Hasil Riset MUI Pusat, Wahidiyah Tidak Sesat

SELASA , 7 NOVEMBER 2017

Home / NASIONAL / Hasil Riset MUI Pusat, Wahidiyah Tidak Sesat

Hasil Riset MUI Pusat, Wahidiyah Tidak Sesat

Oleh: Al Amin

Saat menyampaikan hasil riset seputar Wahidiyah dalam Kajian Tarekat Nusantara, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (04/11/2017) siang.
Dr Khamami Zada saat menyampaikan hasil riset seputar Wahidiyah dalam Kajian Tarekat Nusantara, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (04/11/2017) siang.

Jakarta, Amunisi – Lega. Inilah gambaran dari ekspresi sejumlah jamaah Sholawat Wahidiyah ketika mendengar keterangan Dr Khamami Zada, SH, MA, MDCEF, Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pada acara Kajian Sufi Nusantara, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tangsel, Sabtu (04/11/2017) siang.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Islam Nusantara Center bertajuk Shalawat Wahidiyah dalam Bingkai Tarekat Nusantara: Perlawanan dalam Menghadapi Tudingan Sesat, Pengurus MUI Pusat itu menyebutkan, secara akidah Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya tidak sesat. Menurut Khamami penilaian tersebut berdasarkan hasil riset MUI Pusat tentang Wahidiyah, baik di Pusat Perjuangan Wahidiyah, Ponpes Kedunglo, Kediri, Jawa Timur, maupun di wilayah Tasikmalaya, Jabar, dan Banten, beberapa waktu lalu.

Dia menerangkan upaya MUI Pusat untuk memperoleh informasi seputar Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya dilakukan dengan menggali keterangan secara cermat dari berbagai sumber, seperti wawancara kepada beragam pihak yang berkompeten maupun dari buku-buku Wahidiyah.

Diakui Khamami, beberapa pekan terakhir memang telah terjadi kekhawatiran di kalangan Wahidiyah, terutama pasca kedatangannya ke daerah Tasikmalaya untuk melakukan riset seputar eksistensi Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat dan Serang, Banten, pertengahan September 2017 lalu. Karenanya Wakil Sekretaris Pengkajian MUI Pusat itu memaklumi kekhawatiran tersebut.

Untuk meredakan kekhatiran para pengamal Wahidiyah Khamami mengatakan MUI pusat belum mengeluarkan fatwa apa pun tentang Wahidiyah. “Jadi, kalau ada yang mengatakan sudah ada fatwa (MUI Pusat tentang Wahidiyah) itu tidak benar,” tegasnya.

Selain itu, menjelang akhir sesi, Dr Khamami yang juga Wakil Ketua Lapesdam NU itu menyimpulkan hasil risetnya seputar Wahidiyah. “Menurut saya, secara akidah, Wahidiyah (sholawat dan ajarannya) tidak sesat,” terang Khamami, yakin.

Memang, sambungnya, jika sekilas dipahami secara harfiah tentang ajaran atau bimbingan Wahidiyah, terutama masalah eksistensi seseorang yang diyakini sebagai Sulthonul Auliya’ atau al-Ghauts memiliki sifat  sallab-jallab (menaikkan dan menurunkan keimanan seseorang) oleh umat Islam secara umum akan dianggap sesat.

”Ketika pertama kali mendengar saya katakan ini (sallab-jallab) salah. Tapi karena saya ingin mencari kesalahannya maka saya terus mempelajarinya hingga menemukan kebenaran yang sesungguhnya,” ungkap dosen UIN itu. Jadi, lanjutnya, soal sallab-jallab jangan hanya dipahami secara harfiah saja, tapi harus dilihat secara komprehensif. Karenanya ia meminta kepada pihak Wahidiyah agar dapat menyederhanakan keterangan ajaran Wahidiyah. ”Supaya lebih mudah dipahami (umat Islam secara umum),” katanya.

Kendati demikian Khamami merasa tertarik dengan keterangan Wahidiyah. ”Memang dalam setiap memberi penjelasan, (Wahidiyah) menyantumkan ini (sumber) al-Quran-nya, ini haditsnya dan ini kitabnya. Menurut saya ini menarik,” akunya.

Terkait Wahidiyah di Tasikmalaya, Alumnus MAPK MAN 1 Yogyakarta itu mengakui sallab-jallab menjadi salah satu isu yang mengakibatkan MUI Kota dan Kabupaten Tasikmalaya mengeluarkan fatwa sesat kepada Wahidiyah. Akan tetapi setelah melakukan riset di Tasikmalaya ia memperoleh keterangan dari pengamal Wahidiyah di daerah tersebut, bahwa terbitnya fatwa itu juga dipicu permasalahan kecemburuan sosial.

Karena, masih kata Khamami, amaliyah (amalan) Sholawat Wahidiyah selain dapat memberi peningkatan secara spiritual, juga berdampak kepada peningkatan ekonomi pengikutnya (pengamal). Contohnya, di Tasikmalaya ada seorang pengusaha konfeksi yang semula (cara) hidupnya urakan tapi setelah mengamalkan Sholawat Wahidiyah menjadi rajin ibadah bahkan bisnisnya pun berkembang. “Dari sinilah mulai terjadi gesekan di masyarakat,” katanya.

 

Suasana Sesi Tanya-Jawab
Suasana Sesi Tanya-Jawab

Isu Kontroversial di Masa Awal  

Lebih jauh diungkap Khamami dari hasil risetnya, sejak awal perkembangannya kemunculan Sholawat Wahidiyah direspon beragam oleh umat Islam. Selain banyak pengikutnya, karena ini amaliyah yang membawa kepuasan batiniah. Ketika orang-orang modern cenderung menjadi hedonis, konsumtif, cenderung untuk meninggalkan ahlak dan budaya masyarakat yang baik, maka (amaliyah) Wahidiyah  menjadi solusi dalam mengisi kehampaan spiritual.

Nah, sambung Khamami, amaliyah Wahidiyah ini adalah salah satu yang mengisi kekosongan spiritual masyarakat muslim disamping tarekat yang lainnya. Maka tidak heran perkembangan Wahidiyah ini menjadi besar karena amaliyahnya sangat praktis, kemudian masuk ke ranah jiwa dan sanubari sehingga para pengingut terpuaskan.

Karenaya kaum muslimin yang menerima Sholawat Wahidiyah sebagian besar kemudian menjadi pengamal dan pengikutnya. Tetapi tidak sedikit juga yang menolak atau sekurang-kurangnya mencurigai ajaran dan praktik pengamalan Sholawat Wahidiyah. Beberapa kiai bahkan melontarkan kritik tajam terhadap Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya.

Isu utama yang menjadi bahan kritik ialah mempertanyakan keabsahan Sholawat Wahidiyah yang di-ta’lif(susun) oleh KH Abdul Madjid Ma’ruf. Pertanyaan mereka antara lain perihal mengapa Sholawat Wahidiyah tidak memilih sholawat yang diajarkan oleh Rosululloh SAW (ma’tsuroh) ? Bagaimana pula sanad dan silsilah Sholawat Wahidiyah sehingga berani menjadikannya sebagai wirid (amaliyah) bagi jamaah pengikut Sholawat Wahidiyah ? Persoalan ini dapat diselesaikan di awal perkembangannya melalui argumen bahwa al-Quran menganjurkan orang mukmin bersholawat kepada Nabi SAW (Q.S. Al-Ahzab: 56).

Tentang sholawat yang ghoiro ma’tsuroh dinyatakan bahwa membaca sholawat kepada Rosululloh SAW dengan doa (sholawat) yang mana saja, baik yang diajarkan oleh Nabi maupun sholawat yang redaksinya disusun ulama, seperti Sholawat Nariyah, Sholawat Munjiyat, Sholawat Badar, termasuk Sholawat Wahidiyah, mutlak diterima. Nabi juga bersabda: Man sholla’alayya sholatan wahidatan, shollallohu biha ‘alayhi ‘asyroh (Barang siapa bersholawat kepadaku sekali saja, Allah akan membalaskannya dengan bersholawat kepada orang itu, sepuluh kali).

Menurut Khamami yang cukup menarik dalam menangani kritik-kritik dari para Kiai, pihak Wahidiyah menghadapinya dengan mengajak langsung kepada pihak pengeritik untuk bermusyawarah (berdebat)    sampai tercapai kesepakatan. ”Ini menurut saya adalah suatu trik Wahidiyah

”Contoh faktual dari cara ini adalah “Piagam Ngadiluwih”. Piagam ini merupakan pernyataan bersama antara pihak pengritik dan Wahidiyah sebagai pihak yang dikritik. Dalam Piagam Ngadiluwih kedua belah pihak menyatakan “menaati, membela serta memperjuangkan semua keputusan musyawarah secara konsekuen” katanya. Ini adalah suatu trik bagaimana Wahidiyah mengatasi isu kontroversial kepada pengretiknya di Jawa Timur.

 

Dilarang ‘Impor’ Fatwa 

 Pada sesi tanya jawab para Pengamal Sholawat Wahidiyah begitu antusias untuk memperoleh keterangan langsung atas pertanyaan yang disorongkan kepada Pengurus MUI Pusat tentang itu. Salah satu pertanyaan mereka adalah tentang Fatwa MUI Tasikmalaya.

Menurut Pengamal Sholawat Wahidiyah meski Dr Khamami menyebutkan belum ada Fatwa Wahidiyah dari MUI Pusat, namun hal tersebut tidak membuatnya puas. Sebab, para pengamal masih merasa dihantui dengan Fatwa MUI Tasikmalaya yang selalu dijadikan alasan oleh oknum MUI Daerah untuk melarang Wahidiyah melakukan kegiatan (mujahadah), diantaranya di Tebingtinggi (Sumut) dan Sumbawa (NTB), baru-baru ini.

Karenanya mereka menanyakan apakah MUI daerah lain boleh ‘mengimpor’ fatwa dari MUI Tasikmalaya ? Mendengar pertanyaan tersebut Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian MUI Pusat dengan tegas mengatakan tidak boleh. “Kalaupun itu terjadi, tentu hal tersebut tidak diketahui oleh MUI Pusat,” katanya.

Perhelatan yang digelar di Islam Nusantara Center tersebut adalah kegiatan rutin yang selenggarakan setiap Sabtu dengan beragam topik dan nara sumber. Tujuannya antara lain untuk memberi wahana sekaligus pencerahan kepada masyarakat muslim agar lebih jauh memahami corak Islam di Nusantara yang penuh kedamaian dalam bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara.

(Visited 1.011 times, 323 visits today)

Simak Juga

pemakaman bupati

Bupati Pangkep Hadiri Pemakaman Camat Balocci.

Oleh Muin PANGKEP AMUNISINEWS.COM- Masyarakat Kabupaten Pangkep dikejutkan oleh kabar meninggalnya camat Balocci Burhan S.Sos, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *