Percaya bahwa beliau
Ghouts Hadzaz Zaman adalah perantara para pengamal Wahidiyah dikaruniai rahmat
fadhilah Allah SWT dan syafa’at Rasulullah SAW berupa kejernihan hati, ketenangan
batin dan ketentraman jiwa dari barokah mengamalkan Sholawat Wahidiyah. 51

Dengan demikian, tidak tidak semua Pengamal Wahidiyah mengetahui dan
mengenal secara jasmani maupun rohani Ghouts Hadzaz Zaman. Jika ada diantara para
Pengamal Wahidiyah mengetahui dan mengenal siapa Ghouts Hadzaz Zaman, itu
adalah suatu fadhilah dan rahmat dari Allah SWT. Dia tidak boleh memperbincangkan
siapa Ghouts Hadzaz Zaman, lebih-lebih terhadap orang yang masih belum menerima
Wahidiyah karena khawatir akan terhijab di dalam hati. 52

2. Sallab dan Jallab

Dalam pandangan Wahidiyah, ghauts hadza zaman memiliki kemampuan salab
dan jalab, yaitu mencabut dan menarik iman. Versi pertama menurut penganut Shalawat
Wahidiyah, seorang ghauts/mursyid/wali memiliki kemampuan untuk mencabut iman
seseorang ketika mengajak berbuat kemaksiatan (sallab), dan memiliki kemampuan
untuk menarik iman (jallab) ketika mengajak kepada kebaikan. Versi yang lain
memahami bahwa wali mempunyai kemampuan untuk mencabut iman seseorang
dengan doanya. Maksudnya, adalah bahwa tetap yang hakiki adalah Allah SWT.
Wali/mursyid hanya diberi kemampuan oleh Allah SWT dengan doanya untuk
mencabut dan menarik iman. 53

Di dalam bidang kesadaran kepada Allah dan rasul-Nya, Ghoutsuz Zaman
dikarunia hak dan wewenang yang disebut “JALLAB” dan “SALLAB”. “Jallab” yaitu
menarik, mengangkat, meningkatkan derajat dan iman seseorang. “Sallab” yaitu

 

51 Kuliah Wahidiyah, h. 148.
52 Wawancara dengan Ahmad Dimyathi, Pengurus YPW Provinsi Jawa Barat.
53 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya, Ajengan
Khobir, Abdul Qahar, 15 September 2017, 15 September 2017, dan Wawancara dengan Ajengan Abbas,
16 September 2017, di Tasikmalaya.

23

mencabut/melorot martabat iman seseorang. Aliran Wahidiyah menyadari bahwa Jallab
dan Sallaab, tidak terdapat dalam al-Qur’an dan hadits. 54

Menurut Wahidiyah, jallab dan sallab memiliki makna umum dan
khusus. Makna umum jallab dan sallab dapat dimiliki oleh setiap makhluk. Aliran ini
mengumpamakan misalnya, air dapat men-salaab (merampas) rasa haus, serta dapat
men-jalaab (mendatangkan) kesegaran tenggorokan atau tubuh, api dapat men-jalaab
(mendatangkan, membuat) masakan menjadi masak, serta dapat men-salaab air
(membuat air berubah menjadi uap). Jika, seseorang memahami kekuatan air atau api
keluar dari diri air atau api (tanpa izin dari Allah Swt, tanpa didasari prinsip billah) itu
sendiri, maka iman orang tersebut masih bercampur dengan paham syirik. Sedangkan
makna khusus jallab dan sallab hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang
dikehendaki oleh Allah Swt, dan sangat berkaitan dengan sesuatu yang gaib, seperti
kondisi ahwal setiap salik atau keimanan seseorang. Misalnya, bila dalam lingkungan
suatu kaum terdapat seorang Ulama atau Kiyai, maka iman masarakat akan meningkat,
atau bila dalam lingkungan masarakat terdapat tempat maksiat, maka iman sebagian
masarakat akan melorot. 55

Jika dipahami dengan paham yang syirik, maka timbul kesimpulan bahwa iman
manusia dapat naik atau turun bukan disebabkan oleh kekuasaan Allah Swt, namun oleh
manusia lain atau oleh lingkungan. Karena itulah, aliran Wahidiyah berpandangan
bahwa di dalam kaidah Islam, tidak ada makhluk (termasuk Rasulullah Saw dan al-
Ghauts Ra) yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat atau menolak
kerugian tanpa izin Allah Swt. Jika makhluk dapat mendatangkan manfaat atau menolak
kemadlaratan, baik untuk dirinya atau untuk yang lainnya, semata-mata hanya atas izin
dan kehendak dari Allah Swt. 56

Dalam pandangan Wahidiyah, kemampuan sallab jallab ini, tidak akan dapat
dipahami oleh mukmin yang memiliki keimanan yang bercampur dengan paham syirik
(menyekutukan kekuatan makhluk dengan kekuatan Allah). Misalnya, meyakini bahwa
kemampuan tersebut semata-mata dari kekuatan al-Ghauts Ra sendiri. Jallab dan
sallaabnya al-Ghauts hanya dapat dipahami oleh orang yang imannnya tidak bercampur

54 Wawancara via Telpon dengan KH. Syukir, Da’i YPW Pusat, 16 September 2017
55 Materi Up Grading Da’i Wahidiyah, (Kediri: YPW Pusat, 2000).
56 Materi Up Grading Da’i Wahidiyah, (Kediri: YPW Pusat, 2000)

24

syirik, orang yang telah memahami ke-Maha Esa-an kekuatan dan kekuasaan Allah Swt
dalam alam semesta. 57

Aliran Wahidiyah menunjukkan jallab dab sallab makhluk Allah. Sallab
Malikat Izrail adalah pencabut (sallab) nyawa. Namun secara hakiki yang mematikan
dan yang menghidupkan makhluk hanyalah Allah Swt semata. Jallab Malikat Mikail
yaitu pembagi (jalab) serta pengambil (salab) rizki, baik rizki lahir atau batin, setiap
makhluk, secara hakiki hanyalah Allah Swt, sedangkan secara lahiriyah adalah malikat
Mikail. Jallab Malikat Jibril misalnya ketika menjelang keberangkatan Rasulullah Saw
melaksanakan mi’raj ke langit, malaikat Jibril atas perintah Allah Swt, meningkatkan
(jalaab) iman Rasulullah Saw. Sallab Jallab para Waliyullah misalnya sebelum Wali
Songo memperjuangkan Islam di Indonesia, masarakat tidak memiliki keimanan kepada
Allah Swt. Setelah mereka berjuang di Indonesia dan khususnya tanah Jawa,
masyarakat hatinya memiliki keimanan kepada Allah Swt. Iman masarakat dapat
dikatakan sebagai jallab dari para waliyullah tersebut. Begitu pula sallab jallab para
ulama, yaitu di setiap daerah yang ditempati oleh seorang ulama, sudah barang tentu
iman dan ketekunan ibadah masyarakat akan meningkat. Ini dapat dikatakan sebagai
karomah jallab yang dimiliki oleh setiap ulama. 58

F. Shalawat Wahidiyah

Wahidiyah di samping memiliki pokok ajaran, juga memiliki teks shalawat yang
diberi nama Shalawat Wahidiyah yang diambil dari Abdus Salam Masisiyah dari tarekat
Naqsyabandiyah. Teks shalawat ini ditulis sendiri oleh KH. Abdoel Madjid Ma’roef.
Teks shalawat Wahidiyah mengandung unsur lillah billah, lirrasul bir rasul, dan lil
ghauts bil ghauts. 59

Dalam ajaran Wahidiyah, Shalawat Wahidiyah boleh diamalkan siapa saja yang
bermanfaat untuk menjernihkan hati dan ma’rifat billah wa rasulihi. Oleh karena itu,
cara mengamalkannya, menurut Wahidiyah, semata-mata mengabdi diri beribadah
kepada Alah SWT dengan ikhlas serta memuliakan Nabi Muhammad SAW. Dalam
pembacaan shalawat, paham Wahidiyah memerintahkan agar bershalawat dengan

57 Materi Up Grading Da’i Wahidiyah, (Kediri: YPW Pusat, 2000).
58 Materi Up Grading Da’i Wahidiyah, (Kediri: YPW Pusat, 2000)
59 Wawancara dengan Ajengan Khobir, Agus Halim, dan Ahmad Dimyathi, pengurus YPW
Tasikmalaya dan Provinsi Jawa Barat,, 15-16 September 2017.

25

harapan Rasulullah hadir (istihdlor), sehingga para pengamal Wahidiyah harus
bershalawat dengan adab sepenuh hati, ta’zim, dan mahabbah semurni-murninya. 60 Para
pengamal Wahidiyah yakin jika pembacaan shalawat dengan persyaratan di atas, maka
Rasulullah SAW akan hadir. 61

Shalawat Wahidiyah diamalkan selama 40 hari berturut-turut. Tiap hari paling
sedikit menurut bilangan-bilangan yang tertulis di dalam lembaran Shalawat Wahidiyah
dalam sekali duduk, pagi, sore atau malam hari. Shalawat juga dicaba selama tujuh hari,
akan tetapi bilangan-bilangan tersebut diperbanyak menjadi sepuluh kali lipat. Setelah
40 hari atau 7 hari, bilangan-bilangan boleh dikurangi sebagian atau seluruhnya. Akan
tetapi lebih utama jika diperbanyak. Shalawat dapat diamalkan sendiri-sendiri, akan
tetapi berjamaah bersama keluarga atau masyarakat satu kampung sangat dianjurkan. 62

Mereka yang belum dapat membaca seluruhnya, boleh membaca bagian-bagian
mana yang sudah didapat lebih dahulu, misalnya membaca al-Fatihah saja atau
membaca kalimat nida diulangi berkali-kali selama kira-kira sama waktunya kalau
mengamalkan seluruhnya. Jika tidak bisa, boleh berdiam saja selama waktu itu dengan
memusatkan hati dan segenap perhatian ke hadhirat Allah SWT, memuliakan, dan
menyatakan rasa cinta semurni-murninya dengan istihdhar kepada Nabi Muhammad
SAW. 63

60 Shalawat Wahidiyah dan Terjemahannya, (Kediri: YPW Pusat, 2014), h. 41-42.
61 Wawancara dengan pengurus Wahidiyah Tasikmalaya dan Provinsi Jawa Barat.
62 Shalawat Wahidiyah dan Terjemahannya, h. 42.
63 Shalawat Wahidiyah dan Terjemahannya, h. 42-43.

26

27

G. Amaliyah Wahidiyah

Amaliyah Wahidiyah terpusat pada mujahadah, yang terdiri dari mujahadah
yaumiyah (harian/sendiri), usbuiyyah (satu desa), syahriyyah (kecamatan), rubu sanah
(kabupaten), nisfu sanah (propinsi), dan tahunan (nasional di bulan rajam dan
muharram). Dalam amaliyahnya, tidak hanya teks Shalawat Wahidiyah yang dibaca
tetapi juga bacaan lainnya, seperti tahlil, yasin, dan doa-doa lainnya. Bahkan jika
penganut Shalawat Wahidiyah shalat berjamaah di mushalla/masjid, ia akan mengikuti
wirid yang dibaca imam. Kecuali jika dalam satu jamaah seluruhnya penganut Shalawat
Wahidiyah, maka akan dibacakan teks Shalawat Wahidiyah secara bersama, sepeti di
Pesanren Taraju milik Ajeng Abdul Khobir. 64

Menurut Wahidiyah, mujahadah dilaksanakan dengan pengamalan Shalawat
Wahidiyah menurut cara-cara dan adab-adab yang telah ditentukan. Di dalam kegiatan
mujahadah, tampak para pengamal Wahidiyah berpakaian dengan cara yang beragam.
Tidak ada instruksi menggunakan pakaian yang sama, misalnya berpakain putih-putih
atau yang lainnya. Wahidiyah membebaskan para pengamal untuk berpakaian bebas
dalam melakukan mujahadah. Namun, para panitia yang menyelenggarakan acara
mujahadah kebanyakan menggunakan jas, meskipun kegiatan dilaksanakan di pelosok
desa. Tampak sekali, semua peserta yang datang disalami satu persatu oleh panitia yang
berjas.

Kegiatan mujahadah betul-betul tampak penuh keakraban
Pemandangan yang menarik adalah bahwa kegiatan mujahadah yang dilakukan
oleh para pengamal Wahidiyah diperintahkan untuk melakukan dengan tangsisan.
Bahkan, pidato-pidato sambutan, baik dari panitia maupun pengrus YPW, mereka
menangis dalam menyampaikan sambutan. Ini menunjukan bukan hanya dalam
pembacaan shalawat mereka menangis, tetapi juga dalam acara seremonial.
Dalam pandangan Wahidiyah, tangis berorientasi (berhubungan atau berkaitan)
kepada Allah dan Rasulullah SAW. Tangis di dalam Wahidiyah tidak menangisi  soal harta atau apa saja yang bersifat  kebendaan/material. Motif tangis dalam Wahidiyah
dapat terjadi dari bermacam-macam faktor. Antara lain tangis karena ada sentuhan jiwa
yang halus sehingga merasa penuh berlumuran dosa, penuh berbuat kedloliman
merugikan orang lain dan masyarakat dan sebagainya. Merasa berdosa, berdosa kepada
64 Wawancara dengan Ajengan Khobir, Agus Halim, dan Ahmad Dimyathi, pengurus YPW
Tasikmalaya dan Provinsi Jawa Barat,, 15-16 September 2017.

28

Allah SWT kepada Rasulullah SAW, berdosa terhadap orang tua, terhadap anak dan
keluarga, terhadap guru, terhadap pemimpin, terhadap bangsa dan negara, terhadap
perjuangan kesadaran Fafirruu Ilallah wa Rasulihi SAW, terhadap mahkluk lingkungan
hidupnya dan sebagainya. Diantaranya lagi karena sentuhan batin berupa “syauq dan
mahabbah” (rindu dan cinta) yang mendalam kepada Allah SWT dan kepada junjungan
kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW. Tangis karena kagum melihat keagungan
Allah SWT, melihat sifat Jamal dan Kamal Allah SWT, trenyuh tergores hatinya
melihat kasih sayang dan jasa serta pengorbanan Junjungan kita Rasulullah SAW,
kepada para umat,terhadap dirinya yang menangis. 65

Wahidiyah memandang bahwa tangis yang ada hubungan kepada Allah SWT
adalah tangis yang banyak dilakukan oleh para nabi mulai kanjeng Nabi Adam AS
sampai junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Kanjeng Nabi Adam AS setelah
dikeluarkan dari surga, menangis selama seratus tahun non stop. Menangis meratapi
dosanya kepada Allah SWT. yaitu melanggar larangan Allah agar tidak mendekati buah
kuldi waktu di surga.

Dalam kegiatan mujahadah, selain menangis Wahidiyah juga memerintahkan
untuk melakukan nida ke empat penjuru. Yaitu, nida’ “Fafirruu Ilallah” dengan berdiri
menghadap kearah empat penjuru. Aajaran ini menurut Wahidiyah mengikuti apa yang
pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim. 66

Yaitu, sesaat setelah membangun (renovasi)
Ka’bah, Ibrahim menyeru kepada para manusia supaya menjalankan ibadah haji. Di
dalam menyeru itu ia berdiri di atas gunung Abi Qubes menghadap ke arah utara,
selatan, timur dan barat.

Dalam melakukan nida, Wahidiyah menitikberatkan pada sikap batin untuk
menggetarkan jiwa sekuat-kuatnya memohon kepada Allah SWT agar nida’/ajakan ini
disampaikan kepada hati sanubari manusia seluruh dunia. Tidak hanya sikap batin,
sikap lahir juga disesuaikan dengan sikap batin. Caranya adalah kedua tangan lurus
kebawah di samping kedua paha. pandangan mata lurus ke depan (tidak menunduk dan
tidak menoleh). Pemindahan arah hadap, sesudah sempurna bacaan “waqul jaa al haqqu
….“ dan mendahulukan kaki kanan. Yang dibaca tiap-tiap arah ialah membaca surat al-
fatihah 1x, Fafirruu … 3x, waqul ja-al ….. 1x, yang pertama menghadap kearah barat

65 Kuliah Wahidyah, h. 199.
66 Wawancara dengan pengurus Wahidiyah Tasikmalaya dan Provinsi Jawa Barat, 16 September
2017 di Tasikmalaya

29

kemudian utara, timur dan selatan, memohon kepada Allah SWT agar nida’ panggilan
ini ditembuskan ke dalam hati sanubari umat masyarakat seluruh dunia termasuk
keluarga serta dirinya sendiri, membayangkan wujud dunia ini dan diri kita berada di
tengahnya, mengarahkan pandangan batin ke arah barat (ketika menghadap ke arah
barat), mulai dari diri kita sampai ujung dunia sebelah barat. Mengitari belahan bumi
dibawah kita dari barat ke timur, batas akhir dunia timur, kembali (secara imajinasi) ke
arah barat lewat belakang kita, demikian seterusnya pada tiap-tiap arah tersebut.

 

30

 

DAFTAR PUSTAKA

Kuliah Wahidiyah untuk Menjernihkan Hati dan Ma’rifat Billah Wa Birasulihi SAW,
(YPWPPK: Kediri, 2011
Materi Up Grading Da’i Wahidiyah, (Kediri: YPW Pusat, 2000).
Shalawat Wahidiyah dan Terjemahannya, (Kediri: YPW Pusat, 2014

http://www.jabarprov.go.id
http://www.kemendagri.go.id
http://tasikmalayakab.go.id
http://portal.tasikmalayakab.go.id
http://pengamalwahidiyah.org
http:/fafirruilalloh.com

Wawancara dengan KH. Sodiqin, Sesepuh Wahidiyah Tasikmalaya di Tasikmalaya
Wawancara dengan Ajengan Abbas, 16 September 2017, di Tasikmalaya.
Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, di Tasikmalaya.
Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya,
15 September 2017, di Tasikmalaya.
Wawancara dengan Abdul Qahar, Pengurus YPW Provinsi Jawa Barat 15 September
2017, di Tasikmalaya.
Wawancara Ahmad Dimyathi, Pengurus YPW Provinsi Jawa Barat, 16 September 2017,
di Tasikmalaya
Wawancara dengan KH Abdul Ghafur, Da’i YPW Pusat, 16 September 2017, di
Tasikmalaya
Wawancara dengan KH. Syukir, Da’i YPW Pusat, 16 September 2017, di Tasikmalaya

Hasil Riset MUI Pusat, Wahidiyah Tidak Sesat

SELASA , 7 NOVEMBER 2017

Home / NASIONAL / Hasil Riset MUI Pusat, Wahidiyah Tidak Sesat

Hasil Riset MUI Pusat, Wahidiyah Tidak Sesat

Oleh: Al Amin

Saat menyampaikan hasil riset seputar Wahidiyah dalam Kajian Tarekat Nusantara, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (04/11/2017) siang.
Dr Khamami Zada saat menyampaikan hasil riset seputar Wahidiyah dalam Kajian Tarekat Nusantara, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (04/11/2017) siang.

Jakarta, Amunisi – Lega. Inilah gambaran dari ekspresi sejumlah jamaah Sholawat Wahidiyah ketika mendengar keterangan Dr Khamami Zada, SH, MA, MDCEF, Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pada acara Kajian Sufi Nusantara, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tangsel, Sabtu (04/11/2017) siang.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Islam Nusantara Center bertajuk Shalawat Wahidiyah dalam Bingkai Tarekat Nusantara: Perlawanan dalam Menghadapi Tudingan Sesat, Pengurus MUI Pusat itu menyebutkan, secara akidah Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya tidak sesat. Menurut Khamami penilaian tersebut berdasarkan hasil riset MUI Pusat tentang Wahidiyah, baik di Pusat Perjuangan Wahidiyah, Ponpes Kedunglo, Kediri, Jawa Timur, maupun di wilayah Tasikmalaya, Jabar, dan Banten, beberapa waktu lalu.

Dia menerangkan upaya MUI Pusat untuk memperoleh informasi seputar Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya dilakukan dengan menggali keterangan secara cermat dari berbagai sumber, seperti wawancara kepada beragam pihak yang berkompeten maupun dari buku-buku Wahidiyah.

Diakui Khamami, beberapa pekan terakhir memang telah terjadi kekhawatiran di kalangan Wahidiyah, terutama pasca kedatangannya ke daerah Tasikmalaya untuk melakukan riset seputar eksistensi Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat dan Serang, Banten, pertengahan September 2017 lalu. Karenanya Wakil Sekretaris Pengkajian MUI Pusat itu memaklumi kekhawatiran tersebut.

Untuk meredakan kekhatiran para pengamal Wahidiyah Khamami mengatakan MUI pusat belum mengeluarkan fatwa apa pun tentang Wahidiyah. “Jadi, kalau ada yang mengatakan sudah ada fatwa (MUI Pusat tentang Wahidiyah) itu tidak benar,” tegasnya.

Selain itu, menjelang akhir sesi, Dr Khamami yang juga Wakil Ketua Lapesdam NU itu menyimpulkan hasil risetnya seputar Wahidiyah. “Menurut saya, secara akidah, Wahidiyah (sholawat dan ajarannya) tidak sesat,” terang Khamami, yakin.

Memang, sambungnya, jika sekilas dipahami secara harfiah tentang ajaran atau bimbingan Wahidiyah, terutama masalah eksistensi seseorang yang diyakini sebagai Sulthonul Auliya’ atau al-Ghauts memiliki sifat  sallab-jallab (menaikkan dan menurunkan keimanan seseorang) oleh umat Islam secara umum akan dianggap sesat.

”Ketika pertama kali mendengar saya katakan ini (sallab-jallab) salah. Tapi karena saya ingin mencari kesalahannya maka saya terus mempelajarinya hingga menemukan kebenaran yang sesungguhnya,” ungkap dosen UIN itu. Jadi, lanjutnya, soal sallab-jallab jangan hanya dipahami secara harfiah saja, tapi harus dilihat secara komprehensif. Karenanya ia meminta kepada pihak Wahidiyah agar dapat menyederhanakan keterangan ajaran Wahidiyah. ”Supaya lebih mudah dipahami (umat Islam secara umum),” katanya.

Kendati demikian Khamami merasa tertarik dengan keterangan Wahidiyah. ”Memang dalam setiap memberi penjelasan, (Wahidiyah) menyantumkan ini (sumber) al-Quran-nya, ini haditsnya dan ini kitabnya. Menurut saya ini menarik,” akunya.

Terkait Wahidiyah di Tasikmalaya, Alumnus MAPK MAN 1 Yogyakarta itu mengakui sallab-jallab menjadi salah satu isu yang mengakibatkan MUI Kota dan Kabupaten Tasikmalaya mengeluarkan fatwa sesat kepada Wahidiyah. Akan tetapi setelah melakukan riset di Tasikmalaya ia memperoleh keterangan dari pengamal Wahidiyah di daerah tersebut, bahwa terbitnya fatwa itu juga dipicu permasalahan kecemburuan sosial.

Karena, masih kata Khamami, amaliyah (amalan) Sholawat Wahidiyah selain dapat memberi peningkatan secara spiritual, juga berdampak kepada peningkatan ekonomi pengikutnya (pengamal). Contohnya, di Tasikmalaya ada seorang pengusaha konfeksi yang semula (cara) hidupnya urakan tapi setelah mengamalkan Sholawat Wahidiyah menjadi rajin ibadah bahkan bisnisnya pun berkembang. “Dari sinilah mulai terjadi gesekan di masyarakat,” katanya.

 

Suasana Sesi Tanya-Jawab
Suasana Sesi Tanya-Jawab

Isu Kontroversial di Masa Awal  

Lebih jauh diungkap Khamami dari hasil risetnya, sejak awal perkembangannya kemunculan Sholawat Wahidiyah direspon beragam oleh umat Islam. Selain banyak pengikutnya, karena ini amaliyah yang membawa kepuasan batiniah. Ketika orang-orang modern cenderung menjadi hedonis, konsumtif, cenderung untuk meninggalkan ahlak dan budaya masyarakat yang baik, maka (amaliyah) Wahidiyah  menjadi solusi dalam mengisi kehampaan spiritual.

Nah, sambung Khamami, amaliyah Wahidiyah ini adalah salah satu yang mengisi kekosongan spiritual masyarakat muslim disamping tarekat yang lainnya. Maka tidak heran perkembangan Wahidiyah ini menjadi besar karena amaliyahnya sangat praktis, kemudian masuk ke ranah jiwa dan sanubari sehingga para pengingut terpuaskan.

Karenaya kaum muslimin yang menerima Sholawat Wahidiyah sebagian besar kemudian menjadi pengamal dan pengikutnya. Tetapi tidak sedikit juga yang menolak atau sekurang-kurangnya mencurigai ajaran dan praktik pengamalan Sholawat Wahidiyah. Beberapa kiai bahkan melontarkan kritik tajam terhadap Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya.

Isu utama yang menjadi bahan kritik ialah mempertanyakan keabsahan Sholawat Wahidiyah yang di-ta’lif(susun) oleh KH Abdul Madjid Ma’ruf. Pertanyaan mereka antara lain perihal mengapa Sholawat Wahidiyah tidak memilih sholawat yang diajarkan oleh Rosululloh SAW (ma’tsuroh) ? Bagaimana pula sanad dan silsilah Sholawat Wahidiyah sehingga berani menjadikannya sebagai wirid (amaliyah) bagi jamaah pengikut Sholawat Wahidiyah ? Persoalan ini dapat diselesaikan di awal perkembangannya melalui argumen bahwa al-Quran menganjurkan orang mukmin bersholawat kepada Nabi SAW (Q.S. Al-Ahzab: 56).

Tentang sholawat yang ghoiro ma’tsuroh dinyatakan bahwa membaca sholawat kepada Rosululloh SAW dengan doa (sholawat) yang mana saja, baik yang diajarkan oleh Nabi maupun sholawat yang redaksinya disusun ulama, seperti Sholawat Nariyah, Sholawat Munjiyat, Sholawat Badar, termasuk Sholawat Wahidiyah, mutlak diterima. Nabi juga bersabda: Man sholla’alayya sholatan wahidatan, shollallohu biha ‘alayhi ‘asyroh (Barang siapa bersholawat kepadaku sekali saja, Allah akan membalaskannya dengan bersholawat kepada orang itu, sepuluh kali).

Menurut Khamami yang cukup menarik dalam menangani kritik-kritik dari para Kiai, pihak Wahidiyah menghadapinya dengan mengajak langsung kepada pihak pengeritik untuk bermusyawarah (berdebat)    sampai tercapai kesepakatan. ”Ini menurut saya adalah suatu trik Wahidiyah

”Contoh faktual dari cara ini adalah “Piagam Ngadiluwih”. Piagam ini merupakan pernyataan bersama antara pihak pengritik dan Wahidiyah sebagai pihak yang dikritik. Dalam Piagam Ngadiluwih kedua belah pihak menyatakan “menaati, membela serta memperjuangkan semua keputusan musyawarah secara konsekuen” katanya. Ini adalah suatu trik bagaimana Wahidiyah mengatasi isu kontroversial kepada pengretiknya di Jawa Timur.

 

Dilarang ‘Impor’ Fatwa 

 Pada sesi tanya jawab para Pengamal Sholawat Wahidiyah begitu antusias untuk memperoleh keterangan langsung atas pertanyaan yang disorongkan kepada Pengurus MUI Pusat tentang itu. Salah satu pertanyaan mereka adalah tentang Fatwa MUI Tasikmalaya.

Menurut Pengamal Sholawat Wahidiyah meski Dr Khamami menyebutkan belum ada Fatwa Wahidiyah dari MUI Pusat, namun hal tersebut tidak membuatnya puas. Sebab, para pengamal masih merasa dihantui dengan Fatwa MUI Tasikmalaya yang selalu dijadikan alasan oleh oknum MUI Daerah untuk melarang Wahidiyah melakukan kegiatan (mujahadah), diantaranya di Tebingtinggi (Sumut) dan Sumbawa (NTB), baru-baru ini.

Karenanya mereka menanyakan apakah MUI daerah lain boleh ‘mengimpor’ fatwa dari MUI Tasikmalaya ? Mendengar pertanyaan tersebut Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian MUI Pusat dengan tegas mengatakan tidak boleh. “Kalaupun itu terjadi, tentu hal tersebut tidak diketahui oleh MUI Pusat,” katanya.

Perhelatan yang digelar di Islam Nusantara Center tersebut adalah kegiatan rutin yang selenggarakan setiap Sabtu dengan beragam topik dan nara sumber. Tujuannya antara lain untuk memberi wahana sekaligus pencerahan kepada masyarakat muslim agar lebih jauh memahami corak Islam di Nusantara yang penuh kedamaian dalam bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara.

(Visited 1.011 times, 323 visits today)

Simak Juga

pemakaman bupati

Bupati Pangkep Hadiri Pemakaman Camat Balocci.

Oleh Muin PANGKEP AMUNISINEWS.COM- Masyarakat Kabupaten Pangkep dikejutkan oleh kabar meninggalnya camat Balocci Burhan S.Sos, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PERINTAH KAPOLRI, KAPOLDA JATIM HADIRI HUT WAHIDIYAH KE-54

DAERAH

PERINTAH KAPOLRI, KAPOLDA JATIM HADIRI HUT WAHIDIYAH KE-54

HARIANTERBIT.CO – Shalawat Wahidiyah merupakan amalan yang baik. Wahidiyah artinya ilmu tauhid, ilmu ketuhanan, ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, Sholawat Wahidiyah juga bermanfaat untuk menjernihkan hati.

Demikian disebutkan Kapolda Jatim Irjen Pol. Machfud Arifin SH, dalam sambutannya pada Mujahadah Kubro dalam rangka memperingati HUT Shalawat Wahidiyah ke-54, dan haul Mbah KH. Mohammad Ma’ruf (Pendiri Ponpes Kedunglo) ke-62, di Ponpes Kedunglo Al-Munadhdhoroh, Kota Kediri, Minggu (15/10) malam.

Diungkap Machfud, kehadirannya mengikuti Mujahadah Kubro yang diselenggarakan Yayasan Perjuangan Wahidiyah (YPW) Pusat itu, atas perintah Kapolri dan tidak boleh diwakilkan, sehingga ada sejumlah kegiatan di Surabaya yang terpaksa ia tinggalkan agar bisa menghadiri Mujahadah Kubro. Menurut Kapolda Jatim Mujahadah Kubro menjadi acara prioritas.

Dalam kesempatan itu, Kapolda Jatim juga menyampaikan permohonan maaf kepada Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo, Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid, RA, atas ketidakhadiran Kapolri pada Mujahadah Kubro, sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya, saat Kapolri melakukan Safari Ramadhan di Jawa Timur, beberapa bulan lalu.

”Saya selaku Kapolda Jawa Timur menyampaikan permohonan maaf Pak Kapolri berhalangan hadir, karena ada tugas negara yang tidak bisa ditinggalkan. Maka, saya diperintahkan untuk hadir dan tidak boleh diwakilkan. Ini betul perintah Pak Kapolri, saya harus hadir,” ungkap Kapolda Jatim di hadapan sekitar 50 ribu peserta Mujahadah Kubro.

Caption
Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid, RA bersama Kapolda Jatim (kiri) Irjen Pol. Machfud Arifin SH, pada Acara Mujahadah Kubro, di Ponpes Kedunglo, Kota Kediri, Minggu (15/10) malam.
Ketikkan pesan…

POSITIF

Menurut Machfud, Mujahadah Kubro Muharram 1439 ini adalah momentum yang mempunyai nilai yang sangat positif, yaitu memperingati HUT Shalawat Wahidiyah dan haul Mbah KH. Mohammad Ma’ruf, Pendiri Ponpes Kedunglo.
Shalawat Wahidiyah, kata Machfud, merupakan amalan yang baik.

Wahidiyah artinya ilmu tauhid, ilmu ketuhanan, ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta bermanfaat untuk menjernihkan hati. Sedangkan Mbah KH. Mohammad Ma’ruf memiliki suatu tujuan mulia untuk membina ahlak, tingkah laku serta perbuatan masyarakat berdasarkan pada ajaran Islam dengan tetap memperhatikan kondisi masyarakat yang plural, demokratis, damai serta saling menghormati.

”Oleh karena itu, Ponpes ini (Kedunglo) memiliki nilai yang sangat penting untuk mengembangkan ajaran agama Islam dengan tetap menjaga kedamaian, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” imbuh Kapolda Jatim di hadapan sekitar 50 ribu peserta Mujahadah Kubro.

PERKEMBANGAN

Selain itu, sambungnya, seiring perkembangannya Ponpes Kedunglo dan Perjuangan Wahidiyah yang kini dipimpin Kanjeng Romo KH. Abdul Latif, mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi masyarakat dan telah ikut mencerdaskan bangsa dengan mendirikan sekolah Wahidiyah, mulai dari TK hingga perguruan tinggi, yakni Universitas Wahidiyah.

Karenanya, ia berharap dari pelaksanaan Mujahadah Kubro ini dapat mempererat tali silaturahim serta meningkatkan ukhuwah Islamiyah di Republik Indonesia.
Usai memberi sambutan, kepada pers Machfud menyebutkan kegiatan Wahidiyah sangat baik diselenggarakan di seluruh Nusantara.

Menurutnya, ini (mujahadah) adalah acara permohonan doa untuk keberkahan bangsa dan negara, tentunya ada nilai-nilai positif yang dirasakan masyarakat.

Jadi, acara semacam ini sangat baik dilaksanakan di mana saja,” tegas Irjen Pol. Machfud Arifin yang didampingi sejumlah pejabat utama Polda Jatim serta para Kapolres di jajaran Korwil Kediri.

Di samping itu, Kapolda Jatim memberi apresiasi terhadap Perjuangan Wahidiyah yang tidak terpengaruh oleh paham atau kelompok yang ingin membelah NKRI, atau aliran radikal yang memaksakan kehendaknya. Karenanya dalam sambutannya ia menegaskan Wahidiyah atau Ponpes Kedunglo cinta Tanah Air.

KUBRO

Kegiatan Mujahadah Kubro Muharam 1439 Hijriyah yang diselenggarakan sejak Kamis-Minggu (12-15) malam itu, tidak hanya dihadiri Pengamal Wahidiyah di seluruh Nusantara tapi dihadiri juga oleh para jamaah Wahidiyah di sejumlah negara di Asia, seperti Hongkong, Macau, Brunei Darussalam dan Malaysia.

Syarifah Herliani, istri mendiang Sultan Iskandar Yang di-Pertuan Agong Malaysia yang ke-8, yang baru satu bulan ikut mengamalkan sholawat Wahidiyah ikut pula menghadiri perhelatan tersebut.

Menurut Syarifah, dalam sambutannya menuturkan setelah ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah dirinya merasa lebih terpacu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bahkan ia pun sangat apresiatif terhadap para pengamal Wahidiyah yang mudah menangis mengingat dosa. Dengan pengalaman yang ia rasakan itu, Syarifah Herliani bertekad ikut menyiarkan Sholawat Wahidiyah kepada para kerabat dan sahabatnya di berbagai Negara. Al Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

 

Kapolri Apresiasi Perjuangan Wahidiyah

JUMAT , 20 OKTOBER 2017

Home / BERITA UTAMA / Kapolri Apresiasi Perjuangan Wahidiyah

Kapolri Apresiasi Perjuangan Wahidiyah

KEDIRI, AMUNISI – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memberi perhatian khusus kepada Yayasan Perjuangan Wahidiyah (YPW). Hal tersebut terungkap dari sambutan Kapolda Jatim Irjen Pol. Machfud Arifin SH, pada Mujahadah Kubro dalam rangka memperingati HUT Shalawat Wahidiyah ke-54, dan haul Mbah KH. Mohammad Ma’ruf (Pendiri Ponpes Kedunglo) ke-62, di Ponpes Kedunglo Al-Munadhdhoroh, Kota Kediri, Minggu (15/10) malam.

Diterangkan Machfud, kehadirannya mengikuti Mujahadah Kubro yang diselenggarakan YPW Pusat itu, atas perintah Kapolri dan tidak boleh diwakilkan. Karenanya ada sejumlah kegiatan di Surabaya yang terpaksa ia tinggalkan agar bisa menghadiri Mujahadah Kubro. Karena, menurutnya Mujahadah Kubro menjadi acara prioritas.

Masih dalam sambutannya, Kapolda Jatim juga menyampaikan permohonan maaf kepada Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo, Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid, RA, atas ketidakhadiran Kapolri pada Mujahadah Kubro, sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya, saat Kapolri melakukan Safari Ramadhan, beberapa bulan lalu.

”Saya selaku Kapolda Jawa Timur menyampaikan permohonan maaf Pak Kapolri berhalangan hadir, karena ada tugas negara yang tidak bisa ditinggalkan. Maka, saya diperintahkan untuk hadir dan tidak boleh diwakilkan. Ini betul perintah Pak Kapolri, saya harus hadir,” ungkap Kapolda Jatim di hadapan sekitar 50 ribu peserta Mujahadah Kubro.

Menurut Machfud, Shalawat Wahidiyah merupakan amalan yang baik. Wahidiyah artinya ilmu tauhid, ilmu ketuhanan, ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta bermanfaat untuk menjernihkan hati.

Lebih jauh diterangkan Kapolda Jatim, bahwa pendiri Ponpes Kedunglo (Mbah KH. Moh. Ma’ruf) memiliki suatu tujuan mulia untuk membina ahlak, tingkah laku serta perbuatan masyarakat berdasarkan pada ajaran Islam dengan tetap memperhatikan kondisi masyarakat yang plural, demokratis, damai serta saling menghormati. “Oleh karena itu Ponpes ini memiliki nilai yang sangat penting untuk mengembangkan ajaran agama Islam dengan tetap menjaga kedamaian, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” katanya.

Selain itu Kapolda Jatim menyebutkan Perjuangan Wahidiyah mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi masyarakat dan telah ikut mencerdaskan bangsa dengan mendirikan sekolah Wahidiyah, mulai dari TK hingga perguruan tinggi, yakni Universitas Wahidiyah. Karenanya, ia berharap dari pelaksanaan Mujahadah Kubro ini dapat mempererat tali silaturahim serta  meningkatkan ukhuwah Islamiyah di Republik Indonesia. Karena itu, ketika dikonfirmasi Amunisi, usai memberi sambutan Machfud menyebutkan kegiatan Wahidiyah sangat baik diselenggarakan di seluruh Nusantara.

”lni (mujahadah) adalah acara permohonan doa untuk keberkahan bangsa dan negara, tentunya ada nilai-nilai positif yang dirasakan masyarakat. Jadi, acara semacam ini sangat baik dilaksanakan di mana saja,” tegas Irjen Pol. Machfud Arifin yang didampingi sejumlah pejabat utama Polda Jatim serta para Kapolres di jajaran Korwil Kediri.

Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid, RA bersama Kapolda Jatim (kanan) Irjen Pol. Machfud Arifin SH, saat menuju arena Mujahah Kubro, di Ponpes Kedunglo, Minggu (15/10) lalu
Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid, RA bersama Kapolda Jatim (kanan) Irjen Pol. Machfud Arifin SH, saat menuju arena Mujahah Kubro, di Ponpes Kedunglo, Minggu (15/10) lalu

Di samping itu, Kapolda Jatim memberi apresiasi terhadap Perjuangan Wahidiyah yang tidak terpengaruh oleh paham atau kelompok yang ingin membelah NKRI, atau aliran radikal yang memaksakan kehendaknya. Karenanya dalam sambutannya ia menegaskan Wahidiyah atau Ponpes Kedunglo cinta Tanah Air. al

(Visited 65 times, 65 visits today)

Simak Juga

dokumen hilang- nasional

Hadiah Bagi Penemu Dokumen Koperasi

Oleh Hamzah Sila Koperasi Rahmat Mannilingi Siap Berikan Imbalan Bagai Yang Mengembalikan Sertipikatnya JENEPONTO, AMUNISINEWS.COM– …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah SAW

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah

Ahad, 17 Januari 2016 10:00Hikmah

Bagikan 

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah

Foto: Ilustrasi

“Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” Syaikhul Jihad Abdullah Azzam

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila… Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya.

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim)

Uwais Al Qarni pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak tangan Uwais Al Qarni.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya.

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

M. Haromain,
Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri;
Berdomisili di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Bogangan Utara Wonosobo

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah

KONTAK REDAKSI

Gedung PBNU Lt. 5
Jl. Kramat Raya 164
Jakarta 10430 – Indonesia
redaksi[at]nu.or.id

PERIKLANAN

Tel : 021 – 3914013
Fax : 021 – 3914014
marketing[at]nu.or.id

MEDIA PARTNER

TV9
Aswaja TV
NU TV
Radio NU
AULA
Majalah Risalah NU
164 Channel

Kapolda Jataim dan Pejabat Utama Hadiri Mujahadah Kubro Muharram 1439 H Kediri

Kapolda Jataim dan Pejabat Utama Hadiri Mujahadah Kubro Muharram 1439 H Kediri


 Mbah Heru    15 October 2017 (07:58)    POLDA

img

Tribratanewspoldajatim.com: Kapolda Jatim Irjenpol Drs. Machfud Atifin SH didampingi Irwasda, Karo SDM, Kabidpropam, Kabidbinkum, menghadiri resepsi Mujahadah Kubro Muharram 1439 H gelombang V di Pondok Pesantren Kedunglo Al Mumadhdhoroh di Jalan KH Wakhid Hasyim Bandar Lor Mojoroto Kediri.

Kehadiran Kapolda Jatim dan rombongan disambut oleh Pimpinan Pondok Pesantren Hadratul Mukarrom Kanjeng Romo KH.Abdul Latif Madjid RA, Minggu (15/10/2017). (tatik/mbah)

KOMENTAR

Muhammad Arif · 

Mujahadah Kubro gel.5 mlm ini di pondok pesantren Kedunglo Al-Munadzhoroh kediri dihadiri oleh Kapolda Jatim Irjen Pol Mahfud Arifin yg diikuti para Kapolres dan juga Ratu Johor Malaysia, Bunda Ratu Sarifah Herliani. Ratusan ribu peserta pd gel.5 ini yg hadir dari seluruh penjuru tanah air serta dari luar negeri terlihat sangat khidmat mengikuti acara.

Dalam sambutannya, Kapolda Jatim mengajak semua jama’ah menjaga keutuhan NKRI dg tetap berpegang teguh pada Pancasila & UUD 45 serta menjaga merah putih dari yg ingin merongrongnya serta menjaga masyarakat dari pengaruh berita HOAX.

Sementara itu Ratu Johor Malaysia Bunda Ratu Sarifah Marliani mengatakan : “Saya baru mengamalkan shalawat wahidiyah selama satu bulan dan sy sdh merasakan manfaatnya yg luar biasa, hati lebih tenang, dan sebagainya, apalagi bapak ibu semua yg sdh lama mengamalkan wahidiyah tentunya juga sdh merasakan faedah yg sudah luar biasa”.

Yaa Sayyidii Yaa Ayyuhal Ghouts !

PENGALAMAN ROHANI … tuk menghadiri Mujahadah Kubro …

[15/10 19:46] Wardasim Hasim: *Cuplikan Isi Fatwa Amanat Hadhrotul Mukarrom Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA dlm Mujahadah Kubro Gelombang ke 5, Ahad mlm Senin tgl 15 Okt 2017, setelah jamaah sholat maghrib*

Tadi sore Bunda Ratu Johor Malaysia, Hj. Syarifah Nurliani istri Raja Johor Malaysia sowan Beliau Kanjeng Romo Yahi.
Dia telah mengamalkan Sholawat Wahidiyah 1 bln lalu.
Dia menyatakan akan berjuang tuk menyiarkan Sholawat Wahidiyah di Negara Malaysia, Brunai dll.

Seminggu yang lalu dia tidak ingin datang menghadiri Mujahadah Kubro di Ponpes Kedunglo Kediri Jatim.
Namun setiap malam selama 7 mlm berturut-turut ditemui secara sirri, secara rohani, secara sepiritual oleh Kanjeng Romo Kyai RA, dan didawuhi Beliau supaya hadir tuk mengikuti Mujahadah Kubro di Kedunglo.
Alhamdulillah … Akhirnya tadi sore beliau dapat hadir di Ponpes Kedunglo Al Munadhoroh.

Dia adalah guru sepiritualnya dari Raja Johor dan Raja Brunei Darussalam.
Dia punya jamaah di Tiongkok dan negara lainnya ratusan ribu jumlahnya.
Dia akan mengundang Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid RA ke Kerajaan Johor dan Kerajaan Kelantan Malaysia serta lainnya. Aamiin !

Dia diberi sebutan nama ROBIATUL ADAWIYYAH oleh Kanjeng Romo Yahi Ra dan didoakan oleh Beliau semoga diangkat drajatnya oleh Alloh Swt menjadi Wali-Nya, dimulyakan dan menjadi Pejuang Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi Saw … yg handal dan militan … Aamiin !

(Jamaah Sholat Maghrib dalam Mujahadah Kubro, 15 Oktober 2017)

Foto Ahmad Dimyathi.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

Komentari

Komentar

Gyo Sanndy · 69 teman yang sama

Ijin share pak
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

Balas1 jam

Kelola

Ahmad Dimyathi membalas1 Balasan

Alimusyafak Ali · 42 teman yang sama

Yaa ssyyidii yaa ayyuhal ghous
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

Balas1 jam

Kelola

SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

Balas1 jam

Kelola

Ahmad Dimyathi membalas1 Balasan

Wirson Batagor · 72 teman yang sama

Pak yai mohon ijin njih yaa sayyiddii yaa ayuhal ghoust
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

Balas5 menit

Kelola

-3:59:08

5.034 Tayangan

Kedunglo live streaming menayangkan siaran langsung.

12 jam

Mujahadah Kubro Memperingati HUT Sholawat Wahidiyah dan Haul Mbah K.H. Muhammad Ma’roef Ra 1439 H Gelombang 5 yang di peruntukkan bagi Bapak-bapak Wahidiyah

*Info Awal Giat bpk Kapolda Jatim di Ponpes Kedunglo Kediri Kota*

*Jam 15.00 -15.45 wib*
Kapolda beserta Rombongan ( Irwasda, Kabid Propam, Kabidkum dan Karo Sdm ) brgkt dr Sby menuju Helipad GG

*Jam 15.45 – 16.00 wib*
Kapolda beserta rombongan Tiba di Helipad GG Selanjutnya menuju Hotel GrandSurya untuk transit, istirahat sejenak dan Sholat Maghrib

*Jam 19.00 -19.15 wib*
Kapolda beserta rombongan berangkat menuju pondok kedung lo

*Jam 19.15 – 19.30 wib*
Kapolda beserta rombongan tiba di ponpes kedung Lo dan lgsg transit di kediaman Romo KH Abdul Latif RA dan ramah tamah.

*Jam 19.30 – 19.45 wib*
Menuju lokasi sholawat dan Sambutan selamat datang kepada Kapolda Jatim beserta Romb oleh Romo KH Abdul latif

*Jam 20.00 – 20.30 wib*
Sambutan dari Bpk Kapolda Jatim
*Cttn 
– _setelah sambutan giat bpk Kapolda dan rombongan menyesuaikan._

*Jam 20.40 – 21.00 wib*
Mukhodimah Sholawat Wahidiyah

*Jam 21.00 – 21.30 wib*
Giat Tahlil

*Jam 21.30 – 22.00 wib*
Kuliah Wahidiyah

*Jam 22.00 – 23.00 wib*
Fatwa, amanat dan doa restu Hadrotul Mukarom Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid

*Jam 23.00 – selesai wib*
Doa dan Penutup.

*Dumm.*

Foto Ihsan Salim Aranggere.
Foto Ihsan Salim Aranggere.
Foto Ihsan Salim Aranggere.
Foto Ihsan Salim Aranggere.

Ihsan Salim Aranggere menambahkan 4 foto baru.

11 jamKota Kediri

Selamat datang Kapolda Jawa Timur di Pondok Pesantren Kedunglo dalam Rangka Mujahadah Kubro

Humas Mujahadah Kubro


BERITA YANG DISARANKAN

 

KISAH IMAM AL GHAZALI BERGURU PADA TUKANG SEPATU

KISAH IMAM AL GHAZALI BERGURU PADA TUKANG SEPATU

Belajar dari kisah Hujjatul Islam, Imam Ghazali, yang dinukilkan dari kitab Maroqi Al-‘Ubudiyyah karangan Imam Nawawi Al-Jawi, syarah dari kitab Bidayah Al-Hidayah karangan Imam Ghazali, tentang perjalanan beliau mendapatkan ilmu ladunni dengan cara tabarrukan (mencari barakah ilmu dari guru).

Imam Ghazali adalah ulama besar yang mengarang berbagai kitab, baik ilmu Fiqh dan Tasawuf. Salah satu karangan beliau yang paling terkenal adalah Tahafut Al-Falasifah dan Ihya’ Ulumuddin. Pada awalnya, Imam Ghazali hanyalah ulama biasa, yaitu sebagai imam Masjid. Ia sangat rajin menjadi imam shalat berjama’ah lima waktu besama-sama dengan masyarakat di sekitarnya. Tapi anehnya, saudaranya yang bernama Imam Ahmad, tidak mau ikut berjama’ah bersama Imam Ghazali. Bahkan ia bersikap acuh kepadanya. Hal inilah yang membuat Imam Ghazali merasa jengkel kepada saudaranya.

Imam Ghazali, sebenarnya telah mengadukan sikap saudaranya itu kepada ibunya, agar sang ibu mau menasehatinya. Ibu memberi nasehat kepada Ahmad, agar dia mau berjama’ah di masjid bersama masyarakat sekitar.

Pada saat Imam Ghazali menjadi Imam, tiba-tiba saudaranya melihat bahwa baju yang dipakai Imam Ghazali penuh dengan lumuran darah. Karena itulah, beliau akhirnya memisahkan diri (Mufaraqah) tidak mau shalat berjama’ah bersama-sama yang lain.

Mengetahui sikap saudaranya itu, Imam Ghazali menjadi bingung. Dia tidak mengerti mengapa saudaranya itu betul-betul tidak mau shalat berjama’ah dengannya. Dengan hati yang penuh pertanyaan, akhirnya Imam Ghazali memberikan diri untuk bertanya. “Mengapa engkau bersikap acuh ketika aku menjadi imam shalat?” Saudaranya menjawab, “Bagaimana saya harus berjama’ah dengan seorang yang bajunya berlumuran darah?”

Mendengar jawaban tersebut, Imam Ghazali sangat terkejut. Ia menyadari bahwa waktu itu dirinya kurang bisa khusuk dalam shalatnya karena memikirkan masalah yang diajukan seseorang kepadanya. Yakni masalah darah wanita (haidh). Karena masalah tersebut belum ditemukan jawabanya, maka pikiran Imam Ghazali menjadi kalut hingga mengakibatkan shalatnya tidak khusuk.

Seketika itu pula Imam Ghazali baru menyadari bahwa saudaranya ternyata bukan orang sembarangan. Maka dengan rasa hormat, dia pun bertanya, “Wahai saudaraku, darimana engkau memperoleh ilmu yang seperti itu?”. Jawab Ahmad “Ketahuilah wahai saudaraku, aku belajar dari seorang guru yang pekerjaanya sehari-hari menjadi tukang sol sepatu.”
“Kalau begitu, tolong kiranya engkau sudi menunjukkan padaku guru tersebut,” pinta Imam Ghazali.

Imam Ahmad pun akhirnya berkenan mengantarkan Imam Ghazali menemui orang yang dimaksud. Setelah dipertemukan, Imam Ghazali pun menyatakan keinginan untuk menimba ilmu dari orang tersebut. Tapi waktu itu, tukang sol sepatu malah balik berkata kepada Imam Ghazali,

“Pikirkanlah terlebih dahulu. Jangan-jangan engkau nanti tidak akan mampu melaksanakan perintahku!”

“Insya Allah, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti apa pun yang tuan guru kehendaki,” jawab Imam Ghazali.

“Sebelum aku mengajarkan ilmu kepadamu, tolong kau bersihkan lebih dahulu lantai tempat kerjaku ini agar enak dipandang mata,” demikian kata sang guru.

Imam Ghazali pun segera mencari sapu untuk melaksanakan perintah sang guru. Tapi sang guru menyuruh menyapu lantai itu dengan tangannya. Maka Imam Ghazali Menyapu dengan tangannya. Kemudian ketika melanjutkan menyapu, beliau melihat banyak kotoran yang berserakan di lantai tersebut.

Sang Guru berkata, “Sapulah kotoran itu.” Ketika Imam Ghazali hendak melepaskan bajunya, sang guru berkata, “Sapulah lantai itu dengan baju yang engkau pakai.”

Ketika Imam Ghazali dengan senang hati hendak menyapunya, sang guru kemudian melarangnya dan menyuruh pulang ke rumahnya. “Nah, sekarang pulanglah engkau!” begitu perintahnya.

Imam Ghazali tak menyangka sama sekali. Dia menyangka hari itu akan mendapatkan bimbingan untuk mempelajari sesuatu, namun apa yang diperkirakan ini meleset. Karena itu, ia pun segera berpikir, mungkin saja hari itu sang guru sudah lelah karena bekerja seharian, sehingga beliau tak mengajarkan ilmu kepadanya akan diberikan pada kesempatan lain. Imam Ghazali pun pulang sesuai perintah guru tanpa memperoleh sedikitpun pelajaran darinya.

Akan tetapi, sampai dirumah, Imam Ghazali merasakan bahwa dalam hatinya ada sebuah pergolakan, sehingga menimbulkan perubahan besar dalam diri beliau.

Allahuma sholi ‘ala sayidina muhammad nabiyil umiyi wa ‘ala ‘alihi washohbihi wasalim

silahkan tag dan share

 — bersama Al Haqiir Dery DrajatLintang KhadafiZam Thegunnersahmad,Ibnuh Khoirul AzzamMuhammad AstandyHafiza Khaira LubnaZamani AhmadDhaniel Meidithiya,Sipengembala HatiShah Zakaria dan Romi Wardhana.

Kisah Imam Al-Ghazali Berguru Kepada Tukang Sol Sepatu

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Kisah Imam Al-Ghazali Berguru Kepada Tukang Sol Sepatu

Al-GhazaliSuatu malam disaat orang sedang terlelap, Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat itu masih muda dan sedang berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabbal Qubis Makkah sedang membersihkan kamar mandi Gurunya menggunakan kedua tangannya tanpa merasa jijik dan melakukan dengan penuh ikhlas. Di saat Beliau melakukan tersebut, tiba-tiba Guru Syekh Sulaiman Zuhdi lewat dan berkata, “Kelak tanganmu akan di cium raja-raja dunia”. Ucapan Gurunya itu dikemudian hari terbukti dengan banyak raja yang menjadi murid Beliau dan mencium tangan Beliau salah satunya adalah Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja di Kerajaan Langkat, Sumatera Utara.

Kisah berguru dalam ilmu hakikat mempunyai keunikan tersendiri, seperti kisah Sunan Kalijaga yang menjaga tongkat Gurunya dalam waktu lama, dengan itu Beliau lulus menjadi seorang murid. Berikut kisah Ulama Besar Imam Al-Ghazali memperoleh pencerahan bathin bertemu dengan pembimbing rohaninya, kisah ini saya di kutip dari Buku Tuntunan Mencapai Hidayah Ilahi hal. 177, 178. Karya Imam Al Ghazali  dari webdokumenpemudatnqn.net.

Imam Ghazali seorang Ulama besar dalam sejarah Islam, hujjatul islam yang banyak hafal hadist  Nabi SAW. Beliau dikenal pula sebagai ahli dalam filsafat dan tasawuf  yang banyak mengarang kitab-kitab.

Suatu ketika Imam Al Ghazali menjadi imam disebuah masjid . Tetapi saudaranya yang bernama Ahmad tidak mau berjamaah bersama Imam Al Ghazali lalu berkata kepadanya ibunya :

Wahai ibu, perintahkan saudaraku Ahmad agar shalat mengikutiku, supaya orang-orang tidak menuduhku selalu bersikap jelek terhadapnya“.

Ibu Al Ghazali lalu memerintahkan puteranya Ahmad agar shalat makmum kepada saudaranya Al Ghazali. Ahmad pun melaksanakan perintah sang ibu, shalat bermakmum kepada Al Ghazali.Namun ditengah-tengah shalat, Ahmad melihat darah membasah perut Imam. Tentu saja Ahmad memisahkan diri.

Seusai shalat Imam Al Ghazali bertanya kepada Ahmad, saudaranya itu : “Mengapa engkau memisahkan diri (muffaragah) dalam shalat yang saya imami ? “.  Saudaranya menjawab : “Aku memisahkan diri, karena aku melihat perutmu berlumuran darah “.

Mendengar jawaban saudaranya itu, Imam Ali Ghazali mengakui, hal itu mungkin karena dia ketika shalat hatinya sedang mengangan-angan masalah fiqih yang berhubungan haid seorang wanita yang mutahayyirah.

Al Ghazali lalu bertanya kepada saudara : “Dari manakah engkau belajar ilmu pengetahuan seperti itu ?” Saudaranya menjawab, “Aku belajar Ilmu kepada Syekh Al Utaqy AL-Khurazy yaitu seorang tukang jahit sandal-sandal bekas (tukang sol sepatu) . ” Al Ghazali lalu pergi kepadanya.

Setelah berjumpa, Ia berkata kepada Syekh Al khurazy : “Saya ingin belajar kepada Tuan “. Syekh itu berkata : Mungkin saja engkau tidak kuat menuruti perintah-perintahku “.

Al Ghazali menjawab : “Insya Allah, saya kuat “.

Syekh Al Khurazy berkata : “Bersihkanlah  lantai ini “.

Al Ghazali kemudian hendak dengan sapu. Tetapi Syekh itu berkata : “Sapulah (bersihkanlah) dengan tanganmu“. Al Ghazali menyapunya lantai dengan tangannya, kemudian dia melihat kotoran yang banyak dan bermaksud menghindari kotoran itu.

Namun Syekh berkata : “Bersihkan pula kotoran itu dengan tanganmu“.

Al Ghazali lalu bersiap membesihkan dengan menyisingkan pakaiannya. Melihat keadaan yang demikian itu Syekh berkata : “Nah bersìhkan kotoran itu dengan pakaian seperti itu” .

Al Ghazali menuruti perintah Syekh Al Khurazy dengan  ridha dan tulus.

Namun ketika Al Ghazali hendak akan mulai melaksanakan perintah Syekh tersebut, Syekh langsung mencegahnya dan memerintahkan agar pulang.

Al Ghazali pulang dan setibanya di rumah beliau merasakan mendapat ilmu pengetahuan luar biasa. Dan Allah telah memberikan Ilmu Laduni atau ilmu Kasyaf yang diperoleh dari tasawuf atau kebersihan qalbu kepadanya.

40 thoughts on “Kisah Imam Al-Ghazali Berguru Kepada Tukang Sol Sepatu”

  1. teukucandrakirana on  said:

    Terima Kasih untuk Tulisannya Ab. SM.
    Ditunggu tulisan kisah2 ulama lainnya:-)

  2. mpmajalengka on  said:

    Berapa banyak pengikut tasawuf yang mampu mengenal dirinya sendiri?apakah dengan membabi buta seperti ini(bahwa harus bertarekat dengan aliran trtentu) manusia bisa mengenal dirinya sendiri?bagaimana dengan mereka yg berbuat baik dengan li-allah ta’ala yg dicatat oleh para malaikat dn disampaikan pada allah bhw abdi yg satu itu bisa bertemu dengan wajahNYA?dan bagaimana pula mereka yg memperoleh pengenalan dirinya tanpa bertarekat trhdp aliran trtentu?mhn penjelasan
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

    • kang mpmajalengka, kenapa nabi musa perlu khidzir, kenapa rasulullah juga harus lewat pengajaran jibril padahal Alloh sendiri maha kuasa menyampaikan tanpa perantara?? tidak ada istilah membabibuta dalam mengikuti tharikoh, selama thorikoh itu mu’tabaroh insyaAlloh, karena setiap murid butuh guru, orang yg belajar tanpa guru sejatinya gurunya adalah syetan dan hawa nafsunya.

    • Tarekat itu bukan aliran tapi metode. Seorang pengamal tarekat bisa saja seorang sunni, syiah dan lain sebagainya. Bisa bergabung dalam berbagai ormas Islam, bisa di NU, Muhammadiyah dan lain-lain.
      Kalau ada orang bisa bermakrifat tanpa menggunakan metode yang disebut tarekat, silahkan saja…

      • Bner…pngalaman pribadi..saya brdzikir brtahun2 sblm bertarikat…dan itu bbeda skali rasanya…dan memang benar..tarekat itu..metode..metode berdzikir..

    • semoga ini bisa menjawab “mpmajalenka”
      pengikut thariqat itu sedikit, dan tidak harus aliran tertentu, intinya thariqat (jalan/metodologi/teknik/cara) tersebut harus nyambung, kalau sudah putus (disconection/broken link/ga ada hubungan) bukan thariqat (jalan) lagi.

      dan pertanyaan
      “bagaimana dengan mereka yg berbuat baik dengan li-allah ta’ala yg dicatat oleh para malaikat dn disampaikan pada allah bhw abdi yg satu itu bisa bertemu dengan wajahNYA?

      i’tibarnya (contoh) ibarat anda mengirim surat ke seseorang minta bantuan (uang misalya), untuk mengirim surat di thariat diajarkan metodologinya (rukun dan syaratnya)… harus ada kertas, harus ada pulpen untuk nulis isi surat, harus ada amplop untuk tempat surat (jgn pakai baskom), harus pergi ke kantor pos untuk mengirim surat (jangan ke pegadaian), harus ada prangko untuk Bea surat (biasa, kilat, kilat khusus), harus punya Alamat surat biar jelas mau di kirim kemana.

      jadi di thariqat cuma diajarkan metodologi/cara biar amalan sampai kehadirat Allah S.W.T. dan setelah sampai masi belum tau amalan kita di setujui/diterima apa tidak.

      memang Tuhan Maha Mendengar, Maha Tau segalanya tapi klu tidak melalui Prosedur-Nya ga akan di Gubris ma Tuhan, INGAT orang Kristiani dan Yahudi juga berdo’a kepada Allah. tapi mereka menolak kerasulan Muhammad S.A.W.

      ” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (Al-Furqan : 23)

      untuk jawaban yang berthariqat sendiri gimana?
      ” Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa bimbingan Syekh (Guru Mursyid) maka wajib SETAN Gurunya” (Abu Yazid al-Bisthami).”

      Abu Yasid al-Bisthami seorang syeh dan Sufi besar pada zamannya, tinggal anda pilih saja ucapan beliau (Profesor) atau ustadz komersil (guru TK di TV nasional banyak).

  3. kisahnya menarik sekali memberi pencerahan

  4. kita hidup didunia ini pstilah mmpunyai guru yg mampu mengajarkan kita kearah yg baik.. baik kita dri kcil smpai skrg ini.. guru ada brmacam2.. masing2 guru mmliki keahlian masing2.. kl ingin mncari ilmu dunia mk brguru dgan guru yg ahli ilmu dunia,, kl mau mncari ilmu dunia n akhirat mka carilah guru yg mampu mngantrkn kita mnuju kbhagiaan dunia n akhirat.. tidk mungkin seorg anak mampu bs membca n menulis tnp dbimbing dri seorg guru..
    bgitu jg kita, tdk mungkin kita bs sholat tnpa diajarkn guru yg bnar2 mngerti akan syarat2 sholat .. bgitu pl tidk mungkin kita mengingt allah swt (berzikir) tnp seorg guru yg mengjrkn cara berzikir yg bnar yg akhirnya mampu mengntrkan kita agar snantiasa mngingat allah swt dlm khidupan shari2…

  5. pahmi hidayat on  said:

    assalamu’alaikum. bg SM boleh tidak mempunyai mursyid lebih dari satu dan tarekat juga lebih dari satu. saya pemula bg dimana mursyid yang kamil mukammil menurut abg. syukron

    • Ruslianto on  said:

      ‘Kan jadi bingung dipersimpangan jalan……
      teliti dulu sbelum membeli,…………
      Penting, … do’a kehaderatNYA agar mndapat hidayah Mursyid Yang Kamil Mukamil dan Tharekat Yang Mu’tabaroh.

    • Saya prnh bganti mursyid…krn mursyid yg ptama mninggal…tp klo pd saat yg sama, memang yg tbaik adlh mmiliki seorang mursyid saja..

      • Ruslianto on  said:

        Ass.
        Untunglah badan,….. perasaan anda seperti itu, tidak disamping Abu Bakar r.a di kala itu, mengatakan; Siapa Yang berkata Rasulullah telah wafat, kupenggal lehernya dengan pedangku ini” karena maknanya roh (itu) tidak mati.

        Jika boleh ditarik (kira-kira) maknanya, Mursyid (itu) adalah daya dorong dari timbulnya keluhuran atas kemauan bathin yg suci ingin “berserta Allah”, sedangkan adanya kemauan itu sendiri merupakan hidayah dari Allah, Dan harus dibedakan kata kerja (amal ibadah) dengan kata sifat (adab, sikap zuhud) maka Insya Allah, percikkan kasih sayang Allah berdampak pada rasa kasih antara murid dan Guru (Sang Mursyid).

        Oleh sebab itu Wali Allah itu adalah Guru Rohani, Sedangkan rohani tidak mati,…. Jasmani (saja) bisa tidak busuk dengan kepandaian manusia melalui rempah-rempah (dibalsem), lihat mummi-mummi di pekuburan (di Mesir) yang ber-umur ribuan tahun bisa diawetkan,… Bagaimana (pula) abadinya sang rohani ? Yang asal kejadiannya dari sisi Allah ? apakah anda “masih” beranggapan bahwa Rohani (itu) mati ? Lihat Qur’an Suraah Al-An’am, ayat 90 : “Mereka itulah orang yang telah diberi Allah petunjuk, maka ikutlah (lahir-batin) dengan petunjuk itu”.

        Jangan anda takut dibilang syirik, bid’ah dibilang kafir (pun) seorang pengamal tharekat itu (pada umumnya) pernah mengalaminya, karena niat yang ikhlas sebiji jarrah-pun ada balasan dari Allah.

        Nah,.. Mintalah kepada Allah dengan rasa taqwa semata-mata ingin beserta Allah dan (untuk) menuju “JalanNYA” kuatkan dan timbulkan kepasrahan pada maqom La Haula Wala Quatta illa billah, (Maaf) sikap seperti ini, sangat dibenci oleh syaiton, tak terasa sikap yang dibenci oleh syaiton itu, adalah suatu sikap dari awal nyemplung (dalam) celupan Allah.

        Wass. sMoga bermanfaat.

  6. saya ingat tentang cerita 2 buah karung
    1 karung Allah bagikan untuk seluruh alam semesta beserta isinya dan 1 karung lagi Allah simpan hanya untuk orang orang yg mau mencarinya,, bisa kita bayangkan 1 karung saja sudah cukup seluruh alam apalagi kalau kita mau mencari dan meminta yg satu karung lagi pd Allah,, ini hanya sebuah ceirta tp selalu ada hikmah dan makna yg bisa kita ambil

  7. Adi Tjahjono on  said:

    Subhanallah, Alhamdulillahirrobbilalamin

  8. Safa’izin on  said:

    Intinya hanyalah satu,.itu semua bertujuan untuk mendekatkan diri kpd Allah,..
    Maka lakukanlah apa yg anda yakini,.
    Jalan boleh berbeda2 tp ttp satu tujuan,.

  9. Apakah ada tarikat di Bekasi Pak?

  10. disurga ada air sungai “arak” yg manis yg apabila diminum tdk memabukan
    oooohh…..bilakah itu kembali terteguk??? kan ku rengkuh sampai aku tepar…wkwkwkwkwkwk……rindu….rindu….rindu….

  11. Murid jaman sekarang sdah tdk mengenal tawaduk pada guru… Kbanyakan menentang guru.. Gmna solusinya..??

    • memang orang baik itu sedikit dan Al-quran menginformasikan

      Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.

      ga main2 lho musuh yang kita hadapi, satu2nya JIN yang paling ta’at (dulu) bisa dekat dengan Tuhan, jadi dia tau betul n hafal tetek bengek jalan menuju tuhan.

      kita2 ini paling yang godain anak buah Iblis yang kelas KOPRAL klu di militer

      dalam 1 kelas di suatu sekolah, dimanapun itu yang berprestasi cuma ada 3, Ranking 1,2, 3. Yang masuk 10 besar dah bagus, sisanya tidak berprestasi, tapi walau tidak berprestasi masih lumayan lah daripada yang tidak sekolah.

      mengenai “Murid jaman sekarang sdah tdk mengenal tawaduk pada guru… Kbanyakan menentang guru.. Gmna solusinya..??” itu ibarat orang yang Sekolah tadi, tapi tidak naik kelas.

      SOLUSINYA ya suruh belajar lagi yang bener, berarti belajarnya ga bener!!!
      mungkin ga pernah belajar, sering bolos dsb.

      sama dengan SHALAT, banyak orang shalat tapi kelakuannya masih……

      اتْلُ مَآ أُو حِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَاتَصْنَعُونَ {العنكبوت45}
      Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 29:45)

      terus apanya yang salah? yang salah Shalatnya PASTI tidak Khusuk,
      Kalau Khusuk Pasti hasilnya;
      إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
      sungguh, sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar

      begitu juga kalau sekolahnya bener pasti dia Naik Kelas atau malah Berprestasi!!!

  12. Ping-balik: Kisah Imam Al-Ghazali Berguru Kepada Tukang Sol Sepatu | almananumahmud’s Blog
  13. semua yg ada didunia ini adalah ilmu dan kehendak Allah swt baik yg sdh terjadi maupun yg blm terjadi

  14. Ganie, Indra – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten on  said:

    Izinkanlah saya menulis / menebar sejumlah doa, semoga Allaah SWT mengabulkan, antara lain semoga tuhan mempercepat kebangkitan kaum Muslim, memulihkan kejayaan kaum Muslim, melindungi kaum Muslim dari kesesatan – terutama kemurtadan, memberi kaum Muslim tempat yang mulia diakhirat (khususnya para salaf al-shaalih, juga Imam al-Ghazali (1058 – 1111), semua leluhur beliau serta semua guru beliau). Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘alamiin.

    Lebih dan kurang saya mohon maaf. Semoga Allaah SWT selalu mencurahkan kasih sayang kepada kaum Muslim : yang hidup dan yang mati, di dunia dan di akhirat. Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘aalamiin.

    Asyhaduu anlaa ilaaha illallaah wa asyhaduu anna muhammadarrasuulullaah

    A’uudzubillaahiminasysyaithaanirrajiim

    Bismillahirrahmaanirrahiim

    Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin,
    Arrahmaanirrahiim
    Maaliki yaumiddiin,
    Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,
    Ihdinashirratal mustaqiim,
    Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladhaaliin

    Aamiin

    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, hamdan yuwaafi ni’amahu, wa yukafi mazidahu, ya rabbana lakal hamdu. Kama yanbaghi lii jalaali wajhika, wa ‘azhiimi sulthaanika.

    Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ajma’iin.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya, umatnya semuanya.

    Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi ajma’iin. Shalaatan tunjinaa bihaa min jamii’il-ahwaali wal aafaat. Wa taqdhii lanaa bihaa jamii’al-haajaat. Wa tuthahhiruna bihaa min jamii’is-sayyi-aat. Wa tarfa’unaa bihaa ‘indaka a’lad-darajaat. Wa tuballighuna bihaa aqshal-ghaayaati min jamii’ilkhairaati fil hayaati wa ba’dal mamaat.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya dan umatnya, shalawat yang dengannya kami selamat dari semua ketakutan dan bencana, dan Engkau sucikan kami dari semua kejahatan, Engkau angkat kami ke derajat yang tinggi di sisiMu, dan Engkau sampaikan semua cita-cita kami berupa kebaikan-kebaikan dalam hidup maupun sesudah mati.

    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa nuuril anwaar. Wa sirril asraar. Wa tiryaqil-aghyaar. Wa miftaahil baabil yasaar. Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadanil-mukhtaari wa aalihil-ath-haari wa ash-haabihil akhyaar. ‘Adada ni’amillaahi wa afdhaalih.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkah atas cahaya di antara segala cahaya, rahasia di antara segala rahasia, penetral duka, dan pembuka pintu kemudahan, junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karuniaNya.

    Allaahumma shalli shalatan kaamilah. Wa sallim salaaman taamman ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadanil-ladzii tanhallu bihil-‘uqad. Wa tanfariju bihil-kuruub. Wa tuqdhaa bihil hawaa-iju wa tunaalu bihir-raghaa-ibu wa husnul-khawaatim. Wa yustasqal-ghamaamu biwajhihil-kariim. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi’adadi kulli ma’luumin laka.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan salaam yang sempurna pula, kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, yang dengan beliau itu Engkau lenyapkan kesusahan, Engkau tunaikan segala kebutuhan, dan diperoleh segala keinginan dan akhir hidup yang baik, serta diberi minum dari awan berkat wajahMu yang mulia. Juga kepada keluarganya, sahabatnya dan umatnya dalam setiap kejapan mata dan tarikan nafas, sebanyak jumlah pengetahuan yang Engkau miliki.

    Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadinil-habiibil-mahbuub. Syaafil ‘ilali wa mufarrijil-kuruub. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi wa baarik wa sallim.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, kekasih dan yang dikasihi, (dengan izin Allah) penyembuh penyakit dan pelepas kesusahan, serta kepada keluarga, sahabat dan umatnya.

    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil-awwaliin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil-aakhirin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fin-nabiyyiin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil-mursaliin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil mala-il a’laa ilaa yaumid-diin. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi ajma’iin.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad di kalangan orang-orang terdahulu. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan orang-orang kemudian. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para nabi. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para rasul. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para arwah hingga hari kemudian, serta kepada keluarga, sahabat dan umatnya.

    Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ‘adada in’aamillaahi wa ifdhaalih.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya, umatnya sebanyak jumlah nikmat Allah dan karuniaNya.
    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik, ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa wa Maulaanaa Muhammadin wa ikhwaanihii minal anbiyaa-i wal mursaliin, wa azwaajihim wa aalihim wa dzurriyyaatihim wa ash-haabihim wa ummatihim ajma’iin.

    Ya Allaah, berilah shalawat serta keselamatan dan keberkahan, untuk junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad SAW dan saudara-saudaranya dari para Nabi dan Rasul, dan istri-istri mereka semua, keluarga mereka, turunan-turunan mereka, dan sahabat-sahabat dari semua Nabi dan Rasul, termasuk Sahabat-Sahabatnya Nabi Muhammad semua dan semua yang terkait dengan Nabi Muhammad SAW.
    Allaahumma innaa nas’aluka salaamatan fiddiini waddun-yaa wal akhirati wa ’aafiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wabarakatan firrizqi wa taubatan qablal mauti, wa rahmatan ‘indal mauti, wa maghfiratan ba’dal maut. Allahuma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil mauti, wannajaata minannaari wal ‘afwa ‘indal hisaab.

    Ya Allaah, sesungguhnya kami memohon pada-Mu keselamatan dalam agama, dunia, akhirat, kesejahteraan/kesehatan jasmani, bertambah ilmu pengetahuan, rezeki yang berkat, diterima taubat sebelum mati, dapat rahmat ketika mati dan dapat ampunan setelah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami pada waktu sekarat dan selamatkanlah kami dari api neraka serta kami mohon kemaafan ketika dihisab.

    Allaahumma inna nas aluka husnul khaatimah wa na’uudzubika min suu ul khaatimah.
    Ya Allaah, sesungguhnya kami memohon pada-Mu akhir yang baik dan berlindung dari akhir yang buruk.

    Allaahuma inna nas’aluka ridhaka waljannata wana’uudzubika min shakhkhatika wannaar.

    Ya Allaah, sesungguhnya kami mohon keridhaan-Mu dan sorga, kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka.

    Allaahummadfa’ ‘annal balaa-a walwabaa-a walfahsyaa-a wasy-syadaa-ida walmihana maa zhahara minhaa wamaa bathana min baladinaa haadzaa khaash-shataw wamin buldaanil muslimuuna ‘aammah.

    Yaa Allaah, jauhkanlah bencana, wabah, kekejian, kekerasan dan cobaan – yang terlihat maupun tersamar – dari negeri kami khususnya dan dari dunia Muslim umumnya.

    Allaahumma ahlikil kafarata walmubtadi-‘ata walmusyrikuun, a’daa-aka a’daa-ad diin.

    Yaa Allaah, hancurkalah musuhmu, musuh agamamu, yaitu orang kafir, bid’ah dan musyrik.

    Allaahumma syatttit syamlahum wa faariq jam-‘ahum, wazalzil aqdaamahum.

    Yaa Allaah, cerai beraikanlah persatuan mereka, goyahkanlah keyakinan mereka.

    Allaahumma adkhilnii mudkhala shidqiw wa-akhrijnii mukhraja shidqiw waj-‘al lii milladunka sulthaanan nashiiraa.

    Yaa Allaah, masukkanlah kami melalui jalan yang benar, keluarkanlah kami melalui jalan yang benar, dan berilah aku kekuasaan yang menolong.

    ——(doa khusus untuk para salaf al-shaalih, juga Imam al-Ghazali ((1058 – 1111), semua leluhur beliau serta semua guru beliau, semoga Allaah selalu mencurahkan kasih sayang kepada mereka).

    ALLAAHUMMAGHFIRLAHUM WARHAMHUM WA’AAFIHIM WA’FU ‘ANHUM

    ALLAAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRAHUM WA LAA TAFTINNAA BA’DAHUM WAGHFIRLANAA WALAHUM

    ———————

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aziizil jabbaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar ra-uufirrahiim
    Laa ilaaha illallah, subhaanal ghafuurirrahim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal kariimil hakiim
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci raja yang maha suci

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha perkasa lagi maha bijaksana
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengampun lagi maha penyayang
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mulia lagi maha bijaksana

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qawiyyil wafiyy
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal lathiifil khabiir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shamadil ma’buud
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghafuuril waduud
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal wakiilil kafiil

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kuat lagi maha memenuhi
    Tiada tuhan selain Allaah, yang maha halus lagi maha mengetahui
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang bergantung padanya segala hal lagi yang disembah
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengampun lagi maha pencinta
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha penolong lagi maha pelindung

    Laa ilaaha illallaah, subhaanar raqiibil hafiizh
    Laa ilaaha illallaah, subhaanad daa-imil qaa-im
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal muhyil mumiit
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hayyil qayyuum
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal khaaliqil baari’

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengawasi lagi maha memelihara
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang hidup kekal lagi mengurus ciptaannya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menghidupkan lagi mematikan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus ciptaannya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menciptakan lagi menjadikan

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aliyyil ‘azhiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal waahidil ahad
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal mu’minil muhaimin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal habiibisy syahiid
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal haliimil kariim

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha tinggi lagi maha besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha esa lagi tunggal
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memberi keamanan lagi maha memelihara
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhanyang maha mencintai lagi maha menyaksikan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha penyantun lagi maha mulia

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal awwalil qadiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal awwalil aakhir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanazh zhaahiril baathin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal kabiiril muta-‘aal
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qaadhil haajat

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang pertama lagi terdahulu
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang awal dan yang akhir
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang nyata lagi yang rahasia
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha besar lagi maha tinggi
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memenuhi semua keperluan

    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil ‘arsyil ‘azhim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar rahmaanir rahiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbiyal a’laa
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal burhaanis sulthaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas samii-‘il bashiir

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menguasai singgasana yang besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha tinggi
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki bukti kekuasaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mendengar lagi maha melihat

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal waahidil qahhaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aliimil hakiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas sattaaril ghaffaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar ramaanid dayaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal kabiiril akbar

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha esa lagi maha mengalahkan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui lagi maha bijaksana
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha menutupi kesalahan lagi maha pengampun
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha agung lagi maha besar

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aliimil ‘allaam
    Laa ilaaha illallaah, subhaanasy syaafil kaafi
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘azhiimil baaqii
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shamadil ahad
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil ardhi was samaawaati

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui lagi maha memeriksa
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menyembuhkan lagi mencukupi
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha besar lagi maha kekal
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang bergantung padanya segala hal lagi esa

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghafuurisy syakuur
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘azhiimil ‘aliim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil mulki wal alakuut
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil ‘izzati wal ‘azhamah
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil haibati wal qudrah

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengampun lagi maha membalas
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha besar lagi maha mengetahui
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki kerajaan bumi dan langit
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang mempunyai keagungan dan kebesaran
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang mempunyai pengaruh dan kekuasaan

    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil kibriyaa-i wal jabaruut
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas sattaaril ‘azhiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aalimil ghaiib
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hamidil majiid
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hakiimil qadiim

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki kebesaran dan kekuasaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha menutupi kesalahan lagi maha besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menegtahui hal ghaib
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha terpuji lagi maha mulia
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan ang maha bijaksana lagi maha terdahulu

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qaadiris sattaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas samii-‘il ‘aliim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyil ‘azhiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘allaamis salaam
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal malikin nashiir

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kuasa lagi maha mnutupi kesalahan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mendengar lgi maha mengeahui
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui lagi maha damai
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha raja lagi maha penolong

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyir rahmaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qariibil hasanaat
    Laa ilaaha illallaah, subhaana waliyyil hasanaat
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shabuuris sattaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaana khaaliqin nuur

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha pengasih
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha dekat kebaikannya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan maha menguasai kebaikan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan maha penyabar lagi menutupi kesalahan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yan menciptakan cahaya

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyil mu’jiz
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal faadhilisy syakuur
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyil qadim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil jalaalil mubiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal khaalishil mukhlish

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha mengalahkan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha utama lagi maha berterima kasih
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha terdahulu
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang punya keluhuran lagi maha menjelaskan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha murni lagi memurnikan

    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shaadiqil wa’di
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal haqqil mubiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil quwwatil matiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qawiyyil ‘aziiz
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hayyil ladzii laa yamuut

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang benar janjinya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha benar lagi maha menjelaskan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang punya kekuatan lagi maha kokoh.
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha hidup lagi tidak mati

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘allaamil ghuyuub
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas sattaaril ‘uuyuub
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil ‘aalamiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar rahmaanis sattaar

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui yang ghaib
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yan maha menutupi semua cacat
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki ampunan lagi dimintai pertolongan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan semesta alam
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengasih lagi maha menutupi

    Laa ilaaha illallaah, subhaanar rahiimil ghaffaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aziizil wahhaab
    Laa ilaaha illallaah, subhaana qaadiril muqtadir
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil ghufraanil haliim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana malikil mulk

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha penyayang lagi maha pengampun
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha agung lagi maha pemurah
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yangmaha kuasa lagi maha memberi kekuasaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki semua kerajaan

    Laa ilaaha illallaah, subhaanal baari-il mushawwir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aziizil jabbaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanallaahi ‘amma yashifun
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal jabbaaril mutakabbir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qudduusis shubbuuh

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menciptakan lagi memberi bentuk
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mulia lagi maha perkasa
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha perkasa lagi maha membangga
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan dari apa yang dianggap oleh orang kafir
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan dalam sosok dan sifat

    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil malaa-ikati war ruuh
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil aalaa-I wanna’maa-i
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal malikil maqshuud
    Laa ilaaha illallaah, subhaana hannaanil mannaan

    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan para malaikat dan ruh
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan pemilik tanda-tanda tinggi dan nikmat
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan raja yang menjadi tujuan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengasih dan pemberi

    Laa ilaaha illallaah, sayyidina aadamu ‘alaihis salaam shafiyyullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina nuuhun ‘alaihis salaam najiyyulaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina ibraahiimu ‘alaihis salaam khaliilullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina ismaa-‘iilu ‘alaihis salaam dzabiihullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina muusaa ‘alaihis salaam kaliimullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina daawuudu ‘alaihis salaam khaliifatullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina ‘iisaa ‘alaihis salaam ruuhullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina wa nabiyyina wa maulaana muhammadur rasuulullaah shallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam

    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Aadam AS pilihan Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Nuuh AS diselamatkan Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Ibraahiim AS teman dekat Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Ismaa-‘iil AS yang disembelih Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Muusaa AS yang diajak bicara oleh Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Daawuudu AS khalifah Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina ‘Iisaa AS ruh Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina wa nabiyyina wa maulaana Muhammad shallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam utusan Allaah

    Allaahummarhamnaa bibarakati tauraati sayyidina muusaa ‘alaihis salaam wa injiili sayyidina ‘iisaa ‘alaihis salaam wa zabuuri sayyidina daawuudu ‘alaihis salaam wa furqaani sayyidina wa nabiyyina wa maulaana muhammad shallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam, birahmatika yaa arhamar raahimiin, walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

    Ya Allaah, kasihilah kami dengan berkah Taurat Sayyidina Muusaa AS, Injil Sayyidina ‘Iisaa AS, Zabuur Sayyidina Daawuud AS dan al-Furqaan / al-Qur-an sayyidina wa nabiyyina wa maulaana Muhammad shallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam utusan Allaah, dengan kasihmu, yang maha penyayang. Dan segala puji bagi Allaah, tuhan semesta.

    Ya Allaah, terimalah amal saleh kami, ampunilah amal salah kami, mudahkanlah urusan kami, lindungilah kepentingan kami, ridhailah kegiatan kami, angkatlah derajat kami dan hilangkanlah masalah kami.

    Ya Allaah, tetapkanlah kami selamanya menjadi Muslim, tetapkanlah kami selamanya dalam agama yang kau ridhai – Islam, tetapkanlah kami selamanya menjadi umat dari manusia yang paling engkau muliakan – Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad Shallahu’alihi wa alihi wa shahbihi wa ummatihi, wa baraka wassallam.

    Ya Allaah, percepatlah kebangkitan kaum Muslim. Pulihkanlah kejayaan kaum Muslim, Lindungilah kaum Muslim dari kesesatan terutama kemurtadan. Berilah kaum Muslim tempat mulia di akhirat.

    Ya Allaah, jadikanlah Indonesia dan dunia Muslim tetap dimiliki kaum Muslim. Jadikanlah Indonesia dan dunia Muslim baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Jadikanlah dunia non Muslim dimiliki kaum Muslim. Jadikanlah musuh Islam ditaklukan orang Islam.

    Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiina imaamaa.

    Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

    RABBI LAA TADZARNI FARDAN WA ANTA KHAIRUL WAARITSIN.

    Ya Allah janganlah engkau tinggalkan aku seorang diri dan engkau sebaik2nya dzat yang mewarisi.

    ALLAAHUMMAFTAHLII HIKMATAKA WANSYUR ‘ALAYYA MIN KHAZAA INI RAHMATIKA YAA ARHAMAR-RAAHIMIIN.

    Ya Allah bukakanlah bagiku hikmah-Mu dan limpahkanlah padaku keberkahan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang

    RABBI INNII LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHAIRIN FAQIIR.

    Ya Rabb, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.

    Ya Allaah, dengan hak yang kau berikan pada kalimah syahadat, Surah al-Fatihah, Doa Kanzul ‘Arsy dan shalawat, salam dan berkah semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam, kami mohon segala hal yang terbaik, segala hal yang terindah bagi semesta – khususnya kami, keluarga kami dan seluruh kaum Muslim.

    Yaa Allaah, dengan segala hak yang kau berikan pada kalimah syahadat, Surah al-Fatihah, Doa Kanzul ‘Arsy dan shalawat, salam, berkah semoga selalu tercurah kepada Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad Shallaahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam, kabulkanlah yaa Allaah segala doaku.

    Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaabannaar wa adkhilnal jannata ma’al abraar.

    Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksaan neraka serta masukanlah kami ke surga bersama orang-orang baik.

    Rabbanaa taqabbal minna innaka antassamii’ul aliimu wa tub’alainaa innaka antattawwaaburrahiim. Washshalallaahu ‘alaa sayyidinaa wa nabiyyinaa wa maulaanaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam.

    Tuhan kami, perkenankanlah do’a-do’a kami, karena sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang. Shalawat, salam dan berkah semoga dilimpahkan kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad s.a.w, atas keluarganya, sahabatnya dan umatnya semuanya.

    HASBUNALLAAH WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULA WANI’MAN NASHIIR.

    Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

    Subhana rabbika rabbil ‘izzati, ‘amma yasifuuna wa salamun ‘alal anbiyaa-i wal mursaliin, walhamdulillahirabbil ‘aalamiin.

    Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘aalamiin.

    • Orochimaru on  said:

      he he … panjang amat do’anya gan😀

      baca post ini tiba-tiba terlitas di hati
      “emang eloe siapa?”
      “apa yang pernah loe lakukan untuk gua?”
      “prestasi loe ape”
      “pengorbanan loe ape”
      “waduh maap ye ane ga kenal eloe”

      Piiiiisssssssssssssss😀

    • orochimaru on  said:

      he he … panjang amat do’anya gan 😀
      Piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiissssssssssssssssssssssssssssssss😀

  15. Hati2; ada non muslim mengomentari ulama tashowuf

  16. Reblogged this on gudazt.

  17. Ali Zulfakar … Bjm on  said:

    Assalaamu ‘alaikuum wr.wb. Syukur Alhamdulillah Allaah telah memanjangkan umur kita smua… Tarekat adalah jalan untuk menuju ke Hakikat ,,, jd buat saudaraku smuanya,, janganlah berhenti hanya pada perjalanan Tarekat saja….. Jangan merasa paus jika sudah bertarekat.. Jika kita sudah bertarekat maka sjatinya kita sudah berada dpertengahan jalan,,, jadi jangan berhenti lanjutkan perjalanan itu sampai menemukan pintu gerbang Hakikat… dan jika Allah menghendaki kita dlimpahkan krunianya yg sangat luar biasa yg tidak ada tandingnya dmuka bumi ini .. Yaitu anugrah allaah berupa ma’rifat…….. Itulah anugrah allah yg luar biasa yg diawali oleh anugrah yg sangat besar yaitu iman dan islam ,,,…………… Wassalaamu’alaikum wr wb …

    • Oh ya kang menambah wawasan orang tua kita termasuk mursyid hakiki loo coba ulaskan kemursyidan orang tua kita semua dengan landasan nas qur’ani dan hadistnya, sebab banyak orang tak menyadari bahwa guru dibalik itu semua ada guru. Sang penggoda

  18. Ruslianto on  said:

    Ass.
    Artikel diatas, kalaulah ta’ silap saya Bg.SM ingin mencritakan makna berguru kepada Guru Sufi tidak ‘berupa’ tekstual (huruf-huruf), tapi lebih kepada perjalanan bathin (empiris) sperti juga antara Nabi Musa a.s (yang ber-syareat) dengan kepada Sang Khidir a.s memiliki ilmu Hakikat,…. dan akhirnya dapat di mengerti bahwa Nabi Musa menjadi ‘tidak sabar’ karena ilmu Hakikat yang di alaminya ‘bertentangan’ dgn ilmu (syariat) yg dialaminya.
    Hm,.. pengamal tharekat yang sukses, waji sabar,… seumpama ia mendapat hakikat, itu makna dari kesabaran Sang Sunan Kalijogo,…, dan Imam Al ghazali,.. maka makna sabar dalam munajat pengamal tharekat berupa : “Yaa ayyuhal ladzina aama nushbiiruu wa shobiruu warabithuu wataqullaha la’allakum’
    tuflihuunna” dan QS.Al Kahfi ayat 28, (yg kira-kira artinya); “Bersabarlah, dan Jangan berpalingkan wajahmu dari Sang Mursyid yang Kamil Mukamil”
    Demikian,… Salam jumpa lagi Bangda Sufi Muda.
    sMoga bermanfaat. Wass.

  19. Alhamdulillah…tulisan dari blog ikhwan tqn d tulis ulang di ikhaan naqsabandy…saya sebagai ikhwan tqn merasa bangga

  20. Yang dijabarkan kak sufi muda & kak ruslianto kok sesuai dengan pengalaman sy dan malah menjadikan diri sy berdebar takut,, sy tidak bisa menguraikan pengalaman rohani dengan kalimat,
    Ya Allah,,,nyuwun pinaringan istiqomah,,

  21. Nafa’anaa bi ‘uluumihii wa afaadlo ‘alaynaa bibarokatihii wakaromatihii…aamiin…

  22. pencerahan yang membantu untuk mengenal ilmu tuhan menuju kemulaanya.

  23. Inti dari kisah tsb adalah Al Ghazali lulus uji Bersih Hati..

  24. Asslmkm, salaam sjahtra utk org2 yg snntiasa merasa dzolim serta mmbutuhkn maghfiroh serta pertolongan dr Beliau Kanjeng Baginda Rosululloh SAW. Uluran,jangkungan serta petunjuk dr para Guru2,org2 Sholeh beserta para Beliau Ra yg tlah mngibarkan bendera2 Keimanan&kebajikan pd smesta raya ini yg tak luput utk dijdkan suritauladan utk qt smua. Amin. Sbgai hadiah utk jasa2 serta Pejuang2 “Faffiruu Ilalloh wa Rosulii SAW” Alfatihah…(41x). Sy alfakir pndatang baru yg jg baru mngenal perjalanan(Toriqoh) ingin mnyampaikan pesan/berita utk para soheib/ul seantero jagad ini. Agar stlh mndapatkn seorg Mursyid itu Wajib bersyukur&Tawajuh kpdNya. Jg hrs dibuktikan scra Lahir&Bathin klo Beliau Guru Mursyid Ra qt itu apakah betul2 Haqq utk diri qt. Sbb kbnykan dr mereka itu sangat Bangga(Ria)malah mgkn lebih dr itu(Takabur)Naudzubillah.. Ada satu kisah diTanah Djawa ini ttg seorg Beliau Guru Mursyid yg menangisi kelakuan para Murid/Jamaah/pngikutNya smp airmata tdk lg keluar dr MataNya akan ttpi airmata darah yg bercucuran. Subhanawlloh,Alfatihah.. Itulah slhsatu bentuk Kshsyg Beliau SAW kpd para Guru2 Mursyid yg snntiasa Taslim kpdNya. Amin3x YRA. .. WaSalaam..

  25. Ping-balik: Ketika Imam Al-Ghazali Berguru Kepada Tukang Sol Sepatu | Parasalik
  26. affilys on  said:

    Terima kasih min, cerita nya membantu membangun kan hati yang tertidur

TANGIS DALAM MUJAHADAH

 

TANGIS DALAM MUJAHADAH

 

  1. Tafaakur Dan ‘Ibrah.

Masyarakat memiliki pemimpin yang berilmu luas serta bertaqwa kepada Allah Swt merupakan pintu menuju kebahagiaan dan kedamaian. Dan jika masyarakat dipimpin oleh yang bodoh dan lagi durhaka akan terbawa kedalam kehancuran. Sebagaimana yang tercermin dalam sabda Rasulullah Saw  : [1]

أَفَةُ الدِيْنِ ثَلاَثَةٌ فَقِيْهٌ فَاجِرٌ وَإِمَامٌ جَائِرٌ وَمُجْتَهِدٌ جَاهِلٌ

Afat agama ada tiga : ahli fiqh yang durhaka, imam yang tidak adil dan mujtahid (orang menafsiri Qur’an dan hadis) yang bodoh.

Rasulullah Saw bersabda  :[2] إِنَّ أَخْوَفَ مَاأَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيْمُ اللِسَانِ.  : Sesungguhnya yang paling aku takuti dari sesuatu yang aku takutkan pada ummatku, adalah orang munafiq  yang alim lisannya.

Dan dalam hadis lainnya, Rasulullah Saw bersabda  : [3]

أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي ثَلاَثًا زِلَّةُ عَالِمٍ وَجَدَالُ مُنَافِقٍ بِالْقُرْآنِ وَالتَكْذِيْبِ بِالقَدَرِ.

Aku menakutkan tiga perkara terhadap ummatku : hilangnya orang alim, perdebatannya orang munafiq tentang al-Qur’an dan pendustaan terhadap taqdir.

  1. Seseorang, masih dikelompokkan kedalam golongan orang munafik, selama malas mendirikan shalat, suka berbuat riya’/ tidak ikhlas (tidak didasari LILLAH BILLAH, dalam istilah Wahidiyah) ketika beribadah, serta sangat sedikit waktu yang digunakan untuk ingat kepada Allah Swt. Firman Allah Swt :

إنَّ المُنَافِقِينَ يُخَادُعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَلاَةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاؤنَ النَاسَ وَلاَيَذْكُرُونَ اللهَ إلاَّ قَلْيلاً

Sesungguhnya orang-orang munafiq (ingin) menipu Allah, (tapi) Allah-lah yang akan (membalas) tipudaya mereka. Dan ketika mendirikan shalat, mereka mendirikannya dengan malas, serta memperlihatkan (ibadahnya) kepada manusia. Dan mereka tidak ingat kepada Allah kecuali sedikit. (Qs. an-Nisa’ : 142).

Bahkan dalam surat at-Taubah ayat 54, dijelaskan bahwa malas mendirikan shalat termasuk sifat dari orang kafir kepada Allah dan rasul-Nya.

إِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللهِ وَبِرَسُولِهِ وَلاَيأْتونَ الصَلاَةَ إِلاَّ وَهُمْ كُسَالَى وَلاَ يُنْفـقُونَ إِلاَّ وَهُمْ كَارِهُونَ

Sesungguhnya mereka yang kafir dengan Allah (billah) dan dengan rasul-Nya (birrasul), dan mereka tidak mengerjakan shalat kecuali dengan malas, dan tidak menginfaqkan hartanya kecuali dengan terpaksa.  

Dalam surat al-Ma’un, juga dijelaskan bahwa orang yang tidak sungguh-sungguh dalam mendirikan shalat akan ditempatkan dalam neraka wail.

فَوَيلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ. الذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَ. الذِيْنَ هُمْ يُرَاءُونَ. وَيَمْنَعُونَ الماعُونَ

Neraka wail diperuntukkan bagi orang yang shalat. (yaitu) orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’. Dan mereka enggan menolong dengan barang yang dibutuhkan masyarakat.

  1. Tidak terjebak oleh kehidupan duniawi, sadar kembali kepada Allah Swt dan mempersiapkan bekal kematian sebelum datangnya kematian merupakan tanda-tanda pokok bagi orang yang jiwanya dikuasai cahaya ke-Tuhan-an. Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ النُوْرَ إِذَا دَخَلَ القَلْبَ انْتسَحَ وَانْشَرَحَ.  فَقِيْلَ : يَارَ سُولَ اللهِ هَلْ لِذَالِكَ مِنْ عَلاَمَاتِ يُعْرَفُ بِهَا فَقَالَ  :  التَجَافَى عَنْ دَارِالغُرُورِ, وَالإِنَابَة إِلَى دَارِالخُلُودِ, وَالإَسْتِعْدَادِ لِلْمَوْتِ فَبْلَ نُزُولِ المَوْتِ

Sesungguhnya “nur”(Ilahiyah) ketika telah masuki hati, maka Allah melebarkan hatinya. Kemudian ditanyakan : Wahai Rasulullah untuk hal tersebut, adakah tanda-tanda untuk mengetahuinya?. Rasulullah menjawab : berpaling dari kehidupan duniawi yang menipu dan kembali (inaabah) kepada rumah abadi (Allah) serta mempersiapkan mati sebelum kematian. [4]

  1. Dapat menangis ketika dzikir kepada Allah Swt, merupakan tanda-tanda dari orang yang mendapatkan perlindungan-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda : [5]

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ  :  الإمَامُ العَادِلُ,  وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبِادَةِ رَبِّهِ,  وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ,  وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ,  وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَتَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ,  وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

Tujuh kelompok manusia, Allah akan memayunginya dalam payung-Nya pada hari yang sudah tidak ada payung kecuali payung-Nya :

  • Imam yang adil.
  • Remaja yang bersemangat tinggi dalam mengabdi kepada Tuhannya.
  • Lelaki yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid.[6]
  • Dua lelaki yang saling mendekati dalam urusan agama Allah. Mereka berkumpul dan berpisah diatas agama-Nya.
  • Lelaki yang dirayu oleh wanita yang memiliki kedudukan atau harta serta memiliki kecantikan, tetapi ia menjawab : Sungguh aku takut kepada Allah.
  • Seseorang yang bersedekah dengan rahasia, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya.
  • Seseorang yang dzikir kepada Allah dalam kesunyian, kemudian mengalir air matanya.

 

  1. Sebab-Sebab Menangis

Kebutaan hati kita terhadap kemurkaan Allah Swt terhadap dosa-dosa diri serta kelalaian dari memikirkan azab yang pedih diakhirat, menyebabkan seseorang tidak memiliki rasa susah padahal diri banyak dosa. Dan jika sekiranya, mukmin mengetahui sebagaimana yang diketahui oleh Rasulullah Saw, niscaya mudah menangis dan malu kepada-Nya. Rasulullah Saw bersabda  (diriwayatkan dari sahabat Anas Ibn Malik Ra) : [7]

لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَاأَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا. قَالَ: فَغَطَّى أَصْحَاب رَسُولِ اللهِ صلى اللهُ عَليهِ وَسَلَّمَ وُجُوهَهُم لَهُمْ خَنِيْنٌ

Jika kamu semua mengetahui seperti apa yang aku ketahui, pasti kamu semua sedikit tertawa dan banyak menangis. Sahabat Anas berkata : Kemudian semua sahabat Rasulullah Saw menyembunyikan wajahnya (karena malu), dan menangis bersenggukan.

Dan dalam hadis lain (kitab As-Syifa-nya Syeh Abul Fadlol ‘Iyadl) terdapat penambahan redaksi : [8]

لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَاأَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا  وَمَا تَلَذَّ ذْتُمْ بِالنِسَاءِ,  وَلَخَرَجْتُمْ  إِلَى الصَعَدَا تِ تَجْأَرُونَ إِلَى اللهِ

Dan kamu semua tidak terlalu berpuas-puas dengan wanita ditempat tidur, dan pasti kamu semua keluar menuju tempat yang ramai, kemudian kamu mengeraskan suara (untuk menangis).

Arti kata ( الصُعَدَاتِ = as-sha’adaat), adalah : jalan atau tempat yang ramai dan yang banyak dilewati manusia, sehingga manusia dapat ikut bertaubat dan menangis kepada Allah Swt. Sedangkan asal arti kata taj-aruun adalah : agak mengeraskan suara (menangis dengan suara yang dapat didengar oleh banyak orang).[9]

  1. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibn Umar Ra, Rasulullah Saw bersabda : [10]

لاَتَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلاَءِ المُعَذَّبِيْنَ إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِيْنَ, فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِيْنَ فَلاَ تَدْخُلُواعَلَيْهِمْ لاَيُصِيْبُكُمْ مَاأَصَابَهُمْ.

Janganlah kamu semua masuk kedalam lingkungan orang-orang yang berbuat dosa, kecuali kamu menangis. Jika kami tidak menangis, janganlah kamu memasukinya, kamu tidak akan mendapatkan musibah seperti yang menimpa mereka.

Rasulullah Saw bersabda : [11]

مَنْ ذَكَرَ اللهُ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ حَتَّى يُصِيْبَ الأَرْضُ مِنْ دُمُوعِـهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ

Barang siapa yang ingat kepada Allah kemudian mengalir airmatanya dari takut kepada Allah hingga bumi kejatuhan airmatanya, maka Allah tidak akan menyiksanya dihari kiamat

Diriwayatkan dari Bakir Ibn Abdullah al-Asyaj, Rasulullah Saw bersabda :[12]

أللهُمَّ ارْزُقْنِي عَيْنَيْنِ هَطَالَتَانِ

       Ya Allah, berilah aku dua mata yang mudah menangis.

Hal ini tercermin dalam hadis lain yang diriwayatkan dari Abdullah Ibn Mas’ud Ra, Rasulullah Saw bersabda : [13]

إِنَّ المُؤْمِنُ يَرَى ذَنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلِ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذَنُـوبَهُ كَـذُبَابِ مَرَّ عَلَى أَنْـفِهِ

Sesungguhnya orang yang beriman adalah (orang) yang dapat melihat dosa-dosanya bagaikan orang yang duduk dibawah gunung, dia takut akan kejatuhan gunung. Sedang orang yang durhaka, dalam melihat dosa-dosanya bagaikan orang melihat lalat yang menempel diatas hidungnya dan yang mudah diusir.

Menangis merupakan gejala dan fenomena psikologis (peristiwa kejiwaan). Setiap manusia pernah mengalami menangis. Baik ketika bayi, masa kanak-kanak, dewasa menjadi remaja, ketika sudah menjadi orang tua bahkan menjadi nenek-nenekpun bisa menangis.

Motifasi (dorongan) menangis itu bisa terjadi dari berbagai macam sebab. Tangisan bayi merupakan bahasa untuk memberi tahukan keadaan dirinya dan apa yang dibutuhkan; lapar, haus, badan terasa kotor, terkena pipis, badan tidak enak/ sakit dan sebagainya. Rasulullah Saw mengabarkan bahwa; tangisan bayi yang baru lahir, dikarenakan disentuh oleh setan. Sedangkan tangis bayi sampai umur 4 tahun adalah merupakan istighfar permohonan magfirah  atas dosa kedua orang tuanya.

Orang yang susah karena mengalami musibah atau penderitaan yang berat seperti sakit, kematian sanak famili, kehilangan kekasih, kehilangan harta benda dan sebagainya bisa menangis. Orang yang terlalu senang dan gembira juga bisa menangis.

Terlalu takut kepada sesuatu juga bisa menangis. Pokoknya, menangis dapat selalu terjadi dalam situasi dan kondisi yang bermacam-macam, selama fikiran masih normal. Orang gila atau orang yang tidak normal otaknya tidak bisa menangis. Kalaupun kedengaran suara dia menangis, tidak keluar air mata, sebagaimana tangisnya orang yang masih normal fikirannya.

Jelaslah bahwa dorongan menangis itu datang dari jiwa diri orang yang menangis itu sendiri, karena adanya sentuhan jiwa atau rangsangan batin. Tangis tidak bisa diada-adakan atau dipaksakan dari luar tanpa ada sesuatu yang merangsang menyentuh kedalam jiwa. Begitu juga kita tidak dapat memberhentikan orang yang sedang menangis begitu saja. Bagaimanapun usaha kita, dengan kekerasan sekalipun, kita tidak dapat menahan orang jangan menangis atau supaya berhenti menangis. Tangis itu akan berhenti dengan sendirinya juga telah datang “sesuatu“ yang merangsang jiwanya, yang meredakan kegoncangan batinnya. Usaha menahan tangis dari luar, hanya sekedar membantu proses datangnya “sesuatu“ yang menentramkan kegoncangan jiwa tadi. Jadi juga ada manfaatnya. Dan memang harus diusahakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling orang yang sedang mengalami kegoncangan jiwa seperti itu.

Didalam Mujahadah Wahidiyah, banyak kita jumpai dan bahkan sering kita sendiri mengalami menangis. Dalam pada itu sering kita menangis tidak mengetahui sebab-sebabnya. Tahu-tahu menangis begitu saja tanpa ada sebab. Tetapi pada satu tempo kita mencoba mengusahakan dan memaksakan diri kita untuk bisa menangis, tetapi itu juga tidak berhasil bisa menangis, walaupun dalam keadaan mujahadah sekalipun. Begitu juga pernah terjadi bahwa pada satu tempo ketika bermujahadah kita tidak dapat menguasai diri dari menangis, tidak mampu mengendalikan tangis sampai tercetus suara jeritan-jeritan yang keras. Mengapa begitu ?. Jawabnya yang tepat : Allahu A’lam. Kemampuan rasio tidak mampu mengadakan pendekatan-pendekatan, lebih-lebih membuat analisa rasional.

Menangis, sangat berkaitan dengan kepekaan atau sensitifitas jiwa terhadap sesuatu yang ditangisi atau disesali. Sebagai misal, ditengah-tengah masyarakat terdapat seseorang yang cepat dan mudah merasa malu serta menyesal dengan kesalahan yang sederhana atau sedikit. Namun ada juga seseorang yang memiliki kesalahan yang cukup banyak dan berat, namun tidak memiliki malu dengan tetangga lingkungan, tidak ada penyesalan, bahkan bangga dengan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Diantara manusia; ada yang memiliki rasa belas kasihan kepada kaum yang lemah, kaum yang tertindas, dan kemudian membela dan memperjuangkannya. Namun ada juga seseorang yang tidak memiliki perhatian dan keprihatinan sama sekali terhadap kaum tersebut. Rasa kasihan dan ingin membela kaum yang lemah, keprihatinan terhadap dekadensi moral, atau memiliki rasa malu tentang kesalahan diri, baik kepada diri sendiri, kepada ummat masyarakat, lebih-lebih kepada Allah Swt wa Rasulihi Saw, tidak berkaitan dengan keintelektualan seseorang, tapi berkaitan dengan kepekaan jiwa.

Demikian pula kepada Allah Swt, diantara mukmin ada yang mudah memiliki rasa malu dan benar-benar takut kepada Allah Swt dengan kesalahan ringan (dosa kecil) apalagi dosa besar, dan kemudian menyesal dan menagis serta sungguh-sungguh bertaubat. Dan ada juga diantara mukmin yang mengerti jika dirinya banyak dosa, penuh kesalahan dan sangat sedikit kebaikannya, akan tetapi hatinya tidak memiliki rasa malu apalagi takut kepada Allah Swt. Jelasnya, menangis kepada Allah Swt berkaitan sekali dengan kepekaan jiwa seseorang terhadap dosa yang dilakukan, dan bukan berkaitan dengan akal dan banyaknya ilmu yang dikuasainya. Artinya, hampir setiap orang memiliki pengertian, kalau manusia merupakan makhluk yang banyak berdosa kepada Allah Swt, namun mereka tidak merasa malu kepada Allah Swt. Rasa malu dan takut bukanlah perbuatan akal, melainkan perbuatan hati. Sebagaimana iman, juga bukan merupakan perbuatan akal dan fikiran, akan tetapi perbuatan hati atau jiwa.

 

 

  1. Bimbingan Menangis [14]

Dapat menangis karena Allah Swt merupakan tanda tanda seseorang yang selamat dihari kemudian. Sebagaimana penjelasan Rasulullah Saw ketika menjawab pertanyaan dari sahabat Uqbah Ibn Amir, Wahai Rasulullah apakah keselamatan itu ?. Rasulullah Saw bersabda  : [15] أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ, وَلْيَسعْكَ بيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ  : Jagalah lisanmu, dan kamu merasa luas (betah) dalam rumahmu, dan menangislah atas dosa-dosamu.

Dalam HR. Abu Nuaim al-Ishfahani dari Abdullah Ibn Abbas, Rasulullah Saw  :

مَنْ أَذْنَبَ وَهُوَ يَضْحَكُ دَخَلَ النَارَ وَهُوَ يَبْكِى.

Barang siapa berbuat dosa dan kemudian tertawa, maka dia masuk neraka sambil menangis.

Dalam keterangan hadis lain diterangkan bahwa menyesali perbuatan dosa merupakan bagian dari taubat. Rasulullah Saw bersabda :  النَدَمُ تَوبَةٌ: menyesal itu ber taubat. [16]

Berkaitan dengan hadis ini, Syeh Abdul Qadir Jailani Ra, mengatakan :

وَعَلاَمَةُ صَحَّةُ النَدَمِ : رِقَّةُ القَلْبِ, وَغَزَارَةُ الدَمْعِ.  وَلِهَذَا رُوِيَ عَنِ النَبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : جَالِسُوا التَوَّابِيْنَ فَإِنَّهُمْ أَرِقُّ أَفْئِدَةٍ.

Tanda-tanda benarnya penyesalan adalah halus (peka)-nya hati, derasnya airmata. Dan hal demikian ini, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw yang bersabda :“Duduklah kamu semua bersama orang-orang yang bertaubat. Sesungguhnya mereka sehalus-halusnya perasaan”.

Lain itu pula, iman yang benar dapat membentuk hati seseorang memiliki rasa malu kepada Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda : [17]  الحَيَاءُ مِنَ الإيْمَانِ  : rasa malu (kepada Allah Swt) itu bagian dari iman.

Rasa malu kepada Allah Swt dapat muncul dalam hati, setelah sesorang dapat melihat dosa-dosanya baik dosa lahiriyah maupun dosa batiniyah, kemudian merasa dilihat oleh Allah Swt Dzat Yang Maha Perkasa.

Menangis karena dosa dari setiap mukmin, berbeda-beda. Dan kwalitas menangisnya mukmin dapat dikelompokkan kedalam tiga keadaan :

  1. Diantara mereka ada yang diberi kemampuan oleh Allah Swt penyesalan terhadap perbuatan maksiat sangat dalam, tapi dapat menahan tangisan tanpa suara keras. Hingga setiap orang yang didekatnya dapat terpengaruh jiwanya dan kemudian ikut menangis dan memohon ampun kepada Allah Swt.
  2. Diantara mukmin ada yang belum mampu menahan tangisan, dan karenanya sering menangis dengan suara agak keras. Hingga jiwa orang yang ada didekatnya tidak terpengaruh untuk ikut menangis dan bertaubat.
  3. Diantara mereka ada pula mukmin yang menangis dengan suara yang kurang menyenangkan bagi orang yang ada didekatnya. Hingga menimbulkan kesalah pahaman dari orang-orang yang tidak mengerti keadaan jiwa dari orang yang menyesali dosa dan bertaubat tersebut.

Menangis karena dosa yang muncul dari hati sebaiknya tidak dengan cara menjerit-jerit. Cara menjerit-jerit dalam menangis merupakan ajakan dari setan. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

البُكَاءُ مِنَ الرَحْمَةِ وَالصُّرَاخُ مِنَ الشَيْطَانِ.

Menangis itu dari rahmat (Allah), sedangkan menjerit-jerit itu dari setan. [18]

بُكَاءُ المُؤْمِنِ مِنْ قَلْبِهِ وَبُكَاءُ المُنَافِقِ مِنْ هَامَتِهِ

Menangisnya orang mukmin dari hatinya, sedangkan menangisnya orang munafiq dari kepalanya. [19]

Tempat iman didalam hati sanubari. Dengan kata lain “iman merupakan perbuatan hati”. Demikian pula rasa takut atau rindu kepada Allah Swt atau terharu dengan kebesaran serta keagunga-Nya, juga merupakan perbuatan hati. Orang yang beriman kepada Allah Swt secara benar, sudah tentu ketika menangis karena dosa keluar dari lubuk hati yang dalam. Sedangkan tangisan orang munafik, bukan disebabkan oleh rasa takut atau malu kepada Allah Swt. Akan tetapi lebih disebabkan oleh rasa malu kepada sesama manusia serta takut terhadap cacian dan fitnahan dari masarakat. Mungkin tangis mereka dibuat-buat, atau berpura-pura menangis.

Meski demikian, menangisnya kelompok ketiga selama diniatkan melaksanakan tuntunan rasul (tangis tangiskanlah) tetap merupakan ibadah kepada Allah Swt. Karena bagi orang yang hatinya keras tidak mungkin tumbuh rasa malu kepada Allah Swt apalagi menangis karena-Nya. Tangisan kelompok ketiga ini tercermin dalam sabda Rasulullah Saw bersabda   : يَآأَيُّهَا النَاسُ أُبْكُوْا فَاِنْ لَمْ تَبْكُوْا فَتَبَاكَوْا  : Wahai manusia, menangislah kamu sekalian. Maka jika kamu tidak bisa menangis, berusahalah agar bisa menangis. [20]Dan, أُتْلُوا القُرْأَنَ وَابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا  : Bacalah al-Qur’an dan menangislah kamu. Jika kamu belum (dapat) menangis, tangis-tangiskanlah. [21]

Berkenaan dengan hadis tentang menangis-nangiskan diri karena dosa, Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkaar, pada kitab “Tilawatul Qur’an”, pasal “adab membaca al-Qur’an”, menjelaskan :

وَيُسْتَحَبُّ البُكَاءُ وَالتَبَاكِي  لِمَنْ لاَ يَقْدِرُ عَلَى البُكَاءِ.  فَإِنَّ البُكَاءَ عِنْدَ القِرَأَةِ صِفَةُ العَارِفِيْنَ وَشِعَارُ عِبَادِاللهِ الصَالِحِيْنَ

Dianjurkan (bagi pembaca al-Qur’an) menangis dan mentangis-tangiskan diri bagi seseorang yang belum mampu menangis. Sesungguhnya menangis ketika membaca al-Qur’an merupakan sifat para arifin dan syi’arnya para hamba Allah yang shalih.

Tentang kondisi hati mukmin yang menangis karena Allah Swt, Al-Ghauts fii Zamanihi al-Arif Billah Syeh Syihabuddin as-Suhrawardi Ra menjelaskan bahwa orang yang menangis karena Allah Swt  tidak lepas dari salah satu 3 keadaan : [22]

فَمِنْهُمْ مَنْ يَبْكِي خَوْفًا, وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْكِي شَوْقًا, وَمِنْهُمْ مِنْ يَبْكِي فَرْحًا. وَاَعْلاَهَا بُكَاءُ الفَرْحِ

Diantara mereka terdapat orang yang menangis karena takut (kepada Allah Swt), dan diatara mereka menangis karena rindu (kepada-Nya), dan diantara mereka menangis karena bahagia (dekat dengan-Nya). Dan yang tertinggi nilainya adalah menangis karena bahagia.

Demikian pula, Imam Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan : bahwa  mengalirnya airmata bagi orang yang ahli dzikir kepada Allah Swt, merupakan air mata yang diridlai olah Allah Swt.

وَفَيْضُ العَيْنِ بِحَسَبِ حَالِ الذّاكِرِ وَمَا يَنْكَشِفُ لَهُ فبُكَاءُهُ خَشْيَةٌ مِنَ اللهِ حَالَ أَوصَافِ الجَلاَلِ وَشوْقًا إلَيْهِ سُبْحَانَهُ حَالَ أَوْصَافِ الجَمَالِ

Dan aliran airmata, orang-orang yang ahli dzikir, adakalanya karena takut kepada Allah sebab mereka sadar akan ke-Maha Perkasa-an Allah, dan adakalanya karena rindu kepada-Nya sebab mereka terharu ke-Maha Indah-an Allah.

Tentang arti khasyyah yang diperintahkan oleh al-Qur’an dan hadis, dalam kitab Dalilul Falihin, juz II pada bab keutamaan menangis karena Allah, dijelaskan : [23]

الخَشْيَةُ  : الخَوْفُ المَقْرُوْنُ بِاِجْلاَلٍ,  وَذَالِكَ لِلْعُلَمَاءِ بِاللهِ.  كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِنَّما يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءُ

Khassyah : takut (kepada Allah) yang disertai pengagungan, dan hal ini – hanya kebiasaan ulama yang Arif billah.

Sebagaimana firman Allah Swt  : Sesungguhnya orang yang memiliki khasyyah kepada Allah dari beberapa hamba-Nya, hanyalah Ulama (dalam Qs. Fathir : 11).

Dan disebutkannya kataal-dzaqan” karena ia merupakan  pertama kali  yang tersentuh tanah (sujud) dengan maksud  dimasjid.

 

Menangis karena Allah Swt merupakan sesuatu yang muncul dari lubuk hati yang terdalam sebagai tempat iman, ma’rifat dan Nur Ilahiyah, dan bukan dari akal, fikiran atau hati bagian luar. Dengan demikian, sebagaimana penjelasan dari Syeh Syihabuddin as-Suhrawadi, menangis kerena Allah Swt yang dialami oleh mukmin adalah :

وَيَكُونُ البُكَاءُ فِي اللهِ فَيَكُونُ للهِ, وَيَكُونُ بِاللهِ وَهُو الأَتَمُّ

Tangisan dalam Tuhan, adalah yang didasari LILLAH (atas perintah Allah), dan tangisan BILLAH (sebab pertolongan dan kehendak Allah), adalah yang sempurna.[24]

Yang dimaksudkan tangis dalam ke-Tuhanan (Fillah) adalah tangisan yang dilakukan oleh mukmin karena perintah Allah Swt. Sedangkan billah, adalah terjadinya tangisan mukmin bukan atas usahanya, melainkan atas kehendak Allah Swt. Dan tangisan terakhir inilah yang sempurna.

Dalam kelompok manapun  kita menangis, kita harus bersyukur. Dan alhamdulillah tangis yang terjadi di dalam Wahidiyah adalah tangis yang berorientasi (berhubungan atau berkaitan) kepada Allah wa Rasulihi Saw. Tangis di dalam Wahidiyah tidak menangisi soal harta atau apa saja yang bersifat kebendaan/ material. Motif tangis di dalam Wahidiyah dapat terjadi dari bermacam-macam faktor. Antara lain tangis karena ada sentuhan jiwa yang halus sehingga merasa penuh berlumuran dosa, penuh berbuat kedhaliman, merugikan orang lain dan masyarakat dan  sebagainya. Merasa berdosa, berdosa kepada Allah Swt, berdosa kepada Rasulullah Saw, berdosa terhadap orang tua, terhadap anak dan keluarga, terhadap guru, terhadap pemimpin, terhadap bangsa dan negara, terhadap Perjuangan Kesadaran FAFIRRUU ILALLAH WA RASULIHI SAW, terhadap makhluq lingkungan hidupnya dan sebagainya. Diantaranya lagi, karena sentuhan batin berupa “syauq dan mahabbah“ ( rindu dan cinta ) yang mendalam kepada Allah Swt dan kepada Junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad Saw. Tangis karena kagum melihat keagungan Allah Swt, melihat sifat Jamal dan Kamal Allah Swt, terharu tergores hatinya melihat kasih sayang dan jasa serta pengorbanan Junjungan kita Rasulullah Saw, kepada para umat, terhadap dirinya yang menangis terutama.

 

 

  1. Menangis Sebagai Akhlak Rasulullah Saw.

Tangis yang ada hubungannya kepada Allah Swt adalah tangis yang banyak dilakukan oleh para auliyaillah, nabi, mulai dari Nabi Adam As sampai Junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw.

Sebagaimana keterangan dalam hadis dari sahabat Ibn Mas’ud ra. Dia berkata : Rasulullah Saw bersabda   : [25]

إِقْرَأْ عَلَيَّ القُرْانَ. قُلْتُ :  يَا رَسُولَ اللهِ أَأَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ ؟ .قَالَ : إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي. فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِسَاءِ حَتَّى إِلَى هَذِهِ الاَيَةِ (فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيْدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيْدًا) قَالَ : حَسْبُكَ الاَن.  فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِقَانِ

Bacakanlah untuk-KU ayat al-Qur’an. Aku menjawab : Wahai Rasulullah,  apakah  aku  membacanya dihadapan Tuan, sedangkan Qur’an diturunkan kepada-MU.

Rasulullah Saw bersabda  : Sungguh Aku senang mendengarkannya selain dari-Ku.

Kemudian  aku  membacakan  untuk-Nya  surat an-Nisa’, hingga ini ayat

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيْدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا

(Bagaimanakah, ketika Kami (Allah) mendatangkan bagi setiap ummat seorang saksi, dan Kami datangkan Kamu (Muhammad) kepada mereka sebagai saksi bagi mereka).

Rasulullah Saw berkata : Cukupkan bacaanmu sampai disitu saja. Kemudian aku menengok kepada-Nya, ternyata kedua mata Beliau mengalirkan airmata.

Rasulullah Saw merupakan manusia yang paling sayang dan kasih kepada ummatnya. Beliau Saw sering menangis, ketika ingat atau mengetahui ummat-Nya berbuat durhaka.

 

Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Amr Ibn al-Ash ra, Rasulullah Saw bersabda  : [26]

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلاَ قَوْلَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي إِبْرَاهِيْمَ : رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي. وَقَالَ عِيْسَى: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ العِزِيْزُ الحَكِيْم. فَرَفَعَ يَدَ يْهِ. وَقَالَ: أُمَّتِي …أُمَّتِي … وَبَكى  فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : يَا جِبْرِيْلُ إِذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ فَسَلْهُ : مَا يَبْكِيْكَ ؟.  فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَلاَمُ فَسَأَلَهُ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بِمَا قَالَ وَهُوَ أَعْلَمُ ؟ فَقَالَ اللهُ : يَا جِبْرْيلُ إِذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ.  فَقُلْ  : إِنَّا سَنُرْضِيْكَ فِي أُمَّتِكَ وَلاَ نَسُؤُكَ

Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla tentang do’a Nabi Ibrahim: “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sungguh orang itu termasuk golonganku”. (dalam Qs. Ibrahim : 14). Dan Nabi Saw (membaca firman Allah Swt tentang doa Nabi ‘Isa : Jika Engkau (Allah) menyiksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuninya, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (dalam Qs, al-Maidah : 118).

Kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berkata: Ya, Allah, ummatku…… ummatku…ummatku……. Dan menangis. Maka Allah Azza wa Jalla bersabda : Wahai Jibril pergilah kamu kepada Muhammad – sedangkan Tuhanmu lebih Mengetahui – Bertanyalah kepadanya, apa yang membuatnya menangis ?.

Kemudian Jibril mendatangi Rasulullah Saw untuk bertanya kepada Beliau. Dan Rasulullah memberitahu kepada Jibril tentang sesuatu yang dikatakan kepada Tuhan – (Allah lebih mengetahui). Allah Ta’ala berfirman : Wahai Jibril pergilah kamu kepada Muhammad, katakanlah kepadanya : Sesungguhnya Kami (Allah) akan meridlaimu dalam urusan ummatmu dan Allah tidak membuatmu sedih.

Benar-benar tinggi kepekaan jiwa yang dimiliki oleh para nabi dan rasul terhadap kebesaran Allah Swt, serta tinggi rasa takut kepada-Nya. Misalnya  :

  1. Nabi Daud As, setelah sedikit saja terpeleset dalam kesalahan, sesegera saja bertaubat, menangis dan sujud kepada Allah Swt untuk memohon ampunan selama 40 hari, hingga tanah yang dijadikan tempat sujud dan menangis tumbuh rumputnya. [27] Dan semua sifat-sifat mulia tersebut patut untuk diteladani, bukan sekedar dimengerti.
  2. Kanjeng Nabi Adam As setelah dikeluarkan dari surga, menangis selama seratus tahun, menyesali kekhilafannya, bertaubat memohon ampunan kepada Allah Swt. Bahkan, sejak bumi ada dan sampai kapanpun, nilai tangisan seluruh ahli bumi belum sebanding dengan nilai tangisan Nabi Adam As. Diriwayatkan dari Buraidah, Rasulullah Saw bersabda : [28]

لَوْ أَنَّ بُكَاءَ دَاوُدَ وَبُكَاءَ جَمِيْعِ أَهْلِ الأرْضِ يُعْدَلُ بِبُكَاءِ آدَمَ مَا عَدَلَهُ

Sesungguhnya jika tangisan Nabi Daud dan tangisan seluruh ahli bumi dibandingkan dengan tangisan Nabi Adam, maka belum membandinginya.

 

Demikian tinggi kepekaan jiwa suci Nabiyullah Adam As. Sebagai bapak jasmani seluruh manusia, Beliau As sangat sedih, prihatin dan menangis, jika melihat keturunannya berbuat durhaka kepada Allah Swt. Namun, sayang sekali, kita sebagai keturunannya, alih-alih menangisi kedurhakaan diri, merasa malu kepada Allah Swt saja tidak. Bahkan, terkadang hati kita merasa risih ketika mendengar hamba Allah Swt yang sedang menangisi dosa-dosanya.

Hadis riwayat Imam Bukhari  dari Anas Ibn Malik, Rasulullah Saw bersabda  : [29]

فَلَمَّا فتَحَ عَلَوْنَا السَمَاءَ الدُنْيَا فَإِذَا رَجُلٌ قَاعِدٌ عَلَى يَمِيْنِهِ أَسْوِدَةٌ وَعَلَى يَسَارِهِ أسْوِدَةٌ إِذَا نَظَرَ قِبَلَ يَمِيْنِهِ ضَحِكَ وَإِذَا نَظَرَ قِبَلَ يَسَارِهِ بَكَى فَقَالَ : مَرْحَبًا بِالنَبِيِّ الصَالِحِ والاِبْنِ الصَالِحِ, قُلْتُ لِجِبْرِيْلَ : مَنْ هَذَا؟ قَالَ : هَذَا أَدمُ وَهَذِهِ الأَسْوِدَةُ عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ نَسَمُ بَنيْهِ, فَأَهْلُ اليَمِيْنِ مِنْهُمْ أَهْلُ الجَنَّةِ وَالأَسْوِدَةُ التِي عَنْ شِمَالِهِ أَهْلُ النَارِ وَإِذَا نَظَرَعنْ يَمِيْنِهِ ضَحِكَ وَإِذَا نَظَرَ قِبَلَ شِمَالِهِ بَكَى

Ketika malaikat membuka (gerbang), kami naik kelangit dunia. Ternyata ada seorang laki-laki sedang duduk. Disebelah kanan dan kirinya terdapat sejumlah orang. Ketika lelaki itu menoleh ke arah kanan, maka dia tertawa. Dan ketika menoleh kearah kiri, dia menangis. Kemudian lelaki itu berkata : Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.

Aku (Rasulullah) bertanya kepada Jibril : Siapakah orang ini ?.

Jibril menjawab : Orang ini adalah Adam As. Sekelompok orang yang dikanan kirinya adalah jiwa anak keturunannya. Orang-orang yang disebelah kanan adalah ahli surga. Sedangkan yang disebelah kiri adalah penghuni neraka. Jika dia menoleh kearah kanan, maka dia tertawa. Dan ketika menoleh sebelah kiri ia menangis.

Mari kita renungkan bersama !. Kanjeng Nabi Adam As saja menangis bertahun-tahun meskipun hanya terperosok kesalahan satu kali. Beliau As sangat sedih melihat keturunanannya yang banyak berbuat dosa. Sangatlah dalam rasa malu dan takut kepada Allah Swt yang ada dalam jiwa Nabi Adam. Serta keprihatinannya terhadap masa depan keturunannya amatlah dalam. Hingga mudah airmatanya menetes. Dan bagaimana kwalitas jiwa kita ?. Kita berbuat dosa tidak hanya satu, dua, tiga kali, melainkan berpuluh-puluh, beratus, beribu-ribu kali bahkan tidak dapat dihitung. Namun …., kita tidak merasa malu, sedih dan prihatin, apalagi menangis meratapi dosa kemudian bertobat memohon maghfirah Allah Swt ?. Mari kita akui dengan jujur, bahwa hati kita sangat keras, dan lagi membatu. Mari sekarang juga, kita bertobat memohon ampunan kepada Allah Swt !.

Al-Fatihah                                         x 1

 

Dijelaskan dalam al-Qur’an, bahwa mudah meneteskan air mata ketika dibacakan ayat-ayat-Nya merupakan tanda-tanda orang yang mendapatkan hidayah dari Allah Swt. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt :

وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا اِذَا تُتْلىَ عَلَيْهِمْ اَيَاتُ الرَحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا.

Dan diantara orang-orang yang telah Kami berikan petunjuk dan telah Kami pilih, adalah apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah, maka mereka menyungkurkan (wajahnya) dengan sujud dan menangis.(Qs. Maryam: 58).

إِنَّ الذِيْنَ أُوتُو العِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ وَيَخِرُّوْنَ لِلأَذْقَانِ سُجَّدًا. وَيَخِرُّوْنَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا

Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan (tentang ke-Agungan Allah Swt) sebelumnya, ketika dibacakan  (ayat-ayat Tuhan) mereka menyungkurkan muka serta sujud. Dan mereka menyungkurkan muka sambil menangis. Dan (tangisan itu) menambah khusyu’ mereka. (Qs. al-Isra : 107 & 109).

 

Demikian kedalaman iman dan kepekaan jiwa serta keterharuan mereka yang telah mendalam dalam pemahaman dan penghayatan terhadap ayat-ayat Allah Swt. Baru dibacakan saja tentang ayat-ayat-Nya, mereka dapat mencucurkan airmata, apalagi jika mereka sedikit terpeleset melakukan kesalahan.

Kemudian, marilah kita bertanya kepada diri kita, dapatkah kita meneladani mereka, atau bahkan berseberangan dengan akhlak dan kebiasaan mereka ?.  Mari, melihat diri kita sendiri, bagaimana ketika mendengar bacaan al-Qur’an, dapat menangiskah, atau bahkan tertawa, atau tidak ambil pusing dan cuek-cuek saja. Dan semua itu kembali dan terpulang kepada masing-masing kita.

 

  1. Keuntungan Dapat Menangis Karena Allah Swt

Dapat menangis karena Allah Swt berfaedah tidak akan melihat dan tersentuh api neraka diakhirat kelak.

Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik Ra, Rasulullah Saw bersabda :

عَيْنَانِ لاَتَرَيَانِ النَارَ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَكْلأُ فِى سَبِيْلِ اللهِ

Dua jenis mata yang tidak akan menyentuh api neraka; mata yang menangis sebab takut kepada Allah, dan mata yang karipan (semalaman tidak tidur) didalam sabilillah.[30]

Hadis riwayat Thabrani dari Rabiah Ra, Rasulullah Saw bersabda  : [31]

رَأَيْتُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي هُوَ فِي النَّارِ فَجَاءَتْ دُمُوْعُهُ التِي بَكَى بِهَا فِي  الدُنْيَا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ فَأَخرَجَتْهُ مِنَ النَارِ

Aku melihat seorang lelaki dari ummat-Ku didalam neraka, kemudian datanglah air matanya yang ia pernah menangis didunia karena takut kepada Allah, kemudian airmata itu mengeluarkannya dari neraka.

Rintihan orang yang berdosa kepada Allah Swt, dan tetesan air matanya, merupakan sesuatu yang paling dicintai oleh-Nya. Seperti keterangan dalam hadis qudsi, Allah Swt bersabda kepada Nabi Daud As.  : [32]

يَادَوُدَ أَنِيْنُ المُذْنِبِيْنَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ صُرَاخِ العَابِدِيْنَ

Wahai Daud, rintihan orang-orang yang berdosa itu lebih Aku cintai daripada nyaringnya suara orang-orang yang beribadah.

Hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah Saw bersabda  :

لَيْسَ شَيْئٌ أَحَبَّ إِلَى اللهِ تَعَالَى إِلاَّ مِنْ قُطْـَرَتيْنِ : قُطْرَةُ دَمْعٍ مِنْ خَـشْيَةِ اللهِ, وَقُطْـرَةٌ دَمٍ تَهْـرِقُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Tidak ada sesuatu yang lebih di cintai oleh Allah, kecuali percikan percikannya airmata karena takut kepada Allah dan percikan darah yang tertumpah dalam perang sabilillah.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda  : [33]

لاَ يَلِجُ النَارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللهِ حَتَّى يَعُودَ اللَبَنُ فِي الضَرْعِ

Tidak akan menginjak neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali keteteknya.

Allah Swt sangat dekat dengan hati hamba-Nya yang merintih karena-Nya. Orang yang menangis karena Allah Swt dicintai para malaikat. Rasulullah Saw bersabda  :

قَالَ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا عِنْدَ المُنْكَسِرَةِ قُلُوبِهِمْ مِنْ أَجْلِي.

Allah ‘Azza wa Jalla bersabda : AKU disisi hati mereka yang merintih kerena AKU.[34]

وَنَزَلَ مِيكَائِيلُ (اِلَى النَبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ),  فَقَالَ : وَأَنَا حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُنيَا ثَلاَثٌ : شَابٌ تَأئِبٌ, وَقَلْبٌ خَاشِعٌ, وَعَيْنٌ بَاكِيَةٌ

Malaikat Mikail datang kepada Nabi Muhammad Saw, seraya berkata : Tiga perkara dunia yang sangat aku cintai; remaja yang bertaubat, hati yang khusyu’ dan mata yang menangis.[35]

Mudah-mudahan kita dikaruniai oleh Allah Swt hati yang lunak, yang peka terhadap kesalahan diri, sehingga kita cepat merasa dan mengakui semua dosa-dosa kita, kemudian tergores dalam hati kita untuk menangis bersujud tersungkur memohon ampunan dari Allah Swt. Amiin.

 

  1. Ancaman Bagi Yang Tidak menangis.

Menangis karena Allah Swt merupakan akhlak yang mulia disisi Allah Swt wa Rasulihi Saw, dan harus menjadi akhlak setiap orang yang beriman. Tidak dapat menangis karena-Nya merupakan akhlak yang kurang terpuji. Dan ketika bermujahadah belum dapat menangis karena-Nya, sebaiknya terus berusaha untuk menangis (belajar menangis).

Orang yang tidak dapat menangis karena dosanya, sangat terkecam dan tidak bisa memperoleh fadhal dari Allah Swt. Firman Allah Swt, Qs. an_Najm : 59 – 62 :

أفَمِنْ هَذَا الحَدِيْثِ تَعْجَبُوْنَ. وَتضْحَكُوْنَ وَلاَ تَبْكُوْنَ. وَأَنْتُمْ سَامِدُوْنَ. فَاسْجُدُواللهِ وَاعْبُدُوا.

Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakannya dan tidak menangis. Sedangkan kamu melengahkan (dosa-dosamu)?.  Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

Dalam HR. Abu Nuaim al-Ishfahani dari Abdullah Ibn Abbas, Rasulullah Saw  :

مَنْ أَذْنَبَ وَهُوَ يَضْحَكُ دَخَلَ النَارَ وَهُوَ يَبْكِى.

Barang siapa berbuat dosa dan kemudian tertawa, maka dia masuk neraka sambil menangis.

Diriwayatkan dari Abu Musa Ra, Rasulullah Saw bersabda :[36]

إِنَّ أَهْلَ النَارِ لَيَبْكُونَ حَتَّى لَوْ أُجْرِيَتْ السَفَنُ فِي دُمُوعِهِمْ جَرَتْ, وَإِنَّهُمْ لَيَبْكُونَ الدَمَ.

Sesungguhnya ahli neraka pasti senantiasa menangis. Sekiranya perahu dijalakan diatas airmata mereka, niscaya dapat berjalan. Sesungguhnya mereka menangis dengan darah.

Jika disesuaikan dengan keterangan beberapa hadis dan al-Qur’an diatas, ternyata kita masih tergolong ahli neraka.   Al-Fatihah ….

  1. Sebagian Mereka Yang Menangis Karena Allah Swt.
    1. Nabi Adam As menangis bertahun-tahun, setelah khilaf (memakan buah khuldi).[37]
    2. Nabi Dawud As, sujud diatas tanah dengan menangis selama 40 hari. Sehingga tanah yang jadikan tempat sujud tumbuh rumput karena basah dengan air mata.[38]
    3. Sahabat Abdullah Ibn Umar, menangis ketika ingat (dzikir) kepada Rasulullah Muhammad Saw.[39]
    4. Istri Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz (Fathimah Bt Abdul Malik) menceritakan bahwa Sang Khalifah setiap malam masuk masjid dan menangis.[40]
    5. Imam Tirmidzi menangis setiap malam hingga akhir hayatnya.[41]
    6. Ketika turun ayat : 1 – 10 surat al-Hujurat, para sahabat Rasulullah Saw menangis karena takut kalau-kalau arti ayat tersebut diturunkan karena kesalahan akhlak mereka kepada Rasulullah Saw.[42]

Sahabat Zaid Ibn Tsabit (sekretaris pribadi dan penulis wahyu Nabi Saw) menangis dengan sekeras-kerasnya dipersimpangan jalan yang banyak dilalui oleh para pemakai jalan. Dan baru berhenti ketika salah seorang sahabat,  memberi tahu bahwa ayat tersebut tidak turun karena mereka.[43]

  1. Para istri Nabi Muhamad Saw, juga menangis ketika turun ayat yang memberi peringatan kepada para istri Nabi Saw.

Siti Aisyah Ra menangis tiga hari tiga malam ketika turun ayat yang isinya memberi peringatan kepada para istri Rasulullah Saw. Ia merasa bahwa dirinya sebagai penyebab kemurkaan Allah Swt kepada semua wanita. [44]

  1. Mbah KH. Abdul Madjid Ma’roef Muallif Shalawat Wahidiyah QS wa RA. sering menangis ketika Beliau Qs wa Ra membaca al-Qur’an yang menerangkan tentang kedurhakaan manusia atau ayat-ayat neraka.
  2. Dan masih banyak lagi hikayah tangis dari para kekasih Allah Swt.

 

Agar kita tidak menjadi manusia yang hanya berilmu tapi tidak beramal, mari bersama-sama menyadari bahwa diri kita ini sebagai makhluk yang lemah tapi sombong, makhluk berdosa tapi tidak merasa merasa berdosa, bahkan merasa bangga. Apakah kita menyadarinya setelah ruh dalam kerongkongan saat menjelang kematian. Mari kita berbisik kepada Allah Swt tentang diri kita :

Yaa Allah….. aku hamba-Mu yang tak tahu diri, yang lemah tapi sombong serta angkuh, yang penuh dosa tapi tidak menyadari……. . Ampunilah aku ……. ampunilah bapak ibuku, keluargaku, dan seluruh orang yang berjasa kepadaku …… .Janganlah… aku, ibu bapakku, keluargaku, serta orang yang berjasa kepadaku ada dalam neraka-Mu. Jadikanlah aku menjadi hamba-Mu yang shalih.

 

Al-Fatihah                                                   x  1

 

[1].  HR. Ad-Dailami, dari Ibnu Abbas Ra dalam Jami’ as-Shaghir, juz I, pada bab “alif”. Mujtahid adalah orang yang memahami/ menggali hukum / menafsiri dari  al-Qur’an dan al-Hadis.

[2].  HR. Imam Ahmad dari Umar Ibn al-Khatthab dalam  dalam Jami’ as-Shaghir, juz I, bab “alif”. Beliau mengatakannya sebagai hadis “shahih”.

[3].  HR. Imam Thabrani dari Abu Darda’ dalam kitab Jami’ as-Shagir, juz I, pada bab “alif”.

[4].  HR. al-Hakim dan Baihaqi dari sahabat Ibn Umar Ra, dalam  Kitab Minhaj al-Abidiin-nya Imam al-Ghazali dalam “muqaddimah”.

Dalam kitab tafsir al-Qurthubi  dalam penjelasan terhadapa Qs.  az-Zumar ayat 22, menerangkan, bahwa yang  menerima “Nur ilahiyah” secara sempurna hanyalah  Hamba Allah yang Kamil  (al-Ghauts- pen).

Kanjeng Romo KH.Abdul Latif Majid Ra, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah Dan Pondok Pesantren Kedunglo, dalam salah satu fatwa amanatnya menjelaskan; bahwa iman itu terbagi menjadi tiga bagian : iman qauliyah (ucapan), iman ilmiyah dan iman musyahadah (kesaksian).

[5].  Hadis riwayat Bukhari, kitab Jawahir al-Bukhari wa Syarh al-Qusthalaani, nh : 105.

[6].     Sebagian ulama mengartikan “terpaut dengan masjid” dengan “senantiasa melaksanakan amal shalih dan dzikrullah”.

[7].     HR. Bukhari Muslim. Lihat kitab Dalil Falihin, juz II, bab “khauf”, hadis nomer : 06 dan bab “fadlul buka”, hadis nomer : 02. Dan lihat kitab As-Syifa’, juz I, bab “khaufun Nabi rabbahu”, hlm : 96.

[8]      kitab As-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa ’juz I, halaman 96,

[9]      Kitab Muziil al-Khafa ‘an Alfadh as-Syifa’ al-Allamah Syeh Ahmad Ibn Muhammad As-Syumni (w. 872 H), catatan kaki kitab as-Syifa’. Lihat kitab As-Syifa’, juz I, bab “khaufun Nabi Rabbahu”.

[10].  Lihat kitab Riyaadlus Shalihin-nya Imam Nawawi Ra, dalam bab “Menangis dan Takut Kepada Allah”, nomer hadis : 01. Sebagian ulama menafsirkan makna “menangis” dalam hadis ini dengan : setidak-tidaknya memasuki lingkungan maksiyat dengan keprihatinan dan kesedihan yang mendalam.

[11]. HR. al-Hakim dari dari Anas. Imam Suyuthi mengatakan hadis ini berajat hasan (kitab Jami’ as-Shaghir, juz II dalam bab “mim”.

[12].  Kitab ‘Awarif al-Ma’arif-nya Imam Suhrawardi dalam bab 24.

Dan perlu diketahui; terdapat 3 ulama yang dipanggil dengan nama Suhrawardi. Imam Suhrawardi al-Maqtul (yang terbunuh karena dituduh sesat, w. 523 H),  Syeh Abun Najiib As-Suhrawardi (w. 578 H) dan Syeh Syihabuddin as-Suhrawadi (penulis kitab Awarif al-Ma’aarif, w. 632 H). Dan yang terakhir adalah ulama dalam madzhab Syafi’i, ahli ushul fiqh, ahli hadis, penyair, seorang hakim pada waktu itu, ahli sastra, ahli dalam bidang tarekat dan tasawuf. Dalam hidupnya beliau senantiasa riyadlah, mujahadah dan air matanya mudah keluar ketika dzikrullah. Dalam penulisan hadis, Beliau memiliki sanad hadis yang bersambung kepada Rasulullah Saw.

[13]. HR. Bukhari, ibid nh : 698. Ulasan hadis lebih jelas dapat dilihat dalam kitab al-Ghunyah-nya Syeh Abdul Qadir al-Jilli Ra, juz I, dalam bab “al-Itii’adz bi Mawa’idzil Qur’an” pada pasal ke 20.

[14].  Didalam salah satu pengajian al-Hikam, Beliau Hadlratul Mukarram Romo KH. Abdul Latif Majid Ra Pengasuh Perjuangan Wahidiyah Dan Pondok Pesantren Kedunglo, memerintahkan agar pindah tempat  dari dalam masjid keluar masjid kepada peserta pengajian yang sedang menangis dengan suara keras. Menangis dengan suara keras dapat mengganggu peserta pengajian yang lain.

[15].   Hadis berstatus hasan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Kitab al-Adzkar Imam Nawawi, nh : 964.

[16].   Kitab al-Ghunyah-nya Syeh Abdul Qadir al-Jailani dalam bab “itti’adz bi mawa’idz al-Qur’an wa al-fadzin nabawiyah” pasal ke 22.

[17] . HR. Muslim & Tirmidzi dari Abdullah Ibn Umar. Kitab Jami’ as-Shagir, juz I dalam bab huruf “ha”.

[18].   HR. Ibnu Sa’ad. Kitab Jam’ as-Shaghir juz I dalam bab “ba”. Imam Syuthi menjelaskan hadis ini berstatus shahih.

[19].   HR. Baihaqi, Thabrani dan Abu Nuaim dari Hudzaifah. Kitab Jam’ as-Shaghir juz I dalam bab “ba”.

[20].  HR. Abu Daud dari Anas Ibn Malik Ra. Kitab Kunuuz a-Haqaaiq fii Haditsi Khair al-Khalaaiq-nya Syeh Abdur Rauf al-Munawi, dalam bab “alif” (dalam Hamisynya kitab Jami’ as-Shagir).

[21].   HR. Ibnu Majah (kitab Kunuzul Haqaaiq fii Hadiitsi Khairil Khalaaiq-nya Imam Abdur Rauf al-Munawi, dalam bab “alif”. Hadis ini juga terdapat dalam kitab Kasyful Khifa’ juz I nomer hadis : 42 riwayat Ibnu majah pula, tanpa didahului kata-kata :  أتْلُوا القُرْأنَ : bacalah al-Qur’an.

[22].  Kitab ‘Awarif al-Ma’arif-nya Imam Suhrawardi dalam bab 24.

[23].  Lihat kitab Dalil al-Falihin, juz II dalam bab “fadlul buka”.

[24]. Kitab ‘Awarif al-Ma’arif-nya Imam Suhrawardi dalam bab 24.

[25].  HR. Bukhari dan Muslim. Lihat kitab  Dalil Falihin, juz II, dalam bab “fadlul buka”, hadis nomer : 01. Dan kitab Syama-il al-Muhammadiyah-nya Imam Tirmidzi, bab 44, tentang “Buka-un Nabi Saw”,  hadis nomer : 306.  dalam Sunan Abu Daud, bab  “shalat”.

[26]   Hadits riwayat Imam Muslim, dalam Shahih Muslim  juz II, kitab iman.

[27]. Kitab al-Ghunyah-nya Syeh Abdul Qadir al-Jailani juz I dalam bab al-Itti’adz bi Mawa’idz al-Qur’an pada pasal ke 14

[28].  HR. Ibnu ‘Asaakir. Kitab Jami’ as-Shaghir juz II dalam bab “lam”. Imam Syuthi menjelaskan hadis ini berderajat hasan.

[29]. Hadis riwayat Abu Daud,  An-Nasa’i, Tirmidzi dan Ibn Majah.

Sabda ini disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw sepulang dari perjalanan isra’ dan mi’raj. Lihat buku Syarah Hadis Qudsi, (terjemah kitab al-Ahaadits al-Qudsiyah, oleh ‘Team Daar al-Bazz’ Makkah, penerbit Pustaka Azzam, Jakarta, cetakan pertama Juni tahun 2003 nomer hadis : 115.

[30].   Hadis riwayat Imam Thabrani. Imam Suyuthi mengatakan hadis ini shahih. Hadis shahih yang sepadan juga diriwayatkan oleh Imam Abu Ya’la dan Imam ad-Dliya’ dengan permulaan redaksi : عَيْنَانِ لاَتَمَسُّهُمَا النَّارُ أَبَدًا : “Dua jenis mata yang selamanya tidak tersentuh neraka” .

Imam Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abdullah Ibnu Abbas dengan redaksi :

عَيْنَانِ لاَتُصيْبهُمَا النَارَ : عَيْنٌ بَكَتْ فِي جَوْفِ اللَيْلِ  مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيْلِ اللهِ

Dua jenis mata yang tidak tertimpa neraka : mata yang menangis ditengah malam karena takut kepada Allah, dan mata yang karipan (semalaman tidak tidur) dalam sabilillah.

Kitab Jami’ as-Shagir-nya al-Ghauts fii Zamanihi Imam Jalaluddin as-Suyuthi Ra, dalam juz II pada bab “ain”.

[31].   Hadis riwayat Thabrani dalam kitabnya al-Kabiir.

[32].   Kitab Tanwir al-Quluub,  bab “taubat”

[33].   Hadis hasan shahih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Lihat kitab Riyaadl ad-Shalihin-Nya Imam Nawawi, dalam pasal “keutamaan menangis” nomer hadis : 03.

[34].   Kitab Tanwir al-Quluub,  bab “taubat”

[34].   Kitab Kasyful Khifa’, nh : 614.

[35].   Ibid, Kasyful Khifa’, nh : 1087.

[36].   HR. Imam al-Haakim dalam kitab Jami’ as-Shagir fii Ahaadiits al-Basyiir an-Nadziir-nya Imam Jalaaluudin as-Suyuuthi, dalam bab “alif”. Dia menyatakannya sebagai hadis “shahih”.

[37].  Kitab Minhaj al-Abidin-nya Imam al-Ghazali dalam ‘aqabah II – pada bahasan ‘aqabah taubah, pasal ‘aqabah shu’bah.

[38].  Kitab Siraj at-Thalibin : I / 176

[39].   Kitab Manhal al-Latiief fii Ushul al-Hadits as-Syarif-nya Muhammad Alwi al-Maliki al-Hasani, dalam bab kisah Abdullah Ibn Umar Ra.

[40]   Kitab Thabaqat al-kubro : I / 33.

[41].  Buku Pribadi Rasulullah Saw (terjemah kitab Syama’il al-Muhammadiyah nya Imam Tirmidzi), bagian “Sekilas riwayat hidup Imam Tirmidzi”.

[42].  Kitab tafsir Hasyiyah as-Shawi.

[43].   Lihat kitab tafsir Shawi dalam surat al-Hujuraat.

[44].  Lihat buku  Sufisme dan Akal (tulisan Dr. Abdullah As-Syarqawi) penerbit “Pustaka Hidayah” Bandung, dalam penjelasan akhlak batin para istri Rasulullah Saw.

KEDUDUKAN AL GHOUTS RA

  1. Kedudukan Al-Ghauts Ra

Paling tidak terdapat tiga alasan, mengapa manusia perlu memahami keberadaan, keagungan, kedudukan dan tugas al-Ghauts Ra. Pertama, secara batiniyah Beliau Ra memiliki sirri yang menembus keseluruh alam, kedua, untuk meneladani perikehidupannya, dan ketiga, untuk membebaskan jiwa salik dari kemusyrikan.

Dan –  dalam istilah Syeh Abdul Qadir al-Jailani Ra -, al-Ghauts Ra atau Sufi Yang Sempurna, bagaikan tempat untuk menyimpan ilmu dan hikmah Rasulullah Saw, kediaman yang aman dari gangguan setan, tempat kebahagiaan yang pasti dan gua bagi para arifin dan waliyullah. Karena dalam jiwa beliau terpancar takdir Tuhan untuk mahkuk-Nya. [1] Setiap waliyullah berada dalam gua naungannya, yang mana naungannya adalah terpancar dari Rasulullah Saw. Dan naungan Rasulullah Saw adalaha naungan Allah Swt.

 

  1. Secara Jasmani dan Rihani.

Dapat dimaklumi pemahaman yang berkembang ditengah-tengah masyarakat muslim tentang keberadaan Ghauts Ra, masih sangat minim. Sehingga banyak yang mengatakan bahwa al-Ghauts itu hanya Syeh Abdul Qadir, Syeh Syadzili, Syeh Naqsyabandi, Mbah KH. Abdul Madjid Ma’roef Muallif Shalawat Wahidiyah (Qs wa Ra), dan tidak ada al-Ghauts lagi setelahnya. Padahal kesimpulan semacam ini tidak memiliki dasar dari kaidah yang benar, dan hanya sebuah persepsi atau bahkan hanya sebuah opini.

Diantara tujuan dita’lifnya Shalawat Wahidiyah oleh Mbah KH. Abdul Madjid Ma’roef Qs wa Ra untuk memahami dan membuktikan – melalui pengalaman ruhani (rukyah shalihah) – kebaradaan al-Ghauts Ra secara kassyaf dan musyahadah. Dan alhamdullah – sebagai tahaddus binni’mah – banyak diantara pengamal Wahidiyah mendapat hidayah Allah Swt dan syafaat Rasulullah Saw dapat memahami kebaradaan al-Ghauts Ra.

Keberadaan al-Ghauts Ra – sebagaimana keterangan dalam hadis shahih -, secara jasmani dan ruhani. Dan tidak ada al-Ghauts ra menjalankan tugas sebagai khalifah Rasulullah Saw dari alam barzah atau alam kubur. Rasulullah Saw bersabda : [2]

إِنَّ فِيِ الخَلْقِ ثَلاَثُمِائَةٌ قُلُوبُهُمْ عَلَى قَلْبِ اَدَمَ.  وللهِ فِيِ الخَلْقِ أَرْبَعُونَ قُلُوبُهُمْ عَلَى قَلْبِ مُوسَى.

وللهِ سَبْعَةٌ فِيِ الخَلْقِ قُلُوبُهُمْ عَلَى قَلْبِ إِبْرَاهِيْمَ. وللهِ فِيِ الخَلْقِ خَمْسَةٌ قُلُوبُهُمْ عَلَى قَلْبِ جِبْرِيْلَ. ولله

فِيِ الخَلْقِ ثَلاَثَةٌ قُلُوبُهُمْ عَلَى قَلْبِ مِيكَائِيْلَ. وَلله فِي الخَلْقِ وَاحِدٌ قَلْبُهُ عَلَى قَلْبِ اِسْرَا فِيْل. فَاذَا مَاتَ الوَاحِدُ اَبْدَال َاللهُ مَكَا نَهُ مِنَ الثَلا َثَةِ فَاذَا مَاتَ الوَاحِدُ اَبْدَال َاللهُ مَكَا نَهُ مِنَ الثَلا َثَةِ. فَاذَا مَاتَ مِنَ الثَلاَثَةِ اَبْدَال َاللهُ مَكَا نَهُ مِنَ الخَمْسَة .َاذَا مَاتَ مِنَ الخَمْسَةِ اَبْدَال َاللهُ مَكَانَهُ مِنَ السَبْعَةِ .فَاذَا مَاتَ مِنَ السَبْعَةِ  اَبْدَال َاللهُ مَكَانَهُ مِنَ الآرْبَعِيْنَ. فَاذَا مَاتَ مِنَ الآرْبَعِيْنَ اَبْدَال َاللهُ مَكَانَهُ مِنَ الثَلاَثِمِائَةٍ.  فَاذَا مَاتَ مِنَ الثَلاَثِمِائَةٍ اَبْدَال َاللهُ مَكَانَهُ مِنَ العَامَّةِ.  فَبِهِمْ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَيُمْطِرُ وَيُنْبِتُ وَيُدْفَعُ البَلاَءِ.

 Sesungguhnya didalam makhluk (alam) terdapat 300 orang yang hatinya seperti hati Nabi Adam. Dan Allah memiliki 40 orang, yang hatinya seperti hati Nabi Musa. Dan Allah memiliki 7 orang, yang hatinya seperti hati Nabi Ibrahim. Dan Allah memiliki 5 orang, yang hatinya seperti hati Jibril. Dan Allah memiliki 3 orang, yang hatinya seperti hati Mikail. Dan Allah memiliki 1 orang, yang hatinya seperti hati Israfil.

            Ketika 1 orang ini mati, Allah menggantikannya dari salah satu 3 orang. Ketika mati/ berkurang (salah satu) dari 3 orang, Allah menggantikannya dari salah satu 5 orang. Ketika mati/ berkurang (salah satu) dari 5 orang, Allah menggantikannya dari salah satu 7 orang. Ketika mati/ berkurang (salah satu) dari 7 orang, Allah menggantikannya dari salah satu 40 orang. Ketika mati/ berkurang (salah satu) dari 40 orang, Allah menggantikannya dari salah satu 300 orang. Ketika mati/ berkurang (salah satu) dari 300 orang, Allah menggantikannya dari orang awam.

Sebab mereka kehidupan atau kematian. Sebab mereka hujan turun dan tamanam tumbuh. Dan sebab mereka bala/ musibah tertolak.

Kalimatمَاتَ / maata : mati, yang dirangkai dengan, اَبْدَال َاللهُ مَكَا نَهُ مِنَ الثَلا َثَةِ = Allah menggantikan kedudukannya dari salah satu 3 orang, dalam hadis riwayat Abu Nuaim al-Isfahani dan Ibnu Asakir  dari Ibnu Mas’ud Ra diatas, dengan menjelaskan keberadaan al-Ghauts Ra, bukan secara ruhani dari alam barzah, akan tetapi secara jasmani dan ruhani.

Dalam kitab al-Yawakit juz II, hlm 80, diterangkan :

وَمِنْ شُرُوطِهِ اَنْ يَكُونَ ذَا جِسْمٍ طَبِيْعِيٍ وَرُوْحٍ , وَيَكُونُ مَوْجُودًا فِي هذِهِ الدَارِ بِجَسَدِهِ وَحَقِيْقَتِهِ  فَلاَبُدَّ اَنْ يَكُونَ مَوْجُودًا فِي هَذِهِ الدَارِ بِجَسَدِهِ وَرُوحِهِ مِنْ عَهْدِ اَدَمَ اِلَى يَوْمِ القِيَا مَةِ

Dan diantara persyaratan (keberadaan) Al Ghauts Ra : Wujud dengan rohani dan  perwatakan  jasmani pula . Dan dalam kehidupan nyata (sejak zaman Nabi Adam sampai hari qiyamat) .

Telah banyak kitab tasawuf yang menerangkan, bahwa para al-Ghauts Ra  memohon kepada-Nya, jika sekiranya Beliau Ra wafat,  Allah Swt berkenan mengangkat putranya atau keluarga yang lain sebagai al-Ghauts untuk menggantikannya.   Dan sebagai calon pengganti, mereka berada dalam asuhan al-Ghauts sebelumnya.

Misalnya, al-Ghauts fi Zamnihi Syeh Muhammad Wafa, digantikan oleh  putranya (Syeh Ali Ibn Muhammad Wafa), al-Ghatus fi Zamnihi Syeh Ali al-Khirqani, digantikan oleh putranya (Syeh Ibrahim Ibn Ali al-Khirqani). Syeh Sari Saqti digantikan oleh keponakannya sendiri (Syeh Junaid al-Bagdadi), Syeh Baba Samasi digantikan oleh muridnya (Syeh Amir Kulal), Syeh Amir Kulal digantikan oleh murid dan kawan seperguruan, yakni Syeh Bahauddin Naqsyabandi. Syeh Abdul Qadir Jailani digantikan oleh  putranya (Syeh Abdur Razaq).  Syeh Daud Ibnu Makhla digantikan oleh Syeh Muhammad Wafa (muridnya), Syeh muhammad Wafa digantikan oleh murid putranya (Syeh Ali Ibn Wafa), Syeh Abun Najib Suhrawardi digantikan oleh keponakannya (Syeh Syihabudin Umar Suhrawardi Ra (pemilik kitab “Awarif al-Ma’arif).

 

  1. Jumlah al-Ghauts Ra Pada Setiap Waktu.

Allah Swt adalah Maha Satu, Rasulullah Saw juga hanya satu, maka sudah tentu khalifah Allah-pun hanya satu. Banyak keterangan dari hadits Nabi Saw, bahwa dalam setiap waktu hanya ada satu orang yang menjadi tempat tajallinya Allah Swt. Dialah al-Ghauts Ra pada masanya.

Syeh Abdul Wahhab as-Sya’rani Ra dalam kitabnya al-Yawaqit wal Jawahir juz II halaman 81. menjelasan :

 فِيْمَا بَيْنَ القَوْمِ لاَ يَكُونُ مِنْهُمْ فِي الزَماَنِ اِلاّ وَاحِدٌ وَهُوَ الغَوْثُ

Dan diantara mereka, dalam setiap waktu, kecuali adanya satu hamba Allah. Dialah al-Ghauts.

Dan dalam kitab yang sama pada halaman 80 dijelaskan :

فَلاَ يَخْلُوزَمَانٌ مِنْ رَسُولٍ  يَكُوْنُ فِيْهِ وَذَاِلِكَ هُوَالقُطْبُ الذِي هُوَ مَحَلُّ نَظْرِالحَقِّ تَعَالَى مِنَ العَالَمِ كَمَا يَلِيْقُ بِجَلاَلِهِ وَمِنْ هَذَاالقُطْبِ يَتَفَرَّعُ جَمِيْعُ الاِمْدَادِالالهية علَى جَمِيْعِ العَالَمِ العُلْوِي وَالسُفلِي

Tidak akan sepi pada setiap zaman dari seorang rasul-nya Nabi Muhammad Saw (mujaddid). Dialah al-Quthbu (al-Ghuts Ra), yang menjadi tempat pancaran sinar pemeliharaan Allah kepada agama Islam dan alam. Dan kemudian dari Beliau Ra bercabang-cabanglah seluruh pemeliharaan tersebut kepada alam atas dan alam bawah. [3]

 

  1. Gelar Bagi Al-Ghauts  Ra

Berbagai macam gelar dan sebutan yang diberikan oleh para kaum sufi dan para auliyaillah kepada al Ghautsu Ra. Gelar dan sebutan tersebut disesuailan dengan tugas dan fungsi Beliau Ra. Sedangkan gelar al-Ghauts, diberikan kepada Beliau Ra karena fungsinya sebagai penolong bagi seluruh ummat tanpa pandang bulu.

Banyak sekali gelar dan panggilan yang sesuai dengan tugas batinyah dan yang diberikan kepada al-Ghauts Ra. Dan disini hanya diterangkan sebagian saja, antara lain  :

  1. Insan Kamil. (Manusia Sempurna).[4]

Dalam kitab Misykat al-Anwar[5] pada bahasan “al-Quthbu” Imam al-Ghazali menyebut al-Ghauts Ra dengan al-Insan al-Kamil (manusia sempurna dalam iman, taqwa dan akhlaknya) :

فَاِنَّ مَنْ يَجْمَعُ بَيْنَ الظَّاهِرُ والبَاطٍنُ جَمِيْعًا فَهَذَا هُوَ الكَامِلُ

Barang siapa dapat mengumpulkan (pemahaman) alam lahir dan alam batin secara menyeluruh, dialah manusia sempurna.

Gelar ini diberikan kepada Beliau al-Ghauts, karena kesempurnaan ahlaknya seperti akhlak Rasulullah Saw (sebagai fotocopy pribadi Rasululllah Saw) .

Sebagaimana penjelasan Imam Sofyan Tsaury Ra (ulama sufi yang ahli hadis) – yang berdasar pendapat para tabi’in – membagi ulama kedalam 3 (tiga) bagian  : [6]

العُلَمَاءُ ثَلاَثَةٌ :عَالِمُ  بِاللهِ يَخْشَى اللهَ وَلَيْسَ بِعَالِمٍ بِأَمْرِ اللهِ, عَالِمٌ بِاللهِ وَعَالِمٌ بِأَمْرِ اللهِ  يَخْشَى اللهَ فَذَاكَ العَالِمُ الكَامِلُ,  وَعَالِمٌ بِأَمْرِ اللهِ وَلَيْسَ بِعَالِمٍ بِاللهِ فَذَاكَ العَالِمُ الفَاجِرُ

Ulama ada tiga kelompok;  Ulama yang memahami tentang ilmu BILLAH, serta takut kepada Allah, namun ia tidak alim tentang hukum-hukum Allah. Dan, Ulama yang memahami BILLAH serta alim tentang hukum-hukum Allah, dan ia takut kepada Allah. Dan dialah orang alim yang sempurna. Dan, Ulama yang memahami hukum-hukum Allah, tapi tidak alim tentang ilmu BILLAH. Dan dialah ulama yang durhaka.

  1. Al-Quthbu (wali quthub) atau Quthbul Wujud (Poros Wujud).[7]

Gelar ini diberikan kepada al-Ghauts Ra, karena tanggung jawabnya dalam alam – sebagai penjaga dan pelestari alam semesta.

اِعْلَمْ حَفَظَكَ اللهُ اِنَّ الاِنْسَانَ الكَامِلَ وَهُوَالقُطْبُ الذِي تَدُوْرُ عَلَيْهِ أَفْلاَكُ الوُجُودِ مِنْ اَوَّلِهِ اِلَى اَخِرِهِ وَهُوَ وَاحِدٌ مُنْذُ كَانَ الوُجُودُ اِلَى اَبَدِ الاَبَدِيْنَ ثُمَّ لَهُ تَنَوُّعٌ  فِي مَلاَبِس وَيَظْهَرُ فِي كَنَائِس وَاسْمُهُ الاَصْلِيُ الَذِي هُوَ لَهُ مُحَمَّدٌ وَلَه فِي كُلِّ زَمَاٍن اِسٌم مَايَلِيْقُ بِلِبَاسِهِ

Ketahuilah, semoga Allah menjagamu. Sesungguhnya manusia paripurna itu adalah al-Quthbu, yang mana seluruh wujud dari awal sampai akhir senantiasa mengitarinya. Beliau itu hanya satu selama wujud ini masih ada. Beliau menampakkan diri dengan berbagai macam baju dan sangkar. Sedangkan asalnya nama al-Quthbu adalah untuk  Nabi Muhammad Saw. Beliau Saw dalam setiap zaman bersama umat manusia dengan baju al-‘Arif  tersebut, dengan menyesuaikan keadaan zaman.

 

Dan didalam kitab al-Yawaqit wal-Jawahir, oleh Sayyid Abdul Wahhab As-Sya’rani,  halaman  82, menerangkan :

اِعْلَمْ اِنَّ بِالقُطْبِ يَحْفَظُ اللهُ دَائِرَةَ الوُجُودِ كُلَهُ فمَنْ عَلِمِ هَذاَ الامْرَ عَلِمَ كَيْفَ يَحْفَظُ اللهَ الوُجُودَ عَلَى عَالَمِ الدُ نْيَا

Ketahuilah, sesungguhnya melalui al-Quthbu (al-Ghauts),  Allah  menjaga  alam wujud ini secara keseluruhan. Barang siapa yang mengerti (rahasia) perkara ini, maka ia mengerti bagaimana Allah menjaga wujud alam.

Dalam Kitab at-Ta’rifaat-nya [8] Syeh Ali Ibn Muhammad al-Jurjani, dan dalam kitab Jami’ al-Ushul Syeh Kamsykhanawi, bab “wawu” dan bab “qaf”,  dijelaskan  :

القُطْبُ وَقَدْ يُسَمَى غَوثًا وَهُوَ مَوضِعُ نَظْرِ اللهِ فِي كُلّ زَمَانٍ أَعْطَاه الطَلسم الآَعْظَمُ,  يُفِيْضُ رُوحُ الحَيَاةِ عَلَى الكَوْنِ الآَعْلَى وَالآَسْفَلَ

Wali Quthub, kadang dinamakan Ghauts. Beliau sebagai tempat memancarnya pandangan Allah. Beliau juga mengalirkan cahaya kehidupan kepada alam baik bawah maupun atas.

القَطْبِيَةُ الكُبْرَى: هِيَ مَرْتَبَةُ قُطْبِ الآَقْطَابِ وَهُوَ بَاطِنُ نُبُوَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ السلاَمُ, فَلاَ يَكُونُ إِلاَّ لَوَرَثَتِهِ لاحْتِصَاصِهِ عَلَيْهِ بِالآَكْمَلِيَةِ. فَلاَ يَكُونُ خَاتِمُ الوِلاَيَةِ وَقُطْبُ الآَقْطَابِ إِلاَّ عَلَى بَاطِنُ خَاتَمِ النُبُوَّةِ

Wali Quthub yang besar adalah martabat Qutubnya quthub. Beliau adalah sirri nubuwwah Muhammad Saw. Tidak ada wali quthub, kecuali kepada ulama pewaris Muhammad Saw. Hal ini memang khusus kepada mereka. Tidak ada penutup kewalian dan pusat para wali quthub, kecuali pada jiwa penutup para Nabi.

Dalam kitab Ghayatul Qashdi wal Murad juz I halaman 123, diterangkan tentang kaidah yang mashur dalam kalangan kaum sufi. Bahwa para ulama muhaqqiqin membagi kedudukan quthub kedalam 3 bagian. Pertama, quthbul ilmi, seperti Hujjatul Islam Imam al-Ghazali Ra. Kedua, quthbul ahwal, seperti Syeh Abu Yazid al-Bushthami Ra. Ketiga, quthbul maqaamat, seperti Syeh Abdul Qadir al-Jailani.[9]

Dan – sebagai tahaddus binni’mah -, diantara pengamal Wahidiyah mimpi bertemu Rasulullah Saw yang memberitahukan, bahwa Hadlratul Mukarram Mbah KH. Abdul Madjid Ma’ruf Qs wa Ra Muallif Shalawat Wahidiyah memiliki ketiga-tiganya. Beliau Qs wa Ra mendapat warisan ilmu dan makrifat dari seluruh Ghauts sebelumnya. Hingga Beliau Qs wa Ra mencapai derajat mujtahid dalam bidang tasawuf dan tarekat.

  • Wahiduz Zaman (satu-satunya hamba Allah pada zaman itu).

Gelar ini diberikan kepada al-Ghauts Ra, karena hanya Beliaulah yang menguasai suluruh sari ilmu agama dan kitab Allah yang diturunkan kedunia. Dan dalam hadis, Rasulullah Saw, juga menggunakan al-Wahid, ketika memaksudkan al-Ghauts Ra.

Syeh Abdul Wahhab As-Sya’rani, dalam kitabnya Lawaqih al-Anwar wa Thabaqah al-Ahyar  jilid II, dalam bab “Muhammad Wafaa”, menukil fatwa Muhammad Wafa :[10]

لِكُلِّ زَمَانٍ وَاحِدٌ لاَمِثْلَ لَهُ فِي عِلْمِهِ وَحِكْمَتِهِ مِنْ أَهْلِ زَمَانِهِ وَلاَ مِمَّنْ هُوَ فِي زَمَانٍ سَابِقٍ وَلِسَانُ هَذَا الوَاحِدُ فِي زَمَانِهِ لِتَلاَمِيْذِهِ : كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَاسِ

Untuk setiap zaman terdapat satu hamba Allah yang tiada bandingannya dalam ilmunya dan hikmahnya, dan tiada yang membandinginya hamba-hamba (pewaris) masa lalu. Dan bahasa dari hamba satu ini dalam setiap zaman kepada muridnya :  Engkau adalah ummat manusia terbaik yang diturunkan kedunia.

Syeh Amin Al Kurdi Ra menjelakan : [11]

          لاَبَنْبَغِي لِلْعَالِمِ وَلَوْتَبَحَّرَ فِي العِلْمِ حَتّى صَاَر وَاحِدَ اَهْلِ زَمَانِهِ اَنْ يَقْنَعَ بِمَاعَلَّمَهُ وَاِنَّمَا الوَاجِبُ عَلَيْهِ الاجْتِمَاعُ بِاَهْلِ الطَرِيْقِ لِيَدُلُّوهُ عَلَى صِرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. وَلاَ يَتَيَّسَّرُ ذَاِلَك (كُدُورَاتِ الهَوَى وَحُظُوظُ نَفْسِهِ الاَمَّارَةِ بِالسُوءِ( عَادَةً اِلاَّ عَلَى يَدِ شَيْخٍ كَامِلٍ عَالِمٍ فَاِنْ لَمْ يَجِدْ فِي بِلاَدِهِ اَوْاِقْلِيْمِهِ وَجَبَ عَلْيْهِ السَفَرُ اِلَيْهِ

Tidak patut bagi orang alim, meskipun ilmunya seluas lautan, sudah merasa puas dengan ilmunya. Kecuali ia telah menjadi Wahiduz Zaman  pada waktu itu. Bahkan ia wajib bagi mereka berkumpul dengan para ahli tarekat, agar ia ditunjukkan kearah jalan yang lurus. Karena tidak mudah menghilangkan kotoran dan keinginan serta lembutnya nafsu yang mengajak kepada kejelekan, kecuali ia dibawah kekuasaan dan bimbingan Syeh Yang Kamil dan Alim dalam hal tersebut. Dan apabila didaerahnya atau dilingkungannya tidak ada guru Syeh Kamil, maka ia wajib pergi menuju daerah dimana Syeh Mursyid Yang Kamil berada.

  1. Sulthanul Auliya’ (Raja Waliyullah) dan Ru’usul ‘Arifin. Gelar ini diberikan kepada al-Ghauts, disamping sebagai penolong ummat dari belenggu kemusyrikan, juga sebagai pimpinan para waliyullah Ra dan para ulama Arif Billah wa Rasulihi Saw.
  2. Al-Mujaddid = Pembaharu / Reformer .

Gelar ini diberikan kepada al-Ghauts Ra, karena banyak diantara al-Ghauts yang sekaligus sebagai pembaharu dalam agama Islam, agar asas agama kembali seperti semula. Gelar Mujaddid ini diberikan kepada al-Ghauts dengan tambahan sebutan as-Shamadani/ atau al-Murabbi (Mujaddid al-Murabbi/ al-Mujaddid as-Shamadani). Dikandung maksud untuk membedakan dengan para mujaddid lain yang tidak berpangkat al-Ghaus Ra. Diantara al-Ghauts yang sekaligus seorang mujaddid :

  • Syeh Abu Thalib al-Makky (w. 385 H).

Beliau Ra adalah penulis kitab Quut al-Quluub. Kitab ini menjadi rujukan kaidah

tasawuf oleh para pembesar sufi pada masa berikutnya. Dan banyak ulama yang mengatakan, bahwa kitab inilah yang mengilhami Imam Qusyairi menulis kitab Risyalah al-Qusyiriyah, dan Imam Ghazali menulis kitab Ihya’ Ulumuddin.

  • Hujjatul Islam Imam al-Ghazaliy (w- 1111 M).[12]

Dalam kitab al-Munqid min al-Dlalal (jalan keluar dari kesesatan) -nya, Imam Ghazali menceritakan pengalaman batinnya. Ketika itu, Beliau mengoreksi kemurnian batinnya dalam beribadah dan berjuang. Ditemukannya, ketika berjuang dan mengajar, ternyata niatan hati tidak untuk mengabdi kepada Allah Swt, melainkan untuk kepentingan kehormatan dan ketenaran diri, dan ini berarti bukan menyembah Allah Swt, akan tetapi menyembah nafsunya, dan ini pula yang dinamakan syirik dosa yang paling dimurkai oleh Allah Swt. Akhirnya ditinggalkannya tugas sebagai dosen dan kepala perguruan tinggi “Nidlamiyah”. Beliau mengasingkan diri. Namun, ditengah-tengah pengasingannya itu, hatinya berbisik : kasihan ummat dididik oleh orang-orang yang tidak mengerti agama. Dan kembalilah Imam kebangku perkuliahan. Demikian pula ketika sudah berjuang dan mengajar, dikoreksinya niatan dalam hati, dan ditemukannya kembali, bahwa dirinya berjuang bukan karena Allah, akan tetapi tetap karena kehormatan dan ketenaran diri. Merasa usianya sudah tua yang tidak lama lagi pulang kerahmatullah, Imam mengasingkan diri kembali untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan sungguh-sungguh untuk memohon hidayah-Nya.

  • Syeh Bahauddin an-Naqsyabandi (w. 896 H).

Ketika kurang 1 minngu dari hari kelahirannya, Syeh Baba as-Samasi Ra al-Ghauts pada waktu itu, berkata : sebentar lagi ada bayi yang akan lahir. Ketika sudah dewasa, nantinya dia menjadi waliyullah yang basar. Tepat 1 minggu, lahirlah bayi kecil yang diberi nama Bahauddin. Oleh bapaknya, bayi ini disowankan kepada Syeh Baba untuk dimohonkan doa restu. Kepada para murid yang juga ikut sowan, Syeh berfatwa : Ini adalah anakku juga, jika kamu hidup pada masa anak ini, ikutilah dia.

  • Syeh Abdullah Umar al-Ahdali as-Sirhindi (w. 1035 H).

Dalam syarahnya kitab “Faraidul Bahyah”, yang sering disertakan oleh para penerbit, dalam kitab “al-Asybah wa an-Ndzair”-nya Syeh Jalaludin Suyuthi, sebagai catatan luar/ hamisy, dalam bab “muqaddimah”, dijelaskan bahwa Syeh Umar al-Ahdali adalah waliyullah yang mencapai derajat al-Ghauts Ra.

  • Syeh Abdullah Alwi al-Haddad (w. 1132 H). Pemilik “ratibul haddad” dan pendiri tarekat Haddadiyah.

Beliau Ra ini mengalami buta sejak usia 4 tahun gara-gara penyaki katarak. Sejak kecil dia tekun menuntu ilmu, riyadlah dan mujahadah. Jika ingin mengetahui isi salah satu kitab, ia memintan kawannya yntuk membacakannya. Karena memiliki pemikiran cerdas, pandangan yang jauh, banyak para ulama yang bersedia membacakan kitab disampingnya. Banyak kitab tasawuf yang telah ditulisnya, antara lain : ad-Da’wah at-Tammah wa at-Tadzkirah lil-“Ammah Risaalah al-Mu’awanah, Adab Sulukil Murid, Nashaih ad-Diniyah wa al-Washaya al-Imaniyah dan an-Nafais al-Uluwiyah fi al-Masail as-Shufiyah. Dalam kitab yang pertama, Beliau menjelaskan bahwa tarekat terbagi kedalam ‘ammah (untuk mukmin dari kalangan bawah) dan khasshah (untuk para auliyaillah dan kaum arifin). Sedangkan kitab yang terakhir mengulas tentang derajat kewalian; abdal, autad, al-quthbu al-Ghauts, syaikhut thariqah. Banyak ulama pada masanya yang mengatakan bahwa Beliau adalah seseorang yang mampu mencapai derajat al-Quthbu al-Ghauts.

  • Mbah KH. Abdul Majid Ma’ruf Qs wa Ra).

Mbah KH. Muhammad Ma’ruf Ra, Ramanda dari Mbah KH. Abdul Majid Ma’ruf Qs wa Ra, pernah mimpi mengitari dunia sambil kencing. Dan tanah yang dikencingi menjadi subur, padahal sebelumnya tampak gersang. Mimpi ini ditanyakan kepada Mbah KH. Khalil Bangkalan Madura. Sampeyan nanti akan memiliki keturunan yang ilmunya dapat menyadarkan ummat manusia jami’al alamin, jawab Mbah Khalil. Baliau Qs wa Ra tidak meninggalkan sebuah kitab. Dan yang ditinggalkan dan diwariskan hanyalah Shalawat Wahidiyah, yang jika mau memandang dengan hati yang jernih, bebas darirasa iri, dengki dan ambisi – didalamnya terdapat ajaran yang merupakan inti dari kesempurnaan keimanan, keislaman dan keihsanan. Lain itu pula didalam shalawat Wahidiyah mengajarkan tentang keberadaan al-Ghauts Ra, dan sekaligus memberikan jalan untuk pembuktiannya, yang mana hal ini belum dilakanakan oleh para al-Ghauts sebelumnya. Disamping memiliki karamah mudah menyelesaikan permasalahan keluarga, shalawat Wahidiyah juga dapat membawa pengamalnya mudah bertemu Rasulullah Saw baik dalam mimpi maupun jaga.

 

* *    Catatan Penting.

Diantara al-Ghauts Ra ada juga yang berpangkat mujaddid, dan juga yang tidak. Begitu pula, belum tentu seorang mujaddid, berpangkat al-Ghauts. Misalnya, sebagaimana keterangan dalam kitab Yawaqit diterangkan, bahwa Imam Syafi’i (w. 204 H) adalah mujaddid dalam bidang ushulil fiqih dan Abul Hasan al Asy’ari (w. 324 H) adalah mujaddid dalam biang penyusunan pemahaman aqidah, namun dalam kewaliannya bukan al-Ghauts, melainkan wali Abdal. Dan dalam kitab Bugyah al Mustarsyidin bab “khatimah”, diterangkan bahwa Imam Syafi’i adalah mujaddid abad ke 2 H dan Imam Abul Hasan al-Asy’ari beliau adalah mujaddid pada abad ke 3 H. Dan pada masa Syaf’i’i ini yang menjabat al-Ghauts Ra, adalah Syeh Syaiban ar Ra’i. (kitab Risyalah al Qusyairiyah,  Imam Qusyairi w. 465 H, bab “washiyah ‘alal murid”). Dan pada masa Imam Al Asy’ari, yamng menjabat al-Ghauts Ra adalah Syeh Abu Bakar Sibliy Dallaf w. 327 H. ( kitab  al-Insan al Kamil juz II bab “insan kamil” Syeh Abdul Karim Jilly w. 826 H)). Sedangkan al-Ghauts Ra yang tidak berpangkat mujaddid banyak sekali, antara lain, Syeh Abal Khair Hammad Ad-Dibas, Syeh Abdul Qadir Jailani,  Imam Nawawi, Syeh Muhammad Wafa, Syeh Suhrawardi, Syeh Samsuddin al-Hanafi, Syeh Abdul Aziz ad-Dabbag, Imam badawiy, Syeh Abdullah as-Samani al-Madani.

  1. Khatmul Auliya .

Al-Ghauts berkedudukan sebagai Khatmul Auliya’ sebagaimana Rasulullah Saw berkedudukan Khatmul Anbiya’. Dalam bahasa arab, kata al-Khatam dapat diartikan penutup dan setempel/ cap. Dalam kitab al-Insan al-Kamil nya Syeh al-Jilliy, bab “khatimatun”, juga diterangkan bahwa maqam makrifat tertinggi yang dapat dicapai oleh setiap salik disebut maqam al-Khitam,  yang hanya dapat diraih oleh satu hamba Allah Swt dalam setiap zaman.

  1. Murabby al-Qudsi = Pembimbing jiwa yang Suci.

Imam al-Ghazali Ra dalam kitabnya Misykatul-Anwar, dalam pasal I pada pembahasan “Nurul-Muthlaq”, menjelaskan  :

وَهَذِهِ الخَاصَّة تُوجَدُ لِلرُوْحِ القُدْسِي النَبَوِي أِذْ تُفِيْضُ بِوَاسِطَتِهِ أَ نْوَارُ المَعَارِفِ عَلَى الخَلْقِ وَبِهِ تُفْهَمُ تَسْمِيَةُ اللهِ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِرَاجًا مُنِيْرًا, وَالاَنْبِيَاءُ كُلُّهُمْ سِرَاجٌ, وَكذَالِك العُلَمَاءُ

Dan “Nur al-Mutlah” ini diwujudkan khusus untuk ruh Nabi yang qudus (suci). Sebab dari Ruh Qudus ini mengalirlah seluruh nur makrifat kepada seluruh mahluk. Dan sebab Ruh Qudus ini pula dapat dipahami pemberian nama oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw, dengan nama Sirajan Muniran (pelita yang menerangi alam semesta). Dan semua Nabi adalah pelita, demikian pula ulama (al-Ghauts).

  1. Al-Jami’ul Khalqi. Gelar ini diberikan kepada al-Ghauts karena kedudukannya sebagai tempat sandaran mahluk secara batiniyah. [13]

اِعْلَمْ اِنَّ القُطْبَ وَقَدْ يُسَمَّى غَوْثًا بِاعْتِبَارِ اِلْتِجَاءِ المَلْهُوفِ اِلَيْهِ هُوَعِبَارَةٌ عَنِ الفَرْدِ الجَامِع الوَاحِدِ الذِي هُوَ مَوْضِع نَظْرِاللهِ فِي كُلِّ زَمَانٍ.  وَمِنْ لَدُنْهُ يَسْرِي فِي الكَوْنِ وَالاَعْيَانِ البَاطِنَةِ وَالظَاهِرَةِ سِرْيَانُ الرُوْحِ فِي الجَسَدِ. بِيَدِهِ قِسْطَاسُ الفَيْضِ الاَعَمّ.  هُوَ يُفِيْضُ رُوْحُ الحَيَاةِ عَلَى الكَوْنِ الاَعْلَى وَالاَسْفلِ. فَهُوَ بَاطِنُ نُبُوّةِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلّم

                        Ketahuilah sesungguhnya wali Quthub (Ghauts) itu, sebagai tempat pengungsian mahluk. Beliau adalah hamba yang satu dan sekaligus sebagai pengumpul mahluk. Beliau juga sebagai tempat pandangan Allah dalam setiap zaman. Dari diri Beliau mengalir rahasia-rahasia kehidupan batin dan lahir  sebagaimana mengalirnya ruh kedalam seluruh jasad.  Dari diri Beliau, Allah menumpahkan ruh kehidupan baik kepada mahluk alam atas maupun alam bawah. Beliau itu secara esensi batiniyahnya sebagai (fotocopy) Nabi Muhammad Saw.

  1. 10. Abdul Warits (hamba dari Dzat Yang Mewariskan).[14]

Dalam kitabnya Jami’ al-Ussul fii al-Auliya’, al-Ghauts Fii Zamanihi Syeh Ahmad Kamasykhanawi, menjelaskan bahwa al-Ghauts Ra dapat dinamakan Abdul Warits. Karena kepada al-Ghauts Ra Allah Swt mewariskan sari makna kandungan al-Quran dan kitab-kitab yang diturunkan kebumi dan sirri Rasulullah Saw.

لآَنَّهُ إِذَا كَانَ بَقِيًا بِبَقَاَءِ الحَقِّ بَعْدَ فَنَائِهِ عَنْ نَفْسِهِ  لَزِمَ أَنْ يَرِثَ مَا يَرِثُهُ الحَقُّ مِنَ الكُلِّ وَهُوَ يَرِثُ الآَنْبِيَاءَ عُلُومَهُمْ وَمَعَارِفَهُمْ وَهِدَايَتَهُمْ لِدُخُولِهِمْ فِي الكُلِّ

          Karena al-Ghauts ketika sudah berada pada maqam baqa’ (billah) setelah keluar dari maqam fana’[15] dari dirinya, maka Allah mewariskan jiwa kulliyat/ universal. Dan Beliau mewarisi ilmu, makrifat, dan hidayah para Nabi. Semua itu diperolehnya setelah  memasuki maqam jiwa kulliyat.

Dalm kitab Syawahidul Haq-nya Syeh an-Nabhani Ra, halaman 414 diterangkan,  setelah Nabi Muhammad Saw dipanggil kerahmatullah, sirri Rasulullah Saw diwariskan kepada al-Ghauts Ra. Sebagaimana yang diterima al-Ghuats fii Zamanih Imam Abul Hasan As-Syadzali Ra (pendiri tarekat syadzaliyah)

          وَارثٌ ِلأَ سرَاِر سَيَّدِالمرْسَلِيْنَ الأَ عْظمُ القُطبُ الغَوْثُ
        Pewaris sirri pimpinan rasul yang paling agung adalah al-Qutub al-Ghauts.
  1. 11. Mursyid Kamil Mikammil (Pemandu Ruhani Yang Sempurna Dan Menyempurnakan).

Dalam kitabnya Khulashah at-Tashanif fit Tashawuf dalam “khutbatul kitab”, (Majmu’ah Rasail lil Ghazali, Darul Fikri, Bairut – Libanon, cet. I, hlm : 173),  Imam al-Ghazali menerangkan tentang keharusan setiap salik mencari guru mursyid yang kamil mukammil.

اِنَّهُ لآَ بُدَّ لِلسَّالِكِ مِنْ مُرْشِدٍ مُرَبٍّي أَلْبَتَةً, لاَنَّ اللهَ تَعَالَى أَرْسَلَ الرُّسُلَ عَلَيْهِمْ الصَلاَةُ وَالسَلاَمُ للِخَلْقِ لَيَكُونُ دَليْلاً لَهُمْ وَيُرْشِدُهُمْ اِلَى الطَرِيْقِ المُسْتَقِيْمِ. وَقَبْلَ اِنْتِقَالِ المُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلّم اِلَى الدَارِ الاَخِرَةِ قَدْ جَعَل خُلَفَاء الرَشِدِيْنَ نَوَّابًا عَنْهُ لِيَدُلُّوا الخَلْقِ عَلَى طَرِيْقِ اللهِ. وَهَكَذَا اِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ فَالسَّالِكُ لاَ يَسْتَغْنَى عَنِ المُرْشِدِ

Sesungguhnya bagi setiap salik harus adanya mursyid yang membimbingnya. Kerena Allah Swt mengutus para rasul As kepada mahluk, sebagai bukti (keberadaan Tuhan) dan sebagai penunjuk kejalan yang lurus. Sebelum kepindahan Rasulullah Saw kealam akhirat, Rasulullah Saw telah mempersiapkan khalifah ar-Rasyidin sebagai penggantinya, agar mereka menunjukkan mahluk kejalan Allah.

Hal ini berlaku sampai hari kiamat. Maka, setiap salik wajib memiliki seorang mursyid.

Dan Imam Ghazali menjelaskan bahwa mursyid yang hakiki, mendapat limpahan cahaya dari Nabi Muhammad Saw secara langsung.

وَاقْتَبَسَ نُورًامِنْ أَنْواَر سَيِّدِنَا ٍمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلّم  فَإِنْ تَحَصَّلَ أَحَدٌ  عَلَى  مِثْلِ هَذَاالمُرْشِدِ وَجَبَ عَلَيْهِ اِحْتِرَامُهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا

Dan (mursyid) menerima pancaran langsung dari Nur Nabi Muhammad Saw. Jika seseorang berhasil mendapatkan mursyid yang seperti ini, wajib baginya menghormatnya  secara lahir dan batin.

 

Orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Swt, masih diperintahkan senantiasa bersama dengan orang-orang yang benar (dalam lahiriyah maupun batiniyah, dalam iman, islam maupun ihsan). Sebagaimana keterangan dalam firman Allah Swt :

يَأَيُّهَا الذِيْنَ أَمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَكُوْنُوا مَعَ الصَّادِقِيْنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan beradalah kalian bersama dengan orang-orang yang benar. (Qs. at-Taubah : 119).

Seseorang bila dapat bertemu ulama yang shadiq (guru ruhani yang benar) sebagaimana keterangan dalam ayat 119 surat at-taubah, dan kemudian ia terus bersamanya, maka ia akan diantar dekat kepada Allah Swt secara benar dan lurus. Sebagaiman tercermin dalam sabda Rasulullah Saw  : [16]

كُنْ مَعَ اللهِ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فَكُنْ مَعَ مَنْ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوصِلُكَ إِلَى اللهِ إِنْ كُنْتَ مَعَهُ.

kamu semua dengan Allah. Jika tidak mampu, bersamalah dengan orang yang mampu bersama Allah. Sesungguhya orang itu akan mengantarmu kepada Allah, jika kamu bersamanya.

Rasa jenuh sering timbul, setelah seseorang berada dalam suatu keadaan secara terus menerus. Rasa jenuh ini merupakan sesuatu yang manusiawi. Demikikian pula, seseorang meskipun sudah bertemu dan bersama Guru Ruhani Yang Kamil, setan/ nafsu tetap menggoda melalui rasa junuh ini. Dibisikkan kejenuhan dalam hati murid, ketika dirinya atau keinginannya tidak segera mendapat perhatian atau doa restu guru. Dan kemudian malas melaksanakan rabithah (sowan secara ruhani) kepadanya. Dan bahkan, rela keluar dari barisan GURU RUHANI tersebut. Dalam hal ini Allah Swt wa Rasulihi Saw benar-benar mewanti-waNti mukmin agar tetap dan sabar bermakmum kepada Guru Kamil Mukammil. Firman Allah Swt, Qs. al-Kahfi : 28  :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الذِيْنَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالغَدوآةِ وَالعَشِيِّ يُرِيْدُونَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الحَيَاةِ الدُنْيَا, وَلاَ تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا.

Sabarlah kamu semua (tetap) bersama orang-orang yang memanggil Tuhan mereka diwaktu pagi dan petang. Dan yang mengharapkan Dzat-Nya. Dan janganlah kamu memalingkan pandanganmu dari mereka, hanya karena engkau menginginkan keindahan dunia. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang Kami lupakan hatinya dari dzikir kepada-Ku, mereka mengikuti hawa nafsunya, dan memanglah melampaui batas.

Dan ayat diatas diperjelas lagi oleh hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas, yang menerangkan; wajib tetap bersabar bersama guru,  meskipun merasa kurang senang terhadap sikap gurunya (misalnya dirinya atau keinginanannya tidak segera mendapat perhatian atau doa restu). Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصبِرْ,فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang kurang senang terhadap sesuatu yang datang dari Amirnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Amirnya sejengkal saja, maka dapat mengakibatkan mati sebagaimana matinya orang kafir jahiliyah.

Bersabar dalam bermakmum dan mengikuti Guru Ruhani yang Kamil Mukammil merupakan hal pokok untuk meluruskan keimanan. Jika seseorang keluar dari barisan al-Ghauts Ra dapat menyebabkan mati sebagaimana matinya orang kafir jahiliyah.

Dalam mengulas makna hadis Bukhari dan Muslim diatas, al-Ghauts fii Zamanihi Syeh Daud Ibnu Makhala Ra (guru dari Syeh Muhammad Wafa Ra), mengatakan :

مَنْ دَخَلَ الدُنْيَا وَلَمْ يُصَادِفْ رَجُلاً كَامِلاً يُرَبِّيْهِ خَرَجَ عَنِ الدُنْيَا مُتَلَوِّثًا بِالكَبَائِرِ وَلَوكَانَ لَهُ عِبَادَةُ الثَقَلَيْنِ

Barang siapa yang memasuki dunia sedangkan ia belum bertemu dengan lelaki sempurna yang membimbingnya, maka ia keluar dari dunia dengan berlumuran dosa besar (syirik), walaupun ia memiliki ibadah sebanyak ibadahnya seluruh mahluk dari kelompok  jin dan manusia.[17]

Para ulama yang Arif Billah, mengatakan : Qalbu tidak dapat bersih kecuali dengan nadzrah (radiasi batin) Nabi Muhammad Saw atau waliyullah yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut dan yang telah teruji.[18]

لاَيُذْهَبُ كَدْرُ القَلْبِ إِلاَّ بِنَظْرِ نَبِيٍّ أَوْ وَلِيٍّ ذِي تَجْرِبَةٍ فِي هَذَا الشَأْنِ.

Kotoran hati tidak akan hilang kecuali, kecuali dengan nadzrah nabi atau wali yang memiliki keahlian yang teruji dalam bidang ini.

Dan jika hati belum terbebas dari belenggu kemusyrikan, persowanan seseorang kepada Allah Swt akan ditolak-Nya. Dan dipadang mahsyar ia akan dicampakkan dengan penderitaan yang sangat pedih. Seluruh hartanya (harta lahir maupun harta batin), anak-anak serta keluarganya tidak mampu menolongnya dari lembah kemusyrikan dan kemurkaan Allah Swt.

يَوْمَ لاَيَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنٌ. إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

Pada hari itu (kiamat) tidak dapat memberi manfaat, harta dan anak. Kecuali orang-orrang yang datang (menghadap) kepada Allah dengan hati yang selamat (bersih).

Sebagai pengamal dan khadimul Wahidiyah, mari kita tingkatkan kesabaran dalam bermakmum kepada Beliau Hadratul Mukarrom Romo KH. Abdul Latif Majid Ra. Pengasuh Perjuangan Wahidiyah Dan Pondok Pesantren Kedunglo, serta senantiasa memohon kepada Allah Swt agar dapat beristiqamah bersama Guru ruhani yang kamil mukammil.

Sirri dan kemampuan Mursyid Yang Kamil tersebut, sebagaimana tercermin dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,  Rasulullah Saw bersabda   :

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَطْعَمَ نَبِيًّا فَقَبَضَهُ رِزَقَهُ مَنْ يَقُومُ بَعْدَهُ

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla, jika memberi rizki kepada seorang nabi, kemudian dipanggilnya kealam baka, maka rizki tersebut akan diberikan kepada seseorang yamg menduduki jababatan sesudahnya.

Rizki yang Allah Swt berikan kepada Rasulullah Saw akan diberikan kepada hamba-Nya yang diberi kedudukan sebagai pewaris nabi. Makna hadis diatas diperkuat lagi oleh hadis riwayat Imam Bukhari. Rasulullah Saw Bersabda :

زُوِيَتْ لِيَ الأرْضُ حَتَّى رَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَسَيَبْلُغُ مَلِكُ أُمَّتِي مَا زُوِيَ لِي

Telah dilipat bumi untuk Aku, hingga aku melihat ujung timur dan ujung baratnya. Demikian pula raja ummatku akan mendapatkan sebagaimana bumi dilipat untuk-ku.

Hadits riwayat Imam Ahmad,  Thabrani  dan Abu Nuaim dari sahabat ‘Ubadah Ibn As Shamit, Rasulullah Saw bersabda :

لاَ يَزَالُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُوْنَ بِهِمْ تَقُومُ الاَرْضُ وَبِهِمْ يُمْطَرُوْنَ وَبِهِمْ يُنْصَرُونَ

Tidak sepi didalam ummat-Ku, dari tigapuluh orang. Sebab mereka bumi tetap tegak, dan sebab mereka manusia diberi hujan, dan sebab mereka manusia tertolong.[19]

Dengan demikian, mengetahui pribadi hamba yang dijadikan sebagai pintu menuju Hadratullah, merupakan sesuatu yang amat penting dalam meluruskan iman dan ihsan. Tanpa menjadikan Beliau Ra sebagai guru dan imam ruhani, maka setan/ nafsu yang akan mengantikannya sebagai guru dan imam ruhani. Dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya, kecuali hanya melalui ryadlah dan mujahadah untuk memohon hidayah dan rahmat-Nya. Dan alhamdullah, sebagai tahaddus binni’mah, atas karunia Allah Swt dan syafaat Rasulullah Saw, shalawat WAHIDIYAH terbukti dapat mengantarkan pengamlanya menuju kepada jalan tersebut.

  1. Sebagai manusia, Beliau Ra adalah manusia biasa seperti umumnya manusia. Namun Beliau Ra diberi kekuatan oleh Allah Swt sebagaimana keterangan tersebut diatas. Oleh karennaya, al-Ghauts fii Zamanihi Imam al-Ghazali Ra (w. 501 H), dalam kitabnya Kimya’as-Sa’adah, pasal “ajaib al-qalbi”, menjelaskan :

وَالطَلَبُ (طَلْبُ شَيْخٍ بَالِغٍ عَارِفٍ)  لاَيَحْصُلُ اِلاَّ بالمُجَاهَدةِ

Pencarian Syeh Yang Sempurna dan lagi Arif tidak akan berhasil, kecuali dengan mujahadah.

Kesimpulan Imam al-Ghazali ra ini, dapat dipahami sebagai ulasan dari firman Allah Swt, Qs. al-Isra’ : 70 -71 :

رَبِّي أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا. وَقُلْ جَاءَ الحَقُّ وَزَهَقَ البَاطِلُ إِنَّ البَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا.

Ya Tuhan masukkanlan aku (dalam kebenaran) dengan cara yang benar. Dan keluarkan aku (dari kesalahan) dengan cara yang benar. Dan jadikan untuk kami pimpinan yang menolong. Katakanlah, telah datang kebenaran dan akan hancur kebatilan. Sesungguhnya kebatilan pasti hancur.

Dengan demikian, ayat 70 surat al-Isra’ ini dapat dipahami atau memberikan gambaran/ isyarah, bahwa melalui kekuatan doa yang dilaksanakan secara sungguh-sungguh, seseorang akan mendapatkan anugrah serta fadlal dari Allah Swt yang membawanya dapat memahami dan sekaligus mengharapkan kehadiran dan pertemuan seseorang dengan Sultan (guru/ pimpinan) ruhani yang akan menolong manusia dalam urusan baik duniawi maupun ukhrawi.

 

 

  1. Sikap Dan Kawajiban Salik

Agar berhasil dalam menuju sadar kepada Allah wa Rasulihi Saw, terdapat hal pokok yang harus diperhatikan oleh setiap salik : [20]

  1. Secara batin tidak berpaling dari gurunya, dan secara lahiriyah meninggalkan hal-hal yang berseberangan dengan guru.[21]
  2. Senantiasa berdo’a kepada Allah Swt agar kita mendapat barakah, karamah dan nadzrah dari Beliau Ra.
  3. Senantiasa bersama (secara rohani) Beliau Ra, untuk memohon tarbiyah-Nya agar

terbebas dari kotoran  hati, sehingga dapat sadar  ma’rifat Billah wa  Rasulihi Saw.

  1. Jika seorang mursyid wafat, wajib bagi murid mencari mursyid pengganti untuk membersihkan jiwanya.

المُرِيْدُ ِذَا مَاتَ شَيْخُهُ وَجَبَ عَلَيْهِ اِتِّخَاذُ شَيْخٍ أَخَرَ يُرَبِّيْهِ

Murid, ketika Syeh (guru rohani)-nya mati, wajib baginya mengambil (mencari) Syeh penganti untuk membimbingnya.

Kitab al-Anwar al-Qudsiyah-nya al-Ghauts fi Zamanihi, Syeh Abdul Wahhab as-Sya.rani, w. 973 H, dalam bab “adabul murid.

  1. Mendekat kepada  Beliau Ra dengan  pendekatan yang semestinya. Sebab  pendekatan tersebut akan terbukalah pintu hadlratullah dalam diri mansia

قَلْبُ العَارِفِ حَضْرَةُ اللهِ وَحَوَاسُهَا اَبْوَابُهَا فَمَنْ تَقَرَّبَ بِالقُرْبِ المُلاَ ئِمِ فُتِحَتْ لَهُ اَبْوَابُ الحَضْرةِ

  Hati orang yang Arif Billah adalah hadlrahnya Allah Swt. Seluruh indranya merupakan pintu hadrah-Nya. Barang siapa yang mendekat kepadanya dengan pendekatan yang semestinya, maka akan terbuka baginya pintu hadlrah tersebut.

Cara pendekatan yang semestinya, dapat dilakukan, antara lain  :

  • Merasa mendapat jasa dan berkah dari Syeh Yang Kamil Mukammil.

Allah Swt berfirman, Qs. al-Baqarah : 251 :

وَلَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الآَرْضُ وَلَكِنَّ اللهَ ذُو فَضْلٍ عَظِيْمٍ

Sekiranya Allah tidak membela manusia (kaum yang benar) untuk mengalahkan (kaum yang aniaya)  dengan kelompok lain, niscaya rusak binasalah bumi.  Akan tetapi Allah mempunyai karunia yang agung. 

Syeh al-Khathib as-Syarbini dalam kitab Tafsirnya Siraj al-Munir,  menjelaskan bahwa makna kata بِبَعْضٍ  dalam ayat  diatas, adalah sebagaimana yang dimaksud dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Nuaim al-Isfahani (kitab Hilyah al-Auliya’) dan Ibnu Asyakir yang menjelaskan tentang adanya al-Ghauts ra dalam setiap waktu, dan setiap Beliau ra wafat, Allah Swt mengangkat waliyullah dibawahnya, untuk menggantikan kedudukan ghautsiyah.

  • Mengikuti tuntunan Beliau Ra secara lahir dan batin (ruhani dan jasmani).
  • Memahami dan mendekat secara lahir dan batin kepada Beliau Ra dimanapun berada. (rabithah).
  • Berakhlak kepada Beliau ra sebagaimana berakhlaq kepada Rasulullah SAW. [22]

فَيَجِبُ عَلَيْكَ اَنْ تَتَاَدَّبَ مَعَ صَاحِبِ تِلْكَ الصُورَةِ كَتَاْدُّ بِكَ مَعَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلّم لَمَّا اَعْطَاكَ الكَشْفَ اَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى الله عليه وسلّم مُتَصَوِّرٌ بِتِلْكَ الصُورَةِ فَلاَ يَجُوْزُ لَكَ بَعْدَ شُهُوْدِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلّم فِيْهَا اَنْ تُعَامِلَهَا بِمَا كُنْتَ تُعَامِلَهَا بِهِ مِنْ قَبْلُ حَاشَ اللهُ وَحَاشَ رَسُولُ اللهِ… فَهُمْ خُلَفَاءُهُ فِي الظَاهِرِ وَهُوَ فِي البَاطِنِ حَقِيْقَتُهُمْ

    Wajib kepadamu beradab kepada pemilik Haqiqatil Muhammadiyah, sebagaimana engkau beradab kepada Nabi Muhammad Saw ketika Allah memberimu kasysyaf, bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Saw membentuk jiwa al-Ghauts sebagai fotocopi  jiwa  Beliau Nabi Saw. Tidak boleh bagi kamu setelah engkau syuhud kepadanya melakukan sesuatu sebagaimana yang engkau lakukan kepadanya sebelum Beliau Ra berpangkat itu. Hati-hatilah kepada Allah dan hati-hatilah kepada Rasulullah. Secara lahirnya Beliau Ra adalah wakil Rasulullah, tapi dalam hal batininyah, hakikinya Beliau adalah Jiwa Rasulullah sendiri.  

Tentang kewajiban bagi salik, dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah bab “adab murid kepada guru”, diterangkan; apabila murid ingin cepat berhasil dalam menuju dan mendekat kepada Allah Swt wa Rasulihi Saw, wajib baginya menjalankan hal berikut ini:

  1. Murid wajib meninggalkan kemulyaan dirinya yang melebihi batas. Serta merendahkan diri dan mengagungkan Guru. Karena kemulyaan diri murid yang berlebihan, merupakan racun yang dapat membunuh hati dan makrifat.
  2. Murid tidak boleh menentang guru dalam hal jalan yang ditunjukkan kepadanya. Guru Mursyid Kamil Mukammil tidak mungkin memerintahkan kesalahan. [23]

Hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah Saw bersabda : [24]

مَنْ أَهَانَ السُلطَانَ أَهَانَهُ اللهُ

Barangsiapa menghina Sultan, maka Allah  akan menghinakannya

Yang dimaksud mengina “Sultan” disini, kitab Dalil al-falihin, juz III dijelaskan, bahwa hal-hal  yang dapat dikatakan menghina antara lain;  menganggap ringan terhadap perintahnya. Dan yang dimaksud “Allah akan menghinakanya”, adalah jalan hidupnya didunia akan semakin tersesat dan terperosok kejalan setan, dan diakhirat akan menerima siksa Allah Swt yang pedih.

  1. Tujuan murid harus satu, yaitu menuju Allah Swt, berguru kepada Mursyid kamil Mukammil bukan untuk memperoleh kekuatan mistik atau lainnya yang bersifat duniawi, akan tetapi untuk mendekat dan makrifat kepada Allah Swt secara benar.
  2. Setelah bertemu dan berguru kepada Beliau Ra, jangan sekali-sekali keluar dari barisannya. Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas, Rasulallah Saw bersabda :  [25]

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصبِرْ, فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang membenci sesuatu yang datang dari Amirnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Amirnya sejengkal saja, maka dapat mengakibatkan mati sebagaimana matinya orang kafir jahiliyah.

  1. Untuk menyempurnakan taqwa, seseorang diharuskan berkumpul dengan orang-orang yang pemahaman tauhidnya telah dibenarkan oleh Allah Swt. Allah Swt berfirman, Qs. at-Taubah : 119 :

يَأَيُّهَا الذِيْنَ أَمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَكُوْنُوا مَعَ الصَّادِقِيْنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan beradalah kalian bersama dengan orang-orang yang benar.

Tidak berguru kepada Syeh Kamil Mukammil menyebabkan mati sebagaimana matinya orang kafir jahiliyah (memahami Tuhan secara terbelok, serta tidak dapat memahami keberadaan dan tugas Rasulullah Saw).

  1. Wajib menjaga rahasia (sirri) yang nampak pada dirinya, kecuali kepada gurunya.
  2. Tidak boleh menyukai dispensasi kemurahan dari guru. Dan tidak boleh bermalas-malasan.
  3. Senantiasa mohon doa restunya dalam segala urusan yang halal.

Hadits riwayat Thabrani dan Abu Ya’la, Rasulullah Saw bersabda  : [26]

     إِذَا أَضَلَّ أَحَدُكُمْ شَيْئَا أَوْأَرَادَ عَوْنًا فِي الاَرْضِ لَيْسَ فِيْهِ أَنِيْسٌ فَلْيَقُلْ يَاعِبَادَ اللهِ أَعِيْنُوْنِي

Jika kamu semua tersesat tentang sesuatu atau menginginkan pertolongan diatas bumi, yang ditempat itu tidak ada penolong, maka berkatalah : “Wahai Kekasih Allah yang ahli beribadah, tolonglah kami ini.

إِنَّ للهِ خَلْقًا خَلَقَهُمْ اللهُ لِحَوَئِجِ النَاسِ وَيَفْزِعُ إِلَيْهِمْ النَاسُ فِي حَوَائِجِهِمْ

Sesungguhnya Allah memiliki hamba yang diciptakan untuk kebutuhan manusia. Dan manusia meminta tolong kepada mereka dalam segala hajatnya.

Hadis riwayat Abu Ya’la, Thabrani dan Ibnus Sunniy dari Abdullah Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda : [27]

إِذَا انْفَلَتَتْ دَابَّةُ أَحَدِكُمْ بِأَرْضِ فُلاَةٍ فَلْيُنَادِ : يَاعِبَادَ اللهِ أَحْبِسُوا عَلَى دَابَّتِي, يَاعِبَادَ اللهِ أَحْبِسُوا. فَإِنَّ للهِ  عَزَّ وَجَلَّ فِي الاَرْضِ حَاضِرًا سَيَحْبَسُهُ لَكُمْ.

Ketika hewan piaraan salah satu dari kamu lepas didaerah yang sunyi, panggillah : “Wahai Hamba Allah, tolong dan ikatlah hewan piaraanku. Wahai Hamba  Allah,  tolonglah dan ikatlah hewanku”. Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulya lagi Maha Agung memiliki seorang hamba (yang dapat) hadir (seketika), dan yang akan mengikat hewan tersebut untuk kamu semua.

Dan dalam kitab Jami’ as-Shagir-nya Imam Suyuthi, redaksi hadis tertulis :[28]

إِذَا انْفَلَتَتْ دَابَّةُ أَحَدِكُمْ بِأَرْضِ فُلاَةٍ فَليُنَادِ : يَاعِبَادَ اللهِ أَحْبِسُوا عَلَى دَابَّتِي. فَإِنَّ للهِ  فِي الاَرْضِ حَاضِرًا سَيَحْبَسُهُ عَلَيْكُمْ.

Ketika hewan piaraan kalian lepas didaerah yang sunyi, panggillah : “Wahai Hamba Allah,

 (tolong) ikatlah hewan piaraanku”. Sesungguhnya diatas bumi Allah memiliki hamba (yang dapat) hadir  yang akan mengikat hewan tersebut untuk kamu.

  1. Memahami bahwa hal luar biasa yang dimiliki oleh para waliyullah atau lainnya, adalah pemberian Allah Swt yang terpancar dari Syeh Kamil Mukammil waktu itu.

Al-Ghauts fii Zamanihi Syeh Syamsuddin al-Hanafi Ra (w. 847 H) menjelaskan, bahwa karamah yang muncul dari para wali dimanapun mereka berada\ pada hakikinya memancar dari al-Ghauts Ra pada waktu itu.[29]

اِذَا ماتَ الوَالِيُّ اِنْقَطعَ تَصَرَّفُهُ فِي الكَوْنِ مِنَ الاِمْدَادِ وَاِنْ حَصَلَ مَدَدٌ لِلزَائِرِ بَعْدَ المَوْتِ اَوْ قَضَاءُ حَاجَةٍ فَهُوَ مِنَ اللهِ تَعَالَى عَلَى يَد القُطْب صَاحبِ الوَقْتِ يُعْطِي الزَائِرَ مِنَ المَدَدِ عَلَى قَدْرِ مَقَامِ المَزُوْر

Ketika wali mati, maka karomahnya dalam kehidupan ini telah berhenti apabila parapeziarah makam wali tersebut mendapatkan berkah, itu (bukan dari karomah wali itu), melainkan berkah itu dari Allah yang dipancarkan dari kekuatan wali Quthub (Al-Ghauts) penguasa waktu saat itu. Peziarah diberi berkah sesuai kadar ketinggian derajat wali yang diziarahi.

  1. Meyakini bahwa Beliau Ra mendapat pancaran langsung dari Rasulullah Saw. Maka, menentang Guru Yang Kamil berarti menentang Rasulullah Saw.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda :[30]

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاع اللهَ وَمَنْ عَصانِي فَقَدْ عَصَى اللهُ وَمَنْ أَطَاع أَمِيْرِي فَقَدْ أطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيْري فَقَدْ عَصَا نِي

Barang siapa yang taat kepada Amir –Ku berarti ia taat kepada-Ku (Rasulullah), dan barang siapa taat kepada-Ku, berarti ia taat kepada Allah. Dan barang siapa durhaka kepada amir (Ghauts)-ku, berarti ia durhaka kepadaku.

Dalam kitab al-Insan al-Kamil Syeh Abdul Karim al-Jiliy, para waliyullah dan ulama sufi memfatwakan  :

إِنَّهُ لاَيَزَالُ يَتَصَوَّرُ فِي كُلِّ زَمَانٍ بِأَكَابِرِهمْ لِيُعْلَى شَأْنُهُ فَهُمْ حُلَفَاءُهُ فِي الظَاهِرِ وَهُوَ فِي البَاطِنِ حَقِيْقَتُهُمْ

Sesungguhnya Rasulullah Saw senantiasa membentuk (jiwanya) pada setiap zaman dengan pembesarnya ummat manusia, agar terhormat derajatnya. Maka pembesar tersebut merupakan khalifahnya secara lahir, sedangkan Beliau Saw merupakan batiniyahnya pembesar itu.

Dalam meningkatkan iman, tidak boleh terjebak dalam kesesatan sebagaimana kesesatan kaum Nabi Isa As.  Firman Allah Swt, Qs. al-Maidah, ayat 72  :

لَقَدْ كَفَر الذِيْنَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ المَسِيْحُ بْنُ مَرْيَم

 Sungguh, niscaya kufur orang-orang yang mengatakan : Sesungguhnya Allah adalah al-Masih putra Maryam.

Dalam menjelaskan ayat ini, Syekh Abdul Wahhab as-Sya’rani Ra mengatakan  :

فَكُفْرُهُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ جَعَلَ نَاسُوتَ عِيْسَى إِلَهًا  كَمَا أَنَّهُ يَكفُرُ أَيْضًا بِكُفْرِهِ بِالرَسُولِ أَوْ بِبَعْضِ كِتَابِهِ

Kekufuran (kaum Nabi Isa As) dikarenakan menjadikan kemanusiaan Nabi Isa sebagai Tuhan. Sebagaimana kekufurannya kepada Rasul atau kepada sebagian kitab Allah. (Kitab al-Yawaqiit wa al-Jawahir, juz I dalam bahasan pertama).

 

Hadis riwayat Imam G.  Al-Ghauts Dan Pembersihan Syirik

Nasai dari Khudzaifah ra. Dia berkata : Aku bermimpi melihat orang yahudi berkata : kalian mengira kami menyekutukan Allah, padahal kamu juga menyekutukan-Nya, ketika kamu berkata : “Allah telah menghendaki, dan Muhammad juga menghendaki”. Setelah aku bangun, aku melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Baliau Saw bersabda  :

 أَمَّاإِنِّي كُنْتُ أُكْرِهُهَا لَكُمْ, فَقُوْلُوْا : مَاشَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتُ

Sedangkan aku, sesungguhnya kalimat itu bagi kamu semua. Maka, katakanlah : “Allah telah menghendaki, kemudian aku menghendaki. [31]

Dan dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda :[32]

لاَتَقُوْلُوْا : مَاشَاءَ اللهُ وَشَاءَ فَلاَنٌ, وَقُوْلُوْا : مَاشَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلاَنٌ.

Janganlah kamu semua mengatakan : “Allah telah menghendaki, dan fulan juga telah menghendaki”.  Dan katakanlah : “Allah telah menghendaki, kemudian fulan menghendaki”.

Syeh Abul Fadlal Iyadl al-Yahshubi Ra meriwayatkan :[33] seseorang sedang berceramah : مَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ رَشَدَ. وَمَنْ يَعْصِهِمَا …. : barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, maka ia telah mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang mendurhaki mereka berdua… .

Ketika khathib sampai kalimah : mendurhaki mereka berdua, tiba-tiba Rasulullah Saw memotong pembicaraan dan bersabda : بِئْسَ خَطِيْبُ القَوْمِ أَنْتَ, إِذْهَبْ. : Sejelek-jelek pemberi ceramah kaum (ku) adalah kamu, pergilah.

Para ulama menjelaskan; Rasulullah Saw tidak suka terhadap kalimat mereka berdua, menunjukan kalimat tersebut dapat dimaknai penyekutuan antara dirinya dengan Allah Swt. Padahal yang benar, kehendah Rasulullah Saw adalah kehendak Allah Swt semata. Sebagaimana keterangan ayat 17 surat al-Anfal :

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللهَ رَمَي

Tidaklah engkau (Muhammad) yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.

Al-Ghauts fii Zamanihi Ra Imam Abul Hasan as-Syadzili Ra (w. 658 H) menjelaskan :

وَمِنَ الإِشْرَاكِ بِاللهِ أَنْ يُتَّخَذَ الأَولِيَاءُ وَالأَنْبِيَاءُ وسِيْلَةً مِنْ دُونِ اللهِ

Termasuk perbuatan syirik, menjadikan waliyullah dan para Nabi sebagai wasilah dengan tanpa Allah.[34]

Al-Ghauts fii Zamanihi Ra, Syeh Sahal at-Tustari Qs. wa Ra menjelaskan  : “Orang mukmin adalah orang yang hatinya mampu memandang Allah Swt tanpa ada pembatas. [35]

Al-Ghauts fii Zamanihi Imam Ja’far Shadiq Qs. wa Ra (w. 148 H), menjelaskan :[36]

مَنْ زعَمَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ فِي شَيْئٍ أَوْمِنْ شَيْئٍ أَوْعَلَى شَيْئٍ فَقَدْ أَشْرَكَ بِالله اِذْ لَوْ كَانَ عَلَى شَيْئٍ لَكَانَ مَحْمُولاً وَلَوْ كَانَ فِيْ شَيْئٍ لَكَانَ مَحْصُوْرًا وَلَوكَانَ مِنْ شَيْئٍ لَكَانَ مُحْدَثًا

Barang siapa mengira bahwa  sesungguhnya Allah Swt. itu di dalam sesuatu, atau dari sesuatu atau di atas sesuatu, maka dia telah berbuat syirik dengan Allah (syirik billah – istilah dalam wahidiyah “binafsih”).  Jika Dia di atas sesuatu berati Dia terpikul, jika Dia berada dalam sesuatu niscaya Dia terkurung, jika Dia dari sesuatu berati Dia baru (diciptakan).

Perjuangan Wahidiyah dengan amalan Shalawat Wahidiyah, memperjuangkan terbebasnya jiwa manusia dari penyakit kemusyrikan. Jalan atau cara paling tepat dan cepat untuk pembersihan jiwa dari kamusyrikan, hanyalah melalui bimbingan Rasulullah Saw atau al-Ghauts Ra pada zamannya. Tanpa bimbingan belia-beliau tersebut, sesorang akan meninggal dunia (wafat) dalam keadaan membawa dosa besar (syirik) yang tak disadari. Dan pula, tanpa melalui bimbingan tersebut, seseorang akan memiliki pemahaman yang terbalik. Misalnya, syirik  dianggap bertauhid, dan bertauhid dianggap sebagai perbuatan syirik. Bagi mereka yang tidak memahami kekuasaan Allah Swt, bertawassul kepada Rasulullah Saw atau al-Ghauts Ra dianggap sebagai perbuatan syirik, dan tidak meminta pertolongan kepada rasul atau al-ghauts dianggap sebagai perbuatan bertauhid. Padahal, menjauh dari pertolongan Rasulullah Saw atau barakah serta karamah al-Ghauts Ra, berarti menjauh dari rahmat Allah Swt yang terdapat pada beliau berdua.

Mengapa demikian ?. Jawabannya sangatlah mudah. Yakni syafaat Rasulullah Saw atau barakah karamah al-Ghauts Ra, hakikinya adalah rahmat Allah Swt untuk ummat manusia yang dipancarkan melalui kekasih-Nya tersebut. Dan, memang Allah Swt menurunkan rahmat untuk makhluk, dipancarkan melalui mahkhluk lainnya. Demikian pula, merupakan perbuatan syirik, ketika seseorang memohon pertongan kepada beliau-beliau tersebut atau tidak, selama tidak menyesadari bahwa pertolongan yang muncul dari beliau, bukan pertolongan dari Allah Swt.

Didalam Islam, makna kata kufur (kata jadian dari kafara), adalah mengingkari keberadaan Tuhan Pengatur semesta alam. Pengingkaran tersebut terjadi karena mata hati tidak dapat melihat Kebesaran-Nya karena tertutup makhluk ciptaan-Nya. Dengan lain kata; kufur dapat diartikan dengan “mata hati tidak dapat memandang Tuhan karena tertutup oleh mahluk”. Dan kemudian, orang yang tidak mempercayai adanya Allah Swt Tuhan Yang Mengatasi segala makhluk, disebut orang kafir. Bagi orang kafir, Tuhan tidak tampak dalam hati, dan hanyalah mahluk saja yang tampak dalam hati dan fikiran.

Oleh al-Qur’an, iblis [37] digolongkan dalam kelompok orang kafir,[38] bukan karena mengingkari keberadaan Tuhan. Tapi, lebih disebabkan tidak dapat memahami Nur Ilahiyah yang dipancarkan oleh Allah Swt kepada Nabi Adam As. Karena tertutup oleh keangkuhan dan keakuannya,  iblis menolak perintah Allah Swt untuk sujud (menghormat) kepada Nabi Adam As. Sedangkan berbagai alasan yang diajukannya kepada Tuhan dan para malaikat, hanyalah untuk menutupi keakuan serta keangkuhannya. Bagi iblis, tidak ada kebenaran kecuali membela dan menjunjung keakuan setinggi-tingginya. Untuk menutupi keakuannya dihadapan para malaikat, iblis menciptakan opini bahwa Adam As tidak lebih mulia serta tidak luas dalam penguasaan ilmu bila dibandingkan dengan kelompok malaikat.[39] Dan karenanya, tidak patut menjadi khalifah Allah Swt, sedangkan malaikat sebagai kelompok mahluk yang suci, lebih pantas menjadi khalifah.

Kuatnya dorongan untuk membela keakuan, menjadikan iblis lupa terhadap sifat ke-Maha Kuasa-an Allah Swt yang dapat menentukan serta menjadikan segala hal (termasuk menjadikan Adam As melebihi malaikat) dalam waktu sekejap. Karena tertutup oleh kecintaannya kepada ego dan kehormatan diri yang berlebihan, mata hati iblis tidak dapat melihat Kebesaran dan Kekuasaan Tuhan. Kecintaan iblis kepada dirinya mengalahkan kecintaannya kepada Tuhan Yang menciptakannya. Hingga, meskipun para malaikat telah menerima kekhalifahan Nabi Adam As,[40] iblis tetap mempertahankan keakuan dan keangkuhannya dan tidak mau menerima kekhalifahan Nabi Adam As.

Dan oleh al-Qur’an, malaikat digolongkan kedalam hamba yang taat. Mereka dapat memahami posisi dirinya sebagai hamba Allah Swt yang lemah dan yang harus taat dengan segala perintah-Nya. Awalnya malaikat terpengaruh oleh tipu daya dan pandangan iblis. Namun, setelah kalah dalam diskusi serta adu kebolehan ilmu dengan Nabi Adam As, akhirnya mereka memahami keberadaan dirinya serta keunggulan ilmu Nabi Adam As. Dan – berkat hidayah-Nya semata -, malaikat dapat memahami kekhalifahan Nabi Adam As dan sekaligus sebagai Imam dan Guru Ruhani [41] bagi mereka. Malaikat dapat mengakui keunggulan Nabi Adam As dan menerimanya sebagai pimpinan, disebabkan awal penolakannya bukan karena pembelaan atas ego diri atau kelompoknya, tapi lebih disebabkan belum mengetahui tentang Nurul Khilafah al-Ilahiyah yang dipancarkan kepada Nabi Adam As. Sebagaimana keterangan dalam firman-Nya Qs. Shaad : 71 – 72 :

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِيْنٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوْا لَهُ سَاجِدِيْنَ.

Ketika Tuhanmu bersabda kepada malikat : Sesumgguhnya Aku menciptakan (jasmani) manusia (Adam) dari tanah.  Ketika Aku telah menyempurnakannya dan Aku tiupkan ruh (dari)-Ku kedalamnya, maka segara saja para malaikat bersujud kepadanya (Adam).

Berkaitan dengan sujudnya para malikat kepada Nabi Adam As ini, Syeh Sulaiman bin Umar al-‘Ajiiliy dalam kitab tafsirnya al-Futuuhaat al-Ilaahiyah pada ulasan Qs. al-Baqarah : 34, menjelaskan :

فَالْمَسْجُوْدُ لَهُ فِي الحَقِيْقَةِ هُوَ اللهُ تَعَالَى وَجَعَلَ آدَمَ قِبْلَةَ سُجُوْدِهِمْ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ, كَمَا جُعِلَتْ الكَعْبَةُ قِبْلَةً لِلصَلاَةِ, وَالصَلاَةُ للهِ.

Yang disujudi (oleh malaikat) pada hakikinya, hanyalah Allah Swt. Dan Adam dijadikan sebagai kiblat bagi sujudnya para malikat, untuk memulyakannya.  Sebagaimana  ka’bah  sebagai  kiblat  untuk shalat. Sedangkan sujudshalat  hanya untuk Allah. [42]

Demikian pula Imam Shawi Ra dalam kitab Tafsir Shawi, menjelaskan tentang makna sujudnya malaikat kepada Nabi Adam As :

وَاَدَمُ قِبْلَةٌ كَالْكَعْبَةِ فَالسُجُودُ للهِ

Nabi Adam Assebagai kiblat seperti ka’bah. Sedangkan sujud untuk Allah.  Dan dalam memberikan ulasan terhadap kalimah ayat : أسْجُدُوْا لأَِدَمَ  = Sujudlah kalian kepada Adam, beliau menjelaskan dengan : أسْجُدُوْا جِهَّةَ اَدَمَ فَاجْعَلُوْهُ قِبْلَتَكُمْ  : Sujudlah kalian kepada arah Adam, jadikahlah ia sebagai kiblat kalian.

Keterangan yang sama, juga diulas dalam buku tafsir al-Mishbah-nya Prof. M. Quraisyi Syihab. Sebagaimana ulasannya : “Bahkan tidak mustahil sujud yang diperintahkan Allah itu dalam arti sujud kepada Allah Swt, dengan menjadikan posisi Adam As ketika itu sebagai arah bersujud sebagaimana  Ka’bah di Mekah dewasa ini menjadi arah kaum muslimin sujud kepada-Nya”.[43]

Makna ulasan seperti diatas sejalan dengan makna sujudnya saudara Nabi Yusuf As kepada Nabi Yusuf As. Qs. Yusuf : 100  :

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى العَرْشِ وَخَرُّوْا لَهُ سُجَّدًا

Dan naiklah kedua orang tuanya, dan kemudian mereka tersungkur dengan bersujud kepada Yusuf.

Dan, ketika syariat Islam datang, perbuatan sujud ini dibatalkan dan diganti dengan bershalawat dan taslim yang semestinya kepada Rasulullah Saw. Firman Allah Swt, Qs. al-Ahzaab : 56 :  يَأَيُهَا الذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا : Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu semua kepadanya (Nabi) dan taslimlah kamu semua dengan taslim yang semestinya.

 

 

  1. Al-Ghauts Dan Jalan Kebenaran
    1. Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi terawal dan terakhir

Nabi Muhammad Saw sebagai nabi yang dicipta paling pertama dan yang diutus paling akhir. Allah Swt mengambil perjanjian kepada para nabi dan para rasul dengan Nabi Muhammad Saw, sebelum mereka diturunkan kedunia untuk memimpin ummatnya.

Hadid dari Irbadl bin Sariyah Ra, Rasulullah Saw bersabda : [44]

كُنْتُ أَوَّلُ النَبِيِّيْنَ فِي الخَلْقِ وَأخِرُهُمْ فِي البَعْثِ

Aku adalah pertama-tamanya para nabi didalam makhluk, dan paling akhirnya mereka dalam pengutusan.

Pada masa azal, para nabi dan rasul As mengambil perjanjian kepada Rasulullah Saw. Sebagaimana keterangan dalam Qs.  Ali Imran  : 81 : [45]

وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ النَبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ ذَالِكَ إِصْرِي, قَالُوْا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُواوَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَاهِدِيْنَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian (pembaiatan-pen) dari para nabi. Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah. Kemudian datang kepadamu seorang rasul, yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman :”apakah kamu menerima perjanjian-Ku” ?. Mereka menjawab : “Kami mengakui”.  Allah berfirman : (Kalau begitu) bersaksilah kamu semua (hai para nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.

Ayat diatas dijelaskan lagi dalam Qs. al-Ahzaab : 7 :

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبْيِّيْنَ مِيْثَاقَهُمْ

Dan, ketika Kami (Allah) mengambil perjanjian kepada para nabi.

Dalam memberikan ulasan kepada ayat ini,  al-Haafidz Syeh Abul Fadlal Iyadl al-Yahshubi (w. 544 H) dalam kitab as-Syifa’, dalam juz I bab I pada pasal 7, dengan menukil fatwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw : [46]

لَمْ يَبْعَثِ اللهُ نَبْيًّا مِنْ اَدَمَ وَمَنْ بَعْدَهُ إِلاَّ أَخَذَ عَلَيْهِ العَهْدَ فِي مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Allah tidak  mengutus seorang nabi, dari nabi Adam dan para nabi sesudahnya, kecuali Dia (Allah) mengambil perjanjian dengan Nabi Muhammad Saw.

Demikian pula, Syeh Yusuf an-Nabhani Ra juga menukil fatwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw dan sahabat Abdullah bin Abbas Ra, menjelaskan : [47]

لَمْ يَبْعَثِ اللهُ نَبِيًّا مِنْ آدَم وَمَنْ بَعْدَهُ إِلاَّ أَخَذَ عَلَيْهِ العَهْدَ فِي مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَئِنْ

بُعِثَ وَهُوَ حَيٌّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ وَلَيَنْصُرَنَّهُ.

Allah tidak mengutus para nabi dari Adam dan nabi sesudahnya, kecuali (Dia) mengambil perjanjian (baiat) kepada mereka dengan Nabi Muhammad Saw. Jika (Muhammad) diutus dan mereka hidup pada masanya (Muhammad), maka mereka akan iman dan menolongnya (Muhammad).

Dalam hadis lain dalam kitab al-Anwar al-Muhammadiyah-nya Syeh an-Nabhani Ra diterangkan :  Allah bersabda kepada para nabi-Nya : “Jika kamu semua iman kepada Muhammad, Aku akan menjadikanmu sebagai nabi”. Mereka menjawab : “Kami beriman kepada kenabiannya.  Allah bersabda : “Aku menyaksikan kepadamu semua”.

Hadis riwayat al-Haakim dari Abdullah bin Abbas Ra.  Ia berkata : [48]

أَوحَى اللهُ إِلَى عِيْسَى : آمِنْ بِمُحَمَّدٍ  وَمُرْ مَنْ أُدْرِكُهُ أَنْ يُؤْمِنُوا بِهِ  فَلَوْلاَ مُحَمَّدٌ مَاخَلَقْتُ آدَمُ وَلاَ النَارُ وَلاَ الجَنَّةُ.

Allah memberikan wahyu kepada Nabi Isa :Berimanlah kamu dengan Muhammad dan perintahkanlah kepada orang yang kamu temui agar mereka beriman kepadanya. Dan sekiranya tanpa Muhammad Aku tidak menciptakan Adam, neraka dan surga.

Karena pentingnya menemukan guru yang hatinya tidak pernah lupa kepada Allah Swt serta dapat menjelaskan tentang-Nya secara benar, Mbah KH. Abdul Madjid Ma’ruf Qs wa Ra Muallif Shalawat Wahidiyah agar diberi petunjuk/ jalan untuk memperjuangkan ummat tentang pemahaman Guru Ruhani Yang Kamil, dengan doa rabiyhah (nida’ serta hubungan ruhani) kepada Syeh Kamil Mukammil, yang dapat mengantarkan untuk menemukannya.

يَأَيُّهَا الغَوْثُ سَـلاَمُ اللهِ       عَلَيْكَ رَبِّـنِي  بِإِذِنِ اللهِ

وَانْظُرْ إِلَيَّ سَيِّدِي بِنَظْرَةٍ      مُوصِلَةٍ لِلْحَـضْرَةِ العَيِيَّةِ

Duhai Ghausuz Zaman, salam Allah (tercurahkan) kepadamu. Bimbinglah aku dengan izin Allah.            Pancarilah aku, duhai guruku, dengan sinar iman (mu) yang mengantarkan (aku) keharibaan Tuhan Yang Maha Tinggi.

Dan setelah doa ini diamalkan, beberapa orang mendapatkan pengalaman ruhani bertemu (melalui mimpi atau jaga) dengan Rasulullah Saw yang memberitahukan tangan nama dan pribadi seseorang yang Allah Swt menghendakinya sebagai al-Ghauts pada saat ini (baca, saat seseorang mengamalkan doa rabithah tersebut).

 

  1. Sallaab Jallaab

 

Ilmu nahwu/ sharaf, biologi, ushul fiqh, astronomi, secara tekstual tidak ada dalam al-Qur’aan. Namun, – menurut para ahlinya – ilmu tersebut telah tersirat dalam al-Qur’an. Begitu pula kata Jallab dan Sallaab, yang secara tekstual, tidak terdapat dalam al-Qur’an dan hadits. Namun, keduanya telah mengisyaratkan adanya kemampuan makhluk yang dapat dikategorikan kepada sallab dan jallab.

Jallaab adalah kata yang berasal dari bahasa arab, serta sebagai kata jadian dari : جَلَبَ  menarik, membawa, mendatangkan. Dan kemudian kata  جَلاَّب memiliki arti : Penarik / pedagang/ yang mendatangkan. Sepert istilah yang sering kita dengar tentang doa atau usaha jalbur rizqi (doa/ atau usaha yang dapat menarik / mendatangkan rizqi). Dan sallaab sebagai kata jadian dari : سَلَبَ  (salaba) : merampas, merampok, mencuri. Dan kemudian kata  سَلاَّب (salaab) memiliki arti perampas, pencabut, perampok, pencuri. Dengan kata lain, sallaab memiliki arti mencabut, mengambil, mencuri atau makna lain yang sepadan; dan jalaab memiliki arti mendatangkan, menambah, meningkatkan, menaikkan atau makna lain yang sepadan. Kata  جَلَبَ (jalaba) : mendapatkan atau memperoleh, dan  جَلاَّب (jalaab)   dapat diartkan prang yang mendapatkan atau memperoleh. Seperti kata-kata : جَلَبَ لآِهْلِهِ  : mendapatkan nafkah untuk keluarganya.

Jallaab dan sallaab memiliki makna umum dan khusus. Makna umum dapat dimiliki oleh setiap makhluk. Misalnya, air dapat men-salaab (merampas) rasa haus, serta dapat men-jalaab (mendangkan) kesegaran tenggorokan atau tubuh, api dapat men-jalaab (mendatangkan, membuat) masakan menjadi masak, serta dapat men-salaab air (membuat air berubah menjadi uap). Jika, seseorang memahami kekuatan air atau api keluar dari diri air atau api (tanpa izin dari Allah Swt, tanpa didasari prinsip billah) itu sendiri, maka iman orang tersebut masih bercampur dengan paham syirik.  Sedangkan makna khusus hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang dikehendaki oleh Allah Swt, dan sangat berkaitan dengan sesuatu yang gaib, seperti kondisi ahwal [49] setiap salik atau keimanan seseorang. Misalnya, bila dalam lingkungan suatu kaum terdapat seorang Ulama atau Kiyai, maka iman masarakat akan meningkat, atau bila dalam lingkungan masarakat terdapat tempat maksiat, maka iman sebagian masarakat akan melorot. Jika dipahami dengan paham yang syirik, maka timbul kesimpulan bahwa iman manusia dapat naik atau turun bukan disebabkan oleh kekuasaan Allah Swt, namun oleh manusia lain atau oleh lingkungan.

Didalam kaidah Islam, tidak ada makhluk (termasuk Rasulullah Saw dan al-Ghauts Ra) yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat atau menolak kerugian tanpa izin Allah Swt. Jika makhluk dapat mendatangkan manfaat atau menolak kemadlaratan, baik untuk dirinya atau untuk yang lainnya, semata-mata hanya atas izin dan kehendak dari Allah Swt. Sebagaimana yang tercermin dalam

  1. Firman Allah Swt, Qs. al-A’raf : 108 :

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرَّا إِلاَّ مَاشَاءَ اللهُ.

            Katakanlah (Muhammad) : Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatn dan menolak kemadlaratan untuk diriku, kecuali sesuatu yang telah dikehendaki oleh Allah.

  1. Firman Allah Swt, Qs. :

ومَا النَصْرُ إِلاَّ مِنْ عِنْدِ اللهِ العَزِيْزِ الحَكِيْمِ

Tidak ada pertolongan kecuali dari sisi Allah Yang Maha Agung lagi Maha bijaksana.

  1. Firman Allah Swt, Qs. al-Baqarah : :

مَنْ ذَا الذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

Tidak ada sesuatu (seseorang) dapat menolong disisi-Nya, kecuali atas izin-Nya.

Jallab dapat diartikan “sifat yang meningkatkan”, dan Sallaab sebagai “sifat mengurangi atau menghilangkan”. Kedua sifat ini secara umum, ada pada setiap mahluk Allah Swt. Hanya saja beda dalam manfaat dan obyeknya. Misalnya, air dapat mencabut (sallaab) rasa haus manusia, serta dapat meningkatkan (jallaab) bagi kesehatan dan kesegaran badan. Racun dapat mencabut nyawa manusia. Obat dapat mencabut (sallab) penyakit manusia serta dapat meningkatkan (jallab) kesehatan manusia. Begitu  pula mahluk lain. Semestinya seluruh kekuatan mahluk itu milik Allah Swt.

Kemampuan sallab jallab ini, tidak akan dapat dipahami oleh mukmin yang memiliki keimanan yang bercampur dengan paham syirik (menyekutukan kekuatan makhluk dengan kekuatan Allah).  Misalnya,  meyakini bahwa kemampuan tersebut semata-mata dari kekuatan al-Ghauts Ra sendiri. Jallab dan sallaabnya al-Ghauts Ra hanya dapat dipahami oleh orang yang imannnya tidak bercampur syirik, orang yang telah memahami ke-Maha Esa-an kekuatan dan kekuasaan Allah Swt dalam alam semesta (memiliki iman Wahidiyah).

Dalam bahasa sehari-hari, pada adat jawa terdapat istilah kuwalat (dengan orang tua atau kiyai) yang artinya sama dengan sallab, dan mendapat berkah sama arti dengan jallab.

Dengan demikian, salaab (mencabut, melorot, menurunkan – iman seseorang) dan jalaab merupakan karomah yang diberikan oleh Allah Swt kepada al-Ghauts Ra. Dan karomah tersebut bukan muncul dan keluar dari pribadi Rasulullah Saw atau al-Ghauts Ra semata. Rasulullah Saw, al-Ghauts Ra, para waliyullah, para ulama dan kiyai atau bahkan semua makhluk hanyalah tempat tajalli (penampakan) kekuasaan Allah Swt.

Kedua sifat (jalaab dan salaab) ini, sebagai kesimpulan dari beberapa hadits yang berderajat shahih dan hasan, antara lain  :

  • Hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Abi Bakrah Ra, Rasulullah Saw bersabda : [50]

مَنْ أَهَانَ السُلطَانَ أَهَانَهُ اللهُ

Barangsiapa menghina Sultan, maka Allah  akan menghinakannya”

Yang dimaksud mengina sultan dalam hadis ini, kitab Dalil al-falihin juz III dijelaskan, hal-hal yang dapat dikatakan menghina antara lain : menganggap ringan perintahnya. Dan yang dimaksud Allah akan menghinakannya, adalah jalan hidupnya didunia akan semakin tersesat dan terperosok kejalan setan, dan diakhirat akan menerima siksa Allah Swt yang pedih.

Hadis ini mengisyaratkan adanya sifat sallab yang dimiliki oleh ulama, waliyullah wabil khusus sulthanul auliya.

  • Hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah Ra , Rasulullah Saw bersabda   :

اِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا, فَقَدْ اَذَ نْتُهُ بِالحَرْبِ

Sesungguhnya Allah Swt berfirman : Barang siapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku  menyatakan perang kepadanya.

Hadis ini juga mengisyaratkan adanya sifat sallab yang dimiliki oleh ulama, waliyullah, dan wabil khusus sulthanul auliya.

  • Hadis riwayat Imam Muslim dari Ibn Abbas (Shahih Muslim Kitab “Imarah” bab “Luzumul Jama’ah“), Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصبِرْعَلَيهِ, فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَاسِ يَخْرُجُ مِنَ السُلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّة

Barangsiapa yang (melihat sesuatu) yang kurang menyenangkan dari Amirnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Sultan sejenggkal saja, kemudian ia mati, maka ia mati dengan mati (kafir)  jahiliyah.

Hadis ini mengisyaratkan adanya sifat sallab yang dimiliki oleh ulama, waliyullah wabil khusus sulthanul auliya. Sebab keluar dari jamaah sulthanul auliya, menyebabkan mati seperti matinya orang kafir jahiliyah. Artinya, iman akan tercabut (sallab).

  • Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw, bersabda :

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاع اللهَ وَمَنْ عَصانِي فَقَدْ عَصَى اللهُ وَمَنْ أَطَاع أَمِيْرِي فَقَدْ أطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيْري فَقَدْ عَصَانِي

Barang siapa taat kepada-Ku (Rasulullah), berarti ia taat kepada Allah. Dan barang siapa durhaka kepada-Ku,  berarti ia durhaka kepada Allah. Dan barang siapa yang taat kepada Amir-Ku, berarti taat kepad-Ku, dan barang siapa yang durhaka kepada Amir-Ku, berarti ia durhaka kepada-Ku

Apabila kata “amir” dimaknai dengan ulama, waliyullah atau sulthanul auliya’, maka hadis ini mengisyaratkan adanya sifat sallab dan jallab yang dimiliki oleh ulama, waliyullah, dan wabil khusus sulthanul auliya.

Makna kata sulthan yang berkaitan dengan iman dan Islam, para ulama kaum sufi tidak memaknainya dengan sulthanul balad (pimpinan pemerintahan) Pendapat ini didasarkan kepada :

Hadis riwayat Tirmidzi dan Nasai, Rasulullah Saw :

وَمَا ازْدَادَ عَبْدٌ مِنَ السُلْطَانِ قُرْبًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْدًا

Tidaklah seseorang semakin bertambah dekat hubugannya dengan penguasa, melainkan dia semakin jauh dari Allah. [51]

Dan hadis riwayat Ahmad dan Abu Daud, Rasulullah Saw :

مَنْ أَتَى أَبْوَابَ السَلاَطِيْنَ أُفْتُتِنَ

Barang siapa mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia akan mendapat ujian.

Kedua hadis ini, menujukkan sultan, selain sulthanul auliya, bukan tempat tajalli Allah Swt.

  • Hadis riwayat Muslim (dalam Shahih, bab ‘iyadatu maridl”) Rasulullah Saw bersabda : Allah berfirman :

إِنَّ اللهَ يَقُوْلُ لاِبْنِ أَدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ : يَا بْنَ أَدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي, قَالَ يَارَبِّ كَيْفَ عَدْتُ وَأَنْتَ رَبُّ العَلَمِيْنَ. قَالَ : أَمَّا عَلِمْتَ إِنَّ عَبْدِي فُلاَنًا قَدْ مَرِضَ وَإِنْ عَدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ. يَابْنَ أَدَمَ إِسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِيْنِي قَالَ: يَارَبِّ سَقَيْتُكَ وَأَنْتَ رَبُّ العَلَمِيْنَ. قَالَ: أَمَّا عَلِمْتَ إِنَّ عَبْدِي فُلاَنًا إسْتَسْقَاكَ وَإِنْ سَقَيْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ. يَابْنَ أَدَمَ إِسْتَطعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي, قَالَ : يَارَبِّ كَيْفَ اُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ العَلَمِيْنَ, قَالَ: أَمَّا عَلِمْتَ إِنَّ عَبْدِي فُلاَنًا إسْتَطْعَمَكَ وَإِنْ اَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ.

Sesungguhnya Allah pada hari kiamat bersabda : Hai anak Adam, Aku sakit, mengapa kamu tidak membesuk-Ku. Jawab manusia : Wahai Tuhanku, bagaimana aku membesuk-Mu, sedangkan Paduka adalah Penguasa alam?. Allah bersabda : Wahai anak Adam, Aku memiliki hamba yang bernama (fulan/ …..) sedang sakit. Jika kamu membesuknya, niscaya kamu akan menemukan AKU disisinya.

Hai anak Adam, Aku meminta minum kepadamu, dan mengapa kamu tidak mau memberi minum Aku. Jawab manusia : Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi minum Paduka, sedangkan Paduka adalah penguasa alam?. Allah bersabda : Wahai anak Adam, Aku memiliki hamba bernama Fulan, saat itu sedang haus dan mengharapkan minuman dari kamu. Jika kamu memberinya minum, niscaya kamu menemukan Aku disisinya.

Hai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu,  mengapa kamu tidak memberi-Ku makan. Jawab manusia : Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi makan Paduka, sedangkan Paduka adalah penguasa alam?. Allah bersabda : Wahai anak Adam, Aku memiliki hamba yang bernama Fulan saat itu sedang meminta makan kamu. Jika kamu memberinya makan, niscaya kamu akan menemukan Aku disisinya.

 

  • Hadis riwayat Thabrani dari Abdullah Ibn Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda : [52]

إِنَّ مِنَ النَاسِ مَفَاتِيْحٌ لِذِكْرِ اللهِ إِذَا رَأَوْا ذُكِرَ الله ُ

Sesungguhnya diantara manusia, terdapat seseorang yang menjadi pembuka kepada dzikrullah. Jika mereka (salik) melihatnya, maka akan (mudah) ingat kepada Allah.

  • Hadis yang sepadan arti, Rasulullah Saw bersabd : [53]

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخِيَارِكُمْ ؟. قَالُوا : بَلَى يَارَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : الَّذِيْنَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللهُ

Bersediakah kamu, saya beritahu tentang sebaik-baik kamu ?. Mereka menjawab : Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda : Mereka adalah orang-orang yang ketika dilihat, maka Allah dapat diingat.

Hadis riwayat Muslim (5), Thabrani (6) dan Ahmad (7) diatas dengan jelas, menjelaskan adanya sifat jallab yang dimiliki oleh para guru ruhani, waliyullah dan khususnya al-Ghauts Ra.

 

  • Imam Abul Aliyah dan Imam Hasan Bashri, berkata : makna shirathul mustaqim, dalam surat al-Fatihah, adalah pribadi Rasulullah Saw :

الصِرَاطُ المُسْتَقِيْمُ هُوَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخِيَارُ أَهْلِ بِيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ.

Jalan yang lurus adalah pribadi Rasulullah Saw dan orang pilihan dari keluarganya dan sahabatnya.[54]

Kaum sufi, didukung oleh beberapa hadits dan  al-Qur’an, menerangkan bahwa yang dimaksud  “amir” atau “sulthan” dalam hadits diatas, adalah waliyullah yang berpangkat al-Ghauts Ra.  Dan dengan kata lain, hadits diatas dapat diterjemahkan dengan :

Taat kepada Al-Ghauts Ra,  berarti taat kepada Rasulullah Saw,  yang sekaligus taat kepada Allah Swt. Dan, durhaka kepada Al-Ghauts Ra, berarti durhaka kepada Rasulullah SAW yang sekaligus durhaka kepada Allah Swt. Ketaatan mukmin akan mendatangkan peningkatan iman dan kesadaran kepada Allah Swt. Dan kedurhakaan kepada Beliau Ra, akan menjadikan turunnya iman dan makrifat seseorang”.

Syeh Muhammad Wafa (w. 801 H), Guru Agung Pemandu kaum sufi pada zamannya, menyimpulkan makna hadits diatas sebagai berikut :

قلْبُ العَارِفِ حضْرَةُ اللهِ فمَنْ تقَرَّ بَ اِلَيْهِ بِالقُرْبِ المُلاَ ئِمِ فُتحَتِ لَهُ أَبْوَابُ الحَضْرَةِ

Hati orang arif (apalagi Amirul Arifin/ al-Ghauts RِِِِA) itu, hadrah (lambang kehadiran) Allah. Barang siapa mendekat kepadanya dengan cara pendekatan yang semestinya, maka akan terbukalah baginya pintu-pintu kehadiran (Allah)”.

Dalam kitab ‘Awarif al-Ma’arif -nya al-Ghauts fii Zamanihi Syekh Syihabuddin Suhrawardi Ra, dalam bab ke 10), diterangkan  :

َ          الشَّيْخُ يُعْطِي بِاللهِ وَيمْنَعَُ بِاللهِ. بَلْ هُوَ مَعَ مُرَادِ الحَقِّ وَالحَقُّ يَعْرِفُهُ مُرَادَهُ فَيَكُوْنُ فِي الاَشْيَاءِ بِمُرَادِ اللهِ تَعَالَى لاَبِمُرَادِ نَفْسِهِ.

Syekh (al-Ghauts Ra), memberi atas kehendak Allah, dan menolak atas kehendak Allah. Bahkan dia bersama kehendak Allah. Dan Allah mengetahui segala kehendaknya. Maka kehendak Syekh dalam segala sesuatu dengan kehendak Allah Swt, dan bukan dengan kehendaknya sendiri.

 

Jallab dan sallab yang dimiliki makhluk.

  1. Sallab Malikat Izrail As.

Sebagaimana diketahui, setiap kematian, pencabut (sallab) nyawa adalah malikat Izrail As. Namun secara hakiki yang mematikan dan yang menghidupkan makhluk hanyalah Allah Swt semata.

  1. Jallab Malikat Mikail As.

Sebagaimana yang telah diketahui, pembagi (jalab) serta pengambil (salab) rizki, baik rizki lahir atau batin, setiap makhluk, secara hakiki hanyalah Allah Swt, sedangkan secara lahiriyah atau syriat adalah malikat Mikail As.

  1. Jallab Malikat Jibril As.

Dalam hadits riwayat Bukhari dari Anas Ibn Malik  dijelaskan, ketika menjelang keberangkatan Rasulullah Saw melaksanakan mi’raj ke langit, malaikat Jibril atas perintah Allah Swt, meningkatkan (jalaab) iman Rasulullah Saw. Sebagaimana keterangan dalam sabda Rasulullah Saw  :

فُرِجَ عَنْ سَقْفِ بَيْتِي فَنَزَلَ جِبْرِيْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفَرَجَ صَدْرِي ثُمَّ غَسَلَهُ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ جَاء بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مُمْتَلِئٍ حِكْمَةً وَإِيْمَانًا فَأَفْرَغَهُ فِي صَدْرِي ثُمَّ أَطْبَقَهُ

Atap rumah-Ku terbuka, saat itu Aku berada di Makkah. Jibril turun dan membelah dada-Ku. Kemudian mencucinya dengan air zamzam. Kemudian didatangkan satu bejana yang terbuat dari emas, yang berisi hikmah dan iman. Lalu (iman dan hikmah) jibril menuangkannya kedalam dada-Ku, kemudian (dada-Ku) jibril menutupnya kembali.

Perbuatan Jibril As “menuangkan”  iman dan hikmah kedalam dada Rasulullah Saw, dapat dikatakan perbuatan Jalllab, yang secara lahiriyah dilakukan oleh mahluk (Jibril As).

  1. Jalaabnya ayat-ayat al-Qur’an.

Firman Allah Swt, Qs. al-Anfal : 2 – 4 :

إِنَّمَا المُؤْمِنُونَ إِذَا ذُكِرَاللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَليْهِمْ أَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman,ketika nama Allah disebut, bergetar hatinya, dan ketika dibacakan ayat-ayat Tuhan bertambah imannya, serta kepada Tuhannya mereka berserah diri.

Secara lahirinya, ayat-ayat Allah memiliki kemampuan jallabul iman (meningkat iman), namun secara hakiki yang meningkatkan iman, hanyalah Allah Swt semata.

  1. Setan/ Iblis dapat menghilangkan (sallab) iman

Firman Allah Swt (Qs. Az-Zukhruf : 36 – 37) :

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِيْنٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَبِيْلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

Dan barang siapa yang berpaling dari mengigat Allah Yang Maha Kasih, maka Kami adakan setan baginya. Dan setan menjadi teman baginya. Sesungguhnya setan akan menghalangi mereka dari jalan kebenaran serta mereka (manusia) akan mengira sesungguhnya dirinya termasuk orang-orang yang mendapat hidayah .

Ayat ini jika salah memahaminya, akan menyimpulkan bahwa pencabut iman bagi orang berkawan dengan iblis, adalah iblis dan bukan Allah Swt. Namun secara hakiki, pencabut dan pemberi iman, hanyalah Allah Swt semata.

 

 

  1. Sallab Jallab Rasulullah Saw.

Sahabat Dzul Khuwairitsah at-Tamimi memiliki keturunan yang merugikan Islam, setelah menyakiti hati Rasulullah Saw serta mendapat efek dari sallab jallab.

Sepulang dari perang thaif dan hunain, kaum muslimin mendapat ghanimah yang banyak . Rasulullah Saw membaginya kepada para sahabat. Masing-masing mendapatkan sesuai kadar pengabdian dan jasa yang mereka berikan. Namun dalam pandangan al-Khuwairitsah, terdapat keputusan kurang adil, yakni kepada Abu Sufan yang baru masuk Islam, mandapatkan bagian lebih besar bila dibandingkan  bagian Abu Bakar dan Umar, yang notabene masuknya Islam lebih dahulu. Kepada Rasulullah Saw al-Khuwasirah berkata : Wahai Muhammad, berbuat adillah kamu. Beliau Saw menjawab : Wahai, khuwairitsah : Mana mungkin manusia akan berbuat adil, jika aku tidak berbuat adil.

Umar bin Khatthab ketika melihat kejadian ini, berdiri serta berkata : Wahai Rasulullah Saw, biar kupenggal leher orang itu. Beliau Saw bersabda :  Biarkan orang itu.

Mendengan ucapan Umar, Dzul Khuwasirah pergi meninggalkan ruang persidangan. Kemudian Rasulullah Saw bersabda : Akan lahir dari keturunan orang ini kaum yang membaca al-Qur’an, tetapi tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah yang menembus binatang buruan. Mereka memerang orang Islam serta membiarkan kaum penyembah berhala. Jika aku menemui mereka niscaya kepenggal lehernya, seperti halnya kauj Ad (HR. Muslim). [55]

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Muslim juga, Rasulullah Saw bersabda :  Mereka itu sejelek-jelek makhluk, bahkan sejelek-jelek binatang. Mereka tidak termasuk golongan-Ku, dan Aku tidak termasuk golongan mereka.

Lahirnya keturunan buruk dari Dzul Khuwaisirah, secara hakiki disebabkan dari sallab jallabnya Allah Swt semata, yang dipancarkan melalui Rasulullah Saw.

  1. Sallab Jallab para Waliyullah Ra :

Sebelum Wali Songo memperjuangkan Islam di Indonesia, masarakat tidak memiliki keimanan kepada Allah Swt wa Rasulihi Saw. Dan setelah mereka berjuang di Indonesia dan khususnya tanah Jawa, masarakat hatinya memiliki keimanan kepada Allah Swt wa Rasulihi Saw. Iman masarakat dapat dikatakan sebagai Jallab dari para waliyullah tersebut.

Hadis riwayat Thabrani, Rasulullah Saw bersabda :

لاَيَزَالُ أَرْبَعُوْنَ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي قُلُوْبُهُمْ عَلَى قَلْبِ إِبْرَاهِيْمَ يَدْفَعُ اللهُ بِهِمْ عَنْ أَهْلِ الأَرْضِ يُقَالُ لَهُمْ الأَبْدَالُ, إِنَّهُمْ لَمْ يُدْرِكُوْهَا بِصَلاَةٍ وَلاَ بِصَوْمٍ وَلاَ بِصَدَقَةٍ, قَالُوْا : يَارَسُوْلَ اللهِ فَبِمَ أَدْرَكُوْهَا ؟. قَالَ : بِالسَخَاءِ وَالنَصِيْحَةِ لِلْمُسْلِمِيْنَ.

Tidak sepi ….

Syeh Sya,rani menjelaskan bahwa Ibnu Makhalla  salah satu diantara beberapa al-Ghauts Ra yang buta huruf. Diantara fatwa Syeh Ibnu Makhala  :

لِلْوَلِيِّ نُورَانِ نٌُورُ عَطْفٍ وَرَحْمَةٍ يَجْذِبُ بِهِ أَهْلَ العِنَايَةِ وَنُورُ قَبْضٍ وَعِزَّةٍ وَقَهْرٍ يَدْفَعُ بِهِ أَهْلَ البُعْدِ وَالغَوَايَةِ

Setiap Wali memiliki  dua cahaya batin : (1) nur yang bersifat menarik dan kasih, dengan nur ini tertariklah orang-orang yang mendapat pertolongan (Allah wa Rasulihi Saw), (2) nur yang bersifat genggaman, peninggian dan pemaksaan, dimana dengan nur wali  ini tertolaklah orang-orang yang yang jauh dan tersesat (dari Allah wa Rasulihi Saw).[56]

 

Al-Ghautts Radan para waliyullah menjaga (dengan doa dan sirri batiniyah) kelestarian alam semesta.

Telah banyak hadits shahih yang menjelaskan tugas ini. Antara lain hadits riwayat Imam Ahmad, Thabrani  dan Abu Nuaim dari ‘Ubadah Ibn As Shamit, Rasulullah Saw bersabda :

لاَ يَزَالُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُوْنَ بِهِمْ تَقُومُ الاَرْضُ وَبِهِمْ يُمْطَرُوْنَ وَبِهِمْ يُنْصَرُون

Tidak sepi dalam ummat-Ku, dari tigapuluh orang. Sebab mereka bumi tetap tegak, manusia diberi hujan, dan manusia tertolong. [57]

Demikian pula dalam keyakinan setiap pengamal tarekat (apapun jenisnya), misalnya tarekat “Qadiriyah” meyakini Syeh Abdul Qadir memiliki karomah Sallaab dan Jallab. Sebagaimana yang disamapiakan oleh Syeh Abdul Qadir berkata  :

أَنَاَ سَلاَّبُ الاَحْواَلِ

Aku adalah pencabut kondisi batiniyah seseorang.

(Kitab Lujain ad-Daani, bab “fatwa dan karamah”).

Dalam kitab al-Fatawi al-Haditsiyah, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, menerangkan : Syeh Ibnu as-Saqaa, menjadi murtad setelah menyakiti hati dan suul adab kepada al-Ghauts fii Zamanihi Syeh Abu Ya’kub Yusuf al-Hamadzani Ra (guru al-Ghauts fii Zamanihi Syeh Abdul al-Jailani Ra).

 

  1. Sallab Jallab para Ulama.

Setiap daerah yang ditempati oleh seorang ulama, sudah tentu iman dan ketekunan ibadah masarakat akan meningkat. Ini dapat dikatakan sebagai karomah Jallab yang dimiliki oleh setiap ulama.

Demikian uraian dalam makalah ini. Dan makalah inipun kami akhiri. Semoga dapat menambah motifasi yang positif kepada kita semua dalam berkhidmah kepada Perjuangan Wahidiyah, dan khususunya kepada Beliau Kenjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid Ra Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, sebagai Guru Ruhani kita semua.

 

 

Al-Fatihah                                                    x  1

Yaa Ayyuhal Ghautsu Salamullah                  x  3

Yaa Sayyidi Yaa Ayyuhal Ghauts                  x  7

Al-Fatihah                                                    x  1

 

 

 

 

 

 

 

[1].    Syeh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitabnya al-Ghunyah juz II dalam “kitab adabul muridin” pasal II menjelaskan :

مَحْمُولُ القُدَرِ كُرَّةُ المَشِيْئَةِ, منْبَعُ العُلُومِ وَالحِكَمِ, بَيْتُ الأَمْنِ وَالفَوْزِ, كَهْفُ الأَوْلِيَاءِ وَالأبْدَالِ, مَنْظَرُ الرَبِّ

(Sufi Sempurna) adalah tempat menyimpan qadar, dan bola (bergulirnya) kehendak, memancarnya ilmu dan hikmah, rumah kemanan dan kemulyaan, guanya para wali dan abdal, dan tempat pancaran cahya cinta Tuhan.

[2].    HR. Abu Nuaim al-Isfahani dalkam kitab al-Hilyah, dan Imam Abul Yaman Ibn Asakir dalam kitab Tarikh Madinah Damsyiq  juz I pada bab “maa ja,a anna bis-syaam yakuunu al-abdaal” dari sahabat Ibnu Mas’ud

[3].    Keterangan yang sepadan juga terdapat dalam kitab Sa’adah ad-Daraini,  Syawahid al-Haq, (Syeh Ismail an-Nabhani Ra), al-Insan al-Kamil, (Syeh Abdul Karim al-Jilliy Ra), Kitab at-Ta’rifat (Syeh Ali Al-Jurjani Ra), Jami’ul Ushul fil Auliya’  (Syeh Ahmad Al-Kamasykhanawi Ra), al-Ghunyah-nya Syeh Abdul Qadir al-Jilli.

[4].     Lihat kitab Misykatul Anwar-nya al-Ghauts fii Zamanihi Imam al-Ghazali Ra, dalam pasal kedua. Atau buku Insan Kamil Dalam Islamnya M. Dawam Raharjo. Atau buku Manusia sempurna, Pandangan Islan Tentang Hakikat Manusia, Murtadha Muthahhari, penerbit Lentera tahun 2001, hal 9–17. Dan buku Manusia Citra Ilahi Oleh Dr. Yusnaril Ali, penerbit Paramadina Jakarta, tahun 1997 halaman 111–128. Dan kitab Kimya’us  Sa’adah nya al-Ghazaliy. Dan juga dalam buku Tasawuf antara agama dan filsatfat, Dr Ibrahim Hilal. Lihat juga dalam kitab Jami’ul Ushul Fil ‘Auliya’ ,  hlm  110 – 111.

[5].     Lihat Majmuah Rasail lil Ghazali (cet. I/ tahun 1416. Darul Fikri, Bairut, Libanuon, halaman 283).

[6].     Dalam kitab Sunan ad-Darimi,  juz I  nomer hadis/ atsar :  359).

[7].     kitab Insanul Kamil juz II bab 45, dan dalam kitab Sa’adah ad-Daraini-nya Syeh Nabhani dalam bab IX  tentang “ru’yatun nabi”, halaman 429.

[8] .   Kitab at-Ta’rifat-nya Syeh Ali al-Jurjani, percetakan “Dar al-Kutuub al-Ilmiyah” Beirut – Libanon, cetakan ke 3, tahun 1404 H, bab “qaf”, hlm : 177 – 178.

[9].       Karya Muhammad Ibn Zain Ibn Shamit, perc. Dar al- Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah Bairut, yang dinukil oleh Idrus Abdullah al-Kaf, dalam buku “Bisikan Bisikan Ilahi”, pada bab I, terbitan Pustaka Hidayah Bandung

[10].   Syeh Muhammad Wafa, adalah diantara 4 wali al-Ghauts yang tidak dapat membaca dan menulis.

[11].   Kitab Tanwir al-Qulub Syeh Amin al-Kurdi, hlm 362. Penjelasan lebih lanjut, lihat kitab Tanwirul qulub nya Syeh Amin Al Kurdi, percetakan Bairut, halaman  36.

[12].   Kitab  Bughiyatul  Mustarsyidin, oleh Sayyid Abdur Rahman bin Muhammad Al-Hadlramiy halaman 6 dan  299. Lihat  buku Transendensi Ilahi, terjemahan dari maqhashidul asna Imam al-Ghazaliy, penerbit Pustaka Progressif , Surabaya tahun 1999 M, hlm  9 – 19.  Penjelasan tentang seorang Mujaddid dan sekaligus al-Ghauts Ra, dapat dilihat dalam buku “Kontemplasi Dan Dzikir Dalam Tasawuf”-nya Dr. Mir Valiuddin, atau buku “Bisikan-Bisikan Ilahi” tulisan Dr. Al-Idrus Al-Kaf.

[13].  Kitab Jami’ al-Ushul Auliya’ nya Syeh Kamasykhanawi, hlm 4, kitab at-Ta’rifat nya Syeh Ali al-Jurjani, bab “qaf”, kitab Syawahid al-Haq-nya Syeh Nabhani dalam bab silsilah tarekat Syadzaliyah).

[14].   Sebelum mencapai maqam Abdul Warits ini, setiap hamba Allah Swt yang akan dipilih menjabat wali al-Ghauts, Beliau Ra memasuki maqam Abdul Baqi (hambanya Allah Dzat Yang Abadi).  Dalam ilmu tasawuf, setiap sufi akan memasuki maqam dan akan mendapat hal dari Allah Swt.

[15].   Imam al-Ghazali memandang Fana’ dan Ma’rifat  sebagai “maqam”, sedangkan Imam al-Qusyairi memandang sebagai “hal”.

[16]. Kitab Khazinah aAsraar-nya Syeh Ahmad Haqqi an-Naziliy,  dalam bab

[17].   Lihat kitab Tbaqatul Kubra-nya Imam Sya’rani, juz II dalam bab kisah “Syeh Ibnu Makhala”,

[18].   Kitab Tanwir al-Qulub-nya Syeh Amin al-Kurdi dalam  juz  II pada bab tasawuf .

[19].     Kitab Siraj at-Thalibiin, juz II, hlm : 74, dan kitab al-Hawi lil Fatawi nya Imam Suyuthi, juz II, bab Wujud al-Auliya wal-Quthub, dan kitab Kasyful Khafa’-nya Syeh ‘Ajuluuni.

[20].      Banyak para ulama yang telah menjelaskan tentang adab salik kepada Guru Mursyid. Antara lain:

  1. Kitab al-Ghunyah-nya Syeh Abdul Qadir al-Jilani Ra.
  2. Kitab Risalah Al-Qusyairiyah-nya Imam Qusyairi.
  3. Kitab al-Anwarul Qudsiyah-nya Syeh Abdul Wahhab as-Sya’rani.
  4. Kumpulan kitab kecil Imam Ghazali (Majmu’ah Rasail lil Ghazali).
  5. Kitab Bugyah al-Murtasyidin-nya Syeh

[21].      Kitab al-Ghunyah, Syeh Abdul Qadir al-Jilani Ra, dalam bab “maa yajibu ‘alal mubdi” pasal kesatu.

[22].   Kitab Insan al-Kamil, juz II/75 bab “insan al-kamil”.

[23].   Adab murid kepada Guru Kamil Mukammil, juga terdapat dalam kitab Awarif al-Ma’arif  nya Syeh Suhrawardi, atau kitab al-Anwar al-Qudsiyah as-Sya’rani, kitab  “Misykatul Anwar“ (kitab “Majmu’ah Rasail Al-Ghazali).

[24].   Lihat kitab Dalil al-Falihin  juz III, bab  ‘wajib taat pimpinan”, hadis nomer  : 10.

[25].   HR. Bukhari (Shahih, nh : 6530, dalam kitab “al-fitan”), Muslim (Shahih, nh : dari Ibnu Abbas

[26].    Kitab Mafahim nya  Syeh al-Maliki, kitab Jami as-Shagir.

[27].    Kitab al-Adzkar-nya Imam Nawawi, dalam hadis nomer  :  610.

Dan dalam kitab ini pula, berkaitan karamah waliyullah/ al-Ghuats Ra yang dimaksud dalam hadis ini, Imam Nawawi (w. 676 H) menceritakan pengalaman pribadinya : “bahwa suatu saat ia bersama rombongan dengan membawa beberapa hewan yang akan dijual. Ditengah jalan, salah satu hewan lepas. Sedangkan para rombongan tidak dapat menangkapnya. Imam Nawawi mengajak seluruh rombongan untuk melaksanakan nida’ (panggilan kepada waliyullah/ al-Ghauts ra tersebut) dengan khusyu’. Dan Allah Swt menampakkan karamah waliyullah tersebut, dengan seketika hewan yang lepas tadi, berhenti tanpa sebab lain, kecuali sebab kalimah nida’ kepada waliyullah tersebut.

[28].   Imam Suyuthi,  Jami’ as-Shagir jilid I dalam bab “alif”.

[29].    Kitab “Tahrir Ad Durar” atau “Manaqib al-Auliya” nya Misbah Zain Al Mushthafa, terbitan maktabah al balagh, Bangilan Tuban jawa timur tanpa tahun, bab “Syamsudin Hanafi” . Kitab ini menukil dari kitab Lawaqih al-Anwar wa Thabaqah al-Ahyar nya Syeh Abdul Wahhab as-Sya’rani, baik juz I atau II

[30].     HR. Muslim dan Bukhari, (kitab Dalil al-Falihin juz III, bab “wujuub tha’at wulah al-amri”, nomer hadis : 09. Dan kitab Al Syifa  Bita’riifi Huquq al Mushthafa -nya Al Qadli Abul Fadlal ‘Iyadl al-Yahshubi (w. 544 H), perct. “dar al-kutub al-‘ilmiyah”, Beirut Libanon, tahun 2004/1424, juz II, dalam bab tha’aturrassul).

[31].      HR. Nasai dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah, nomer hadis : 990.

[32].      Ibid, dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah, nomer hadis : 991.

[33].      Kitab as-Syifa’ dalam jilid I bab I pada pasal 1.

[34].      Kitab Thabaqatul Kubra-nya al-Ghauts fii Zamanihi Syeh Sya’rani Ra, juz II dalam bab “Imam Abul Hasan as-Syadzili Ra”.

[35].      Buku Sufi Dari Zaman Ke zaman dalam bab “tasawuf falsafi”, tertulis keterangan bahwa Syeh Sahal at-Tustari ini adalh wali al-Ghauts pada zamannya.

[36].      Lihat kitab Syawahid al-Haq nya Syeh An-Nabhani, perct. Darul Fikri, Beirut Libanon, tahun 1403 H/ 1983 M, hlm : 221, atau kitab Risyalah al-Qusyairiyah-nya Iam al-Qusyairi Ra, hlm :  47.

[37].        Para ulama berbeda pandangan tentang asal usul iblis. Sebagian mereka mengatakan; iblis dari kelompok JIN, dengan alasan, kata-kata (إِلاَّ إِبْلِيسُ / Illa iblis = kecuali iblis) dalam ayat tersebut sebagai istitsna’ munqathi’ (yang dikecualikan {iblis} tidak termasuk kelompok kalimat sebelumnya {malaikat}). Sedangkan mayoritas ulama (seperti al-Bughawi, al-Wahidiy, al-Qaadliy ‘Iyadl al-Yahshubi) mengatakan, iblis dari kelompok malaikat yang memiliki nama Azaaziil. (Pendapat ini didasarkan pada hadis yang diceritakan dari Abdullah bn Abbas (sahabat Nabi Saw yang ahli dalam tafsir al-qur’an). Dan pula para ulama sepakat bahwa iblis awal mulanya sebagai penjaga surga dan pemimpin para malaikat, dengan alasan istitsna’ dalam kalimat tersebut sebagai istitsna’ muttashil. Yakni yang dikecualikan (iblis) termasuk kelompok kalimat sebelumnya (malaikat). Iblis juga memiliki beberapa nama panggilan, antara lain : al-‘Abid (dilangit pertama), az-Zaahid (dilangit kedua), al-‘Arif (dilangit ketiga), Waliyullah (dilangit keempat), at-Taqi/ orang taqwa kepada Allah (dilangit kelima), al-Khaazin (dilangit keenam), ‘Azaaziil (dilangit ketujuh) dan Iblis (dilauh mahfud).

(Lihat tafsir al-Futuuhaat al-Ilaahiyah-nya Syeh Sulaiman bin Umar al-‘Ajiiliy, pada ulasan ayat 34 surat al-Baqarah, atau fatwa dari Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya al-Fatawi al-Hadiitsiyah, dan Imam Shawi dalam kitabnya Tafsir Shawi fii Haasyiyah ala al-Jalalain, kitab tafsir Ibnu Katsir, atau buku Tafsir al-Mishbah-nya Prof. Dr. M. Qiraisy Syihab).

[38].      Sebagian ulama memberikan makna “kafir” yang diderikan oleh al-Qur’an  kepada iblis, bukan karena ingkar keberadaan Allah Swt, namun karena membangkang perintah-Nya, demikian yang diterangkan dalam kitab “Tafsir al-Mishbah”-nya Prof. Dr. Quraisyi Syihab. Pembangkangan dan  kedurhakaan ini dinilai amat berat karena dilakukan oleh hamba yang telah mengenal-Nya.

[39].      Qs. al-Baqarah: 30 :  قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ وَيَسْفِكُ الدِمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ : Mereka berkata : Apakah Paduka (Tuhan) akan memberikan jabatan khalifah kepada manusia yang suka membuat kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau serta mensucikan Engkau ?. Tuhan bersabda : إِنَّي أَعْلَمُ مَالاَ تَعْلَمُونَ : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui tentang sesuatu yang kalian tidak mengetahui. Allah Swt menjawab pertanyaan malaikat dengan “Aku lebih mengetahui sesuatu yang tidak dapat kamu ketahui”, menunjukkan bahwa “seseuatu” tersebut bersifat pasca rasio yang memahaminya tidak bisa melalui akal fikiran, akan tetapi melalui metode hidayah.

Dan dalam ayat yang lain, dijelaskan, setelah kalah dalam berdebat dengan Nabi Adam As, malaikat dapat memahami Nabi Adam As lebih layak menjadi khalifah. Hingga, mereka berkata :

سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ العَلِيْمُ الحَكِيْمُ :  Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

[40].   Dalam Qs. al-Baqarah : 31, dijelaskan setelah malaikat membanggakan diri terhadap amal dan ilmunya, kemudian Allah Swt menunjukkan kekuasan-Nya dengan memberikan ilmu tentang segala sesuatu kepada Nabi Adam secara langsung (wahyu) tanpa melalui proses belajar. Allah Swt bersabda :  وَعَلَّمَ أدَمَ الآسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى المَلاَئِكَةِ قَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ  : Dan (Tuhan) mengajarkan kepada Adam tentang nama benda secara keseluruhan. Kemudian mengkonfrontasikannya kepada malaikat. Tuhan berfirman (kepada malaikat) : Sebutkan kepada-Ku nama benda-benda itu, jika kamu memang kelompok yang benar. Dan kepada Allah Swt para malaikat berkata : قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ العَلِيْمُ الحَكِيْمُ    : Mereka berkata : Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Paduka ajarkan, Sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan akhirnya para malaikat dapat menyadari keterbatasan dirinya serta bersujud kepada Nabi Adam As, Allah Swt bersabda kepada Nabi Adam As :   قَالَ يَأَدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ  : (Tuhan) bersabda : Wahai Adam, ceritakan (ajarkan) kepada mereka nama seluruh benda.

[41].   Al-Ghauts fii Zamnihi Syeh Abdul Qadir Jailani Ra (kitabnya al-Ghunyah juz II bab “ma yajibu ‘ala al-mubtadi”), menjelaskan : فَصَارتِ المَلائكَةُ تَلامِيْذًا لأدمَ وأدَمُ شَيْخُهُمْ, فَأَنْبَأَهُمْ بَأَسْمَاءِ الأشْيَاِ كُلِّهَا : malaikat menjadi murid nabi Adam, dan nabi Adam sebagai guru malaikat. Adam mengajarkan  nama-nama segala sesuatu (dalam alam) secara keseluruhan.

Ulasan yang sama juga diberikan oleh Imam Shawi : لأَِنَّهُ صَارَ شَيْخُهُمْ وَمِنْ حَقِّ الشَيْخِ التَعْظِيْمُ وَالتَّوْقِيْرُ : Sesungguhnya Nabi Adam menjadi guru bagi mereka. Diantara hak guru adalah menerima penghormatan serta pengagungan.

[42].   Keterangan yang sepadan dengan ulasan Syeh Sulaiman al-Ajili tersebut, terdapat dalam buku tafsir AL-MISHBAH karya Prof. M. Quraisyi Syihab MA, pada ayat dan surat yang sama.

[43].   Buku tafsir al-Mishbah (Penerbit Lentera Hati, cet. ke IV tahun Agustus 2005, pada halaman 153),  dalam ulasan ayat 34 surat al-Baqarah.

[44].   HR. Ahmad, dan Bukhari (dalam at-Taarikh), Abu Nuaim (dalam Dalail an-Nubuwwah dan al-Hilyah), Ibnu Abi Hatim (dalam Tafsir-nya), al-Haakim, Tirmidzi (dan ia mengatakan : ini hadis hasan dan lagi shahih), al-Haakim dan Ibnu Hibban dari Irbadl bin Sariyah (dalam Shahih-nya).

Yang perlu diperhatikan, diantara para ulama dalam menilai sebuah hadis – sebagaimana kesimpulan dari Dr. KH. Said Aqil Siraj MA (Ketua Umum PBNU tahun 2010 M – ) dan kader NU lainnya -, banyak yang masih beraroma politik (lihat buku Kiai Menggugat Mengadili Pemikiran Kang Said). Seperti tuduhan maudlu’ (lihat buku Ensiklopedi Islam jilid 4 pada bagian “N“, {buku milik negara}), yang dilakukan oleh Abul A’laa al-Afiifiy dan pengikutnya terhadap hadis yang berkaitan dengan keduhuluan Jiwa dan Nur Nabi Muhmmad Saw, bisa dinilai beraroma politik.   

[45].   Para nabi berjanji kepada Allah Swt, bila mana datang seorang rasul bernama Muhammad, mereka akan beriman dan menolongnya. Buku al-Qur’an Dan Terjemahnya, terbitan “al-Mujamma’ al-Malik Fahd lit-Thiba’ al-Mush-haf  as-Syarifah Medinah Munawwarah” Kerajaan Arab Saudi.

[46].   Kitab as-Syifa’-nya Syeh Abul Fadlal Iyadl al-Yahshubi, dalam juz I bab I pada pasal 7.

[47].   Kitab  kitab al-Anwar al-Muhammadiyah. Kitab as-Syifa’-nya al-Qadli Iyadl, juz I bab I dalam pasal ketujuh. Kitab al-Hawi lil Fatawi-Nya Imam Suyuthi, juz II pada bab “irsal al-nabi ilal malaikah”, diriwayatkan dari Aby Haatim as-Suddiy.

[48].   Kitab al-Haawi lil Fatawi-nya Imam Suyuthi, juz II pada bab “irsaal an-nabiy alal malaikah”

[49].   Dalam prinsip tasawuf terdapat istilah “maqam” dan “hal” (ahwal). Maqam adalah jenjang akhlakul karimah yang harus ditempuh oleh setiap salik dalam pendekatannya kepada Allah Swt. Misalnya, taubat, zuhud, taqwa, qana’ah, ridla, tawakkal, syukur dan lainnya. Jenjang akhlak ini dapat menjadi sempurna jika salik berada dalam bimbingan guru ruhani yang telah berpengalaman dalam permasalahan tersebut. Sedangkan hal (ahwal) adalah kondisi batin yang datangnya dari Allah Swt. Maqam dapat diupayakan oleh salik, sedangkan hal tidak dapat diusahakan, ia semata-mata anugrah Allah Swt kepada salik.

[50].   Lihat kitab Dalil al-Falihin  juz III, bab  ‘wajib taat pimpinan”, hadis nomer  : 10.

[51].   Tentang ulasan tentang hadis kenegatifan sultan selain sulthanul auliya, silahkan lihat dalam kitab Minhajul Qashdin-nya Ibnu Qudamah pada bab “bergaul dengan penguasa yang dlalim”

[52].  . Kitab Jami’ as-Shahigir juz I bab “alif”. Dan Imam Suyuthi menerangkan hadis ini hasan.

[53].   HR. Ahmad (Musnad, nh : 3233)

[54].   Kitab as-Syifa’-nya Syeh Abul Fadlal Iyadl al-Yahshubi Ra, dalam juz I bab I pada pasal 1.

[55].       Ulasan dari Prof. Dr. KH. Agil Siraj, M.A. (Ketua Umum PB NU 2012) dalam memberikan pengantar  buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahhabi”, penerbit Pustaka Pesantren cet. XX tahun 2012) karya Syeh Idahram. Hadis diatas tertulis dalam Shahih Muslim pada kitab Zakat dan Qismah.

[56].   Yang dimaksud “wali” disini adalah al-Ghauts Ra. Lihat  penjelasan sebelum dan sesudahnya dalam kitab Thabaqat juz I, pada halaman 188 – 201, percetakan “Darul Fikri”, Beirut – Libanon, tahun Nopember 1954 M.

[57].   Kitab Siraj at-Thalibiin, juz II, hlm : 74, dan kitab al-Hawi lil Fatawi nya Imam Suyuthi, juz II, bab Wujud al-Auliya wal-Quthub, dan kitab Kasyful Khafa’-nya Syeh ‘Ajuluuni.