Laporan Penelitian AJARAN SHALAWAT WAHIDIYAH DI TASIKMALAYA

LAPORAN PENELITIAN

AJARAN SHALAWAT WAHIDIYAH DI TASIKMALAYA

Oleh  : DR. KHAMAMI ZADA, SH, MA, MDCEF

Wakil Sekretaris Bidang Kajian dan Penelitian MUI Pusat

A. Latar Belakang

Aliran keagamaan Islam belakangan ini kian ramai diperbincangkan. Tidak lain,
karena aliran-aliran Islam yang berkembang di Indonesia mengalami perkembangan
yang menakjubkan seiring dengan perkembangan pemikiran keislaman dan afinitas
umat Islam dalam pengelolaan bathiniyah/keyakinan. Tak heran jika perkembangan
aliran-aliran Islam telah membuka tabir terhadap ajaran dan praktik keberagamaan
mereka yang dianut. Dalam konteks inilah, ajaran dan praktik keberagamaan kelompok
aliran Islam yang kian banyak menimbulkan pertanyaan serius, terutama tentang
kesesuaian dengan ajaran/syariat Islam.

Perjuangan Wahidiyah merupakan salah satu aliran keislaman yang mendapat
sorotan tajam di masyarakat. Kelompok ini lahir pada sekirat Juli 1959 yang didirikan
KH. Abdoel Madjid Ma’roef. Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Kedunglo, Desa
Bandar Lor, Kodya Kediri. Ia pernah menjabat sebagai pimpinan Syuriah NU
Kecamatan Mojoroto dan Syuriah PCNU Kodya Kediri. Namun setelah ia
menyampaikan Sholawat Wahidiyah dan ajarannya (1963) ia tidak aktif lagi di
organisasi NU. Pada awalnya, ia menerima suatu alamat ghaib dalam keadaan terjaga
dan sadar bukan dalam mimpi, maksud dan isi alamat ghaib tersebut untuk
memperbaiki/membangun mental masyarakat melalui jalan batiniyah.

Pada sekitar tahun 1963, ia menerima alamat ghaib lagi yang bersifat peringatan terhadap alamat
gaib yang pertama agar segera memperbaiki mental umat masyarakat melalui jalan
batiniyah. Shalawat Wahidiyah adalah rangkaian do’a shalawat dan dilengkapi tatacara
pengamalannya serta ajaran-ajarannya yang berfaidah menjernihkan hati.

Pada pertengahan tahun 1963, KH. Abdul Madjid Ma’roef memperoleh petunjuk yang ketiga
yang sifatnya lebih keras dari yang kedua. Bahkan dia diancam apabila tidak cepat-
cepat menolong umat masyarakat, maka akan terjadi kerusakan mental di masyarakat
terutama dalam hal kesadaran kepada Allah yang semakin parah.

2

Aliran Perjuangan Wahidiyah telah mengembangkan Shalawat Wahidiyah yang
merupakan rangkaian do’a shalawat termasuk bacaan surat fatihah. Selain itu, kelompok
ini telah melahirkan ajaran “lillah billah”, “lirrosul birrosul” dan lil ghauts bil ghauts.
Ajaran yang dikembangkan oleh Kelompok Wahidiyah ini tampaknya banyak diterima
oleh sebagian umat Islam.

Tak heran jika Perjuangan Wahidiyah kini telah menyebar
ke hampir seluruh pula Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, dan
Papua sebagai jalan bathiniyah yang bagi mereka ditujukan untuk memperbaikan mental
spiritual masyarakat. Bahkan, bukan hanya di Indonesia, perkembangan Kelompok
Wahidiyah ini sudah sampai ke Macau, Hongkong, dan Malaysia.

B. Tasikmalaya : Sejarah, Geografi, dan Demografi 1

Sejarah Tasikmalaya dimulai dari abad ke-7 sampai abad ke-9, ada
Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung,
dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain
raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung.
Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara
Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari
Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan
menjadi kerajaan.

Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13
Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari
Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang,
Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah
mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian.
Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M)
yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja
berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan Ibukota di
Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang
merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama
1 Data-data tentang sejarah, demografi, dan geografi kabupaten Tasikmalaya dan Kota
Tasikmalaya diambil dari sumber resmi pemerintah. Lihat http://www.jabarprov.go.id,
http://www.kemendagri.go.id, http://tasikmalayakab.go.id, portal.tasikmalayakab.go.id

3

adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sejaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem
Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sejaman dengan Prabu Surawisesa (1521-
1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai
terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak. Sunan
Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda untuk
mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya
terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem
Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka,
lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk Islam.
Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului oleh masa
pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang 10 tahun. Munculnya
pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal
abad XVII Masehi: Mataram, banten, dan VOC yang berkedudukan di Batavia.
Wirawangsa sebagai penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati daerah
Sukapura, dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung Mataram atas
jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri yang awalnya di
Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan “negara” disebut
“Sukapura”.

Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten
Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan Wiradadaha
VIII ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan ibukota ini dengan alasan
untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan Belanda dalam menghadapi
Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan kembali ke
Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis
bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi
penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan
di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya kurang memenuhi untuk
dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang ada di Galunggung.
Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi
Kabupaten Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai
Bupatinya. Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya

4

berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara pentasbihan
atau penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung.
Saat ini, Kabupaten Tasikmalaya merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa
Barat yang terletak di antara 7°02' 29" – 7°49' 08" Lintang Selatan serta 107°54' 10" – 108°25' 52" Bujur Timur. Secara administratif Kabupaten Tasikmalaya berbatasan
dengan wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis dan
Kabupaten Majalengka.
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Ciamis, DOB Kab Pangandaran
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Garut.

Luas wilayah Kabupaten Tasikmalaya secara keseluruhan adalah 2.708,82 km2,
dengan panjang garis pantai sekitar 54,5 km dan luas daerah penangkapan ikan (fishing
ground) sebesar 306 km2. Secara administratif Kabupaten Tasikmalaya terdiri dari 39
Kecamatan yang terdiri dari 351 desa. Tiga kecamatan mempunyai wilayah pesisir dan
lautan dengan luas total 200,72 km2 atau 7,41 persen dari luas wilayah Kabupaten
Tasikmalaya.

Jumlah penduduk Kabupaten Tasikmalaya berdasarkan Sensus Penduduk Tahun
2010 berjumlah 1.675.554 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk 0,88% dan tingkat
kepadatan penduduk rata-rata 637 jiwa/Km2. Pada tahun 2010, penduduk laki-laki
sebanyak 835.052 jiwa dan perempuan sebanyak 840.492 jiwa. Adanya sedikit
perbedaan jumlah penduduk antara tahun 2010 dan 2009 dikarenakan jumlah penduduk
tahun 2009 didapatkan dari proyeksi hasil Sensus Penduduk tahun 2000.

Pada waktu A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya tahun 1976
sampai dengan 1981 tonggak sejarah lahirnya kota Tasikmalaya dimulai dengan
diresmikannya Kota Administratif Tasikmalaya melalui peraturan Pemerintah Nomor
22 Tahun 1976 oleh Menteri Dalam Negeri H. Amir Machmud. Periwtiwa ini di tandai
dengan penandatangan Prasasti yang sekarang terletak di depan gedung DPRD
Kabupaten Tasikmalaya. Pada waktu yang sama dilantik pula Walikota Administratif
Pertama yaitu Drs. H. Oman Roosman oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Barat H.
Aang Kunaefi.

5

Berkat perjuangan unsur Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya yang dipimpin
Bupati saat itu H. Suljana WH beserta tokoh masyarakat Kabupaten Tasikmalaya
dirintislah pembentukan Kota Tasikmalaya dengan lahirnya tim sukses pembentukan
Pemerintahan Kota Tasikmalaya yang diketuai oleh H. Yeng Ds. Partawinata SH.
bersama tokoh – tokoh masyarakat lainnya. Melalui proses panjang akhirnya dibawah
pimpinan Bupati Drs. Tatang Farhanul Hakim, pada tanggal 17 Oktober 2001 melalui
Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001, Kota Tasikmalaya diresmikan oleh Menteri
Dalam Negeri atas nama Presiden RI di Jakarta bersama-sama dengan kota
Lhoksumawe, Langsa, Padangsidempuan, Prabumulih, Lubuk Linggau, Pager Alam,
Tanjung Pinang, Cimahi, Batu, Sikawang dan Bau-bau.

Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota
Tasikmalaya, telah mengantarkan Pemerintah Kota Administratif Tasikmalaya melewati
pintu gerbang Daerah Otonomi Kota Tasikmalaya untuk menjadi daerah yang
mempunyai kewenangan untuk mengatur rumah tangga sendiri.  Pembentukan
Pemerintah Kota Tasikmalaya tak lepas dari peran serta semua pihak maupun berbagai
steakholder di daerah Kota Tasikmalaya yang mendukung pembentukan tersebut.
Tentunya dengan pembentukan Kota Tasikmalaya harus ditindak lanjuti dengan
menyediakan berbagai prasarana maupun sarana guna menunjang penyelenggaraan
Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Berbagai langkah untuk mempersiapkan prasarana, sarana maupun personil serta
komponen-komponen lainnya guna menunjang penyelengaraan Pemerintahan Kota
Tasikmalaya telah dilaksanakan sebagai tuntutan dari pembentukan daerah otonom itu
sendiri.

Pada tanggal 18 Oktober 2001 pelantikan Drs. H. Wahyu Suradiharja sebagai PJ
Walikota Tasikmalaya oleh Gubernur Jawa Barat dilaksanakan di Gedung Sate
Bandung. Sesusuai Undang-Undang No. 10 Tahun 2001 bahwa wilayah Kota
Tasikmalaya terdiri dari 8 Kecamatan dengan jumlah Kelurahan sebanyak 15 dan Desa
sebanyak 54, tetapi dalam perjalanannya melalui Perda No. 30 Tahun 2003 tentang
perubahan status Desan menjadi Kelurahan, desa-desa dilingkungan Pemerintah Kota
Tasikmalaya berubah statusnya menjadi Kelurahan, oleh karena itu maka jumlah
kelurahan menjadi sebanyak 69 kelurahan, sedangkan kedelapan kecamatan tersebut
antara lain: Kecamatan Tawang, Kecamatan Cihideung, Kecamatan Cipedes,

6

Kecamatan Indihiang, Kecamatan Kawalu, Kecamatan Cibeureum, Kecamatan
Mangkubumi, dan Kecamatan Tamansari.
Sebagai salah satu syarat Pemerintah Daerah Otonom diperlukan alat
kelengkapan lainnya berupa Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Melalui surat
keputusan No. 133 Tahun 2001 Tanggal 13 Desember 2001 Komisi Pemilihan Umum
membentuk Panitia Pengisian Keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat
KotaTasikmalaya (PPK-DPRD). Melalui proses dan tahapan-tahapan yang dilaksanakan
PPK-DPRD Kota Tasikmalaya yang cukup panjang, maka pengangkatan anggota
DPRD Kota Tasikmalaya disyahkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat No.
171/Kep.380/Dekon/2002 Tanggal 26 April 2002, selanjutnya tanggal 30 April 002
diresmikannya keanggotaan DPRD Kota Tasikmalaya yang tetama kali. Pada tanggal 14
November 2002 dilantiknya Bp. Drs. H. Bubun Bunyamin sebagai Walikota
Tasikmalaya, pelantikan Walikota tersebut adalah segabai puncak momentum dari
pemilihan Kepala Daerah pertama di Kota Tasikmalaya sebagai hasil dari Tahapan
proses pemilihan yang dilaksanakan oleh Legislatif.

Kota Tasikmalaya secara geografis memiliki posisi yang strategis, yaitu berada
pada 108o 08' 38" – 108o 24' 02" BT dan 7o 10' – 7o 26' 32" LS di bagian Tenggara
wilayah Propinsi Jawa Barat. Kedudukan atau jarak dari Ibukota Propinsi Jawa Barat,
Bandung + 105, wilayah Kota Tasikmalaya berbatasan dengan :

Sebelah Utara : Kab. Tasikmalaya dan Kab. Ciamis (dengan batas sungai
Citanduy)

a. Sebelah Barat : Kab. Tasikmalaya
b. Sebelah Timur : Kab. Tasikmalaya dan Kab. Ciamis
c. Sebelah Selatan : Kab. Tasikmalaya (batas sungai Ciwulan)
Saat ini, Kota Tasikmalaya memiliki wilayah seluas 183,85 km2 yang meliputi
wilayah 10 Kecamatan, yaitu Cipedes, Cihideung, Tawang, Tamansari, Mangkubumi,
Kawalu, Indihiang, Cibeureum, Purbaratu dan Bungursari. Data ke-10 Kecamatan yang
mencakup 69 Kelurahan.

C. Sejarah dan Organisasi Perjuangan Wahidiyah di Tasikmalaya

Paham dan ajaran Wahidiyah di Tasikmalaya berkembang sejak lama, yang
dipraktikkan oleh masyarakat Muslim Tasikmalaya secara individu. Sejumlah

7

individu/orang Muslim Tasikmalaya telah mengamalkan Shalawat Wahidiyah yang
berasal dari Kyai Abdul Majid Ma’roef di Kedunglo, Kediri. 2 Perkembangan ini
semakin nyata setelah Ajengan Abbas menyebarkan Wahidiyah ke Tasikmalaya paska
mendapatkan ajaran ini di Kediri. Ajengan Abbas menyebarkan ajaran ini secara
individu perindividu kepada masyarakat Muslim di Tasikmalaya. 3

Pada 1990-an, Ajengan Abdul Khobir menjadi murid Ajengan Abbas yang
pertama kali menerima Shalawat Wahidiyah, kemudian menyusul yang lainnya.
Ajengan Abbas mengajak orang-orang Islam yang tertarik Wahidiyah ke pusat ajaran
ini di Kedunglo, Kediri untuk menimba ilmu langsung kepada gurunya (mursyid), Kyai
Abdul Latif Majid, pewaris pendiri Wahidiyah, Kyai Abdul Madjid Ma’roef, seorang
putra pendiri Nahdlatul Ulama, Kyai Ma’roef. 4

Penyebaran Wahidiyah ini didasari pada tujuan mulia untuk mengubah
masyarakat yang berbuat maksiat agar bershalawat dan berdzikir kepada Allah SWT
untuk mengubah seluruh perilaku buruknya menjadi lebih baik sesuai tuntunan ajaran
Islam. 5

Tak heran jika di Tasikmalaya, banyak para pemuda yang dulunya hidup dalam
perilku maksiat, setelah bergabung ke Shalawat Wahidiyah berubah menjadi dekat
kepada Allah SWT. Misalnya, di Desa Karetek, seorang geng motor bernama Dadang
Danial diajak Ajengan Abbas untuk bergabung ke Shalawat Wahidiyah. Setelah ia
menerima ajaran Shalawat Wahidiyah, berubah perilakunya menjadi lebih shaleh dan
taat kepada Allah SWT serta sukses usahanya. 6

Di Tasikmalaya, Wahidiyah resmi menjadi organisasi lahir pada 2002, yang
dipimpin langsung Ajengan Abbas. Organisasi ini diberi nama Yayasan Perjuangan
Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo. Organisasi ini tidak berafiliasi dengan
Penyiar Shalawat Wahidiyah (PSW) yang berpusat di Jombang, melainkan menginduk
ke Yayasan Perjuangan Wahidiyah di Kedunglo, Kediri. Bergabungnya penganut ajaran
Wahidiyah di Tasikmalaya ke Kedunglo, Kediri didasarkan pada hasil kesepakatan
bahwa menurut pengurus YPW, kepemimpinan Shalawat Wahidiyah diserahkan kepada

 

2 Wawancara dengan KH. Sodiqin, Sesepuh Wahidiyah Tasikmalaya di Tasikmalaya
3 Wawancara dengan Ajengan Abbas, 16 September 2017, di Tasikmalaya.
4 Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, di Tasikmalaya.
5 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya, 15
September 2017, di Tasikmalaya.
6 Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, di Tasikmalaya.

8

ahli waris sepeninggal Kyai Abdul Majid Ma’roef yang menetapkan penggantinya
adalah Kyai Abdul Latif Ma’roef. 7

Pada masa kepemimpinannya, ada gesekan dengan masyarakat, terutama setelah
terjadi pembakaran rumah konveksi milik Dadang dan keluarnya fatwa MUI yang
menyatakan bahwa Shalawat Wahidiyah di Kabupaten Tasikmalaya adalah sesat.
Beberapa tahun kemudian, MUI Kota Tasikmalaya juga menetapkan bahwa ajaran
Perjuangan Wahidiyah di Kota Tasikmalaya adalah sesat. 8 Fatwa sesat ajaran
Perjuangan Wahidiyah didasarkan pada buku pedoman Shalawat Wahiyah yang
mengandung unsur penyimpangan. Yaitu, Ghauts Hadza Zaman mempunyai
kewenangan Jallab dan Sallab (menanamkan dan mencabut iman seseorang) (Kumpulan
teks Wahidiyah), mendoktrin kepada ummat untuk meyakini bahwa Mualif Sholawat
Wahidiyah yang bernama Mbah H. Abdul Majid, RA sebagai Ghauts Hadza Zaman
(Kumpulan teks Wahidiyah), jika tidak ada Ghauts Hadza Zaman (yang dimaksud
Mbah H. Abdul Majid, RA), Allah akan menghancurkan dunia sekarang ini dan KH.
Abdul Majid, RA dianggap juru selamat bagi Ummat zaman sekarang (Kumpulan teks
Wahidiyah). Hal ini terdapat dalam Fatwa MUI No. 25/Kep/MUI-Kota TSM/VI/2005
tanggal 28 Juni 2005 tentang sebagian ajaran Yayasan Perjuangan Wahidiyah sangat
kontroversi dan meresahkan masyarakat dan
Fatwa MUI No. 45/Kep/MUI-TSM/V/2007 tanggal 25 Mei 2007 yang menyatakan
bahwa beberapa ajaran Wahidiyah dianggap menyimpang/tidak sesuai dengan Al-
Qur’an dan Al-Hadits. MUI Kota Tasik Malaya berpendapat bahwa sebagian ajaran
Yayasan Perjuangan Wahidiyah bertentangan dengan prinsip aqidah Islamiyah, karena
(1) mereka mendoktrinkan kepada umat untuk meyakini, bahwa Mu’allif Sholawat
Wahidiyah yang bernama Mbah H. ABDUL MADJID RA, sebagai Gauts Hadza Zaman
(Kumpulan Teks kuliah Wahidiyah). (2). do’a kepada Allah tidak akan sampai kalau
tidak melalui terlebih dulu Gauts tersebut (Kumpulan Teks Kuliah Wahidiyah), (3)
Gauts tersebut mempunyai kewenangan Jallab dan Sallab (menanamkan dan mencabut)
iman seseorang (Kumpulan Teks Kuliah Wahidiyah hal. 66), (4) bahwa kalau tidak ada

 

7 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya, 15
September 2017, Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, dan Wawancara
dengan Ajengan Abbas, 16 September 2017, di Tasikmalaya.

8 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya dan
Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, Wawancara dengan Abdul Qahar,
pengurus Propinsi YPW 15 September 2017, dan Wawancara dengan Ajengan Abbas, 16 September
2017, di Tasikmalaya.

9

Gauts (yang dimaksud mbah H. Abdul Madjid) Allah akan menghancurkan dunia
sekarang ini (Mbah H. Abdul Madjid dianggap juru selamat bagi umat zaman sekarang)
(Kumpulan Teks Kuliah Wahidiyah). Hal-hal tersebut diatas tidak ada satu petunjukpun
baik Al-Qur’an, Al-Hadist maupun qaul Ulama yang menyebut nama seseorang untuk
diposisikan seperti itu. 9

Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan pengurus Wahidiyah untuk
menglarifikasi ajaran yang dianut Wahidiyah Tasikmalaya. Para pengurus pernah
datang ke rumah Kyai Dudung Akasyah, selaku ketua MUI Kabupaten Tasikmalaya
untuk memperjelas paham ajaran Wahidiyah. Namun, pihak MUI tidak mau menerima
mereka. Hingga akhirnya, pengurus membuat tulisan yang berisi sanggahan terhadap
ajaran Wahidiyah yang difatwakan sesat. 10

Setelah kepemimpinan Ajengan Abbas berakhir, Yayasan Perjuangan
Wahidiyah dipimpin oleh Ade Nurjaman (2007-2011 yang berasal dari Pondok
Pesantren Nurul Falah Kampung Lebah Nended, Singaparna. Berikutnya kepemimpinan
YPW dilanjutkan kepada Agus Halim (2011-sekarang). 11 Pada masa kepemimpinan
Agus Halim inilah, YPW bergerak untuk semakin mendekatkan diri dengan masyarakat
dan tokoh-tokoh Islam untuk menjalin sinergi keumatan, sehingga di setiap kegiatan
Mujahadah Wahidiyah, para tokoh-tokoh Islam dan tokoh masyarakat diundang untuk
bergabung mengikuti acara mujahadah.

 

D. Ajaran Pokok Wahidiyah

Ajaran Wahidiyah adalah bimbingan praktis lahiriah dan batiniyah di dalam
mengamalkan menerapkan tuntunan Rasulullah mencakup bidang syariat, haqiqat
meliputi penerapan iman, pelaksanaan Islam, perwujudan ihsan, dan pembentukan
akhlakul karimah. 12 Bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah di dalam memanfaatkan
potensi lahiriyah ditunjang oleh pendayagunaan potensi batiniyah/spiritual yang
seimbang dan serasi.

 

9 Fatwa MUI No. 25/Kep/MUI-Kota TSM/VI/2005 tanggal 28 Juni 2005 dan
Fatwa MUI No. 45/Kep/MUI-TSM/V/2007 tanggal 25 Mei 2007
10 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya dan
Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, dan Wawancara dengan Ajengan Abbas,
16 September 2017, di Tasikmalaya.
11 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya, 15
September 2017, di Tasikmalaya.
12 Kuliah Wahidiyah untuk Menjernihkan Hati dan Ma’rifat Billah Wa Birasulihi SAW,
(YPWPPK: Kediri, 2011), h. 89.

10

“Jadi bimbingan praktis tersebut meliputi segala bentuk kegiatan hidup dalam
hubungan manusia terhadap Alloh wa Rosuulihi SAW. (hablun minalloh) dan
hubungan manusia di dalam kehidupan masyarakat sebagai insan sosial (hablun
minannas) hubungan manusia terhadap keluarga dan rumah tangga, terhadap
bangsa, negara dan agama, terhadap sesama umat manusia segala bangsa serta
hubungan manusia terhadap segala makhluq lingkungan hidup pada
umumnya”. 13

Di antara pokok ajaran Perjuangan Wahidiyah adalah sebagai berikut:

1. “LILLAH”

Menurut Wahidiyah, maksud dari konsep lillah adalah segala amal perbuatan
lahir dan perbuatan batin, baik yang berhubungan langsung dengan Allah dan
Rasulullah SAW (shalat, puasa, haji, baca Qur’an, baca sholawat dan sebagainya),
maupun yang berhubungan dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari (makan,
minum, tidur, istirahat, mandi, bekerja dan sebagainya) agar disertai dengan ikhlas
LILLAAHI TA’ALA tanpa pamrih suatu apapun, baik pamrih duniawi maupun pamrih
ukhrawi. Sebaliknya, menurut Wahidiyah, perbuatan-perbuatan yang melanggar
syari’at, melanggar undang-undang, yang tidak diridhoi Allah SWT, sama sekali tidak
boleh disertai niat ibadah LILLAH. Akan tetapi, semua perbuatan tersebut harus dijauhi
dan ditinggalkan, betapapun kecil dan remehnya.

“Masalah pamrih atau keinginan, ingin kepada hal yang menggembirakan dan
yang menyenangkan, ingin kepada kebaikan-kebaikan seperti ingin pahala, surga
dan sebagainya; atau takut dari perkara yang menakutkan seperti kesusahan,
penderitaan, siksa, neraka dan sebagainya, itu diperbolehkan. Sebab manusia
tidak lepas dari sifat basyariah yang mempuyai keinginan-keinginan dan
harapan-harapan serta kemauan-kemauan yang semuanya bersumber dari nafsu,
dan nafsu itupun anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia sehingga
menjadi makhluk yang lebih lengkap dan paling sempurna diantara makhluk
lainnya. Maka nafsu seperti itulah yang harus diarahkan. Menurut arah yang
telah digariskan Tuhan yaitu “Liya’ buduuni” tersebut. Diarahkan untuk ibadah
kepada Allah SWT. Jika tidak diarahkan, pasti akan terjadi ketimbunan hawa
nafsu yang serakah dan mengakibatkan penyelewengan dan penyalahgunaan
akhirnya menghancurkan manusia itu sendiri bahkan bisa menghancurkan umat
dan masyarakat”.

2. “BILLAH”

13 Kuliah Wahidiyah, h. 89

11

Dalam pandangan Wahidiyah, BILLAH artinya, di dalam segala perbuatan dan
gerak-gerik lahir maupun batin, di manapun dan kapan saja, supaya hati senantiasa
merasa bahwa yang menciptakan dan menitahkan itu semua adalah Allah SWT.
“Jadi jelasnya, di dalam kita melihat, mendengar, merasa, menemukan, bergerak,
berdiam, berangan-angan, berfikir dan sebagainya, supaya hati selalu sadar dan
merasa bahwa yang menggerakan yang menitahkan itu semua adalah Alloh.
Merasa BILLAH. Semuanya BILLAH. Tidak ada sesuatu yang tidak BILLAH.
Ini harus kita rasa di dalam hati. Tidak hanya cukup pengertian dan keyakinan di
dalam otak. Bukan sekedar pengertian ilmiyah saja. Kita membaca buku ini, kita
memahami buku ini BILLAH. Buku yang anda baca inipun BILLAH. Dan
kitapun BILLAH. Mari terus merasa begitu. Merasa BILLAH”. 14

Menurut Wahidiyah, sumber dari segala kehancuran, kebrobokan moral,
penyelewengan dengan penyalahgunaan, pertengkaran, permusuhan, kekacauan dan
sebagainya adalah nafsu yang memiliki ciri khas pamrih. Maka sifat pamrihnya nafsu
ini harus diarahkan dengan sistem penerapan niat LILLAH dan sadar BILLAH. Sifat
pamrih jika dibiarkan dan tidak diarahkan dengan niat BILLAH, maka akan bercokol di
dalam hati yang akan menjadi “Kerajaan Anaaniyah” atau rasa ke-Aku- Akuan atau
egosentris. Orang yang hatinya sudah dijajah oleh nafsu, segala langkah dan amal
perbuatannya disetir oleh nafsunya, dan diarahkan kepada apa yang menjadi kepuasan
hawa nafsu. Segala amalnya semata-mata hanya untuk menuruti kemauan nafsunya.
Tanpa memandang benar atau salah. Tidak perduli haq atau batal diterjangnya. Tidak
peduli sekalipun orang lain menderita, yang penting puas itulah sifat nafsu yang
serakah, dengki dan membabi buta. Hanya ingin enak, senang dan puas tanpa
memperhitungkan akibatnya. Padahal akibatnya pasti menjerumus kepada kehancuran,
kebinasaan dan kesengsaraan sebab tidak mengikuti tuntunan Allah SWT. 15

Menurut Wahidiyah, cara yang paling praktis dan tanpa resiko untuk menguasai
dan mengarahkan nafsu ialah terus-menerus menerapkan sadar BILLAH di samping niat
LILLAH, dan sambil dipupuk dengan mujahadah Shalawat Wahidiyah. Karena sadar
BILLAH adalah masalah yang paling pokok. Ini soal iman, soal tauhid yang
menentukan bahagia atau tidaknya seseorang. 16
Bagi Wahidiyah, pengeterapan niat LILLAH adalah terbatas pada hal-hal yang
tidak dilarang syari’at. Perbuatan yang dilarang syari’at, baik perbuatan lahir ataupun

14 Kuliah Wahidiyah, h. 98.
15 Kuliah Wahidiyah, h. 99.
16 Kuliah Wahidiyah, h. 100.

12

perbuatan batin sama sekali tidak boleh diniati ibadah LILLAH. Maka, maksiat sama
sekali tidak boleh diniati ibadah LILLAH sehingga tidak boleh dikerjakan. Sedangkan,
kesadaran rasa BILLAH itu mutlak, tidak terbatas. Segala tingkah laku lahir maupun
batin, harus merasa BILLAH tanpa membeda-bedakan ta’at atau ma’siat. Sekalipun di
dalam keadaan ma’siat (baik yang tidak disengaja maupun yang disengaja) harus
merasa BILLAH. 17

3. “LIRROSUL”

Menurut Wahidiyah, segala amal ibadah atau perbuatan apa saja asal tidak
melanggar syari’at Islam, harus niat LILLAH dan LIRROSUL.
“Dengan tambahan LIRROSUL disamping niat LILLAH seperti itu, nilai
kemurnian ikhlas makin bertambah bersih. Tidak mudah diridu (digoda) oleh
Iblis, tidak gampang disalah gunakan oleh kepentngan nafsu. Di samping itu,
pengetrapan LIRROSUL juga merupakan diantara cara ta’alluq bijanaabihi
SAW – hubungan atau konsultasi batin dengan kanjeng nabi SAW.

Dengan mengetrapkan LIRROSUL disamping LILLAH secara terus-menerus insyaalloh
lama-lama hati dikaruniai suasana seperti mengikuti Rosululloh SAW, atau
seperti bersama-sama dengan Rosululloh SAW dimana saja kita berada terutama
ketika menjalankan amal-amal ibadah apa saja. Dengan demikian situasi batin
kita benar-benar menduduki “hakikatnya mengikuti” atau mengikuti secara
hakiki seperti sudah kita bahas dimuka, HAQIIQOTUL MUTAABA’AH
RU’YATUL MATBUU’I ‘INDA KULLI SYAI-IN” : mengikuti yang haqiqi
harus melihat kepada yang diikuti pada segala keadaan segala sesuatu dan
kondisi.” 18

Oleh karena itu, dalam paham Wahidiyah, orang yang hatinya selalu merasa
mengikuti Rasulullah SAW, di samping niat ibadah kepada Allah SWT dalam segala
perbuatan yang tidak melanggar syari’at agama dan undang-undang, sikapnya selalu
hormat dan tawadhu’ kepada siapapun, bahasa sikap dan bahasa ucapannya senantiasa
sopan dan ramah, sebab disinari oleh pancaran takholluq bi akhlaqillaahi wa bi akhlaaqi
Rosuulihi SAW. Selalu hormat kepada yang di atasnya dan kasih sayang kepada yang di
bawahnya. Senang menolong kepada orang lain dan masyarakat, baik diminta ataupun
tidak diminta. Mudahnya, dia ketularan akhlaq Rasulullah SAW, yang rahmatan
lil’alamiin. Ketika menjalankan amal-amal ibadah, dia lebih berhati-hati, agar jangan

17 Kuliah Wahidiyah, h. 106.
18 Kuliah Wahidiyah, h. 110.

13

sampai tingkah lahir dan batinnya merusak amal ibadahnya sehingga ditolak oleh Allah
SWT. 19

5. “BIRROSUL”

Ini termasuk bidang haqiqat seperti halnya dengan BILLAH, sedangkan LILLAH dan
LIRROSUL adalah bidang syari’at. Penerapan BIRROSUL dalam pandangan
Wahidiyah ialah di samping sadar BILLAH, supaya juga sadar dan merasa bahwa
segala sesuatu termasuk diri kita sendiri dan gerak-gerik diri kita lahir maupun batin
yang diridhoi Alloh, adalah sebab jasa Rasulullah SAW. 20

“Jadi, dalam segala langkah dan gerak-gerik kita lahir maupun batin yang
bagaimana saja asal tidak melanggar syari’at Rosul SAW, hati kita merasa
menerima jasa dari Rosululloh SAW, jasa tersebut terus mengalir
berkesinambungan tiada putus-putusnya. Jika dihindari sekejap saja oleh jasa
Rosululloh SAW, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan wujud kita pun jika
dihindari oleh jasa Rosul SAW, menjadi ‘adam (tidak ada) seketika.

Jadi pengetrapan BIRROSUL itu seperti BILLAH akan tetapi terbatas, tidak mutlak
seperti BILLAH. Terbatas hanya dalam hal-hal yang diridhoi Alloh wa Rosulihi
SAW. Maka ketika dalam ma’siat misalnya, tidak boleh merasa BIRROSUL.
Akan tetapi merasa BILLAH, harus. Pembatasan tersebut adalah mengisi bidang
adab. Dan kita harus menempatkan segala sesuatu pada kedudukan atau proporsi
yang sebenarnya. Bidang syari’at harus kita isi sepenuh-penuhnya dan setepat
mungkin, dan bidang haqiqot juga harus kita terapkan setepat mungkin. Begitu
juga bidang adab harus kita isi setepat-tepatnya, tidak boleh kita abaikan !.” 21

Dengan menerapkan LIRROSUL BIRROSUL di samping LILLAH BILLAH,
manusia dapat menundukkan dirinya sebagai hamba Allah dan sebagai umat
Muhammad Rasulullah SAW yang benar. Orang yang seperti ini akan dilindungi oleh
Allah dan didukung oleh Rasulullah SAW di dalam hidup dan kehidupannya. Hidupnya
benar-benar membawa berkah bagi orang lain dan bagi masyarakat, bagi bangsa dan
negaranya, bahkan bagi umat manusia dan makhluk pada umumnya. Mereka merasa
seolah-olah dirinya seperti dilihat oleh Rasulullah SAW dan senantiasa diincar oleh
Allah SWT sehingga dia tidak berani berbuat yang tidak diridhai Allah SWT dan Rasul-
Nya. Allah SWT menjamin orang seperti itu, selamat dari azab siksa Allah SWT. 22

19 Kuliah Wahidiyah, h. 111.
20 Kuliah Wahidiyah, h. 112.
21 Kuliah Wahidiyah, h. 112.

14

6. “LILLAH BILLAH”

Menurut Wahidiyah, LILLAH BILLAH bukan suatu upacara keagamaan,
melainkan keseragaman sikap hati manusia beragama atau manusia yang beriman
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi LILLAH BILLAH seharusnya menjadi
keseragaman paham bagi setiap manusia yang menyatakan diri sebagai hamba Tuhan
Maha Esa. 23

“Kita semua setiap bangsa Indonesia diberi kemampuan dapat mengetrapkan itu.
Semua !. Dari segenap lapisan masyarakat bangsa Indonesia. Dari pemeluk
agama apa saja dan dari pengikut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
mana saja, mampu mengetrapkan LILLAH BILLAH tidak membutuhkan syarat-
syarat yang berat, tidak membutuhkan ilmiyah yang sukar-sukar. Tidak
memerlukan batasan tingkatan-tingkatan hidup dan tidak ada pembatasan umur
sudah dewasa atau belum dewasa. Semua, sekali lagi semua, diberi kemampuan
oleh Alloh Tuhan Yang Maha Pencipta ada kemauan. Hanya modal kemauan ini
yang diperlukan. Siapa ada kemauan pasti menemukan jalan”. 24

7. “LIRROSUL BIRROSUL”

Menurut Wahidiyah, konsep ini terbatas, tidak universal seperti LILLAH
BILLAH, terbatas hanya dapat dilakukan oleh orang yang beragama Islam saja. Umat
agama selain Islam ada halangan untuk menerapkannya. Umat Islam wajib menerapkan
LIRROSUL BIRROSUL di samping LILLAH–BILLAH, sebagai konsekuensi
batiniyah selaku umat Rasulullah SAW. 25

LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL merupakan realisasi praktis
atau konsekuensi batiniyah dari dua Kalimah Syahadat. Jadi orang yang senantiasa
LILLAH – BILLAH dan LIRROSUL – BIRROSUL ini berarti terus-menerus hatinya
musyahadah tauhid dan musyahadah risalah. Istilah lainnya adalah, hatinya terus
menerus membaca kalimah syahadatain dengan penuh pengabdian, penghayatan dan
kesadaran yang mendalam. 26

Kesadaran kepada Allah dan Rasulullah SAW adalah masalah prinsip bagi
setiap umat Rasullullah SAW yang akan menentukan bahagia atau sengsara. Oleh

22 Kuliah Wahidiyah, h. 114.
23 Kuliah Wahidiyah, h. 115.
24 Kuliah Wahidiyah, h. 116.
25 Kuliah Wahidiyah, h. 118.
26 Kuliah Wahidiyah, h. 118.

15

karena itu, bagi Wahidiyah kesadaran diusahakan dengan serius, di samping
memperhatikan soal-soal lain. Bahkan, justru di dalam diri umat Islam diperintahkan
untuk melaksanakan dan mengisi bidang-bidang kehidupan untuk selalu dijiwai
LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL secara terus-menerus. 27

Menurut Wahidiyah, tumbuhnya rasa LILLAH BILLAH, LIRROSUL
BIRROSUL atau penerapan dzauqiyahnya tergantung kepada HIDAYAH dari Allah
SWT. Dan untuk memperoleh hidayah ini diperlukan bantuan dan bimbingan dari
Penuntun atau Pembimbing. Yaitu orang yang menerima tugas dari Allah SWT untuk
membimbing masyarakat di dalam perjalanan wushul ma’rifat kepada Allah SWT dan
Rasulullah SAW. Di dalam dunia tasawuf, pembimbing tersebut dikenal sebagai
Mursyid yang Kaamil dan Mukammil, orang yang sudah sempurna dan mampu
menyempurnakan orang lain.

Di dalam perjalanan manusia menuju wushul – sadar ma’rifat kepada Allah dan
Rasulullah SAW, jika tidak ada yang membimbing, pada umumnya mengalami
kebingungan dan tersesat jalan oleh berbagai gangguan dari Iblis yang sangat halus
sekali sehingga yang bersangkutan tidak merasa. Soal kesadaran, soal wushul ma’rifat
kepada Allah dan Rasulullah SAW, harus melalui Pembimbing yang berkompeten
mengantarkan wushul, tidak cukup hanya mempelajari teorinya saja. 28

8. “LILGHOUTS”

Wahidiyah berkeyakinan (seperti keyakinan dalam dunia tasawuf) bahwa
Ghouts Hadzaz Zaman RA adalah Priagung yang berkompeten di zaman sekarang
mengantarkan dan membimbing masyarakat sadar kepada Allah SWT dan Rasulullah
SAW. Oleh karena itu, para pengamal Wahidiyah dan masyarakat perlu dan harus
mengadakan hubungan dengan Ghouts Hadzaz Zaman, terutama hubungan secara
batiniyah dengan menerapkan di dalam hati “LIL GHOUTS BIL GHOUTS”. 29

Cara penerapannya sama dengan penerapan LILLAH dan LIRROSUL. Yaitu di
samping niat ikhlas ibadah kepada Allah dan niat mengikuti tuntunan Rasulullah SAW,
supaya ditambah lagi niat mengikuti bimbingan Ghouts Hadzaz Zaman Ra, LIL
GHOUTS. Ini penerapan niat di dalam hati. Jadi tidak merubah ketentuan–ketentuan

27 Kuliah Wahidiyah, h. 118.
28 Kuliah Wahidiyah, h. 119.
29 Kuliah Wahidiyah, h. 120.

16

lain di bidang syari’at. Dan juga terbatas kepada soal–soal yang diridhoi Allah SWT
dan Rasulullah SAW. Hal–hal yang terlarang seperti ma’siat misalnya, sama sekali
tidak boleh disertai niat LIL GHOUTS !. 30

Wahidiyah yakin bahwa orang yang paling benar kembali kepada Allah pada
zaman sekarang ini adalah Ghouts Hadzaz Zaman Ra. Ia adalah orang yang
“AALIMUN BILLAAHI WABI AHKAAMIHI” orang yang Arif Billah dan menguasai
(faham dan menerapkan) hukum-hukum Allah SWT. Ia adalah seorang Mursyid yang
Kaamil Mukammil. 31

9. “BILGHOUTS”

Dalam pandangan Wahidiyah, penerapan “BILGHOUTS” sama dengan
penerapan BIRROSUL, yaitu sadar dan merasa mendapat bimbingan rohani dari Ghouts
Hadzaz Zaman Ra, yang selalu memancar kepada seluruh umat dan masyarakat, baik
disadari maupun tidak disadari. Sebab, pancaran bimbingan Ghouts Hadzaz Zaman lah
yang menuntun “Inaabah”, kembali kepada Allah SWT atau pancaran “FAFIRRU
ILALLOH WA ROSUULIHI SAW“, itu memancar secara otomatis sebagai butir-butir
mutiara yang keluar dari lubuk hati seseorang yang “Takholuq bi Akhlaaqi Rosuullillahi
Shollalloohu ‘alaihi wassalam” yang juga “Rohmatan lil ‘alamin”. 32

Pengetrapan LILGHOUTS BILGHOUTS boleh dikatakan termasuk
penyempurnaan syukur kita kepada Alloh SWT. Artinya, disamping kita
bersyukur kepada Alloh Pelimpah segala taufiq, hidayah dan segala ni’mat, kita
harus syukur/terima kasih, sekurang-kurangnya mengerti kepada siapa yang
menjadi sebab datangnya ni’mat tersebut. Kalau tidak demikian, yakni hanya
syukur kepada Alloh saja dan tidak mau tahu kepada orang yang menjadi
sebabnya ni’mat diberikan oleh Alloh, maka syukur yang demikian itu sesuai
sabda Rosululloh SAW, masih belum bisa dikatakan syukur yang bersungguh-
sungguh syukur : 33

Wahidiyah yakin bahwa penerapan LILGHOUTS BILGHOUTS jika dipelihara
dengan baik dan dengan segala adab-adabnya, besar sekali menimbulkan rangsangan di
dalam penerapan LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL secara otomatis.

30 Kuliah Wahidiyah, h. 120.
31 Kuliah Wahidiyah, h. 120.
32 Kuliah Wahidiyah, h. 121.
33 Kuliah Wahidiyah, h. 121.

17

Begitu menerapkan LILGHOUTS BILGHOTS, maka spontan terasa LILLAH BILLAH
dan LIRROSUL BIRROSUL. 34

10. “YUKTI KULLA DZI HAQQIN HAQQOH”

Konsep “YUKTI KULLADZI HAQQIN HAQQOH” dalam keyakinan
Wahidiyah ialah berusaha mengisi dan memenuhi segala bidang kewajiban,
mengutamakan pemenuhan kewajiban di segala bidang daripada menuntut hak, baik
kewajiban-kewajiban terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW, maupun kewajiban-
kewajiban dalam berhubungan dengan masyarakat di segala bidang, dan terhadap
makhluq pada umumnya. 35

“Di dalam berhubungan hidup satu sama lain selalu timbul hak dan kewajiban
yang kait mengait satu sama lain. Kewajiban A terhadap B, merupakan haknya
B dari A. Demikian pula kewajiban B terhadap A, merupakan haknya A dari B.
Maka diantara hak dan kewajiban itu, manakah yang harus diutamakan ?.
Jawabnya, adalah pemenuhan kewajiban masing-masing, dengan tanpa menuntut
hak. Soal hak, tidak usah dijadikan tuntutan, asal kewajiban dipenuhi dengan
baik, otomatis apa yang menjadi haknya datang dengan sendirinya”. 36

Contohnya, sang suami mempunyai hak memperoleh pelayanan yang baik dari
istri, akan tetapi juga mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap istri. Istri mempunyai
hak nafkah, bimbingan dan perlindungan dari suami, akan tetapi juga mempunyai
kewajiban khidmah atau memberikan layanan yang baik terhadap suami. Maka yang
harus diutamakan oleh suami, yaitu memenuhi kewajiban nafkah, melindungi dan
memberikan bimbingan kepada istri, tanpa menuntut hak pelayanan dari istri.
Sedangkan istri memenuhi kewajiban menghormati dan memberikan pelayanan yang
baik, tanpa menuntut hak nafkah, hak perlindungan, hak bimbingan dan lain-lain dari
suami. 37

Begitu juga pemerintah berhak ditunduki dan dituruti oleh rakyat, akan tetapi
berkewajiban membimbing dan memajukan rakyat. Maka yang harus diutamakan oleh
pemerintah adalah kewajiban membimbing dan melindungi dan memajukan rakyat.
Sebaliknya begitu juga. Rakyat berhak mendapat bimbingan dan perlindungan dari

34 Kuliah Wahidiyah, h. 121.
35 Kuliah Wahidiyah, h. 122-123.
36 Kuliah Wahidiyah, h. 123.
37 Kuliah Wahidiyah, h. 123.

18

Pemerintah, akan tetapi juga mempunyai kewajiban taat dan setia kepada pemerintah.
Maka yang harus dijalankan oleh rakyat hanyalah tunduk dan taat kepada pemerintah
tanpa memperhitungkan apa yang menjadi haknya. Sekali lagi apabila kewajiban
dipenuhi dengan baik, otomatis hak datang dengan sendirinya dengan baik pula. 38

11. “TAQDIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’ ”.

Ketika menjumpai lebih dari satu macam persoalan yang harus diselesaikan
dalam waktu yang bersamaan, maka dipilih di mana yang lebih penting. Jika sama-sama
penting, maka dipilih yang lebih besar manfa’atnya. Demikianlah ajaran Wahidiyah
dalam “TAQDIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’ ”.
Artinya, ajaran Wahidiyah menegaskan bahwa mendahulukan yang lebih aham (lebih
penting), kemudian jika sama-sama pentingnya dipilih yang lebih besar manfaatnya. 39

Untuk menentukan pilihan mana yang “aham” dan mana yang “anfa”,
Wahidiyah memiliki pedomannya. Yaitu, segala hal yang berhubungan langsung kepada
Allah SWT dan Rasulullah SAW terutama yang wajib, pada umumnya harus dipandang
AHAM (lebih penting). Dan segala hal yang manfaatnya dirasakan juga oleh orang lain/
masyarakat banyak, harus dipandang anfa’ (lebih besar manfa’atnya).
Dikatakan “pada umumnya”, sebab mungkin pada suatu sa’at. Karena adanya
hal-hal yang baru muncul atau karena situasi dan kondisi pelaksanaannya dapat
menyimpang dari ketentuan tersebut. Misalnya, suatu ketika kita sedang
mujahadah atau ibadah sunnah lainnya, kemudian ada tamu datang, lebih-lebih
tamu dari jauh dan sangat penting, maka dalam keadaan seperti itu kita harus
memutuskan mujahadah atau ibadah sunnah tadi dan menemui tamu tersebut.
Setelah selesai menemui tamu, mujahadah dapat diteruskan lagi. Contoh lain,
kita sedang sholat di pinggir sungai misalnya, lalu terdengar jeritan orang hanyut
disungai itu minta tolong. Maka kita harus membatalkan sholat dan menolong
orang yang minta tolong itu. 40

Dengan demikian, Wahidiyah berkesimpulan bahwa perkara atau hal yang tidak
menjadikan sebabnya dekat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, tidaklah
bermanfa’at, melainkan madhorot atau membahayakan. Dengan kata lain, jika tidak
mengarahkan kepada pendekatan diri kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, tidak

38 Kuliah Wahidiyah, h. 124.
39 Kuliah Wahidiyah, h. 124.
40 Kuliah Wahidiyah, h. 125.

19

akan menghasilkan manfa’at, melainkan malah mendatangkan bahaya. Wahidiyah
mencontohkan, shalat yang tidak membawa pendekatan diri kepada Allah adalah shalat
yang tidak hudhur hatinya, lebih-lebih yang bercampur dengan ujub, riya’, takabbur dan
lain-lain. Begitu juga ibadah-ibadah lain. Sebab adanya Allah Ta’ala memberikan
kewajiban kepada hamba-NYA dan memberikan tuntunan hidup kepada manusia,
memberikan kesempatan hubungan di dalam pergaulan hidup ini, tidak lain Allah
menghendaki agar para hamba-NYA mau mendekat kepada-NYA sehingga menjadi
hamba yang sadar kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. 41

E. Ajaran Khusus

1. Ghauts Hadzaz Zaman

Ajaran Pokok Perjuangan Wahidiyah sebagaimana yang diajarkan pendiri di
Kedunglo Kediri adalah, lillah billah, lirrasul bir rasul, lil ghauts bil ghauts. Hanya saja
ajaran tentan al-gauts inilah yang menjadi pokok permasalahan karena dianggap
menyimpang. Menurut pengurus YPW Tasikmalaya, al-ghauts adalah penolong. Siapa
yang menolong, dia lah sang mursyid, yaitu Kyai Abdul Majid Ma’roef, yang sekarang
digantikan Kyai Abdul Latif Ma’roef. 42 Al-Gauts inilah yang juga disebut sebagai
jabatan wali di mana dari 320 jabatan wali, yang paling agung adalah al-ghauts. Al-
ghauts adalah penolong kebaikan apa pun. Di sinilah, penganut Shalawat Wahidiyah
menganggap bahwa Kyai Abdul Majid Ma’roef dan Kyai Abdul Latif Ma’roef adalah
al-ghauts, mursyid, dan wali di mana sebagai al-ghauts memiliki kemampuan untuk
memberikan pertolongan dengan doanya karena mursyid diangkat oleh Allah SWT. 43

Menurut Aliran Shalawat Wahidiyah, ghauts bermakna pertolongan sehingga
seorang ghauts adalah orang yang memberi pertolongan, penuntun atau pembimbing
kepada kebaikan, keselamatan dan kebahagiaan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya di
dunia dan akherat. Seorang ghauts adalah penuntun dan pentarbiyah menuju wushul
sadar ma’rifat kepada Allah dan rsul-Nya dan penolong dari berbagai kesulitan dan
kesusahan dan problem-problem kehidupan lainnya. Bagi Wahidiyah, dalam dunia wali
yang dimaksud ghauts adalah sulthanul awliya atau quthbul aqthob, yakni pemimpinnya

41 Kuliah Wahidiyah, h. 126.
42 Wawancara dengan pengurus YPW Tasikmalaya, seperti Agus Halim dan YPW Pusat KH.
Abdul Ghafur, 16 September 2017 di Tasikmalaya.
43 Wawancara Ahmad Dimyathi, Pengurus YPW Provinsi Jawa Barat, 16 September 2017 di
Tasikmalaya.

20

para wali Allah. Jadi “GHOUTS HADZAZ ZAMAN” adalah pemimpin para wali Allah
pada zaman sekarang. Jika ghauts meninggal dunia diganti oleh yang lainnya sampai
hari kiamat. Aliran ini mengutip kitab Masyaariqul-Anwar yang menyebutkan bahwa
ghouts yang pertama kali ialah Sayyidina Hasan bin ‘Ali, kemudian digantikan
Sayyidina Husen Bin ‘Ali  Rodhiyalloohu ‘Anhumaa dan seterusnya. Selain itu, Syekh
Abdus-Salam bin Masyisy, Syekh Abdul Qodir al-Jaelani, Syekh Abil Hasan As-
Syadzili, Syekh Bahauddin an-Naqsyabandi dan masih banyak lagi lainnya, mereka
adalah Ghouts fii Zamanihi atau Sulthonul Auliya’ di zamannya. 44

Di dalam menjalankan fungsinya sebagai Ghoutsuz Zaman, mereka tidak sama
kebijaksanaannya. Ada yang diharuskan memproklamirkan diri seperti Syekh Abdul
Qodir al-Jaelani dan Syekh Abu Hasan as-Syadzili. Ada juga yang harus merahasiakan
diri seperti Syekh Abdus Salam bin Masyisy dan Imam Nawawi al-Murojjeh al-
Falastin. Ada lagi yang diberi wewenang boleh merahasiakan dan boleh
memproklamirkan. 45

Dalam pandangan Wahidiyah, Ghoutsuz Zamaan tampak seperti umumnya
orang/ulama’, akan tetapi memiliki ciri-ciri khas batin seperti yang disebutkan di dalam
kitab Jaami’ul Ushuul Fil Auliyaa, yaitu :

(1). Hatinya senantiasa thowaf kepada Allah
sepanjang masa. Istilah Wahidiyah senantiasa LILLAH BILLAH.

(2). mempunyai sirri
yang dapat menerobos kepada seluruh alam, seperti meratanya roh di dalam jasad atau
seperti merebesnya air di dalam pohon-pohonan.

(3). menanggung (memprihatinkan)
kesusahan dan kesulitan ahli dunia. 46

Fungsi dan peran Ghoutsu Zaman menurut Wahidiyah begitu berat memikirkan
dan memperhatinkan masyarakat sedunia. Perjuangannya terutama berada di dalam
cakrawalanya alam rohani. Sedangkan kegiatan lahiriyah juga sama dengan umumnya
ulama’, yakni menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan kebenaran dan
keadilan, mengajak dan menuntun umat masyarakat kembali sadar kepada Allah dan
Rasul-Nya, disamping itu menjalankan tugas-tugas ikemanusiaan, memberikan
pertolongan dan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan hidup yang dialami oleh
masyarakat dalam berbagai macam problem.

44 Kuliah Wahidiyah, h. 138-139.
45 Kuliah Wahidiyah, h. 142.
46 Kuliah Wahidiyah, h. 142.

21

Aliran Perjuangan Wahidiyah meyakini bahwa Ghoutsuz Zaman langsung
dipilih dan diangkat oleh Allah SWT. Jadi bukan hasil pilihan dan diangkat sesama
manusia atau sesama Auliya’ sekalipun. Aliran meyakini bahwa Ghoutsuz Zaman
adalah “atqon-naas fii zamanihi” – orang yang paling bertaqwa pada zamannya, insan
yang Kamiil Mukammil, orang sempurna dan mampu membimbing dan menjadikan
orang lain menjadi sempurna. 47

Dalam pandangan Wahidiyah, seorang guru Mursyid yang mampu membimbing
orang lain untuk wushul/sadar/ ma’rifat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang
“ALIMUN BILLAHI WA BIAHKAAMIHI”, seorang yang ‘arif billah yang menguasai
dan konsekwen menjalankan hukum-hukum Allah. Tak heran jika aliran ini berpendapat
bahwa dalam bidang hukum-hukum syari’ah, Ghoutsuz Zaman adalah seorang hakim
yang adil dan bijaksana. Pendapatnya di dalam menetapkan sesuatu hukum selalu tepat
dan adil oleh karena pandangan-pandangannya disinari oleh Nuu Ilahi yang murni
sebagai buah dari ciri khas batin dimana hatinya thowaf kepada Allah SWT sepanjang
masa. 48

Para pengamal Wahidiyah dapat mengadakan kontak hubungan dengan Ghouts
Hadzaz Zaman, terutama hubungan rohani atau konsultasi batin dalam segala persoalan
dunia dan akhirat, khususnya dalam bidang wushul/ma’rifat/sadar kepada Allah dan
Rasul-Nya.  Caranya dengan melaksanakan “LILGHOUTS BILGHOUTS”. 49

Tentang kerugian orang yang tidak dapat berhubungan dengan orang yang
Kamil Mukammil, Wahidiyah merujuk pendapat Syekh Dawud bin Makhola di dalam
Kitab Taqriibul Ushul: “Barang siapa hidup di dunia ini tidak bertemu dengan
seseorang yang Kamil Mukammil yang mendidiknya, maka dia akan keluar dari dunia
(meninggal dunia) dalam keadaan berlumuran dosa besar, sekalipun ibadahnya seperti
ibadahnya jin dan manusia.” 50

Adapun siapa orangnya Ghouts Hadzaz Zaman, di dalam pengalaman Sholawat
Wahidiyah tidak diisyaratkan harus mengetahuinya karena tidak ada identitas lahir yang
dapat dikemukakan tentang pribadi seorang Ghouts, oleh karena keadaan lahirnya biasa-
biasa saja seperti umumnya ulama’. Pengamal Wahidiyah hanya diminta percaya

47 Kuliah Wahidiyah, h. 143.
48 Kuliah Wahidiyah, h. 143.
49 Kuliah Wahidiyah, h. 144.
50 Kuliah Wahidiyah, h. 148.

22

adanya Ghouts Hadzaz Zaman, percaya akan fungsinya, percaya akan wewenangnya,
percaya keistimewaan-keistimewaan yang dikaruniakan kepada Ghouts Hadzaz Zaman
berupa barokah dan karomah, kemampuan nadhroh dan tarbiyah di dalam perjalanan
wushul ma’rifat kepada Allah SWT. Di dalam ajaran Wahidiyah dikenal dengan istilah
kesadaran FAFIRRU ILALLAH WA ROSUULIHI SAW. Percaya bahwa beliau
Ghouts Hadzaz Zaman adalah perantara para pengamal Wahidiyah dikaruniai rahmat
fadhilah Allah SWT dan syafa’at Rasulullah SAW berupa kejernihan hati, ketenangan
batin dan ketentraman jiwa dari barokah mengamalkan Sholawat Wahidiyah. 51

Dengan demikian, tidak tidak semua Pengamal Wahidiyah mengetahui dan
mengenal secara jasmani maupun rohani Ghouts Hadzaz Zaman. Jika ada diantara para
Pengamal Wahidiyah mengetahui dan mengenal siapa Ghouts Hadzaz Zaman, itu
adalah suatu fadhilah dan rahmat dari Allah SWT. Dia tidak boleh memperbincangkan
siapa Ghouts Hadzaz Zaman, lebih-lebih terhadap orang yang masih belum menerima
Wahidiyah karena khawatir akan terhijab di dalam hati. 52

2. Sallab dan Jallab

Dalam pandangan Wahidiyah, ghauts hadza zaman memiliki kemampuan salab
dan jalab, yaitu mencabut dan menarik iman. Versi pertama menurut penganut Shalawat
Wahidiyah, seorang ghauts/mursyid/wali memiliki kemampuan untuk mencabut iman
seseorang ketika mengajak berbuat kemaksiatan (sallab), dan memiliki kemampuan
untuk menarik iman (jallab) ketika mengajak kepada kebaikan. Versi yang lain
memahami bahwa wali mempunyai kemampuan untuk mencabut iman seseorang
dengan doanya. Maksudnya, adalah bahwa tetap yang hakiki adalah Allah SWT.
Wali/mursyid hanya diberi kemampuan oleh Allah SWT dengan doanya untuk
mencabut dan menarik iman. 53

Di dalam bidang kesadaran kepada Allah dan rasul-Nya, Ghoutsuz Zaman
dikarunia hak dan wewenang yang disebut “JALLAB” dan “SALLAB”. “Jallab” yaitu
menarik, mengangkat, meningkatkan derajat dan iman seseorang. “Sallab” yaitu

 

51 Kuliah Wahidiyah, h. 148.
52 Wawancara dengan Ahmad Dimyathi, Pengurus YPW Provinsi Jawa Barat.
53 Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya, Ajengan
Khobir, Abdul Qahar, 15 September 2017, 15 September 2017, dan Wawancara dengan Ajengan Abbas,
16 September 2017, di Tasikmalaya.

23

mencabut/melorot martabat iman seseorang. Aliran Wahidiyah menyadari bahwa Jallab
dan Sallaab, tidak terdapat dalam al-Qur’an dan hadits. 54

Menurut Wahidiyah, jallab dan sallab memiliki makna umum dan
khusus. Makna umum jallab dan sallab dapat dimiliki oleh setiap makhluk. Aliran ini
mengumpamakan misalnya, air dapat men-salaab (merampas) rasa haus, serta dapat
men-jalaab (mendatangkan) kesegaran tenggorokan atau tubuh, api dapat men-jalaab
(mendatangkan, membuat) masakan menjadi masak, serta dapat men-salaab air
(membuat air berubah menjadi uap). Jika, seseorang memahami kekuatan air atau api
keluar dari diri air atau api (tanpa izin dari Allah Swt, tanpa didasari prinsip billah) itu
sendiri, maka iman orang tersebut masih bercampur dengan paham syirik. Sedangkan
makna khusus jallab dan sallab hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang
dikehendaki oleh Allah Swt, dan sangat berkaitan dengan sesuatu yang gaib, seperti
kondisi ahwal setiap salik atau keimanan seseorang. Misalnya, bila dalam lingkungan
suatu kaum terdapat seorang Ulama atau Kiyai, maka iman masarakat akan meningkat,
atau bila dalam lingkungan masarakat terdapat tempat maksiat, maka iman sebagian
masarakat akan melorot. 55

Jika dipahami dengan paham yang syirik, maka timbul kesimpulan bahwa iman
manusia dapat naik atau turun bukan disebabkan oleh kekuasaan Allah Swt, namun oleh
manusia lain atau oleh lingkungan. Karena itulah, aliran Wahidiyah berpandangan
bahwa di dalam kaidah Islam, tidak ada makhluk (termasuk Rasulullah Saw dan al-
Ghauts Ra) yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat atau menolak
kerugian tanpa izin Allah Swt. Jika makhluk dapat mendatangkan manfaat atau menolak
kemadlaratan, baik untuk dirinya atau untuk yang lainnya, semata-mata hanya atas izin
dan kehendak dari Allah Swt. 56

Dalam pandangan Wahidiyah, kemampuan sallab jallab ini, tidak akan dapat
dipahami oleh mukmin yang memiliki keimanan yang bercampur dengan paham syirik
(menyekutukan kekuatan makhluk dengan kekuatan Allah). Misalnya, meyakini bahwa
kemampuan tersebut semata-mata dari kekuatan al-Ghauts Ra sendiri. Jallab dan
sallaabnya al-Ghauts hanya dapat dipahami oleh orang yang imannnya tidak bercampur

54 Wawancara via Telpon dengan KH. Syukir, Da’i YPW Pusat, 16 September 2017
55 Materi Up Grading Da’i Wahidiyah, (Kediri: YPW Pusat, 2000).
56 Materi Up Grading Da’i Wahidiyah, (Kediri: YPW Pusat, 2000)

24

syirik, orang yang telah memahami ke-Maha Esa-an kekuatan dan kekuasaan Allah Swt
dalam alam semesta. 57

Aliran Wahidiyah menunjukkan jallab dab sallab makhluk Allah. Sallab
Malikat Izrail adalah pencabut (sallab) nyawa. Namun secara hakiki yang mematikan
dan yang menghidupkan makhluk hanyalah Allah Swt semata. Jallab Malikat Mikail
yaitu pembagi (jalab) serta pengambil (salab) rizki, baik rizki lahir atau batin, setiap
makhluk, secara hakiki hanyalah Allah Swt, sedangkan secara lahiriyah adalah malikat
Mikail. Jallab Malikat Jibril misalnya ketika menjelang keberangkatan Rasulullah Saw
melaksanakan mi’raj ke langit, malaikat Jibril atas perintah Allah Swt, meningkatkan
(jalaab) iman Rasulullah Saw. Sallab Jallab para Waliyullah misalnya sebelum Wali
Songo memperjuangkan Islam di Indonesia, masarakat tidak memiliki keimanan kepada
Allah Swt. Setelah mereka berjuang di Indonesia dan khususnya tanah Jawa,
masyarakat hatinya memiliki keimanan kepada Allah Swt. Iman masarakat dapat
dikatakan sebagai jallab dari para waliyullah tersebut. Begitu pula sallab jallab para
ulama, yaitu di setiap daerah yang ditempati oleh seorang ulama, sudah barang tentu
iman dan ketekunan ibadah masyarakat akan meningkat. Ini dapat dikatakan sebagai
karomah jallab yang dimiliki oleh setiap ulama. 58

F. Shalawat Wahidiyah

Wahidiyah di samping memiliki pokok ajaran, juga memiliki teks shalawat yang
diberi nama Shalawat Wahidiyah yang diambil dari Abdus Salam Masisiyah dari tarekat
Naqsyabandiyah. Teks shalawat ini ditulis sendiri oleh KH. Abdoel Madjid Ma’roef.
Teks shalawat Wahidiyah mengandung unsur lillah billah, lirrasul bir rasul, dan lil
ghauts bil ghauts. 59

Dalam ajaran Wahidiyah, Shalawat Wahidiyah boleh diamalkan siapa saja yang
bermanfaat untuk menjernihkan hati dan ma’rifat billah wa rasulihi. Oleh karena itu,
cara mengamalkannya, menurut Wahidiyah, semata-mata mengabdi diri beribadah
kepada Alah SWT dengan ikhlas serta memuliakan Nabi Muhammad SAW. Dalam
pembacaan shalawat, paham Wahidiyah memerintahkan agar bershalawat dengan

57 Materi Up Grading Da’i Wahidiyah, (Kediri: YPW Pusat, 2000).
58 Materi Up Grading Da’i Wahidiyah, (Kediri: YPW Pusat, 2000)
59 Wawancara dengan Ajengan Khobir, Agus Halim, dan Ahmad Dimyathi, pengurus YPW
Tasikmalaya dan Provinsi Jawa Barat,, 15-16 September 2017.

25

harapan Rasulullah hadir (istihdlor), sehingga para pengamal Wahidiyah harus
bershalawat dengan adab sepenuh hati, ta’zim, dan mahabbah semurni-murninya. 60 Para
pengamal Wahidiyah yakin jika pembacaan shalawat dengan persyaratan di atas, maka
Rasulullah SAW akan hadir. 61

Shalawat Wahidiyah diamalkan selama 40 hari berturut-turut. Tiap hari paling
sedikit menurut bilangan-bilangan yang tertulis di dalam lembaran Shalawat Wahidiyah
dalam sekali duduk, pagi, sore atau malam hari. Shalawat juga dicaba selama tujuh hari,
akan tetapi bilangan-bilangan tersebut diperbanyak menjadi sepuluh kali lipat. Setelah
40 hari atau 7 hari, bilangan-bilangan boleh dikurangi sebagian atau seluruhnya. Akan
tetapi lebih utama jika diperbanyak. Shalawat dapat diamalkan sendiri-sendiri, akan
tetapi berjamaah bersama keluarga atau masyarakat satu kampung sangat dianjurkan. 62

Mereka yang belum dapat membaca seluruhnya, boleh membaca bagian-bagian
mana yang sudah didapat lebih dahulu, misalnya membaca al-Fatihah saja atau
membaca kalimat nida diulangi berkali-kali selama kira-kira sama waktunya kalau
mengamalkan seluruhnya. Jika tidak bisa, boleh berdiam saja selama waktu itu dengan
memusatkan hati dan segenap perhatian ke hadhirat Allah SWT, memuliakan, dan
menyatakan rasa cinta semurni-murninya dengan istihdhar kepada Nabi Muhammad
SAW. 63

60 Shalawat Wahidiyah dan Terjemahannya, (Kediri: YPW Pusat, 2014), h. 41-42.
61 Wawancara dengan pengurus Wahidiyah Tasikmalaya dan Provinsi Jawa Barat.
62 Shalawat Wahidiyah dan Terjemahannya, h. 42.
63 Shalawat Wahidiyah dan Terjemahannya, h. 42-43.

26

27

G. Amaliyah Wahidiyah

Amaliyah Wahidiyah terpusat pada mujahadah, yang terdiri dari mujahadah
yaumiyah (harian/sendiri), usbuiyyah (satu desa), syahriyyah (kecamatan), rubu sanah
(kabupaten), nisfu sanah (propinsi), dan tahunan (nasional di bulan rajam dan
muharram). Dalam amaliyahnya, tidak hanya teks Shalawat Wahidiyah yang dibaca
tetapi juga bacaan lainnya, seperti tahlil, yasin, dan doa-doa lainnya. Bahkan jika
penganut Shalawat Wahidiyah shalat berjamaah di mushalla/masjid, ia akan mengikuti
wirid yang dibaca imam. Kecuali jika dalam satu jamaah seluruhnya penganut Shalawat
Wahidiyah, maka akan dibacakan teks Shalawat Wahidiyah secara bersama, sepeti di
Pesanren Taraju milik Ajeng Abdul Khobir. 64

Menurut Wahidiyah, mujahadah dilaksanakan dengan pengamalan Shalawat
Wahidiyah menurut cara-cara dan adab-adab yang telah ditentukan. Di dalam kegiatan
mujahadah, tampak para pengamal Wahidiyah berpakaian dengan cara yang beragam.
Tidak ada instruksi menggunakan pakaian yang sama, misalnya berpakain putih-putih
atau yang lainnya. Wahidiyah membebaskan para pengamal untuk berpakaian bebas
dalam melakukan mujahadah. Namun, para panitia yang menyelenggarakan acara
mujahadah kebanyakan menggunakan jas, meskipun kegiatan dilaksanakan di pelosok
desa. Tampak sekali, semua peserta yang datang disalami satu persatu oleh panitia yang
berjas.

Kegiatan mujahadah betul-betul tampak penuh keakraban
Pemandangan yang menarik adalah bahwa kegiatan mujahadah yang dilakukan
oleh para pengamal Wahidiyah diperintahkan untuk melakukan dengan tangsisan.
Bahkan, pidato-pidato sambutan, baik dari panitia maupun pengrus YPW, mereka
menangis dalam menyampaikan sambutan. Ini menunjukan bukan hanya dalam
pembacaan shalawat mereka menangis, tetapi juga dalam acara seremonial.
Dalam pandangan Wahidiyah, tangis berorientasi (berhubungan atau berkaitan)
kepada Allah dan Rasulullah SAW. Tangis di dalam Wahidiyah tidak menangisi  soal harta atau apa saja yang bersifat  kebendaan/material. Motif tangis dalam Wahidiyah
dapat terjadi dari bermacam-macam faktor. Antara lain tangis karena ada sentuhan jiwa
yang halus sehingga merasa penuh berlumuran dosa, penuh berbuat kedloliman
merugikan orang lain dan masyarakat dan sebagainya. Merasa berdosa, berdosa kepada
64 Wawancara dengan Ajengan Khobir, Agus Halim, dan Ahmad Dimyathi, pengurus YPW
Tasikmalaya dan Provinsi Jawa Barat,, 15-16 September 2017.

28

Allah SWT kepada Rasulullah SAW, berdosa terhadap orang tua, terhadap anak dan
keluarga, terhadap guru, terhadap pemimpin, terhadap bangsa dan negara, terhadap
perjuangan kesadaran Fafirruu Ilallah wa Rasulihi SAW, terhadap mahkluk lingkungan
hidupnya dan sebagainya. Diantaranya lagi karena sentuhan batin berupa “syauq dan
mahabbah” (rindu dan cinta) yang mendalam kepada Allah SWT dan kepada junjungan
kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW. Tangis karena kagum melihat keagungan
Allah SWT, melihat sifat Jamal dan Kamal Allah SWT, trenyuh tergores hatinya
melihat kasih sayang dan jasa serta pengorbanan Junjungan kita Rasulullah SAW,
kepada para umat,terhadap dirinya yang menangis. 65

Wahidiyah memandang bahwa tangis yang ada hubungan kepada Allah SWT
adalah tangis yang banyak dilakukan oleh para nabi mulai kanjeng Nabi Adam AS
sampai junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Kanjeng Nabi Adam AS setelah
dikeluarkan dari surga, menangis selama seratus tahun non stop. Menangis meratapi
dosanya kepada Allah SWT. yaitu melanggar larangan Allah agar tidak mendekati buah
kuldi waktu di surga.

Dalam kegiatan mujahadah, selain menangis Wahidiyah juga memerintahkan
untuk melakukan nida ke empat penjuru. Yaitu, nida’ “Fafirruu Ilallah” dengan berdiri
menghadap kearah empat penjuru. Aajaran ini menurut Wahidiyah mengikuti apa yang
pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim. 66

Yaitu, sesaat setelah membangun (renovasi)
Ka’bah, Ibrahim menyeru kepada para manusia supaya menjalankan ibadah haji. Di
dalam menyeru itu ia berdiri di atas gunung Abi Qubes menghadap ke arah utara,
selatan, timur dan barat.

Dalam melakukan nida, Wahidiyah menitikberatkan pada sikap batin untuk
menggetarkan jiwa sekuat-kuatnya memohon kepada Allah SWT agar nida’/ajakan ini
disampaikan kepada hati sanubari manusia seluruh dunia. Tidak hanya sikap batin,
sikap lahir juga disesuaikan dengan sikap batin. Caranya adalah kedua tangan lurus
kebawah di samping kedua paha. pandangan mata lurus ke depan (tidak menunduk dan
tidak menoleh). Pemindahan arah hadap, sesudah sempurna bacaan “waqul jaa al haqqu
….“ dan mendahulukan kaki kanan. Yang dibaca tiap-tiap arah ialah membaca surat al-
fatihah 1x, Fafirruu … 3x, waqul ja-al ….. 1x, yang pertama menghadap kearah barat

65 Kuliah Wahidyah, h. 199.
66 Wawancara dengan pengurus Wahidiyah Tasikmalaya dan Provinsi Jawa Barat, 16 September
2017 di Tasikmalaya

29

kemudian utara, timur dan selatan, memohon kepada Allah SWT agar nida’ panggilan
ini ditembuskan ke dalam hati sanubari umat masyarakat seluruh dunia termasuk
keluarga serta dirinya sendiri, membayangkan wujud dunia ini dan diri kita berada di
tengahnya, mengarahkan pandangan batin ke arah barat (ketika menghadap ke arah
barat), mulai dari diri kita sampai ujung dunia sebelah barat. Mengitari belahan bumi
dibawah kita dari barat ke timur, batas akhir dunia timur, kembali (secara imajinasi) ke
arah barat lewat belakang kita, demikian seterusnya pada tiap-tiap arah tersebut.

 

30

 

DAFTAR PUSTAKA

Kuliah Wahidiyah untuk Menjernihkan Hati dan Ma’rifat Billah Wa Birasulihi SAW,
(YPWPPK: Kediri, 2011
Materi Up Grading Da’i Wahidiyah, (Kediri: YPW Pusat, 2000).
Shalawat Wahidiyah dan Terjemahannya, (Kediri: YPW Pusat, 2014

http://www.jabarprov.go.id
http://www.kemendagri.go.id
http://tasikmalayakab.go.id
http://portal.tasikmalayakab.go.id
http://pengamalwahidiyah.org
http:/fafirruilalloh.com

Wawancara dengan KH. Sodiqin, Sesepuh Wahidiyah Tasikmalaya di Tasikmalaya
Wawancara dengan Ajengan Abbas, 16 September 2017, di Tasikmalaya.
Wawancara dengan Ajengan Abdul Khobir, 15 September 2017, di Tasikmalaya.
Wawancara dengan Agus Halim, Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Tasikmalaya,
15 September 2017, di Tasikmalaya.
Wawancara dengan Abdul Qahar, Pengurus YPW Provinsi Jawa Barat 15 September
2017, di Tasikmalaya.
Wawancara Ahmad Dimyathi, Pengurus YPW Provinsi Jawa Barat, 16 September 2017,
di Tasikmalaya
Wawancara dengan KH Abdul Ghafur, Da’i YPW Pusat, 16 September 2017, di
Tasikmalaya
Wawancara dengan KH. Syukir, Da’i YPW Pusat, 16 September 2017, di Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *