PERINTAH KAPOLRI, KAPOLDA JATIM HADIRI HUT WAHIDIYAH KE-54

DAERAH

PERINTAH KAPOLRI, KAPOLDA JATIM HADIRI HUT WAHIDIYAH KE-54

HARIANTERBIT.CO – Shalawat Wahidiyah merupakan amalan yang baik. Wahidiyah artinya ilmu tauhid, ilmu ketuhanan, ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, Sholawat Wahidiyah juga bermanfaat untuk menjernihkan hati.

Demikian disebutkan Kapolda Jatim Irjen Pol. Machfud Arifin SH, dalam sambutannya pada Mujahadah Kubro dalam rangka memperingati HUT Shalawat Wahidiyah ke-54, dan haul Mbah KH. Mohammad Ma’ruf (Pendiri Ponpes Kedunglo) ke-62, di Ponpes Kedunglo Al-Munadhdhoroh, Kota Kediri, Minggu (15/10) malam.

Diungkap Machfud, kehadirannya mengikuti Mujahadah Kubro yang diselenggarakan Yayasan Perjuangan Wahidiyah (YPW) Pusat itu, atas perintah Kapolri dan tidak boleh diwakilkan, sehingga ada sejumlah kegiatan di Surabaya yang terpaksa ia tinggalkan agar bisa menghadiri Mujahadah Kubro. Menurut Kapolda Jatim Mujahadah Kubro menjadi acara prioritas.

Dalam kesempatan itu, Kapolda Jatim juga menyampaikan permohonan maaf kepada Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo, Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid, RA, atas ketidakhadiran Kapolri pada Mujahadah Kubro, sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya, saat Kapolri melakukan Safari Ramadhan di Jawa Timur, beberapa bulan lalu.

”Saya selaku Kapolda Jawa Timur menyampaikan permohonan maaf Pak Kapolri berhalangan hadir, karena ada tugas negara yang tidak bisa ditinggalkan. Maka, saya diperintahkan untuk hadir dan tidak boleh diwakilkan. Ini betul perintah Pak Kapolri, saya harus hadir,” ungkap Kapolda Jatim di hadapan sekitar 50 ribu peserta Mujahadah Kubro.

Caption
Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid, RA bersama Kapolda Jatim (kiri) Irjen Pol. Machfud Arifin SH, pada Acara Mujahadah Kubro, di Ponpes Kedunglo, Kota Kediri, Minggu (15/10) malam.
Ketikkan pesan…

POSITIF

Menurut Machfud, Mujahadah Kubro Muharram 1439 ini adalah momentum yang mempunyai nilai yang sangat positif, yaitu memperingati HUT Shalawat Wahidiyah dan haul Mbah KH. Mohammad Ma’ruf, Pendiri Ponpes Kedunglo.
Shalawat Wahidiyah, kata Machfud, merupakan amalan yang baik.

Wahidiyah artinya ilmu tauhid, ilmu ketuhanan, ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta bermanfaat untuk menjernihkan hati. Sedangkan Mbah KH. Mohammad Ma’ruf memiliki suatu tujuan mulia untuk membina ahlak, tingkah laku serta perbuatan masyarakat berdasarkan pada ajaran Islam dengan tetap memperhatikan kondisi masyarakat yang plural, demokratis, damai serta saling menghormati.

”Oleh karena itu, Ponpes ini (Kedunglo) memiliki nilai yang sangat penting untuk mengembangkan ajaran agama Islam dengan tetap menjaga kedamaian, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” imbuh Kapolda Jatim di hadapan sekitar 50 ribu peserta Mujahadah Kubro.

PERKEMBANGAN

Selain itu, sambungnya, seiring perkembangannya Ponpes Kedunglo dan Perjuangan Wahidiyah yang kini dipimpin Kanjeng Romo KH. Abdul Latif, mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi masyarakat dan telah ikut mencerdaskan bangsa dengan mendirikan sekolah Wahidiyah, mulai dari TK hingga perguruan tinggi, yakni Universitas Wahidiyah.

Karenanya, ia berharap dari pelaksanaan Mujahadah Kubro ini dapat mempererat tali silaturahim serta meningkatkan ukhuwah Islamiyah di Republik Indonesia.
Usai memberi sambutan, kepada pers Machfud menyebutkan kegiatan Wahidiyah sangat baik diselenggarakan di seluruh Nusantara.

Menurutnya, ini (mujahadah) adalah acara permohonan doa untuk keberkahan bangsa dan negara, tentunya ada nilai-nilai positif yang dirasakan masyarakat.

Jadi, acara semacam ini sangat baik dilaksanakan di mana saja,” tegas Irjen Pol. Machfud Arifin yang didampingi sejumlah pejabat utama Polda Jatim serta para Kapolres di jajaran Korwil Kediri.

Di samping itu, Kapolda Jatim memberi apresiasi terhadap Perjuangan Wahidiyah yang tidak terpengaruh oleh paham atau kelompok yang ingin membelah NKRI, atau aliran radikal yang memaksakan kehendaknya. Karenanya dalam sambutannya ia menegaskan Wahidiyah atau Ponpes Kedunglo cinta Tanah Air.

KUBRO

Kegiatan Mujahadah Kubro Muharam 1439 Hijriyah yang diselenggarakan sejak Kamis-Minggu (12-15) malam itu, tidak hanya dihadiri Pengamal Wahidiyah di seluruh Nusantara tapi dihadiri juga oleh para jamaah Wahidiyah di sejumlah negara di Asia, seperti Hongkong, Macau, Brunei Darussalam dan Malaysia.

Syarifah Herliani, istri mendiang Sultan Iskandar Yang di-Pertuan Agong Malaysia yang ke-8, yang baru satu bulan ikut mengamalkan sholawat Wahidiyah ikut pula menghadiri perhelatan tersebut.

Menurut Syarifah, dalam sambutannya menuturkan setelah ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah dirinya merasa lebih terpacu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bahkan ia pun sangat apresiatif terhadap para pengamal Wahidiyah yang mudah menangis mengingat dosa. Dengan pengalaman yang ia rasakan itu, Syarifah Herliani bertekad ikut menyiarkan Sholawat Wahidiyah kepada para kerabat dan sahabatnya di berbagai Negara. Al Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *